
Angelicha melangkah lesu memasuki kelasnya. Moodnya benar-benar buruk karna sarapan tadi. Dirinya juga merasa bersalah karna bisa melihat jelas tatapan sendu dari mata putrinya.
Sekolah sudah nampak ramai mengingat dirinya datang kesiangan. Setelah sampai dibangkunya, Angelicha segera meletakan tasnya dan duduk sambil menumpukan kepalanya dimeja.
"Gini banget sih hidup gw ya Allah.." eluhnya dalam diam.
"Wey! Lemesh banget. Cerita dong!" Hanif yang baru saja masuk kelas langsung menyerbu Angelicha.
"Gw galau!!!" Angelicha berteriak lalu pura-pura menangis.
Hanif terkekeh, menyesal karna menanyai Angelicha. Telinganya berdengung mendengar teriakan Angelicha dari dekat.
"Galau kenapa sih beb?" timpal Mela.
"Gw bingung, mau disini aja atau ikutan pindah ke Jerman? Gw pengen ke Jerman tapi gw nggak mau ninggalin seseorang," ungkap Angelicha.
"Jangan bilang lo punya pacar! Siapa pacar lo?! Jawab gw!!" desak Ridho.
"A-apasih. Enggak ya!" bantah Angelicha.
"Eh udah-udah kok malah tengkar. Angelicha, tanya pada hati lo yang paling dalam. Kita nggak bisa beri saran yang tepat, karna yang bisa mutusin itu lo sendiri!" tutur Andin lalu mengusap bahu Angelicha.
Hening.
"Bwahahaha sejak kapan lo jadi puitis gitu?!" seru Angelicha tertawa terpingkal-pingkal.
Walau nyatanya, gadis itu tengah tertawa palsu. Angelicha tetaplah Angelicha, sigadis yang akan selalu menutupi segalanya dengan tawa recehnya.
"Jangan ketawa, Cha. Gw tahu lo lagi gak baik-baik aja," timpal Mela menatap dayar Angelicha.
Hening kembali. Angelicha hanya mengerjab-erjabkan matanya lalu langsung bangkit dan memeluk Mela.
Mela adalah teman terbaiknya selain Fahmi!
"Gw nggak bakal maksa lo buat cerita. Ceritain kalau lo udah siap, gw bakal selalu dengerin cerita dari lo. Kalau ada apa-apa cerita aja, gw pendengar yang baik kok." ujar Mela lalu mengusap punggung Angelicha.
Inilah yang istimewa dari Mela. Gadis itu tak akan memaksa bercerita jika Angelicha belum bisa. Mela sangat peka dengan perasaan sahabat-sahabatnya.
"Salah nggak sih gw suka sama orang yang masih hidup dengan masa lalunya?" tanya Angelicha menunduk tak berani menatap teman-temannya.
"Masa lalu? Masa lalu biarlah jadi masa lalu. Kalau bisa lo buang bayang-bayang masa lalu itu dan ajak dia buat fokus kemasa depan. Masa lalu buat apa dikenang? Masa lalu biarlah masa lalu, jangan kau ungkit tingga--"
"Malah nyanyi, dasar dungu!" sarkas Hanif menoyor kepala Ridho.
"Kok lo yang sewot, Jabarundin!" seru Ridho.
"Weh apanih?! Bapak gw lo bawa-bawa! Gw tendang juga lo Rohman!" seru Hanif tak terima ayahnya dibawa-bawa.
"Emang lo berani lawan bapak gw?! Bocah ingusan masih mentil mamah aja sok-sok an. Mental cepu!" sarkas Ridho.
Ya seperti itulah mereka. Jika kalian berpikir setelah itu mereka akan menjauh, jawabannya tidak. Karna lima menit bertengkar, tiga detik selanjutnya mereka berpelukan dan saling mengucap 'maaf'.
________
Revandra terpaku ditempatnya. Dihadapannya kini ada seorang wanita keturunan Yunani tengah duduk dikursi depannya dengan senyuman semanis madu.
"Apa kabar mu setelah hampir lima tahun tak jumpa?" tanya wanita tersebut ramah.
"A-aku baik-baik saja. Kau sendiri? Kenapa ada di Indonesia bukankah kau mengutuskan untuk berkuliah ke Amerika?" tanya Revandra berentet.
"Santai baby, kita bicara lagi nanti malam. Datanglah kehotel tempatku menginap, aku akan menjamu dirimu dengan surga dunia." ujar wanita tersebut lalu bangkit dan meninggalkan ruangan Revandra.
Revandra menghela nafas lega. Akhirnya wanita itu pergi juga, dirinya hanya takut sesuatu akan terbongkar jika wanita tersebut berniat masuk kembali kedalam hidupnya.
Bisa hancur keluarga Revandra nanti.
__ADS_1
Reza masuk kedalam ruangan Revandra. Tersenyum sinis melihat sahabat sekaligus bosnya itu tengah mendesah frustasi.
"Kalau sampai lo nyakitin Angelicha, inget gw bakal rebut dia dari lo. Cewek baik kayak dia nggak pantes buat lo yang brengsek!" tegas Reza.
"Apasih woy. Gw lagi pusing ini!" seru Revandra dramatis.
Plak!
Revandra menatap datar Reza. Enak saja wajah tampannya main dilempari berkas. Ingin mengumpat tapi melihat tatapan tajam dari Reza, dirinya jadi ciut nyali.
Dasar cupu.
"Jadi lo lagi dilema nih gegara Jean kembali?" tanya Reza serius.
"Gw cuma takut, lo sendiri tahu kalau Jean itu nekat. Gw takut kalau dia sampai nyelakain Angelicha," lirih Revandra.
"Lo lupa, ada gw, Vincen, Ujang dan yang lain yang akan selalu ngelindungi Angelicha. Kita udah nganggap Angelicha istri sendiri juga," celetuk Reza.
"Lo mau ngrebut istri gw? Siap-siap gw tendang keluar dari kantor ini. Udah jomblo, nganggur lagi. Kaga bakal ada yang mau sama lo!" ledek Revandra.
"Nggak tahu aja sih, monyet. Sebenarnya cewe yang ngantri sama gw tuh banyak, cuma gw aja yang pilih-pilih!" bantah Reza.
"Jomblo ngaku aja kali. Umur dah tua, nikah sana apa perlu gw cariin?" canda Revandra.
"Boleh tuh! Kalau bisa Ariana Grande!" seru Reza semangat.
"Ariana Grande, pilih-pilih kali. Lo daki monyet diem aja!" seru Revandra menunjukan ekspresi datar.
Angelicha mempercepat langkah kakinya. Dirinya baru saja keluar dari pintu keluar mini market. Baru beberapa langkah berjalan, entah kenapa feelingnya terasa ada yang mengikuti dirinya.
Sesekali dirinya berhenti dan menengok kebelakang. Namun hanya bisa menggeleng kala tak menemukan seorangpun dibelakang.
Tap...tap...tap!
Angelicha mengutuskan untuk berlari sekencang mungkin kala melihat sosok anymous bersembunyi dibalik tong sampah. Derap langkah yang mengikuti terasa semakin dekat.
Bruk
"Ahh mama..." rintihnya kala pergelangan tangannya terkilir.
Tap...tap...tap!
Angelicha hanya bisa menelan salivanya bulat-bulat. Sosok misterius itu semakin dekat, dan entah kenapa jalanan terasa sangat sunyi.
Puk
Sosok misterius itu menepuk bahu Angelicha. Angelicha hanya mendongak tak bersuara, berani bersumpah jika sosok dengan topeng senyum lebar itu sangat menyeramkan.
Sosok itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Angelicha yang tengah duduk diaspal. Angelicha bisa mendengar sosok itu terkekeh manis dibalik topengnya.
"Don't cry baby, berhati-hatilah. Sekarang kamu akan selalu ada dalam pengawasanku, jaga tingkahmu kalau kamu tidak mau menyesalinya!" tutur sosok itu terkesan lembut namun tegas.
Lalu sosok misterius itu pergi melangkah meninggalkan Angelicha yang masih menangis sesenggukan karna takut. Sebelum dirinya pergi, sosok itu nampak melambaikan tangannya kepada Angelicha memberi salam perpisahan.
Setelah sosok itu menghilang tak terlihat barulah Angelicha bangkit dan berlari. Beruntung karna Revandra mengangkat telfon darinya.
"T-tolong, aku-- aku tersesat!" teriak Angelicha.
'Hah?! Bagaimana bisa tersasar?'
"Ce-ceritanya panjang! A-aku berada disebuah gang sempit. T-tolong..." ujar Angelicha melirih diakhir kalimat.
'Baiklah, sharelock sekarang keberadaan kamu,'
"Ba-baiklah. Sebentar. Kumohon cepat, aku takut!" ujar Angelicha dengan isakan lirih.
__ADS_1
'Baiklah. Carilah tempat yang menurutmu aman,'
Angelicha lalu mematikan ponsel dan menatap sekelilingnya. Hanya gang kecil dengan penerangan yang minim serta dinding-dinding tinggi penuh dengan coretan abstrak.
Argh!!
Angelicha kembali menegang ketakutan. Suara teriakan seseorang dari salah satu sudut memberikan stigma buruk baginya.
"Hey anak muda, apa yang kamu lahkukan ditempat ini?" sapa seorang laki-laki.
Angelicha menoleh menatap takut pria dengan setelan pakaian kotor yang dipenuhi darah serta pisau tajam ditangannya. Penampilan yang sangat creepy seperti psychopat yang ada difilm-film.
"Hey, kamu mendengarku kan?" kata pria tersebut lalu mendekati Angelicha.
_____
Revandra mendesah lirih. Khawatir sudah pasti, namun parasit yang menggelayut dilengannya menahan langkah Revandra.
"Jean, ku mohon lepaskan aku. Istriku sedang membutuhkan diriku!" kata Revandra tegas.
"Tidak mau, baby. Istrimu itu masih kecil, belum bisa memuaskan dirimu. Jadi disini saja, ayo kita bermain-main. Touch my body contohnya," goda Jean siwanita keturunan Yunani tersebut.
"Aku tidak bisa!" sentak Revandra lalu menghempas kasar Jean dan melangkah pergi, meninggalkan wanita tersebut yang tengah mendesis kesal.
Revandra langsung tancap gas menuju alamat yang sudah dikirim Angelicha via chat tadi. Tak sulit menemukan gang tersebut, selain tempat itu tidak jauh dari hotel tempat Jane menginap tempat itu juga cukup terkenal karna banyak tindak kriminal terjadi disana.
"Bagaimana Angelicha bisa sampai ketempat itu?" itulah pertanyaan yang memenuhi kepala Revandra sekarang.
Jika dari rumahnya, tempat itu sangat jauh. Mencoba berpikir positif, mungkin Angelicha habis main kerumah sepupunya dan tersasar.
Tak butuh waktu lama, mobil Revandra sudah berhenti disebuah gang sempit seperti kata Angelicha tadi. Revandra ditemani senter dari ponsel turun dan menelusuri gang sempit namun panjang tersebut.
"Angelicha?" gumamnya lirih menatap tak percaya pemandangan didepannya.
______
Fernandi tersenyum bangga dengan hasil foto tangkapannya. Difoto itu ada Revandra yang tengah memeluk Jean, kemudian ada juga foto dimana Jane duduk diatas pangkuan Revandra.
"Oke, tinggal kirim ke Angelicha. Selesai!" ucap Fernandi tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tahu, pria itu benar-benar setia. Sepertinya cinta sudah tumbuh dihatinya," celetuk Jean.
Fernandi terkekeh lalu langsung berubah sinis menatap Jean. Rencana ini pasti akan sangat menggemparkan bagi semua orang, apalagi Angelicha nanti. Fernandi tak sabar menunggu reaksi Angelicha dengan foto tadi.
"Bay the way, acting mu bagus juga. Tak salah kamu mengambil casting disebuah film yang akan datang nanti," puji Fernandi.
"Film ini akan booming pokoknya!" celetuk Jean.
______
Angelicha hanya memberikan cengiran tak berdosa menatap wajah kesal Revandra. Bau amis menyeruak dari dirinya, berani bersumpah jika Revandra pasti mual.
"Aku hanya membantu Surya mengeksekusi ayam-ayam untuk dirinya jual besok," jawab Angelicha sambil tersenyum.
"Astaga, kamu ini hobi sekali membuat orang khawatir. Tadi kamu ketakutan tapi sekarang, ahh sudahlah. Ayo kita pulang, Soya dirumah bersama ibu sendiri kan?" cerewet Revandra.
"Sebentar," tutur Angelicha.
Angelicha tersenyum ramah kepada pria yang sejak tadi juga tersenyum menatapnya. Sebut saja pria itu Surya, anak sulung dari pria yang dirinya temui tadi.
"Kang Surya, aku pamit pulang dulu ya. Terimakasih atas ilmu-ilmunya malam ini," ujar Angelicha.
"Aduh sama-sama dek. Harusnya saya yang bilang makasih karna udah dibantuin. Lain kali hati-hati biar nggak kesasar seperti tadi," sahut pria tampan tersebut sambil terkekeh manis.
"Iya kang, ya sudah Angelicha pamit dulu. Udah dijemput soalnya," pamit Angelicha dan Surya mengangguk.
__ADS_1
Revandra mendesis sinis sebelum akhirnya menggendong Angelicha dengan gaya bridal. Surya yang melihat itu sontak menjatuhkan pisau dagingnya dan tersenyum malu-malu.
Baru kali ini dirinya melihat adegan seperti didrakor yang dirinya tonton.