
"Huh! Huh! Huh!"
Keanu terduduk di ranjangnya, menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi dahinya. Kedua tangannya mengusap rambutnya kasar. Perasaannya tidak tenang. Mimpi itu membuatnya ingin menemui Rayna saat ini juga.
Dengan gontai ia berjalan ke kamar mandi. Sekilas dia melihat jam, jarum pendeknya sudah menunjukkan pukul tujuh. Dia telat.
Setengah jam kemudian Keanu sudah berlari menuruni anak tangga. Tatapannya terus mencuri pandang mengarah pada jam di pergelangan tangannya.
"Sarapan dulu, Keanu ."
Keanu menoleh, Oma tengah duduk santai di sofa ruang tamu. Tangannya memegang majalah, di dekatnya ada secangkir teh yang masih mengepulkan asapnya.
"Keanu telat," Keanu menjawab singkat, kembali melangkah.
"Uncle-mu tidak akan membatalkan perjanjian kerjasama nya jika hanya telat beberapa jam. Sarapan dulu, Papamu bisa marah pada Oma jika tahu kamu tidak terurus di sini." Oma melipat majalahnya, menatap Keanu.
" Keanu bisa sarapan di sana, Oma," Keanu menjawab agak ketus. Kesal dia dengan Omanya yang tidak berniat membangunkannya. Jadi telat gini 'kan bangunnya.
Dia sudah tidak mendengar ucapan Omanya, hanya sayup-sayup. Segera ia membuka pintu mobil, mengendarainya membelah padatnya kota Paris.
Perusahaan tempat Keanu bekerjasama memang milik Opanya. Tapi Uncle-nya lah yang sekarang meneruskan perusahaan itu, anak dari Omanya. Opanya sendiri hanya menikmati hasil jerih payahnya, menikmati hari tua bersama istri tercinta.
Ciitt!
Keanu mengerem mobilnya mendadak. Di depan sana, seorang laki-laki tengah marah-marah sambil memukul kap mobil yang dikendarainya.
Dia hampir saja menabrak orang itu. Hanya hampir, tidak sampai kena. Orang itu mungkin terkejut, makanya marah-marah.
Keanu membuka kaca mobilnya, meminta maaf. Orang itu menjauhi Keanu dengan wajah masih kesal. Bersungut-sungut dengan bahasa setempat.
Keanu mengusap wajahnya kasar. Mimpinya tadi benar-benar memecahkan konsentrasinya. Ingin sekali ia menghubungi Mamanya, menanyakan kondisi Rayna .Tapi rasa gengsi lebih mendominasi. Bagaimana jika mamanya bertanya 'kenapa kamu sekhawatir itu pada Rayna ?
Keanu menggeleng, kembali melanjutkan perjalanannya. Ia akan mencoba fokus nanti.
🐳🐳🐳🐳🐳🐳
"Rayna kamu kenapa ada di sini? Kita ... kenapa kita ada di tempat ini?"
Keanu mendekati Rayna, menatap khawatir pada gadis di depannya itu. Dia hanya diam, menatap Keanu dengan tatapan layu. Tangan Keanu terjulur, hendak memeluk Rayna.
Rayna menggeleng. Keanu menarik tangannya, ada apa dengan Rayna ?
"Kita ada di mana, Ra ?" Keanu menatapi sekeliling. Gelap. Ia tidak tahu tempat ini. Sebuah ruangan kosong yang hanya ada dia dan Rayna di dalamnya. Tidak ada perabotan lain, kursi, meja, atau apalah itu.
Rayna terdiam, menunduk, menyembunyikan wajahnya dilipatan lututnya. Isak tangisnya terdengar.
"Rayna ada apa?" Bertambahlah kebingungan Keanu . Kenapa dia menangis tiba-tiba?
Rayna menggeleng, mengangkat kepalanya dan menarik nafas kasar.
__ADS_1
Sebelum Rayna bersuara, pintu di ruangan itu terbuka Keanu sampai tidak tahu letak pintu yang benar di mana. Seseorang berjalan mendekati keduanya, seorang yang misterius dengan kupluk hoodie hitam menutupi kepala serta wajahnya.
Keanu tidak tahu dia siapa. Yang membuatnya terpaku, Rayna tiba-tiba beranjak dan berlari memeluk sosok itu. Wajah ketakutan Rayna seakan berkurang, Keanu menangkap raut lega dari wajahnya sebelum berlari mendekati sosok misterius itu.
"Rayna dia siapa?" Keanu mendekati Rayna sedikit takut dengan sosok berhoodie hitam itu. Takut dia akan melukai Rayna.
Sosok misterius itu tersenyum sinis, tangannya membalas pelukan Rayna . "Mau keluar, Sayang?"
Rayna mengangguk, melepaskan pelukannya dan menarik tangan sosok itu. Keanu tidak tinggal diam. Dia segera menarik tangan Rayna yang satunya.
"Jangan pergi dengan orang asing, Ra ." Keanu berusaha menarik tangan Rayna , memintanya menjauhi sosok itu.
"Dia bukan orang asing," jawab Rayna pelan.
"Dia siapa? Kamu nggak kenal dia 'kan?" Keanu masih berusaha menarik tangan Rayna
"Jangan menyentuh milikku." Sosok yang tangannya dipegang oleh Rayna itu melepaskan tautan tangan Keanu dan Rayna
"Menjauh dari Rayna !" Keanu menatap tajam sosok itu. Wajahnya tidak nampak, tapi dia melihat sosok itu tersenyum sinis padanya.
Sosok itu perlahan menurunkan kupluk hoodienya. Keanu terlejut, reflek mengepalkan tangannya. Sosok itu adalah Bryan !
Keanu maju selangkah. Tangannya sudah gatal ingin memberikan bogeman pada sosok yang tersenyum merendahkannya itu. Langkah selanjutnya terhenti. Ada sosok yang melindungi Bryan . Rayna.
"Jangan ganggu kami, Keanu !"
Keanu terpaku.
Sebuah map terlempar di atas meja, beberapa lagi berjatuhan di lantai. Bayangan mimpi itu membuat Keanu ingin menghancurkan semua benda di sekitarnya.
Keanu mengusap rambutnya kasar. Sedikit bersyukur itu hanya mimpi. Lagian, Dimas di sana pasti sedang menjaga Rayna. Apa yang harus dikhawatirkan?
"Baby, ada apa?" Pintu ruangan Keanu terbuka. Bianca dengan pakaian minim berjalan mendekati Keanu
"My god! Kenapa meja kerjamu berantakan sekali, Keanu ? Rambutmu? Astaga!" Tangan lentik Bianca menyentuh ujung rambut Keanu , mendelik tidak suka.
Keanu menepis tangan Bianca, bertanya datar, "Ada apa?"
"Ada apa kau bilang? Yang seharusnya bertanya begitu itu aku," ucap Bianca kesal.
"Katakan apa maumu, Bi. Aku sibuk." Keanu memijat ujung hidungnya, melirik Bianca datar.
"Aku mau belanja." Bianca mendekati kursi Keanu , tanpa sungkan duduk di atas paha sepupunya itu.
Keanu menggeliat, tidak nyaman dengan perlakuan Bianca. "Kenapa ke sini jika ingin belanja?"
"Aku sudah izin dengan Daddy untuk mengajakmu belanja," ucap Bianca sambil bergelayut di leher Keanu
"Aku tidak suka belanja." Keanu berdiri, membuat Bianca mau tidak mau juga ikut berdiri.
__ADS_1
"Kamu tidak dengar ucapanku? Aku sibuk." Keanu berjalan menuju pintu, membukanya. "Keluarlah. Aku harus bekerja."
Bianca mendekati Keanu wajahnya ditekuk. Dan tanpa babibu, sepupu Keanu itu segera menarik Keanu untuk keluar dari ruangan kerjanya.
Di tempat Rayna
Mobil yang dikendarai Bryan berhenti. Rayna menoleh pada Bryan, kemudian memperhatikan sekeliling. Ada rumah di depan mobil itu terparkir. Sepertinya sudah tidak berpenghuni. Halamannya dipenuhi rumput dan daun berguguran. Cat rumahnya pun sudah pudar. Tempat ini jelas jauh dari keramaian.
Hanya rumah itulah satu-satunya tempat yang Rayna temui selama perjalanan yang panjang itu. Bahkan, matahari sudah tenggelam sejak tiga puluh menit lalu.
"Ini di mana, Bryan ?" Rayna bertanya pelan, enggan menoleh pada Bryan .
"Tempat kita menghabiskan malam, Sayang. Ayo turun." Bryan tersenyum. Senyum yang dulu membuat Rayna mabuk kepayang. Kini senyum itu membuat Rayna muak dan ... takut.
"Aku nggak mau, Bryan!" Rayna menggeleng pelan.
"Aku sudah menunggu waktu ini, Baby. Kamu ingin membuatku menunggu lagi?" Bryan masih tersenyum. Tangannya meraih tangan Rayna , kemudian mengecupnya.
"Bryan...." Mata Rayna berkaca-kaca.
"Ooh, kamu menungguku membukakan pintu untukmu, Sayang? Baiklah." Bryan melepaskan genggaman tangan Rayna , membuka pintu.
"Bryan ." Rayna tiba-tiba memegang tangan Alex. Ide gila tiba-tiba masuk ke dalam otaknya.
"Tunggu sebentar, Sayang ..." Bryan sudah berlari mengitari mobil.
Rayna menggenggam tangannya. Ini ide buruk, tapi tidak ada cara lain.
Bryan sudah bersiap membuka pintu, tangannya hampir menyentuh pintu mobil. Saat itulah, dengan gerakan cepat, Rayna segera membuka pintu mobil, mendorongkannya ke Bryan.
Reflek laki-laki itu mengaduh, memegang perutnya. Tak membuang kesempatan, Rayna segera keluar saat Bryan sibuk dengan perutnya.
Buk!
"Awss!" Bryan memegang adik kecilnya, Rayna baru saka menendangnya. "Rayna !"
Gadis itu sudah melesat berlari meninggalkan Bryan yang berusaha mengejarnya. Bryan dengan sekuat tenaga mencoba mengejar Rayna.Dia khawatir, mau bagaimana pun, tempat ini begitu asing bagi gadis itu.
Rayna terus berlari dengan nafas tidak beraturan. Suasana gelap menyulitkannya melangkah, ada yang menghalangi. Seperti ranting, atau entahlah.
Nafas Rayna tersengal. Tangan kirinya memegangi dada, tangan lainnya bertumpu pada lutut. Dia sudah lumayan jauh dari Bryan . Suara laki-laki itu tidak terdengar, walau pun sayup-sayup.
Rayna memandang ke sekeliling, terduduk di bawah salah satu pohon besar. Baru dia sadari. Dia di dalam hutan!
👋🙋Haii readers,
Gimana suka ga??
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
__ADS_1
🙏💕 terimakasih