
Angelicha turun dari mobil dan menyalami Revandra. Spesial untuk pagi ini, Revandra mengantar istri kecilnya itu kesekolah sekalian berangkat ke kantor.
"Kamu kalau belajar yang bener, jangan berantem apa lagi bolos. Ngertikan?" tanya Revandra lalu mengecup singkat kening Angelicha.
"Iyaaa daddy, aku mengerti. Ya sudah aku masuk dulu, sampai jumpa!" katanya riang lalu berjalan memasuki gerbang.
Revandra tersenyum, dibanding punya istri dirinya malah merasa punya anak yang sekolah SMA. Angelicha imut menurutnya dan juga manis, hanya saja sikap bar-barnya menutupi itu semua.
Setelah dirasa Angelicha sudah benar-benar masuk kedalam kelasnya, Revandra menancap gas untuk kekantor.
_____
"Holla everibody! Angelicha kembarannya Jennie Blackpink comeback!" seru Angelicha semangat kala memasuki kelasnya.
Beberapa siswa hanya mampu tersenyum menahan gemash. Terkadang mereka ingin mengunyel-ngunyel Angelicha lalu membuangnya kedanau belakang sekolah.
"Ehh ada gosip apanih?!" tanyanya antusias kala melihat teman-temannya duduk berdempetan.
Angelicha mengambil posisi ditengah lalu tersenyum tak berdosa sudah menggeser tempat Mira. Siswi yang tadi sibuk ngegosip memandang Angelicha dengan tatapan seolah-olah mengatakan 'Diam!'.
"Katanya, Nana anak kelas sebelah hamil sama om-om. Issh yang gw denger sih gitu, mana om-omnya udah beristri lagi." ungkap Mela lalu bergidik ngeri.
"Wah, beneran?!" tanya Mira kaget
"Sepupu gw kan sekelas sama Nana, makanya gw tahu. Katanya Nana bakal jadi istri kedua deh," tebak Mela.
"Issh nikah sama om-om, ngeri ngebayanginnya. Dia masih kecil masa nikah sama om-om. Cantik sih, polos juga makanya gampang dibodohi." gerutu Andin menimpali.
"Emangnya om-om umur berapa berapa?" tanya Angelicha angkat suara.
"Tiga puluh!" jawab Mela semangat.
Angelicha menelan salivanya bulat-bulat. Umur om-om yang dibicarakan Mela tidak jauh beda dengan Revandra. Apakah Revandra juga om-om?
"Menurut kalian umur dua enam itu om-om ngga sih?" tanya Angelicha.
"Menurut gw sih, kalau belum punya istri atau anak bisa dibilang perjaka matang buat nikah," jawab Mira lalu tertawa ngakak.
"Kalau dibandingin sama kita-kita ya lebih pantes jadi kakak lha," timpal Mela.
"Hooh, gw setuju sama Mela. Mang napa lo nanya? Jangan bilang lo mau nikah sama pria dua enam," timpal Andin lalu tertawa keras.
"Angelicha mau nikah sama om-om!" teriak Mira lalu disusul tawa satu kelas.
Angelicha hanya bisa pura-pura tertawa dan memukul pelan Mira. Bisa gawat jika mereka tahu bahwa Angelicha sudah menikah.
"Kalau om-omnya cem Lee Min Ho, bisa dibicarakan baik-baik kok," celetuk salah satu siswi yang sejak tadi sibuk membaca buku.
"Sa ae lo kampret!" seru seisi kelas.
Kelas langsung hening kala pak Halim memasuki kelas dan memulai pelajarannya. Angelicha hanya mendesah lirih, jadi ingin segera lepas dari Revandra sebelum teman-temannya tahu.
_______
Revandra hanya bisa tersenyum manis memandangi paper bag diatas meja kerjanya. Dirinya berniat mengajak Angelicha kencan, ya begitulah sebutan romantisnya.
Entahlah Revandra ingin menghabiskan waktu dengan Angelicha dan meyakinkan perasaannya sendiri. Tak bohong jika Revandra tidak tertarik dengan Angelicha.
"Ngapa lo? Senyum-senyum sendiri?" tanya Reza yang baru saja masuk keruangan Revandra membawa sebuah dokumen.
"Tempat yang romantis dimana ya?" bukannya menjawab Revandra malah bertanya pada Reza.
Reza tersenyum jahil. Tangannya bergerak membuka paper bag dan langsung tersenyum lebar melihat sebuah dress warna biru tua dengan motif kupu-kupu.
__ADS_1
"Sungai Ciliwung, mantap tuh buat kencan!" seru Reza lalu tertawa sumbang.
Revandra ikut tertawa sumbang tapi sedetik kemudian langsung menunjukan ekspresi datar. Menyadari Revandra menatapnya datar, Reza langsung menghentikan tawanya.
"Za, gw ada niat buat bunuh lo masa. Gw nanya serius syaland!" umpat Revandra.
"Jadi ceritanya, lo mau ngajak istri tercinta kencan gitu? Biasanya cewek suka tempat yang manis dan romantis gitu," saran Reza.
"Tapi-- gw ragu kalau Angelicha cewek. Keknya lebih baik lo ajak dia kencan kerumah kentang deh, sekalian uji nyali!" lanjut Reza lalu berlari keluar ruangan.
Revandra mendesah jengah. Dirinya salah bertanya kepada jomblo karatan yang tak pernah pergi kencan. Tapi rumah kentang? Sedikit menarik bukan?
"Masa iya ngajak Angelicha kencan dirumah kentang. Bukan romantis yang ada malah kek syuting film horor, astaga... Reza ngga berguna banget!" gerutunya lalu bangkit dari kursi kebesarannya.
Melirik jam tangan yang melingkar ditangannya, lalu menarik bibir tersenyum. Waktunya menjemput Angelicha pulang dari sekolah.
Sebelum itu Revandra menyuruh salah satu pegawai cafe milik sang ibu untuk menghias lantai atas supaya terlihat romantis. Lihat saja, rencana kencan Revandra akan berjalan dengan lancar. Dimohon do'anya sekalian.
Revandra tak henti-hentinya tersenyum sepanjang perjalanan. Moodnya benar-benar bagus untuk sore ini.
Mobilnya melaju santai menyusuri jalan raya dengan tujuan sekolah Angelicha. Memang disana untuk kelas tingkat akhir akan pulang sore sekitar jam dua atau tiga.
Masih ada setengah jam dan Revandra menghentikan mobilnya disebuah toko bunga milik kenalannya. Setangkai mawar merah yang cukup manis untuk diberikan kepada orang yang berharga.
"Semoga saja gadis itu suka," gumamnya lalu kembali melajukan mobilnya.
_______
Tepat, ketika mobil berhenti Angelicha sudah terlihat melambaikan tangan. Revandra tersenyum menangkap wajah senang dari istri kecilnya.
Namun senyumannya pudar, Angelicha tengah dirangkul oleh salah satu siswa lalu diajak masuk mobil seseorang. Dan yang membuat hatinya berdenyut, Angelicha sama sekali tidak berkata apa-apa pada Revandra padahal jelas-jelas Angelicha melihat.
Revandra keluar dan mengawasi mobil tersebut. Bisa dilihat bukan hanya Angelicha dan siswa tadi, ada kurang lebih lima orang dalam mobil van hitam tersebut.
Kecewa.
Revandra kecewa melihat istri kecilnya dirangkul pria lain. Apalagi dalam mobil tadi sangat ramai, pasti mereka bersenang-senang.
Revandra kembali masuk kedalam mobilnya dan segera memutar arah. Moodnya langsung rusak dalam hitungan detik.
Dirinya seperti anak SMA yang melihat kekasihnya jalan dengan pria lain. Padahal tak seharusnya Revandra begitu.
_____
Angelicha hanya bisa diam. Entah kenapa dia tidak nyaman melihat Revandra yang nampak kecewa. Dirinya juga penasaran dengan apa yang dibuang Revandra ditempat sampah.
"Eh bentar ya, gw lupain sesuatu!" seru Angelicha lalu keluar.
Senyumannya mengembang kala melihat setangkai bunga mawar yang masih nampak segar. Mencium aroma bunga tersebut, pipinya jadi memanas.
"Apa daddy membeli ini untukku? Lalu kenapa dibuang?" gumamnya. Namun seringaian dibibirnya mendadak muncul.
"Pasti cemburu!" batinnya tertawa puas.
Menaruh bunga tersebut kedalam tas lalu kembali masuk kemobil jemputan Mela. Angelicha, Andin, Mela, Rehan, Ridho, Hanif serta Nichol bersiap untuk menyerbu rumah Fahmi.
Lihat saja apa yang akan mereka lahkukan nanti.
_______
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai kerumah Fahmi. Kini mereka tengah berdiri didepan gerbang berwarna coklat dengan tinggi menjulang.
Angelicha langsung melempar tasnya serta sepatu disusul teman-temannya. Lalu mereka memanjat pagar tersebut membuat pak satpam yang tadi ingin membukakan pagar terhenti.
__ADS_1
Tak kaget dengan teman-teman tuan mudanya itu. Bisa dibilang mereka adalah titisan setan, begitu perumpamaannya.
"Makasih pak!!" seru mereka bertujuh.
Pak satpam hanya bisa tersenyum seperti orang dungu. Kadang berpikir mereka bertuju itu makan apa?
"Haeshh nggak akan ada abisnya mikiran temen-temen aden teh. Suprat sabar kok," gumamnya mengelus-elus perut buncitnya.
"Fahmi!! Assalamualaikum! Fahmi main yuk!!" teriak mereka bertujuh kompak.
"Fahmi!! Kita lagi baik nih mau main kekandang lo!!" teriak Angelicha.
"Berisik syaland! Cepet masuk malu dilihat tetangga!!" seru Fahmi yang nampak kesal dengan teman-temannya.
"Ye upil anoa bisa juga malu. Biasanya juga malu-maluin," celetuk Hanif.
"Hooh anjirr, malu-maluin!" timpal Ridho lalu tertawa.
Fahmi hanya bisa menghela nafas mengusap-usap dada bidangnya. Berani bersumpah temannya tak ada yang berguna dan tak ada yang waras, wajar bekas pasien rumah sakit jiwa.
Mereka bertuju langsung masuk tanpa mengucap permisi. Pak Suprat yang melihat hanya bisa tersenyum kikuk.
Rumah Fahmi sepi karna kedua orang tuanya masih berada di Jerman dan kakak laki-lakinya masih bekerja jam segini. Jadilah mereka bebas tanpa takut kena omel mamahnya Fahmi.
"Fahmi ada cola nggak?" tanya Hanif.
"Noh ambil dikulkas!" seru Fahmi.
Hanif dan Ridho langsung melangkah menuju dapur. Membuka kulkas lalu mengambil satu botol cola berukuran besar.
"Fahmi gw makan ya!" seru Ridho.
"Yaudah makan tinggal makan! Kalian mau ikut makan nggak?" tanya Fahmi dan dibalas gelengan oleh teman-temannya yang masih berada diruang tamu.
Tak ada yang namanya jaim-jaim club antara mereka. Tak ada malu-malu club, mereka akan menganggap rumah salah satu dari mereka sebagai rumah kedua mereka.
"Oh ya, nih gw punya sesuatu buat kalian," ucap Fahmi sambil memberikan bingkisan kepada satu persatu temannya.
Hanif dan Ridho keluar dari dapur dengan satu piring nasi, ikan goreng serta kerupuk sedangkan Ridho keluar dengan satu botol besar cola dan beberapa cemilan.
"Lo mau main apa niat ngrampok?" tanya Angelicha.
"Ngrampok!" jawab mereka berdua serempak.
"Eh Cha, ini mawar buat gw? Tau aja lo kalau gw lagi butuh bunga buat ditaruh divas!" seru Fahmi kesenengan.
"Jangan!" teriak Angelicha lalu merebut bunga tersebut.
"Kenapa sih? Sejak kapan lo suka bunga? Atau dari kekasih lo?" tanya Fahmi berentet.
"Ini tuh dari suami gw!" seru Angelicha.
Glek!
Brussshh
"Ridho sialan!!" Angelicha berteriak kala Ridho menyemburkan cola kewajahnya.
"Ahahahaha awas kalau lo bilang dari Suga BTS, gw gampar lo!" ancam Mela.
"Enggak ya, ini tuh dari suami sah gw. Namanya Jung Jaehyun," ucap Angelicha bangga.
"Halu!!" seru mereka bertuju lalu melempari Angelicha dengan kacang.
__ADS_1