
Benar. Dan Adenra adalah agen FBI, dia menjabat sebagai Letnan atas pasukannya. Adenra ingin keluar dari FBI, namun pemerintah awalnya keberatan jika Adenra sampai keluar jadinya, mereka memberikan misi ini sebagai misi terakhir baru Adenra boleh mengundurkan diri dari komunitas jika berhasil membawa Calvin Smith baik hidup ataupun mati." jelas Cello.
Revandra menganga. Fakta apalagi ini? Seumur hidup baru kali ini Revandra berurusan dengan mata-mata negara seperti Cello dan Adenra. Menikah dengan Angelicha ternyata membuka mata Revandra dan menyuruhnya percaya dengan adanya mata-mata seperti CIA dan FBI.
"Jadi bagaimana?" tanya Cello lalu menyunggingkan senyuman gusinya.
Aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu. Yang aku butuhkan adalah bantuan kalian berdua." kata Angelicha dingin.
"A-apa?" tanya Mela terbata.
"Aku akan menyerahkan diriku. Bilang kepada psychopat gila itu, aku akan menemuinya!" titah Angelicha.
"T-tapi, Cha. Lo--"
"Tinggal bilang apa susahnya sih?" sela Angelicha cepat.
Adenra tersenyum miring melihat drama persahabatan antara kembarannya dan dua gadis didepannya ini. Sebenarnya tanpa harus dijelaskan pun Adenra mengerti jika Mela memang menyimpan perasaan kepada Angelicha.
Angelicha hanya bisa terkekeh melihar raut kesal Revandra. Suaminya itu marah karna Angelicha mengambil keputusan tanpa mau berunding dulu dengan Revandra.
Brak
Angelicha tersentak kala Revandra menaruh kasar tumpukan map diatas meja dengan tidak santai. Jidatnya mengerut heran, kenapa Revandra semanja ini ketika ngambek?
Angelicha bangkit dan memeluk Revandra dari belakang. Tersenyum kala merasakan aroma mint langsung menyeruak dari tubuh sang suami.
"Kenapa ngambek hem?" tanya Angelicha lirih.
"Kamu mau ninggalin aku?" tohok Revandra.
Angelicha terkekeh lirih kemudian mengambil duduk diatas pangkuan Revandra. Menatap tajam mata sang suami, jemari lentiknya menyusuri setiap lekuk wajah Revandra.
"Kata siapa?" tanya Angelicha lalu tersenyum.
"Kamu tau kan resikonya, kamu gitu sih. Ngambil keputusan tanpa rundingan dulu, aku khawatir." lirih Revandra.
"Kenapa khawatir? Kamu nggak percaya sama Adenra?" tanya Angelicha lagi.
Revandra menggeleng mantap. Pria itu sama sekali tidak percaya kepada Adenra. Revandra juga meragukan rencana kembaran sang istri itu.
__ADS_1
"Nggak papa, aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu. Percaya deh sama Adenra, kalau aku nggak kembali kamu bisa penggal kepalanya." celetuk Angelicha.
"Hmmm... minggu depan kamu sudah kembali ke sekolah? Kamu nggak papa kalau dipertengahan semester nanti kamu hamil?" tanya Revandra bercanda.
Plak!
Revandra meringis mendapat tamparan ringan didahinya. Istrinya itu tengah menatapnya garang, seolah harimau yang baru menemukan mangsa.
"Dad, dulu aku pernah yang namanya nggak mau menikah aku juga nggak mau yang namanya pacaran. Tapi, semuanya berubah sejak aku jadi istri daddy. Terimakasih!" ujar Angelicha semangat lalu memeluk leher Revandra.
"Dulu aku juga begitu, aku rasa aku tidak memperlukan istri atau ibu bagi Soya. Dulu aku merasa bahwa aku bisa merawat Soya dengan baik dan menjadi ayah sekaligus ibu, namun semuanya berubah kala Soya selalu bercerita tentang kamu. Nggak tahu kenapa aku merasa sangat beruntung memiliki permata seperti kamu," lirih Revandra lalu mengecup sayang kening Angelicha.
Angelicha menarik lengan kemeja Revandra dan membawanya berdiri. Melangkah mendekati ranjang kemudian mendorong tubuh Revandra yang reflek langsung terjatuh sempurna diatas ranjang.
Revandra tersenyum lalu membuang wajahnya. Sengaja ingin melihat sampai mana permainan Angelicha padanya, biarkan Angelicha yang memimpin jalannya permainan ini.
"Aku yang akan memuaskan, Daddy." bisik Angelicha seduktif.
___________
Cello memeluk erat Adenra. Mencoba untuk meredam amarah Adenra dan mengabaikan goresan pisau dilengan kirinya.
Adenra hanya bisa meneteskan air mata. Memeluk erat sang pria dan mencurahkan isi hatinya. Cello adalah satu-satunya pria yang amat dicintainya.
"Aku benci, By. Mereka sudah membunuh ibuku," racaunya menangis tersedu-sedu.
"Aku tahu, sayang. Kasih sayang ayah dan anak tidak pernah bisa diputuskan, apapun yang terjadi. Bagi putrinya, ayah adalah cinta pertamanya. Apa kamu tega menghabisi cinta pertama adikmu hanya karna dendammu?" tutur Cello lembut.
Adenra mendongak sebelum memagut bibir mereka berdua. Berjalan menyusuri tangga tanpa melepas tautan mereka berdua. Kamar mereka telah menanti.
________
Angelicha terengah-engah dan berbaring lemah disamping Revandra. Sang suami hanya mampu terkikik geli lantaran istrinya yang benar-benar kecapean setelah memuaskan dirinya.
Jika ditanya puas atau tidak, jawaban Revandra akan merasa puas. Namun aku ingatkan lagi, Revandra lebih suka menjadi yang dominan.
"Hosh...hosh...hosh... aku capekh!" eluhnya.
Revandra memeluk erat tubuh Angelicha. Menikmati sisa-sisa aroma permainan mereka berdua tadi. Kulit Angelicha sangat putih bersih dan terawat dan tentunya sangat menggairahkan bagi Revandra.
__ADS_1
"Makanya, biar Daddy aja yang memimpin. Sok-sok an mau muasin Daddy, baru satu ronde juga udah tepar." ledek Revandra.
"Bacot ah!" rajuk Angelicha.
Revandra hanya bisa tertawa renyah. Menggoda istrinya sangat menyenangkan. Jemari nakal Revandra menggelitik pinggang Angelicha, membuat gadis itu tertawa heboh dan meminta ampun agar dilepaskan.
"U-udah hihihihh a-ampunh Dadhh!" racaunya disela-sela tawa manisnya.
Bukannya berhenti Revandra malah semakin gencar menggilitik tubuh polos istrinya. Tak main-main perutnya ikut sakit karna ikutan tertawa.
"Satu ronde lag---"
Tok...tok...tok...
"Momy! Daddy! Jangan berisik! Soya nggak bisa tidur!!"
Sontak pasangan suami istri itu saling bertukar tatap sebelum cepat-cepat membersihkan tubuh masing-masing. Revandra yang langsung memakai piyama tidurnya dan Angelicha yang langsung masuk kedalam kamar mandi sambil berselimut handuk.
Revandra meneguk segelas air lalu berjalan untuk membuka pintu. Tersenyum was-was kala melihat Soya yang setengah sadar mendongak menatapnya dengan memeluk boneka shooky milik Angelicha yang dihak patenkan menjadi milik Soya.
"Momy dan Daddy berisik ya? Terus Soya mau apa?" tanya Revandra setelah berlutut menyamakan tingginya dengan sang putri.
"Mau tidur sama momy!" seru Soya semangat.
"Aa-- kenapa pengen tidur sama momy?" tanya Revandra tergagap.
"T-tadi aku denger momy kesakitan. Momy sakit ya Dad?" tanya Soya sambil mengucek matanya.
"Sial, kalau salah jawab hancur sudah kepolosan Soya!" umpatnya dalam hati.
Revandra hanya menggeleng lalu menyuruh Soya masuk. Soya kembali mendongak kala melihat ranjang orang tuanya berantakan, sangat berantakan dibanding seperti biasanya.
"Dad... ini bau apa?" tanya Soya sambil menunjuk selimut yang basah terkena keringat.
"Ahh itu, parfum momy tumpah! Iya parfum momy!" jawab Revandra.
Ceklek!
Soya kembali mendongak kepada Revandra setelah melihat Angelicha keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjab polos melihat sang daddy seperti takut akan pertanyaannya.
__ADS_1
"Dad, kenapa leher momy merah-merah?" tanya Soya lagi.