CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 102.IBu Biologis


__ADS_3

Seperti jadwal yang sudah ditetapkan pihak pengadilan. Hari ini sidang hak asuh Soya akan dilaksanakan tepat jam sembilan.


Angelicha harus rela beralasan sakit agar diperbolehkan untuk pulang awal, beruntung Arum yang meminta izin atas putrinya itu.


Mereka berdua segera menyusul yang lain kekantor pengadilan. Untuk perasaan Angelicha tentang kemarin, dirinya abai dengan Revandra.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Arum sambil menatap jahil sang putri.


"Aku tak ingin membahasnya." jawab Angelicha tak berminat.


Arum hanya mengangguk, wajar bukan jika didalam rumah tangga ada pertengkaran. Arum memang tak tahu jika Angelicha dan Revandra menikah hanya karna hak asuh Soya, begitupun yang lainnya.


Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Arum sudah masuk kedalam parkiran gedung tersebut. Angelicha menghela nafas sebelum akhirnya membuka pintu mobil.


Perasaannya khawatir.


"Mama, kenapa perasaan Angelicha khawatir?" tanya Angelicha lirih.


"Kamu berdo'a saja, minta supaya Soya kembali sama kita. Kamu harus positif thinking!" tutur Arum memberi semangat untuk sang putri.


Mereka segera ikut duduk disebuah kursi, bergabung dengan Hanum dan Revandra serta Violet. Revandra juga terlihat nampak khawatir, berkali-kali pria itu mendesah pasrah dan memejamkan mata.


Angelicha hanya melihat tak berminat. Kekesalannya masih sama besarnya kepada Revandra. Pria itu belum meminta maaf untuk tindakannya.


Angelicha sebenarnya tidak masalah jika Revandra masih mencintai Janetta, hanya saja Angelicha ingin dilihat sebagai dirinya sendiri bukan orang lain.


"Gimana sekolahmu tadi?" tanya Revandra memulai pembicaraan diantara mereka berdua.


"Biasa aja," jawab Angelicha singkat.


"Kalau ada apa-apa tolong bilang, aku khawatir jika kamu terus mengabaikan ku. Angelicha, aku minta maaf dan aku akan berusaha untuk menghilangkan kebiasaanku itu," tutur Revandra.


"Enggak kok, aku nggak papa. Lagian aku punya hak apa juga marah? Pernikahan kita kan karna Soya," ucap Angelicha merendah diakhir kalimat.


Revandra hanya mengangguk. Tak nyaman juga jika terus menyinggung soal itu. Entahlah, mungkin Angelicha sedikit menempati ruang dihatinya.


_____


"Kamu mengerti kan apa kata Bunda?" tanya Janetta lalu mengusap pucuk kepala Soya.


"I-iya." cicit Soya lalu menunduk dan berjalan masuk kedalam mobil.


Janetta hanya tersenyum hangat. Dirinya yakin akan mendapatkan hak asuh Soya. Sangat yakin dan akan memulai hidup baru dengan suami barunya beserta Soya.


Didalam mobil Soya hanya diam bermain game di tablet pemberian Janetta. Andai jika Angelicha melihat itu, pasti tablet tersebut akan diambil.


Butuh waktu cukup lama untuk mereka sampai. Setelah memarkirkan mobilnya, Janetta turun diikuti oleh Soya yang masih setia murung.


Senyumnya langsung mengembang kala melihat Angelicha tersenyum lebar menatap dirinya. Ingin berlari menerjang tubuh sang momy jika tidak ditahan oleh Janetta.


"Kamu mengerti apa kata bunda tadi, kan sayang?" tanya Janetta dengan nada menyiratkan sesuatu.


Soya hanya bisa mengangguk lalu menunduk dalam. Dalam hati tengah meronta agar dirinya bisa lepas dari Janetta.


______

__ADS_1


Semua orang berdiri kala hakim sudah duduk disinggasananya. Ujang yang menjadi pengacara dari pihak Revandra langsung berdiri dan menyampaikan unek-uneknya.


"Saya hanya merasa jika Soya lebih bahagia dalam asuhan pak Revandra Aditya. Selama ini beliau yang merawat Soya seorang diri. Menjadi ayah dan ibu sekaligus disaat perusahaan juga tengah sibuk-sibuknya, bukanlah hal yang mudah dilahkukan. Sedangkan nyonya Janetta Wulandari, dimana beliau ketika Soya membutuhkan asinya? Dimana beliau ketika Soya menangis merindukan ibunya? Saya hanya merasa tidak adil jika hak asuh Soya berada ditangan nyonya Janetta." ungkap Ujang panjang kali lebar.


"Maaf yang mulia, saya keberatan!" seru pengacara dari pihak Janetta.


"Keberatan Anda diterima. Silahkan..." kata pak hakim.


"Nyonya Janetta hanya pergi untuk mencari nafkah. Masa itu tuan Revandra belum bisa mencukupi kebutuhan beliau, apa salahnya jika wanita lepas mencari nafkah? Beliau juga sering mengirimkan uang untuk keperluan nona Soya!" ungkapnya lalu menatap nyalang Ujang.


"Saya keberatan yang mulia!" seru Ujang menyela musuhnya untuk berbicara.


"Keberatan ditolak! Silahkan kembali duduk!" kata pak Hakim sontak mengundang rasa kecewa dari Ujang.


Pengacara dari pihak Janetta semakin menyudutkan Revandra. Berbicara seolah-olah Revandra tidak layak menjadi ayah karna sikap kasarnya.


Dari bangkunya, Revandra hanya menunduk dalam. Hatinya sakit jika mengingat dirinya pernah mengumpati Soya dan sekarang perkataannya dulu malah dijadikan senjata oleh pihak Janetta.


Angelicha semakin khawatir apalagi peluang untuk mendapatkan Soya semakin kecil. Tangannya menggenggam erat jemari Revandra, seolah-olah mereka harus saling menguatkan satu sama lain.


"Lalu untuk mendapatkan hak asuh nona Soya, pak Revandra menikah dengan seorang siswi SMA." pungkas pengacara tersebut.


Atmosfer semakin terasa tegang didalam ruangan tersebut. Angelicha menggigit bibir bawahnya, menahan agar dirinya tidak menangis. Memang benar dirinya masih SMA, tapi apakah salah jika dirinya menyayangi Soya?


"Kita akan mendengar kesaksian dari kedua ibu yang sama-sama menyayangi Soya," kata hakim lalu menyuruh Janetta dan Angelicha untuk maju.


Revandra berdo'a dalam hati, berharap bahwa Angelicha bisa membawa Soya kedalam pelukan mereka lagi. Soya sangat berharga bagi Revandra, hidupnya ibarat hampa tanpa adanya Soya.


"Tak ada yang lebih kuat dibanding ikatan ibu dan anak. Saya yang mengandung Soya selama sembilan bulan, saya melahirkan Soya mempertaruhkan nyawa saya sendiri. Apakah adil jika tiba-tiba wanita asing itu datang dan merebut hak yang seharusnya menjadi hak ibu biologis Soya?" tanya Janetta membuat bungkam semua orang.


"Benar, ibu biologis yang lebih berhak." komentar hakim.


"Maaf yang mulia!" seru Angelicha berharap masih ada waktu untuk dirinya memberikan kesaksian.


"Bahkan gadis itu berani berseru dihadapan Anda. Apa Anda yakin Soya akan di didik dengan baik?" sela Janetta.


Angelicha hanya tersenyum kecut. Matanya semakin memanas melihat dikursi saksi, Soya tengah menangis tersedu-sedu.


"Apakah salah jika saya seorang gadis SMA? apakah salah jika saya menyayangi Soya layaknya anak saya sendiri. Saya tahu betul bagaimana rasanya menjadi korban dari keluarga, saya hanya ingin Soya mendapat ibu terbaik untuknya. Memang benar ibu biologis lebih berhak, tapi apakah ibu biologisnya perduli selama ini?" tiba-tiba saja kalimat tersebut meluncur dari bibir Angelicha.


"Dari pertama kali saya bertemu Soya, saya bisa melihat dengan jelas bagaimana dirinya merasa kosong. Melihat betapa ayahnya sangat menyayanginya, bahkan pak Revandra menangis kala melihat anaknya dibully. Begitupun saya, hati saya sakit melihat Soya menangis karna bullying teman-temannya," lanjutnya lalu terisak lirih.


"Saya bisa melihat dengan jelas jika pak Revandra dan Soya saling bergantung satu sama lain. Kasih sayang mereka teramat besar dan tak bisa dideskripsikan melalui kata-kata. Memang benar jika pak Revandra adalah orang yang temperamental, tapi dirinya akan benar-benar berubah kala berada dihadapan Soya." pungkasnya.


Hakim dan beberapa sekertarisnya berbincang-bincang. Mendengar kesaksian dari kedua belah pihak cukup mengetahui siapa yang lebih berhak.


"Sekarang keputusan akan diambil melalui Soya sendiri. Soya yang akan memutuskan ingin tinggal bersama siapa," tutur Hakim.


Soya berdiri didampingi sang bibi alias pengasuhnya. Suasana mendadak hening dan tegang. Angelicha tak mampu menahan tangisannya lebih keras kala melihat Soya menolak menatapnya.


"So-Soya ingin ikut Bunda Janetta!" jawab Soya lalu berlari memeluk kaki Janetta.


Angelicha hanya mampu tersenyum getir. Kakinya mendadak lemas ibarat tak berpijak diatas lantai. Tubuhnya semakin bergetar melihat Soya memeluk Janetta.


Tepat detik itu juga keluarga Revandra menangis bersama-sama. Mereka benar-benar kehilangan Soya.

__ADS_1


"Baik, keputusan akan diambil setelah makan siang. Sidang di tunda!" seru hakim lalu turun dari kursi kebesarannya.


Angelicha langsung berlari menerjang Revandra yang tengah tersenyum manis. Tak berbohong jika Revandra mati-matian menahan air matanya agar tak terlihat rapuh dihadapan semua orang.


Soya yang melihat itu hanya bisa merapalkan banyak kata maaf untuk janji yang telah dirinya ingkari. Dengan langkah lesu, dirinya keluar dan duduk dikursi tunggu seorang diri.


"Soya kenapa sendiri?"


Gadis itu menoleh kala mendengar suara seorang pria paruh baya dari samping. Tersenyum lebar melihat pak Hakim tadi tengah duduk disebelahnya.


"Soya sedih. Soya pengen ikut daddy tapi Soya nggak mau nyakitin momy," adu bocah itu.


Pak Hakim bernama Nur Muhamad menukikan alis tidak mengerti dengan Soya. Padahal didalam ruangan tadi Soya bilang ingin ikut dengan ibu biologisnya.


"Memangnya kenapa? Bukannya Soya sendiri yang ingin ikut bunda?" tanya pak Nur.


Flashback!


Soya sudah siap untuk berangkat. Dirinya akan memilih Angelicha nanti. Ketika akan menyantap roti bakarnya Janetta berbicara padanya.


"Soya sayang momy Angelicha tidak?" tanya Janetta.


"Sayang sekali!" seru anak tersebut riang.


"Kalau sayang, Soya harus ikut dengan bunda. Atau bunda akan membunuh momy Angelicha?" ancam Janetta lalu tersenyum manis.


"Kamu mengerti kan sayang, maksud bunda?" lanhutnya lalu mengusap kepala Soya.


Flashback off


Pak Hakim Nur sedikit tidak menyangka. Dirinya tahu jika Soya mengambil keputusan karna tekanan seseorang. Terlihat jelas dari tatapan matanya yang takut, maka dari itu sidang ditunda.


"Ya sudah, sekarang ayo kita masuk lagi!" ajak pak Hakim dan Soya hanya mengangguk.


______


"Hak asuh nona Soya Putri Aditya, jatuh kepada Tuan Revandra Aditya dan Nyonya Angelicha Elizabeth! Sidang ditutup!" seru pak Hakim lalu mengetukan palunya sebanyak tiga kali.


Angelicha yang sejak tadi menangis langsung tersenyum manis. Tidak menyangka, Soya benar-benar kembali kedalam pelukan mereka.


"Tapi bagaimana bisa seperti itu?!" seru Janetta tidak terima.


"Maaf nyonya Janetta, Anda tahu bahwa memengaruhi anak dibawah umur itu bisa berakibat fatal untuk pertumbuhannya. Saya tidak mau mengambil keputusan yang mana malah akan mengancam keselematan Soya. Anda dengan jelas mencoba mengancam Soya jika Soya tidak mau ikut Anda. Anda bisa dipenjara dengan tuduhan kasus pencucian otak.


Saya bisa melihat dengan jelas bahwa Soya jauh lebih menyayangi Tuan Revandra. Anda tidak perlu risau, Anda masih bisa menemui Soya kapanpun Anda mau." jelas pak Hakim lalu turun dan melangkah keluar diikuti semua orang.


Hanya tinggal keluarga Revandra dan Janetta. Soya sudah berhambur memeluk Angelicha dan menangis tersedu-sedu lalu disusul Revandra yang ikut memeluk keduanya.


Pemandangan yang indah bukan?


"Sialan!" desis Janetta lalu pergi begitu saja.


"Momy Daddy! Soya menepati janji!" seru bocah itu.


"Iya. Soya terbaik!" puji Revandra dan Angelicha serempak.

__ADS_1


Cekrek!


Ujang memilih memotret kebahagiaan keluarga kecil client sekaligus sahabatnya itu. Sayang untuk dilewatkan, pikirnya.


__ADS_2