
Revandra dibuat mengumpat berkali-kali mengingat tendangan gadis bar-bar yang ditemui beberapa menit lalu ditaman. Tidak bisa membayangkan, gadis sekecil dan seimut itu mempunyai tendangan seperti pria dewasa.
Ngilu bukan main rasanya, ingin menangis tapi malu. Akan hilang jiwa berwibawanya jika menangis dihadapan sang anak.
Ya, Soya tadi langsung mengajak pulang setelah menghabiskan eskrimnya dan melerai adu mulut keduanya. Dan sekarang Soya tengah bermain dengan gadgetnya dibangku belakang.
"Senang sekali ya kamu kalau bermain dengan setan tadi?" cibir Revandra pasalnya sejak ditinggal mengejar mantan istrinya Soya total abai padanya.
"Iya, kakak pembolos baik hati." jawab Soya tanpa niat mengalihkan pandangannya dari gadgetnya.
"Kakak pembolos?" lirih Revandra membuat Soya menoleh menatapnya dari spion depan.
"Heem, kakak itu yang kemarin nganterin aku pulang terus beliin aku banyak permen ditambah hari ini aku diberikan eskrim. Sangat baik, berbeda dengan bunda..." sahut Soya melirih diakhir kalimatnya.
Revandra hanya bisa tersenyum kecut. Sebenarnya kasihan juga kepada Soya, dimasa kanak-kanaknya tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya yang terlalu gila dengan dunia fashion.
"Dad, bolehkah aku bermain dirumah kakak pembolos hari minggu?" tanya bocah itu polos.
Revandra hanya tersenyum lalu mengangguk tanda setuju, tidak bohong jika didalam hati tengah mengumpati Angelicha dan bertanya-tanya pelet apa yang dirinya gunakan untuk sang putri.
Angelicha tersenyum sinis kala melihat seorang perempuan seumuran dengannya tengah duduk manis disofa ruang tamu. Pakaiannya yang benar-benar ketat menunjukan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas sudah membuktikan bahwa perempuan itu bukan perempuan baik-baik.
Angelicha ikut duduk disofa depan perempuan tersebut. Masih mempertahankan senyuman sinisnya dan dibalas senyuman manis dari perempuan didepannya.
"Naas sekali ya kak, karna hidup kau jadi harus pontang panting menjadi bit\*h. Hidup itu memang keras, ahhh ngomong-ngomong bagaimana rasanya cukup memuaskan om-om berduit tapi saldo dalam rekening selalu bertambah?" tutur Angelicha lalu meregangkan tubuhnya.
Perempuan tersebut diam melihat anak semata wayang sugar daddynya. Hatinya sedikit tercubit memang mendengar penuturan Angelicha.
"Ahahaha, tunggulah tua bangka itu kembali dari kantor. Jika butuh apa-apa ambil saja, anggap saja rumah sendiri." kata Angelicha lalu bangkit dan meninggalkan perempuan bernama Mona tersebut.
Angelicha menghela nafas. Dadanya sesak jika melihat perempuan tersebut berada dirumahnya. Mendengar suara laknat dari kamar sang ayah malah akan menambah rasa bencinya.
Sudah katam melihat kedua orang tuanya menghabiskan waktu dengan selingkuhan mereka masing-masing. Angelicha hanya mencoba tidak perduli dan berpura-pura baik-baik saja walau hatinya menjerit.
"Uang adalah segalanya, tapi cinta dari keluarga tidak akan pernah bisa digantikan dengan uang." gumamnya menatap sendu bingkai foto dimeja nakasnya.
Jika melihat dari sudut pandang orang lain, Angelicha adalah pribadi yang bar-bar, ceria, happy virus, kocak serta tidak punya beban hidup. Tapi jika melihatnya secara jelas, Angelicha tidak lebih adalah gadis yang memiliki hati rapuh serta rasa kesepian yang selalu mencekamnya setiap malam.
Percayakah ada malam tanpa tidur?
Angelicha sudah benar-benar kebal dengan malam seperti itu. Tidak akan tertidur selama beban dipundaknya belum bisa diluruhkan dan akan tertidur pada pagi hari.
"Hahhh hidup memang tidak selalu adil." leguhnya lirih.
"Dad, kita akhiri saja hubungan ini. Aku kasihan setiap melihat tatapan Angelicha. Angelicha teramat baik karna sama sekali tidak membenciku, diusianya sekarang dia tengah membutuhkan support dari kedua orang tuanya. Kalian berbaikanlah, jangan sampai Angelicha menjadi korban keegoisan kalian." lirih Mona mencoba menasihati sugar daddynya itu.
"Tidak perlu memikirkan anak bodoh itu. Dirinya tidak pantas untuk dibanggakan, kalau kita mengakhiri ini kamu yakin bisa hidup glamour seperti sekarang?" tutur Arga mengusap sayang bibir merah merekah milik Mona.
"Sekarang pulanglah, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku masih ada urusan." lanjutnya dan dibalas anggukan patuh dari Arga.
Arga dengan langkah murkanya mendobrak pintu kamar Angelicha. Sedangkan pemilik kamar hanya menatapnya datar tak berminat.
"Apa yang telah kau katakan kepada Mona?!" sentak Arga sambil mencengkram erat pergelangan Angelicha.
"Aku hanya mengatakan bahwa hidup itu sulit." jawab Angelicha seadanya.
__ADS_1
"Jangan berbohong, kau pasti menghinanya bukan?!" geram Arga.
"Terserah apa tuduhan Anda. Saya hanyalah anak bodoh yang hobi membual." ujar Angelicha sambil tersenyum manis.
Tanpa perasaan Arga menyeret Angelicha memasuki kamar mandi. Mendorong tubuh mungil tersebut hingga terduduk dibawah shower yang menyala dan mengalirkan air dingin.
"Disini sampai pagi, kalau perlu sampai mati!" desis Arga lalu keluar tak lupa mengunci pintu kamar mandi Angelicha.
Didalam Angelicha hanya mampu tersenyum sendu merasakan air dingin yang menyengat pori-pori kulitnya. Tidak usah kaget, ini bukan kali pertamanya Angelicha diperlahkukan seperti ini baik ayah atau ibunya mereka sama saja.
"Angelicha bukan gadis rapuh. Angelicha kuat kok!" gumamnya menghapus kasar air matanya yang bercampur dengan air shower.
"Tapi Angelicha yang kuat akan berubah ketika malam menyapa. Angelicha yang kuat hanya berlaku untuk siang bukan malam." lanjutnya sambil tersenyum manis.
Menunggu seseorang yang akan membukakan pintu untuknya, biasanya akan dibuka ketika jam makan siang dan itu tandanya Angelicha dikunci didalam kamar mandi lebih dari sepuluh jam.
Hanya berharap pembantunya masuk kedalam kamarnya, kepalanya pusing dan maghnya kambuh. Dingin yang menambah penyiksaannya akan dirinya alami malam ini.
\*\*\*
Revandra membuka mata kala merasakan ranjang disebelahnya berdecit. Tersenyum kala melihat Soya ikutan berbaring disebelahnya. Jarang-jarang Soya seperti ini.
"Daddy, aku mimpi buruk. Daddy ayo kita kerumah kakak pembolos!" rengek Soya sambil menggoyang-goyangkan bahu Revandra.
"D-dimimpiku kakak pembolos tadi menangis." lirih Soya dramatis.
Revandra terdiam, aneh saja jika Soya benar-benar memimpikan Angelicha. Mereka bahkan baru bertemu kemarin dan langsung akrab.
"Besok siang kita kesana. Sekarang tidur." gumam Revandra dan mau tak mau Soya menutup matanya lagi.
Revandra masih terjaga, entah kenapa melihat kedekatan Soya dan gadis yang dijulukinya setan itu membuat hatinya menghangat. Rasanya senang melihat senyuman lebar Soya ketika bermain dengan Angelicha.
"Apa aku nikahi saja gadis itu? Hmmm kau berpikir apa Revandra?!" rutuknya dalam hati.
"Apa salahnya menikahi dia demi putriku, tak perduli jika setan itu masih SMA setidaknya dia terlihat tulus menyayangi Soya." gumamnya.
Plak!
"Kau ini kenapa tambah melantur tidak jelas!" rutuknya sambil memukul pipinya pelan.
"Bi, dimana Angelicha?" tanya Arum karna sedari tadi tidak mendapati anaknya dirumah.
"S-saya tidak tahu, nyonya. Tadi pagi saya kakamar juga tidak ada disana." jawab bi Limah dan dibalas anggukan oleh Arum.
"Yasudah saya mau kencan dulu. Bibi jaga rumah dan bilang kepada Angelicha untuk sekolah jangan membolos." tutur Arum lalu bangkit dari meja makan.
Bi Limah hanya mengangguk patuh. Dilubuk hatinya benar-benar khawatir dengan nona mudanya. Wanita berumur 60 tahun tersebut hanya mampu berdo'a saja.
__ADS_1
"Nona Angelicha kemana ya?" gumamnya khawatir.
"T-tolong... di-disini dingin." racauan lirih nan serak terdengar dari dalam kamar mandi.
Angelicha sudah tidak kuat menahan segalanya. Tubuhnya menggigil dan demam lalu kepalanya berdenyut sakit ditambah magh nya kambuh. Membuka mata saja tidak kuat.
"S-siapapun to-tolong aku... bi Limah, t-tolong Angelicha..." lirihnya lagi berharap suaranya bisa didengar dari luar.
"Ya Tuhan, kumohon kirimkan seseorang untuk membantuku." harapnya dalam hati.
Ferrary warna merah itu sudah terparkir indah dihalaman rumah berlantai dua setelah dibukakan pagar oleh satpam depan. Revandra langsung turun dan menggendong Soya lalu melangkah untuk mengetuk pintu.
"Iya, cari siapa Tuan?" tanya wanita berumur 60 tahun tersebut.
"P-permisi saya mencari Angelicha. Apa benar ini rumahnya?" tanya Revandra sopan.
"A-ada perlu apa ya Tuan, nona muda menghilang sejak tadi malam." jawab wanita yang tak lain adalah bi Limah.
"Ha? Oh jadi Angelicha tidak berada dirumah?" tanya Revandra lagi.
Bi Limah hanya mengangguk meski dalam hati bertanya-tanya kenapa pria ini mencari nona mudanya. Apalagi pria ini membawa anak kecil lagi.
"Daddy, aku pengen ke kamar kakak pembolos!" rengek Soya dengan mata berkaca-kaca.
"Soya, dengarkan daddy. Kakak Angelicha tidak ada dirumah, jadi ayo kita pulang saja ya." tutur Revandra menatap tajam Soya, bermaksud agar Soya menurut.
"Pokoknya aku mau ketemu kakak pembolos!!!" teriak Soya lalu langsung masuk kedalam rumah setelah menerobos bi Limah.
Revandra tersenyum canggung kepada wanita tersebut. Berani bersumpah jika anaknya sama sekali tidak sopan.
"Tolong maafkan anak saya." lirih Revandra menunduk.
"Tak apa Tuan, mari masuk!" kata bi Limah sambil membuka pintu agak lebar.
Revandra hanya menunduk sungkan dan masuk untuk menyusul putrinya yang tengah berjalan menyusuri tangga. Revandra harus benar-benar menahan amarahnya untuk tidak mengumpati Soya.
"Bibi, inikah kamar kakak Angelicha?" tanya Soya kala sampai didepan pintu berwarna coklat tua dengan tinggi menjulang.
"Iya, nak. Masuk saja, bibi tinggal membuat minum dulu ya." kata bi Limah lalu pamit undur untuk membuat minum.
"Soya, kamu tahu kan masuk kamar orang tanpa izin itu tidak sopan?" tanya Revandra dingin namun tidak dihiraukan oleh Soya.
Terpaksa Revandra juga ikut masuk kedalam kamar tersebut. Menganga kala melihat isi kamar Angelicha, ada gitar lalu piano serta beberapa poster bintang terkenal yang tertempel ditembok dengan warna abu tersebut.
Hampir semua hal berwarna gelap, pantas saja dia seram orang kamarnya saja seperti ini, pikirnya.
"Soya ayo kita kelu--"
Thak!
Revandra langsung melirik pintu kamar mandi kala mendengar ada barang memantul dari dalam. Soya dengan antusias langsung mengetuk pintu tersebut.
Revandra sedikit heran pasalnya pintunya terkunci dari luar. Ingin membuka tapi tidak berani, ayolah dia dikamar orang bukan kamarnya sendiri.
Tok...tok...tok.
"Kakak pembolos ada didalam?" tanya Soya sambil mengetuk-ngetuk pintu tersebut.
Sedangkan didalam Angelicha langsung tersenyum kala mendengar suara Soya. Pikirnya tidak mungkin jika Soya ada dikamarnya, dirinya yakin tadi hanyalah halusinasinya karna terlalu rindu dengan Soya.
"Angelicha, saya Revandra. Kamu ada didalam atau tidak?" suara berat itu langsung menyadarkan Angelicha bahwa itu bukan halusinasinya.
"T-tolong hiks!" seru Angelicha berusaha mengeluarkan suaranya.
"Lemparkan sesuatu jika kamu memang berada didalam!" intruksi Revandra dari luar.
Angelicha berpikir, apa yang bisa dia lempar lagi. Sedangkan untuk menggapai botol farfume yang baru dilemparnya saja tidak sampai.
Tangannya menggapai apapun dekat wastafel. Tersenyum simpul kala mendapatkan deodorant dari sana.
Thak!
"Kamu terkunci didalam? Sebentar saya buka!" kata Revandra.
Cklek
"Angelicha?!" Revandra kaget kala mendapati Angelicha dalam keadaan sangat menyedihkan.
Angelicha hanya tersenyum sendu kala melihat Soya menangis dan ingin memeluknya jika tidak dulu Revandra menggendongnya dan membawanya keluar. Hal terakhir yang dirinya tangkap adalah layar hitam yang merebut kesadarannya.
__ADS_1
~Bersambung
*Stay Safe