CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Eps. 64. DI TEROR LAGI


__ADS_3

Sepulangnya tiga dari Rumah sakit, Rayna dalam keadaan sehat begitupun dengan kandungannya.


Sementara di rumah Rayna ada gelagat yang mencurigakan, melempar sesuatu kedalam kamar nya.


Prang!


"Aaa!" jerit Rayna ketika kaca jendelanya pecah akibat ada lagi yang menerornya.


Yah, Rayna terus diteror oleh pria misterius itu. Dia ingin sekali melaporkan nya ke pihak berwajib, tapi tidak semudah itu, orang yang meneror nya mengancam kalau Rayna melaporkan ini, dia juga bakalan terseret atas pembunuhan orang tua Keyra dan Tasya. Sudah pasti ini orang yang ingin membantu Keyra dan Tasya! Prasangka Rayna. ( Tasya adalah sepupu ny Rayna dari mamanya).


"Ke--keluar!" bentak Rayna.


Brakk!


Keringat sudah bercucur dimana-mana, Rayna melihat seseorang didepan pintu dengan membawa kapak yang diputar-putar. Pengliatannya tidak terlalu jelas akibat lampu mati, itu pasti ulah nya.


"Ka--kau siapa?" tanya Rayna yang sudah takut setengah mati.


"Mati! Hancur! Tunggu itu!" jawabnya dengan penuh penekanan.


Dia mendekat kearah Rayna dan masih memutar-mutar kapak itu.


"Nggak! Jangan mendekat!" bentak Rayna sambil mundur dan berhenti tepat dipojok tembok kamarnya.


"Aaa!" teriak Rayna sambil menutup matanya saat kapak itu melayang dan menancap tepat disamping kepalanya.


"Cu--cukup, gue takut ...." lirihnya, dia merasakan sebuah langkah kaki memdekat kearahnya.


"Lo bakalan nyesal!" bisik orang itu.


"NGGAK!" jerit Rayna , demi apa pun, Rayna sekarang sangat takut.


"Non? Kenapa?" tanya salah satu pelayan Rayna yang baru saja masuk kamar Rayna


"Usir dia, usir!" Pelayan itu bingung, usir? Siapa.yang harus di usir?


"Non, disini nggak ada siapa-siapa, cuma ada saya Non," balasnya sambil berusaha menenangkan majikannya itu.


Rayna perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya, kosong! Tidak ada siapa pun disana kecuali dia sama pelayan nya tadi.


"Ta--tadi a--"


"Udah yah Non, ini minum air dulu," potong pelayan itu sambil memberikan satu jus yang dibawakannya tadi. Rayna langsung memerima jus buah naga itu.


"Baik lah Non, saya permisi dulu," Rayna hanya membalas dengan anggukan pelan.


Beberapa detik pelayan itu keluar, Kinanti teringat akan hal tadi, dia melihat kesamping dan benar saja, disana masih ada bekas kapak tadi.


"Siapa yang neror gue," monolognya, kini pandangannya beralih kepada sebuah rambut palsu yang putih? Dia ingat, ingat sesuatu, itu ....


"Aaaa!" teriaknya lagi kala mengingat dia tidak punya pelayan dan melihat jus itu bukan jus buah naga tapi itu darah!


"Tunggu teror berikutnya lagi," gumam pelayan itu yang sudah berada diluar pekarangan rumah Rayna.


Sementara di tempat lain.


Bryan kita telah bebas dari hukuman atas kejadian penculikan Rayna tempo lalu dengan bantuan dari papa nya di New York.


Bryan sedang duduk di cafe menunggu kedatangan seorang wanita yang tak lain Ellena. Ellena dan Bryan sedang merencanakan niatan untuk memisahkan Rayna dan menjatuhkan Keanu sebagai balas dendam mereka berdua, dengan memasukkan pembantu yang meneror Rayna hingga Rayna pergi dan meninggalkan Keanu.


"Hey, sekarang aku bahkan tidak bisa bertatap muka dengan Keanu! Kalau kau tidak ada rencana, aku berhenti sekarang!! " ucap Ellena.


" Jangan bingung, santai saja aku sudah punya rencana! " jawab Bryan santai.


" Tenanglah, kau akan mendapatkan yang kau mau. Dan aku juga akan mendapatkan yang aku mau! jelas Bryan.


Bryan melanjutkan makan siangnya dengan Ellena.


Rencana pertama mereka berdua telah berhasil membuat Rayna ketakutan dan ingin pergi dari Keanu.


POV Keanu


Sementara di Tempat Keanu.


"Ada pencuri yang mau membobol jendela di ruang televisi," jawabku seraya membuka lemari dan menyimpan benda tersebut di laci.


"Kakak, sejak kapan kakak simpan pistol itu?"

__ADS_1


"Hanya sekedar berjaga-jaga saja."


Aku mengambil ponsel di nakas untuk menelfon Ronald..


Dia tidak mengangkat panggilanku, aku memilih untuk mengirim pesan padanya bahwa ada dua orang pencuri di rumahku.


[10 menit yang lalu, aku melihat dua orang pencuri yang mau membobol jendela di ruang televisi, tapi aku sudah menuntaskan mereka dan sekarang tengah sekarat di samping halaman.]


Send.


Aku meletakkan ponsel di nakas dan kembali berbaring di ranjang.


"Biar itu menjadi urusan Ronald , sepupu laki-laki jauh," ucap ku. Aku menarik Rayna agar segera berbaring dan melupakan kejadian ini.


🐣🐣🐣🐣


Pagi hari, Bi Ima sangat terkejut dan berteriak histeris ketika ia melihat dua orang yang sudah sekarat di sana.


"Biarkan saja bi, itu saya yang menembaki mereka. Nanti ada seorang pria yang menuntaskannya," jawabku.


Ping!


Aku merongoh saku celana dan melihat pesan dari Ronald. .


[Aku sudah sampai.]


Aku berjalan menuju pintu utama dan melihat Ronald beserta 5 orang polisi yang berada di belakang mereka.


"Ayo, ikuti saya." Aku berjalan keluar rumah menuju bagian samping rumah.


"Pak, saya minta hukum mati mereka. Jangan biarkan mereka hidup," ucapku. Mereka membuka topeng yang membungkus wajah itu. Ternyata dia adalah buronan dari para polisi itu.


"Kami menerima permintaan Anda, Tuan Keanu Austin "


Mereka membopong kedua pria tersebut yang sudah bersimbah darah. Aku juga mencium bau amis di sini.


"Bisa ceritakan kejadiannya seperti apa?" pinta Keanu. Aku mulai menceritakan kejadian awal aku terbangun pukul dua dan insiden aku menembaki mereka.


"Apa istrimu tahu tentang pistol itu?"


"Kamu mau sarapan di sini?" ajak ku.


"Tidak perlu, aku masih banyak urusan." Jong Ru berjalan menuju mobilnya.


"Ronald ," panggilku membuat langkah terhenti. Aku berlari menghampirinya dan meminta bantuan mengenai Asmita Ia siap membantuku dan memberikan info beberapa hari kedepannya.


🐳🐳🐳🐳🐳


Selesai sarapan, aku berpamitan pada Bi Ima dan Rayna agar mereka mengunci pintu rumah dengan rapat.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Sampai di kantor, aku menyuruh seluruh karyawan untuk segera datang ke lantai 15 di mana itu adalah ruangan khusus untuk staff dan karyawan.


"Jika kalian berani melakukan seperti Asmita, saya tidak sungkan memasukkan nama dan data diri kalian ke daftar hitam. Kalian tidak bisa di mencari pekerjaan di kantor mana pun. Gaji kalian terpotong 45%," terang ku.


"Baik, pak."


"Ya sudah, kembali bekerja." Aku berjalan keluar ruangan menuju lantai 30 menggunakan lift.


Pukul 20.00, aku kembali ke rumah dengan wajah lesu dan letih.


"Aku siapin air hangat dulu." Rayna berlalu meninggalkanku sambil membawa jas ku.


5 menit kemudian, ia kembali dan menyuruhku lekas mandi.


Setelah selesai, aku meminta Rayna untuk memijat lengan dan bahuku karena terasa sangat pegal. Walaupun Rayna memang tak lihai dalam memijat, tapi setidaknya bisa membuat otot-ototku pulih.


"Selesai," serunya lalu menutup minyak angin dan meletakkannya kembali ke meja rias.


"Ayo, makan malam. Hari ini aku buat donat kentang," ajak Rayna dengan senyumannya.


Aku menahan pergelangan tangannya yang hendak menarik tanganku. Ia menatapku dengan tanda tanya.


Grep.


Aku merengkuh tubuh mungilnya ke dalam dekapanku. Menghirup aroma rambut dan tubuhnya yang membuatku tenang.

__ADS_1


"Hari ini banyak banget kendala di kantor. Tetaplah seperti ini," bisik ku seraya memejamkan mata.


"Aku lapar, kak," desisnya, aku segera melepaskan pelukanku dan membawanya keluar dari kamar.


Rayna meletakkan hidangan makan malam di atas meja, ia menuangkan segelas air putih di gelasku.


"Kamu duduk aja, biar kakak yang ambil lauk pauknya." Aku menahan tangannya yang hendak berjalan mendekatiku.


Kami menikmati makan malam ini. Aku tak banyak mengambil nasi karena nantinya aku akan mencicipi donat kentang buatan istri mungilku.


"Hm, kamu ternyata jago juga ya." Aku berkata saat menikmati donat kentang yang ditaburi tepung gula.


"Heheh, gimana enak?" tanyanya.


"Manis, kayak kamu."


"Jangan gombal, deh."


Rayna membawa donat yang ada di piring tersebut ke meja televisi. Sambil menonton acara reality show, mulutku juga ikut bergerak mengunyah kue buatan Rayna .


Setelahnya kami berisitirahat untuk mengumpulkan tenaga esok hari.


🐦🐦🐦🐦🐦🐦


Paginya, aku mengantar Rayna menuju rumah ibunya karena ia sangat merindukan wanita itu. Kami sempat berbelanja makanan ringan untuk Naumi dan aku mengantarkannya berangkat sekolah.


"Sekolah yang benar, ya. Jangan nakal," ucapku saat dia mencium tanganku dan keluar dari mobil.


Aku menancap gas menuju kantor.


🦈🦈🦈🦈


Sesampainya di kantor, Ronald menyuruhku segera ke ruangannya. Karena ada seseorang yang tengah menungguku.


Ceklek.


"Wah, ternyata kalian sudah mendapatkannya dengan sangat cepat," ujar ku ketika melihat Angel yang diikat ke kursi yang ia duduki.


Mata dan mulutnya tertutup dengan kain, sementara kaki dan tangannya diikat dengan tali dan kain.


Srek!


Salah satu anak buah ku menyentak kasar kain yang menutupi mulutnya.


"Katakan pada saya, apa maksud kamu mengambil saham-saham itu?" tanya Ronald.


"Untuk kehidupanku, apa lagi?!" jawabnya sinis.


"Kembalikan uang itu," pintaku.


"Uang itu sudah habis."


Prang!


Aku membanting gelas yang berisi air mineral ke tubuhnya sehingga beberapa pecahan beling itu menancap di pergelangan kakinya.


"Ah ... sakit!" teriaknya.


"Itu baru permulaan, kau tak tahu bagaimana susahnya kami mendapatkan uang miliaran itu!" gertak Ronald .


"Apa yang kau belikan dengan uang itu?" tanyanya lagi.


"Foya-foya, beli apartemen, banyak lagi," jawabnya seraya menahan perih.


Ingin rasanya aku membunuh gadis itu, tapi ada rasa iba di hatiku. Bagaimana pun dia manusia.


"Bawa dia ke kantor polisi. Pastikan dia mendapatkan hukuman yang lebih berat, jika perlu hukum gantung."


Aku keluar dari ruangan Ronald menuju ruangan ku. Pikiranku berkecamuk.


πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯


Duarrr! (pura pura tekejot napaπŸ˜πŸ˜‚) Author balekk! Ada kejutan untuk kalian nantinyaπŸ˜­πŸ˜‚


YuhuuuπŸ’ƒ Rayna kena teror lagi.... Menurut kalian Rayna udahan diteror atau masih mau diteror lagi, saya udah kesian ngeliatnya πŸ‘‰πŸ‘ˆπŸ˜­


Ingat kan typo, dan maaf masih gak enak badanπŸ™‚ Byebye readers πŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2