CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 98. Mama


__ADS_3

Icha mengantar Angelicha untuk pulang dan meminta ibunya Angelicha untuk datang. Apapun yang akan diucapkan Arum nantinya, Angelicha akan menerimanya dengan lapang dada.


Pernikahan hanya tinggal empat hari lagi dan untuk sekarang Revandra tidak bisa menemani Angelicha karna pria itu sibuk dengan urusannya sendiri.


"Ayolah kak, panas nih." rengek Icha yang tengah berjongkok didepan pagar rumah Angelicha.


Angelicha masih setia berdiri dibawah terik matahari siang. Didalam ada mobil ayahnya, dirinya takut kalau ayahnya akan memaki dirinya dan tak memberi restu.


"Udah, ayo kita masuk!" ajak Icha lalu mengenggam tangan Angelicha.


Angelicha menunduk namun netranya langsung membola melihat Mona baru saja keluar dari rumah dengan wajah tersenyum manis.


"Kamu berhak bahagia." tutur Mona tak lupa senyum manisnya lalu segera pergi dari sana.


Icha menatap tajam punggung Mona. Secantik itu baby girl om Arga? batinnya. Icha lalu kembali menggandeng tangan Angelicha dan mengajaknya masuk.


"Aku ingin kita bercerai. Aku tidak mau terus-menerus menyakiti permata berhargaku, terserah kau mau punya berapa baby girl. Lepaskan aku dan biarkan Angelicha ikut denganku!!" teriakan dari dalam rumah membuat Angelicha terdiam.


Air matanya meluruh dan bibirnya tertarik membuat lengkungan manis. Apakah Angelicha berharga bagi Arum?


Masih terdiam ditempatnya dan mendengarkan apalagi yang akan diucapkan Arum. Angelicha hanya berharap, semoga kebahagiaannya tak dipatahkan sekarang.


Ceklek!


Icha langsung menatap dingin Arga yang baru saja keluar dari rumah. Jangan salah, Icha memang takut dengan laki-laki namun dirinya bisa langsung menghajar laki-laki tanpa memandang bulu.


"Ini semua karna kau anak sialan!" hardik Arga lalu mendorong keras Angelicha.


Angelicha hanya diam sambil tersenyum manis. Pinggulnya sakit karna harus mencium kerasnya lantai akibat terjerembab kebelakang tadi.


Bugh!


"Kasar sekali!" sentak Icha setelah berhasil menendang punggung Arga.


Arga menoleh menatap Icha. Keponakannya itu benar-benar harus diberi pelajaran.


"Tau apa kau. Bukankah kau hanya tinggal dalam kamarmu? Kau kan gila makanya tidak berani keluar. Aku heran, kenapa pria-pria dulu tidak ikut menyiksamu. Hmm kau jelek, kau tidak ada cantiknya sama sekali. Kau adalah produk gagal kedua orang tuamu!" sarkas Arga.


'Produk gagal'


Icha menggeram menahan amarahnya. Arga mengatai dirinya? Tidak salah Arga mengatai keponakan yang dulu selalu dirinya peluk?


Icha gelap mata, menggapai vas bunga diatas meja depan pintu dan langsung memukulkan vas tersebut.


Pyarrr


Soya terkejut dan menatap pecahan piring dibawah kakinya. Melangkah mundur sebelum akhirnya menangis kencang.


Hanum dengan cekatan langsung menggendong Soya dan membawa Soya menjauh dari dapur. Entah apa yang ingin Soya lahkukan hingga membuat salah satu piring pecah.


"Tak apa, biar bibik Atin yang membersihkan." tutur Hanum lembut.


Icha membeo, tangannya bergetar kala melihat kepala Angelicha yang berdarah. Sedangkan Arga hanya tertawa sarkas lalu melangkah pergi, meninggalkan Icha yang tengah syok dan Angelicha yang memegangi lukanya.


Brugh


Icha langsung menangis dan berteriak memanggil nama Arum. Dirinya tidak sengaja, amarah mengusai dirinya. Dirinya berniat memukul Arga, tapi kenapa malah Angelicha melindungi Arga?


"A-ada apa?! Kenapa dengan Angelicha?!" Arum yang melihat langsung histeris dan segera meminta pak Udin menelfon dokter.


"A-aku tidak sengaja!" tegas Icha tergagap karna merasa takut.


"Tak apa, ayo bantu tante membawa Angelicha masuk. Segera telfon pacarnya!" kata Arum dan Icha mengangguk patuh.


_____

__ADS_1


Revandra yang mendapat pesan singkat dari Icha langsung khawatir dan membereskan dokumen yang seharusnya segera ditandatangi. Demi Angelicha, Revandra rela meninggalkan segalanya.


"Bapak mau kemana?! Ada meeting lima menit lagi!" teriak Reza menyusul Revandra yang tengah berlari.


"Dasar bos sialan!!" umpat Revandra berteriak kencang. Semua membeo menatapnya, percayalah hanya Reza yang berani mengumpati Revandra secara terang-terangan.


Revandra segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya merapalkan segala do'a agar Angelicha tak kenapa-napa.


"Angelicha, kamu harus baik-baik aja atau semua rencana saya gagal." gumamnya lalu memutar setir kemudi.


Disisi lain Angelicha yang baru sadar dibuat spot jantung dengan pelukan mendadak dari Arum. Kepalanya masih terasa pusing, dirinya ingat jika dirinya yang menyelamatkan sang ayah dari amukan Icha.


"Mama?" gumam Angelicha.


"Kamu nggak papa kan? Mama menyesali semuanya. Mona dan Revandra sudah menjelaskan semuanya kepada mama. Mama menyesal sayang, maafkan mama." racau Arum sambil menangis tersedu-sedu.


Angelicha ikut meneteskan air matanya. Revandra menepati janjinya, Revandra sudah berhasil membawa Arum kedalam pelukan Angelicha.


"Mama udah, nggak usah minta maaf. Angelicha udah maafin semuanya hiks... Angelicha juga egois karna selalu ingin dimanja mama," ucap Angelicha disela-sela tangisannya.


Arum melepas pelukannya, tersenyum menatap Icha yang tengah duduk menunduk dikursi meja belajar Angelicha. Sedari tadi gadis itu menangis karna tak sengaja melukai Angelicha.


"Icha sayang, kemari... kakakmu nggak marah kok." tutur Arum sambil menepuk tempat tidur sebelah dirinya duduk.


Icha mengangguk dan melangkah pelan, walau tahu betul kakaknya tak akan marah tapi tetap saja dirinya merasa bersalah.


"Kak... maafin aku ya. Aku nggak sengaja, aku berniat memukul pria sialan itu tapi--" Icha membuang nafas kasar jika mengingat kejadian setengah jam lalu.


"Maafin aku," lirih Icha.


"Iya, kakak ngerti kok. Lain kali hati-hati ya, kalau terjadi apa-apa dengan papa aku tidak khawatir dengannya tapi aku khawatir denganmu. Kamu masih terlalu kecil untuk berurusan dengan hukum." ujar Angelicha lalu mengusap kepala Icha.


Ceklek


"Mama, apa kabar?" tanya Revandra lalu menyalami tangan Arum.


"Mama?" tanya Icha dan Angelicha bersamaan.


"Ihh nggak mau tau ya! Pokoknya mama harus cerita semuanya!" Angelicha ngotot meminta penjelasan dari Arum atas tindakan Revandra yang memanggilnya mama.


"Ceritanya panjang sayang, kenapa kamu nggak bilang kalau calon mantu mama anaknya Hanum dan Fikri?" tanya Arum sambil tersenyum jahil.


"Lha? Apa kaitannya?" tanya Angelicha heran.


Flashback!


Arum baru saja menyelesaikan meeting dengan client dari Singapore. Rencananya setelah ini, dirinya akan menikmati machiato disalah satu cafe milik temannya.


Membereskan barang-barangnya dan langsung tancap gas kecafe tujuannya. Sebelumnya Arum juga sudah memesan meja, mengingat cafe tersebut selalu ramai dengan remaja.


Hey dicafe tersebut baristanya tampan pula.


Mobilnya sudah terparkir diparkiran cafe tersebut. Arum mencari meja nomer 15 tempatnya membooking tadi. Setelah mendapatkan, segera dirinya berjalan kesana.


Brugh


"Sialan!" umpat Arum kala bahunya bertabrakan dengan pengunjung lain.


"Maaf aku-- nyonya Arum?" tanya wanita tersebut.


"Ck, sialan satu ini." desisnya menatap tajam wanita yang tak lain adalah Mona, selingkuhan suaminya.


Mona tersenyum manis menanggapi desisan Arum. "Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Angelicha," tawar Mona masih mempertahankan senyuman manisnya.


"Baiklah, ayo duduk." Arum segera menggeser kursi dan duduk disusul Mona.

__ADS_1


Tak lama kemudian datang seorang waiters yang mencatat pesanan mereka. Hanya machiato dan jus strobery pilihan mereka.


"Maaf bukannya ingin gimana-gimana. Ini hanya tentang Angelicha, sebenarnya saya kasihan melihat Angelicha. Tatapannya sangat jelas bahwa dirinya kesepian, dirinya rindu sebuah pelukan dari ibunya," ujar Mona lalu tersenyum manis.


"Tahu apa kamu tentang anakku?" tanya Arum mulai antusias mendengar dongeng Mona.


"Angelicha mendapat scorsing selama satu minggu karna sering terlambat bangun. Aku hanya khawatir tentang kesehatannya, om Arga selalu kasar dengannya..." lanjut Mona lalu menopang dagu.


"Permisi, ini pesanan kalian nyonya." tiba-tiba seorang pelayan datang membawakan minuman mereka.


Arum dan Mona meneguk minuman masing-masing. Mona menarik nafas lalu kembali bercerita.


".... aku pernah masuk kekamarnya dan menemukan banyak sekali botol obat tidur dan obat sakit kepala. Saat aku masuk dirinya tengah bermain gitar memandang langit sambil menyanyi tentang keluarganya. Aku juga sempat membaca diary miliknya bahwa Angelicha sangat meridukanmu, Angelicha rindu pelukan hangatmu.


Aku takut, Angelicha memiliki hati selembut sutra dan serapuh kapas yang berterbangan. Aku takut masa mudanya dipenuhi luka dari perseteruan diantara kalian." pungkasnya lalu tersenyum manis.


Tak terasa air mata Arum mengalir. Dirinya menyadari sikap acuhnya empat tahun terakhir ini. Dirinya tidak pernah memikirkan tentang keadaan Angelicha sama sekali.


"Saranku, perbaiki hubungan kalian. Jangan korbankan Angelicha dalam masalah kalian berdua," tutur Mona lalu bangkit, menepuk bahu Arum sebelum pamit membayar minumannya.


Arum menangis dan menumpukan kepalanya diatas meja. Baru terfikirkan keadaan Angelicha setelah empat tahun dirinya abai. Kesalahannya terlalu besar.


"Eh Arum?"


Arum menghapus air matanya dan langsung mendongak. Memaksakan senyum ketika melihat sahabat lamanya tengah tersenyum manis.


"Hanum, apa kabarmu?" Arum langsung bangkit dan memeluk wanita tersebut.


"Aku baik-baik saja. Aku turut bersedih dengan hubunganmu dan Arga ya. Bay the way, gimana kabar putri kamu?" tanya Hanum basa-basi.


"Aku ibu yang buruk, aku melukai anakku selama ini. Aku melupakan kewajibanku sebagai ibu, aku menyesali semuanya hiks..." jawab Arum lalu menangis lagi.


"Stthhh, perbaiki semuanya. Mumpung kita bertemu, aku mau mengundangmu kepernikahan kedua anakku. Datang ya," hibur Hanum.


"Anakmu akan menikah? Angelicha juga baru saja dilamar kekasihnya." ucap Arum.


"Ahhh sayang sekali. Seharusnya anak kita berdua berjodoh ya." celetuk Hanum.


"Ibu--- tante?" Arum membola melihat Revandra memanggil Hanum ibu.


"Ini anak ku Revandra." kata Hanum memperkenalkan putranya yang tak lain adalah Revandra.


"Hey, kita akan menjadi besan!" seru Arum bahagia.


"Jangan bilang Angelicha yang akan dinikahi putraku adalah putrimu? Astaga, ini benar-benar luar biasa," gumam Hanum tersenyum tidak menyangka.


Arum bangkit dan langsung memeluk Revandra. Mengucap maaf dan terimakasih berkali-kali karna sudah hadir dalam hidup Angelicha.


"Mama tolong kamu jaga Angelicha," gumam Arum terisak haru.


"Aku akan menjaganya semampuku, ma. Aku akan melindunginya dan memberikan kebahagiaan untuknya." jawab Revandra lalu tersenyum.


Flashback off!


Grebb


Revandra membalas pelukan Angelicha dengan hangat. Dirinya juga bahagia, sebenarnya akhir-akhir ini Revandra juga sibuk mengurus hati mertuanya itu.


"Makasih dad, udah tepatin janji." kata Angelicha.


"Iya, selagi saya bisa, saya akan selalu menepati janji saya. Termasuk janji saya tentang melepaskan kamu..." ucap Revandra lirih diakhir kalimat.


Angelicha hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu melepas pelukannya dan menatap jahil Icha yang tengah duduk menjaga jarak dari Revandra.


Bukan kali pertama mereka terjebak dalam satu ruangan dan Revandra tahu mengapa Icha kurang welcome dengan orang asing. Tak mengapa, karna Revandra akan menikahi Angelicha bukan Icha.

__ADS_1


__ADS_2