
Hanif masih terdiam diatas balkon kamarnya. Nyawa sahabatnya sedang dalam bahaya. Kembarannya itu benar-benar iblis versi manusia.
"Papa tidak bisa apa-apa, Nif. Jika Calvin saja bisa membunuh ibu kalian, kenapa dirinya tidak bisa membunuh orang lain. Bahkan spikiater saja menyerah menangani dirinya," lirih Ibram menatap sendu putranya.
"Aku tidak mau dia memanfaatkan wajahnya yang mirip denganku untuk berbuat yang tidak-tidak kepada Angelicha. Papa, bawa dia pergi sejauh mungkin. Aku membenci Calvin!!" teriak Hanif diakhir kalimat.
Asal kamu tahu, papa juga membencinya. Membenci sifat iblis yang ada padanya. Papa ingin dirinya berubah, papa ingin dirinya hidup layaknya pria diluaran sana. Namun papa bisa apa, mendekati dirinya saja sudah sangat berbahaya." timpal Ibram menunduk. Air matanya lolos begitu saja jika mengingat semua perilaku anaknya yang seperti iblis.
Hanif menghela nafas dan memukul tembok kamarnya. Mempunyai kembaran iblis bukanlah keinginannya. Cukup sekali dirinya dihasut oleh sosok iblis yang berada didalam tubuh adiknya hingga Hanif pernah membunuh pria berumur dua puluh sembilan tahun yang berani memperkosa kekasihnya.
Mengetikan sebuah pesan kepada teman-temannya. Seharusnya dirinya memang sudah harus jujur dari awal. Namun entahlah apa reaksi yang mereka berikan nanti ketika mengetahui Hanif memiliki kembaran iblis serta masa lalu Hanif.
Andin menatap curiga Hanif yang kini duduk didepannya. Niat Andin sudah bulat untuk menanyakan maksud Hanif dalam percakapan telfon tersebut.
"Hanif tahu siapa pembunuh Michel!" yakinnya.
Tak lama ada motor Scoopy memasuki parkiran cafe. Dari motornya Andin yakin itu Hanif. Benar, ketika helmnya dilepas ternyata benar Hanif.
"Tumben lo ngajak gw ketemuan berduaan doang? Biasanya juga rame-rame," tanya Hanif lalu menggeser kursinya.
"Gw mau ngomong serius sama lo. Tolong jawab jujur," ujar Andin.
Hanif hanya mengangguk santai. Andin menatap Hanif penuh selidik. Pria itu nampak jauh lebih tampan dibanding biasanya.
Ciri khas Hanif adalah pakaiannya yang biasa menggunakan warna terang dan ramai. Namun kini, pria itu menggunakan sebuah kemeja warna hitam dipadukan celana jeans.
"Lo tahu pembunuh Michel kan?" tanya Andin penuh selidik.
Hanif termenung sebelum akhirnya terkekeh garing. Dirinya mendengarkan dengan seksama rekaman suara yang diputar oleh Andin.
"G-gw nggak tahu!" sela Hanif cepat.
"Lo tau kan?!" desak Andin.
"Gw nggak tahu maksud lo apa!" sentak Hanif.
"Alah jujur aja! Siapa yang ngebunuh Michel. Disana juga lo bilang kalau pembunuh itu juga ngincer Fahmi," cerca Andin.
__ADS_1
"Gw mau tanya dulu, lo suka kan sama Fahmi?" skak Hanif.
"Nggak usah ganti top---"
"Jawab, gw juga mau jujur kalau lo juga jujur!" sela Hanif cepat.
"Iya gw suka sama Fahmi. Tapi gw nggak punya keberanian buat ngungkapin ke dia, selera Fahmi sekelas Angelicha. Gw yang anak tukang kebun bisa apa?!" cerca Andin berapi-api.
Hanif terdiam lalu tertawa. Untung saja cafenya sudah dibooking oleh Hanif. Pria itu sudah lama tahu jika Andin menyukai sahabatnya sendiri.
"Pembunuhnya gw!" jawab Hanif bangga.
Andin membeo, tidak percaya dengan jawaban yang dilontarkan oleh Hanif. Melihat pria itu menyeringai sambil mengeluarkan pisau membuat Andin bergetar ketakutan.
Dirinya langsung mengambil tas dan berniat lari jika tangannya tak dicengkram Hanif. Meringis kala merasakan Hanif menusukan jarum suntik ketengkuknya.
"Mari bermain-main dengan iblis ditubuh malaikat ini!" ujar Hanif senang lalu mendekap erat Andin yang melemah didekapannya.
Tak lama ada sebuah mobil hitam yang menghampiri Hanif. Melesat dengan kencang membelah jalanan menuju kesebuah tempat yang jauh dari keramaian kota.
Revandra masih setia mengungkung Angelicha dibawahnya. Angelicha juga masih setia melingkarkan lengannya dileher Revandra.
"Besok pagi kita berangkat, mari kita bersihkan fikiran dari segala masalah yang kita alami akhir-akhir ini." tutur Revandra lembut sekali.
Angelicha hanya mengangguk lirih. Telapak tangannya menyusuri setiap lekuk wajah Revandra. Mengagumi pahatan sempurna yang telah Tuhan ciptakan.
"Baru sadar kalau daddy ternyata masih muda banget," celetuk Angelicha.
"Eiyy aku masih muda. Nyatanya teman-temanmu memanggilku kakak, aku tidak setua itu untuk dipanggil om. Momy, i love you." gumam Revandra diakhir kalimat.
Angelicha hanya terkekeh lalu mencubit gemas hidung bak prosotan anak TK milik Revandra. Revandra juga ikut terkekeh, sejenak hatinya tenang melihat Angelicha sudah jauh lebih baik.
"Tentang Michel-- itu,"
"Itu bukan salahmu, sayang. Kamu sendiri tidak tahu siapa pembunuh itu, kamu sendiri juga tidak mengerti motif dibalik pembunuhan itu. So, berhenti untuk merasa bersalah." sela Revandra lalu mengecup lamat kening sang istri.
Angelicha terkekeh gemas. Revandra benar-benar sangat romantis, bagaimana bisa hanya dengan kata seperti itu dirinya sudah ibaratkan diajak terbang keawang-awang.
__ADS_1
"Ugh manisnya daddy. Kalau gini momy jadi mikir dua kali untuk ke Jerman," kekeh Angelicha.
"Aku pun berharap begitu, pikirkan lagi. Ada aku dan Soya yang membutuhkanmu," timpal Revandra lalu menenggelamkan wajahnya diceruk leher Angelicha.
Angelicha semakin erat memeluk Revandra. Benar-benar nyaman hingga enggan untuk melepas pelukan diantara mereka.
"Dad, jika seandainya mantan istrimu kembali. Kamu pilih siapa? Pilih aku atau dia?" tanya Angelicha lirih.
Revandra tersenyum manis sebelum akhirnya ikut berbaring disebelah Angelicha. Berbaring dengan posisi saling berhadapan satu masa lain.
"Aku akan memilih momy. Janetta itu masa lalu, kalau momy masa depan." ujar Revandra yakin.
Angelicha memejamkan mata, menikmati debaran indah didalam hatinya. Berani bersumpah, dirinya ingin memukul samsak sebagai pelampiasan perasaan senangnya.
Pyarrrr!!!
Revandra langsung bangkit kala kaca jendela kamarnya pecah karna hantaman batu. Membuka tirai untuk mencari tahu siapa oknum yang berani melempar batu kekamarnya.
Angelicha mengeratkan cengkramannya pada bahu Revandra kala tak sengaja netranya menangkap sosok anymouse tengah bersembunyi dibalik pohon besar rumah disamping.
Revandra mengambil batu terbungkus dengan kertas yang tergeletak tepat dibawah kakinya. Membaca kertas tersebut kemudian langsung merobeknya hingga menjadi serpihan-sepihan kecil dan tak lupa membuangnya ketempat sampah.
"Apa isinya?" tanya Angelicha lirih.
"Tak apa, hanya orang gila." sahut Revandra lalu menuntun istrinya untuk kembali berbaring.
Angelicha yakin ada sesuatu dalam kertas tersebut hingga Revandra langsung merobeknya. Melihat Revandra tersenyum miring saja sudah yakin jika surat itu bersangkutan dengan dirinya.
"Tak usah difikirkan. Ayo tidur, besok pagi kita harus kebandara." gumam Revandra lalu memeluk tubuh istrinya.
Revandra hanya tersenyum melihat tulisan dikertas yang sudah dirinya robek-robek. Kertas ancaman yang mana malah terlihat seperti orang bodoh yang mengirimnya.
Isi suratnya: Kamu hanya milikku, tunggu saja tanggal mainnya. Kamu akan melihat tubuh suami tercintamu itu menggeletak tak bernyawa nanti.
👋Haii readers
🙏💕Terimakasih atas supportnya semoga selalu dberikan kesehatan jaga protokol kesehatan oke guys.
__ADS_1