CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 112.Adenra Yang Licik


__ADS_3

Tik...tik...tik...tik...tik...tap!


Suara jari jemari yang lihai menari diatas keyboard menciptakan suara tak beraturan didalam ruangan gelap dan pengap tersebut. Ruangan bawah tanah, mendengar namanya saja pasti sebagian dari kalian sudah bergidik ngeri membayangkan apa saja yang ada didalam ruangan tersebut.


Ruangan yang seukuran dengan kamar dengan luas tak terlalu lebar namun minimalis hanya dipenuhi oleh sebuah komputer besar serta beberapa senjata yang tersusun rapi. Seolah ruangan tersebut benar-benar dirawat walau tak dipungkiri rasa pengap dan gelap menyelimuti.


Huhhh


Adenra menghela nafas sebelum mencoret sebuah nama dibuku kusamnya. Menyenderkan tubuh pada kursinya lalu meneguk anggur merah yang sejak tadi menamaninya.


"Bermain dengan orang-orang bodoh seperti dirinya menyenangkan juga, rupanya." ujarnya lalu terkekeh.


Tersenyum lebar kala layar komputernya menyala menunjukan sebuah adegan disebuah ruangan kumuh tempat seorang wanita disekap. Tak ingin membuang-buang kesempatan, Adenra mulai menjalankan rencananya untuk mengungkap kedok Calvin si idiot dan juga si pembunuh berantai.


"Miris sekali," gumamnya kala dilayar komputer menampilkan wanita tadi yang dicecoki alkohol lalu ditelanjangi oleh pria-pria brengsek tersebut.


"Jika apa yang aku perkirakan benar, setelah ini Calvin akan membunuh Hanif. Untuk menutupi itu, dirinya menyamar menjadi Hanif dan mendekati Angelicha. Ck... luar biasa!" decaknya merasa bangga atas otak jeniusnya.


_______


Angelicha menangis histeris, membuat Revandra ikut frustasi karna tak mengerti alasan kenapa Angelicha menangis hingga tersedu-sedu. Banyak cara sudah Revandra lahkukan, namun Angelicha masih enggan untuk berbicara.


Niat awal mereka berdua ingin pergi ke Seminyak untuk belanja sekaligus melihat-lihat. Namun urung karna Angelicha yang menangis sejak tadi pagi hingga sore ini.


Makan pun Angelicha masih bisa terisak. Jangan berpikir Revandra melahkukan yang 'iya-iya' kepada Angelicha. Semalam dirinya hanya minta dipeluk dan tidur, jadi tak ada alasan Angelicha menangis karna ditiduri suaminya sendiri.


"Angelicha, ayolah jangan seperti ini!" rengek Revandra.


Angelicha hanya menggeleng ribut sambil mengosel-ngoselkan (?) kakinya dilantai tepat dibawah Revandra. Gadis itu mirip seperti anak TK yang minta dibelikan permen.


"Huwaaa aku bisa gila hiks!" seru Revandra ikut menangis karna pusing.


Angelicha yang melihat itu langsung diam dan menatap Revandra dengan tatapan aneh. Kegilaan apa lagi ini ya Tuhan? pikirnya.


Angelicha menghela nafas lalu bangkit. Membuka lemari pakaian kemudian memasukan kembali kedalam kopernya. Tekatnya mengatakan untuk segera pulang!


"Hey kau mau apa hiks?" tanya Revandra melihat istrinya menata kembali pakaian mereka berdua.


"Aku mau pulang, hiks. Nggak mau tahu! Pokoknya daddy harus langsung cariin aku tiket buat pulang!" rengek gadis itu.


Revandra menatap tak percaya istrinya itu. Ayolah, baru kemarin mereka sampai dan harus pulang sore ini? Benar-benar!


"Momy jangan becanda ya, kita udah nyewa ini selama satu minggu lho. Sayang duitnya atuh, ya walau ibu yang nyiapin segalanya." sahut Revandra.


"Terserah ya! Terserah kalau daddy masih mau disini, sekalian sana temuin turis kemarin! Aku mau pulang pokoknya! Aku takut, hiks." ujar Angelicha lalu kembali terisak.


Revandra membawa kedua telapak tangan istrinya untuk digenggamnya. Menatap dalam mata Angelicha ibarat mencari petunjuk didalam manik itu.


"Coba momy cerita, kenapa takut hmm?" suara Revandra terdengar lirih namun lembut serta dalam.


"Aku nggak tahu. Aku bingung sama perasaanku sendiri, aku takut, aku khawatir, aku benci. Semua perasaan itu bercampur," ujarnya lalu memeluk Revandra.


Revandra mengerti, memang terkadang kita ingin menangis namun tak tahu apa yang kita tangisi. Merogoh ponsel untuk mencari tiket penerbangan pulang setidaknya nanti malam.


"Sudah, aku sudah mendapatkannya. Jam lima pagi kita kebandara untuk landing," ujar Revandra menenangkan Angelicha.


Angelicha hanya mengangguk lalu kembali membereskan pakaiannya beserta sang suami. Dalam hati tengah mengucap banyak sekali kata maaf karna liburan mereka jadi berantakan.


________

__ADS_1


"Anakmu luar biasa, aku bahkan terkejut ketika sifat Adenra sangat berterbalikan dengan Angelicha. Atau selama ini, aku yang terlalu kasar mendidik Adenra?" celetuk wanita paruh baya tersebut lalu terkekeh.


"Hah, aku bahkan masih tidak percaya. Iblis sepertimu bisa membesarkan putriku, ku kira putriku sudah kau habisi." timpal Arum.


Veronica hanya tertawa sumbang. Mungkin benar dirinya sudah berhasil membesarkan Adenra, namun direlung hatinya dia juga sedikit kurang nyaman dengan mengeraskan hati wanita tersebut.


"Adenra pasti sangat nakal ya?" tanya Arum penasaran.


"Adenra tumbuh dengan peraturan ketat. Dirinya tidak pernah memberontak kala ayah dan ibuku menyiksanya. Anehnya, aku tidak pernah merasa bersalah sudah memasukan Adenra kedalam kandang iblis seperti kami ini. Melihat dirinya tumbuh dengan otak yang kelewat jenius ditambah keberanian yang bahkan bisa melawan dewa kematian sekaligus. Anakmu itu benar-benar tangguh," jawab Veronica.


"Ya, aku benar-benar ingin marah kala kalian menjadikan Adenra sebagai kelinci percobaan kalian. Namun, aku bersyukur setidaknya Adenra menjadi sangat jenius dengan percobaan gila kalian." kekeh Arum.


Veronica hanya tersenyum lalu meneguk greentea dicangkirnya. Mengingat bagaimana perkembangan Adenra membuatnya ibarat merawat anaknya sendiri.


"Adenra punya banyak musuh dari dunia bawah," ujar Veronica serius.


"Maksudmu-- Adenra menjadi sepertimu?!" tanya Arum tak percaya.


"Aku tidak memaksanya. Adenra sendiri yang ingin masuk dan menjadi sepertiku. Tapi tenang saja--" Veronica sengaja menggantungkan ucapannya membuat Arum penasaran.


"Adenra itu licik! Lebih licik dari yang kamu perkirakan," lanjutnya sebelum bangkit dan pamit undur diri.


Perempuan itu menangis histeris. Meratapi nasib malang yang menimpanya saat ini. Tubuhnya kotor oleh sentuhan-sentuhan iblis berkedok manusia seperti Hanif dan teman-temannya.


"Ini semua karna Angelicha, hiks." isaknya.


Perasaan benci dan dendam tiba-tiba menyeruak dihatinya. Jika dirinya tak ikut campur urusan ini, mungkin dirinya masih aman sekarang.


Mengutuk sahabatnya itu yang tengah asik berlibur dengan prianya tanpa memikirkan keadaan Andin sama sekali. Tubuhnya terasa sangat lemah sekarang akibat siksaan yang dideritanya dari kemarin.


"Gw bersumpah bakal ngehancurin lo Angelicha!!" Andin berteriak histeris sebelum akhirnya pingsan.


Calvin hanya tertawa jahat. Melihat gadis yang dicintai saudara kembarnya hancur merupakan suatu kebahagiaan tersendiri baginya.


________


Nichol hanya menggeleng saat Hanif menceritakan segala masa lalu yang sahabatnya itu pendam selama ini. Selain Fahmi, Nichol adalah sahabat Hanif yang paling dekat.


"Gw dorong dia dari lantai dua puluh satu, gw bener-bener marah waktu itu. Gw kalut ngelihat mantan gw depresi," pungkasnya lalu terisak.


Nichol hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Tak menyangka orang seperti Hanif pernah melahkukan pembunuhan dimasa SMP.


"Lo tenang aja, masalah Calvin-- gw bakal ngebantu sebisa gw. Gw bakal jagain Angelicha dan yang lain," kata Nichol bijak.


"Lo harus waspada juga, gw takut lo bakal terkecoh nantinya." ujar Hanif.


"Gw punya temen. Lo tenang aja, akan ada temen gw yang ngawasin Calvin." sahut Nichol.


Hanif hanya mengangguk lirih. Calvin harus segera diatasi sebelum menciptakan lebih banyak masalah baru lagi.


_______


Angelicha menegang kala melihat sang papa berada dirumah Revandra. Revandra menyapa dengan hangat lalu menyuruh Angelicha untuk masuk kedalam kamar dan menemani Soya bermain.


"Maaf, tapi Angelicha sudah menjadi istri sah saya. So, Anda tidak bisa menikahkan Angelicha dengan direktur perusahaan lain." kata Revandra bangga.


"Sialan! Aku akan melepas Angelicha jika kau mau membalik perusahaan mu menjadi namaku," sahut Arga serius.


Revandra hanya bisa tertawa sumbang dengan ucapan ayah mertuanya itu. Apa katanya, membalik nama perusahaan menjadi namanya?

__ADS_1


"Jangan bercanda! Perusahaan itu akan menjadi milik cucumu nantinya, aku tak akan merubah nama perusahaan sebelum anak ku dan Angelicha terlahir." celetuk Revandra.


"Baik jika begitu. Aku akan menghancurkanmu!" sarkas Arga.


"Maaf, pa. Aku hanya ingin mengingatkan, sekarang papa sudah tidak punya apa-apa lagi. Ingatlah akhirat dan berhenti bermain wanita sebelum papa yang dibuang oleh mereka!" tegur Revandra.


Arga tak menghiraukan itu dan langsung berlalu pergi dari rumah Revandra. Revandra hanya mengedikan bahu sebelum menaiki tangga untuk menyusul sang istri tercinta.


Revandra tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang. Angelicha tengah tersenyum menikmati senja yang nampak begitu sangat indah dan tenang.


"Apa perasaanmu sudah lebih tenang?" tanya Revandra.


"Lumayan, aku merasa sebuah ruang mulai terisi. Hanya saja itu sedikit, masih ada banyak ruang kosong yang menyiksa. Ya semoga saja bisa sembuh dengan seiringnya waktu," sahut Angelicha lirih.


Revandra hanya tersenyum. Menumpukan dagunya dibahu Angelicha sambil menghela nafas lega.


"Tadi, apa yang papa tanyakan?" tanya Angelicha sambil mengusap rambut Revandra.


"Papa bertanya, kapan cucunya lahir." celetuk Revandra.


"Ahhh--- bohong kan?!" desak Angelicha. Gadis itu merona dengan sendirinya.


"Iya, katanya dia mau gendong cucu dari kamu sebelum ajal menjemput." timpal Revandra lalu tertawa.


Angelicha melotot sebelum memukul pelan suaminya itu. Revandra hanya bisa tertawa gemas sambil menarik hidung Angelicha.


"Kalau ngomong tuh ya!" decak Angelicha kesal.


Revandra hanya mengusap rahang Angelicha hingga sampai ketulang selangka. Sorot matanya tajam membuat Angelicha merona sambil membuang pandangannya.


"Empat bulan kita menikah, nggak terasa ya." ujar Revandra lalu mendekap Angelicha.


Angelicha hanya tersenyum menanggapi. Entah kenapa hatinya selalu memberontak kala Angelicha berniat menanyakan soal perceraian mereka nanti.


"Dad, aku mau." gumam Angelicha lalu menunduk dalam.


Revandra masih terdiam dengan binar bahagia. Terkekeh pelan lalu mengusap puncak kepala istrinya.


"Bilang dulu kalau kamu juga cinta kepadaku," rajuk Revandra.


"Nado saranghae, chagi-ya!" seru Angelicha malu-malu.


"Ngomong apa kamu itu? coba bilang i love you to!" pinta Revandra.


"I love you," lanjut Revandra.


"I love you to." sahut Angelicha.


Revandra menatap Angelicha dengan tatapan tajam lalu menggendongnya masuk kedalam kamar. Mengungkung Angelicha dalam kungkungannya.


"Aku menyerahkan tubuhku untukmu malam ini. Sebagai bukti cintaku, bisakah kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkanku?" tanya Angelicha lirih.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu!" jawab Revandra yakin.


Angelicha bersemu merah, lalu apa yang terjadi?


Dentuman musik EDM yang dinantikan Revandra berdentum. Seperti irama lagu save me yang mendayu pelan, hingga secepat dan sesemangat ritme di lagu IDOL. Bahkan anpanpam tak bisa mengalihkan mereka berdua.


Hawa dingin menyentuh bahkan berubah menjadi hangat. Tak perlu bayangkan apa yang mereka berdua lakukan, yang jelas mereka tengah berusaha membuatkan adik untuk Soya.

__ADS_1


Banyak dari kalian yang bingung, kenapa penulisanku kok kronologinya nggak urut. Sebenarnya aku bukan pertama kali buat cerita, aku cuma pengen menyajikan dengan teknik "narasi non-linier" well, jadi kalau nggak suka mundur juga nggak apa-apa kok.


See you again.


__ADS_2