CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 97. Rencana Gagal


__ADS_3

Rencana awal Revandra gagal total kala Angelicha mendapatkan surat panggilan dari kantor polisi dan dimintai kesaksian sebagai korban. Tentu saja Revandra akan menemaninya, mengingat gadis itu benar-benar takut sampai bergetar tubuhnya.


Revandra memegang erat jemari Angelicha dan membawanya masuk kedalam kantor polisi. Mereka disambut dengan senyuman oleh salah satu polisi yang bertugas mencatat kesaksian korban.


"Bisa diceritakan secara rinci atas kejadian semalam?" tanya polisi tersebut.


"Saya tidak tahu jelas, saat itu saya merasa jika tubuh saya seperti disentuh. Namun ketika saya terbangun, ternyata pintu kamar saya sedikit terbuka. Padahal seingatku aku menguncinya, aku kemudian meminum air yang selalu aku sediakan entah apa yang dicampur dalam minumanku," tutur Angelicha. Dia memegang erat jemari tangan Revandra karena takut.


"Saya seperti berada dibawah pengaruh obat perangsang. Tak lama setelah itu pria brengsek itu keluar dari kolong ranjang dan menyeringai iblis. D-dia bahkan hiks..." Revandra dengan sigap menarik Angelicha kedalam dekapannya. Angelicha terisak lirih dan mengeratkan dekapannya pada Revandra.


"Dia merekam kejadian dimana dia ingin menyentuh calon istri saya. Untungnya saya segera mengambil sim card tersebut dan menginjak ponselnya." Revandra melanjutkan cerita Angelicha.


Polisi tersebut mengangguk dan tersenyum manis, mereka berdua sangat romantis. Entahlah polisi itu seperti melihat sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


"Kesaksian saya terima, terimakasih atas kesaksian Anda." kata polisi tersebut.


Revandra segera mengajak Angelicha untuk pergi dari sana. Namun Angelicha terkejut setengah mati sampai matanya melotot pria tinggi yang semalam menolongnya sebelum Revandra tiba.


Grep


Pria tersebut langsung memeluk Angelicha erat, sangking eratnya Angelicha hampir terhuyung. Pria itu belum mengucap apapun dan hanya tersenyum haru begitupun Angelicha.


"Siapa dia berani sekali langsung memeluk calon ku?!" batin Revandra kesal.


"Bagaimana kabar kakak?" tanya Angelicha setelah melepas pelukannya dari sang pria tersebut.


"Kakak baik-baik aja, dek. Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Kakak nggak telat nyelametin kamu kan? Kakak sayang sama kamu." gerutu pria tersebut posesif.


"Hey kenapa mereka memanggil adik kakak?! Ck, remaja zaman sekarang memang ada-ada saja. Bilangnya mau adik kakak'an aja nyatanya diam-diam saling suka." cibir Revandra dalam batin. /hayo siapa yang tertampar?/


"Ini calon suami mu? Bi Limah sudah cerita banyak kepada kakak. Kakak setuju jika kamu mau menikah dengannya." kata pria tersebut sambil berjalan mendekati Revandra.


Revandra hanya menatap datar tak berminat pria yang mengulurkan tangan didepannya. Dirinya tak suka ada yang berani memeluk Angelicha dihadapannya.


"Hay, adik ipar. Kenalin gw Shin, Muhamad Shin Leo. Kakak sepupu Angelicha," sapa pria tersebut lalu tersenyum manis.


"Ha? O-oh Revandra Aditya, kau bisa memanggilku Revandra." jawab Revandra kaku lalu ikut menyalami tangan pria bernama Shin tersebut.


"Kayaknya lo lebih pantes gw panggil bang, soalnya umur lo diatas gw ya?" tanya Shin ragu.


"Aku dua enam." jawab Revandra.


"Hah? Dua enam?!" Revandra menatap datar Angelicha yang kaget.


Angelicha kaget, hey dia kira umur Revandra sudah berkepala tiga. Bisa menyimpulkan jika mereka dulu menikah muda.


"Jadi berhenti manggil saya om!" tegur Revandra dan Angelicha hanya menyengir.


"Kita selisih satu tahun, gw dua lima bulan depan." timpal Shin lalu terkekeh.


Mereka bertiga mengutuskan untuk pergi kesuatu cafe. Menikmati secangkir ekspreso sambil berbincang-bincang tidak buruk juga.


"Makasih ya, kamu sudah menolong Angelicha. Aku nggak tahu gimana nasib Angelicha kalau kamu nggak ada." tutur Revandra lalu meneguk americano dicangkirnya.


"Santai aja, gw akan selalu melindungi Angelicha semampu gw." sahut Shin lalu ikut meneguk kopi hitam dicangkirnya.

__ADS_1


"Btw, kak. Kakak kapan pulang?" tanya Angelicha menatap Shin.


Shin tersenyum lalu mengacak rambut Angelicha. Sepupunya itu sudah dianggap adiknya sendiri, dari kecil mereka tumbuh bersama sebelum akhinya Shin kembali ke Korea meneruskan kuliahnya.


"Kemarin siang. Tadi dapet telfon dari pak Udin kalau si brengsek itu ada dirumah. Gw berencana buat nginep, eh denger suara lo." jelas Shin dan Angelicha hanya mengangguk mengerti.


"Apa kamu ada darah keturunan China?" tanya Revandra memicingkan alisnya.


Shin tersenyum hangat, entahlah ayahnya orang Korea tapi wajahnya lebih mirip orang China, darah dari ibunya.


"Gw keturunan Korea, China dan Jawa. Gw lahir di Busan lalu besar di Indonesia dan kembali kesana setelah lulus SMA." jelas Shin.


"Ahh maaf jika aku lancang." kata Revandra tak enak.


"Santai aja adek ipar, anggap kakak sendiri." celetuk Shin.


Mereka banyak melempar canda dan tawa, seolah tuli dengan pengunjung kafe yang lain. Revandra tersenyum sendiri kala curi-curi pandang kepada Angelicha.


Sedangkan Shin yang melihat tingkah Revandra hanya terkikik geli. Sedikit tidak menyangka jika Revandra bisa seperti itu.


Disisi lain Angelicha tengah mati-matian tidak menoleh menatap Revandra. Dirinya tahu jika Revandra tengah curi-curi pandang dengannya, takut jika wajah merahnya diketahui oleh Revandra.


"Heh kenapa pipi lo merah kek tomat?" tanya Shin songong sambil menatap jahil Angelicha.


Angelicha tak berani menginjakan kaki kedalam rumahnya, takut jika sang ibu marah padanya. Arum lebih kejam dibanding Arga, Arum tak segan melempar pisau jika sedang marah.


Shin sudah tahu semuanya dari sang ibu tentang keluarga Angelicha, Arga adalah pamannya yang menjadi panutannya karna pekerja keras dan setia terhadap pasangannya. Tapi setelah mendengar semuanya, dia jadi kecewa dengan sosok panutannya itu.


Shin diperintah untuk membawa Angelicha menginap hingga nanti Angelicha menikah. Kedua orang tua Shin serta adik Shin juga menerima dengan senang hati kedatangan Angelicha.


"Ahh adik kakak, bagaimana kabarmu?" tanya Angelicha setelah melepas pelukan adik sepupunya.


"Aku baik sebelum ayah menyuruhku untuk keluar rumah. Sekarang dunia luar benar-benar menakutkan." ucap gadis itu dramatis.


"Kau tidak mencoba untuk keluar dan melihat dunia lebih luas lagi? Diluar sana ada sesuatu jauh lebih indah kamarmu." sahut Shin, terkadang dirinya merasa khawatir dengan adiknya itu.


"Ck, kamar adalah tempat terbaik!" seru gadis itu lalu kembali duduk ditengah-tengah kedua orang tuanya.


Angelicha juga ikut duduk dan sedikit berbincang tentang pernikahannya dengan Revandra. Bagi paman dan bibinya tak masalah status Revandra asal pria itu mampu menjaga Angelicha.


"Berapa hari kamu di skros?" tanya Rahma, ibu kandung Shin.


"Satu minggu, bi. Lumayan bisa mempersiapkan keperluan nikahan," sahut Angelicha.


"Kapan nak Revandra mau main kesini?" tanya Harun sambil menyeruput kopinya.


"Mungkin besok dia kemari, ya sudah paman, bibi aku permisi kekamar dulu ya." pamit Angelicha dibalas anggukan oleh kedua pasangan suami istri tersebut.


Angelicha sudah masuk kedalam kamarnya. Merebahkan tubuh didepan laptop milik adik sepupunya. Menonton tak buruk juga, pikirnya.


Baru saja Angelicha ingin memencet tombol play, ponselnya yang berdering mengalahkan atensinya dari laptop. Tersenyum lebar kala tahu siapa yang menelfon.


"Fahmi blo'on, gimana kabar lo?" tanya Angelicha semangat.


Sahabatnya menghubungi, senangnya hati Angelicha mendapat telfon dari Fahmi yang jauh disana.

__ADS_1


"Eh sorry, kepencet." sahut disebrang telfon.


"Ngg--"


Tut...tut..tut


Sambungan diputuskan, Angelicha mendesah lirih. Sebenarnya apa yang terjadi?


"WhastAppnya nggak aktif, telfon kok sifat dia aneh sih. Atau dia ada sahabat baru?" gumamnya sendiri.


"Kenapa gw jadi baperan gini sih?!" gerutunya kesal.


Dicampakan sudah laptop yang menyala tersebut. Dirinya berusaha untuk bertanya pada teman-teman Fahmi mengenai kabar pria itu.


"Halo, bang... ada kabar dari Fahmi nggak?" tanya Angelicha kala sambungan telfon sudah terhubung dengan kakak Fahmi.


"Oh... dia beneran sibuk mempersiapkan ujian semester. Ngobrol sama kakaknya aja jarang, mang napa?" tanya Fariel dari sebrang telfon.


"Enggak sih, ya udah makasih bang." sahut Angelicha lalu mematikan sambungan.


Angelicha mendesah kembali. Fahmi ternyata bersungguh-sungguh mengenai ujiannya kali ini. Padahal ini baru semester satu, karna itu Angelicha tak mempermasalahkan ujian yang akan dilahkukan bulan depan.



Revandra sudah berulang kali menghubungi ponsel Angelicha, namun Angelicha tengah sibuk. Berpikir siapa yang Angelicha hubungi malam-malam begini.


Dirinya segera mengetikan pesan line, berharap gadis itu membacanya. Biarlah, Revandra tiba-tiba saja rindu dengan gadis pecicilan model Angelicha.


Revandra tersenyum kala Angelicha memanggilnya dengan sebutan 'daddy' bilang terimakasih kepada Shin karna berkat pria itu Angelicha mau memanggil Revandra dengan sebutan daddy.


Ya mereka saling mengirim line satu sama lain. Tiba-tiba saja Revandra mengetikan satu kalimat yang tidak disadarinya.


"Apa? Aku memikirkan Angelicha?" tanyanya dalam batin.


Revandra bingung dengan perasaannya sendiri. Setiap saat pasti selalu ingin melindungi Angelicha. Jika bisa Revandra tak akan mengizinkan nyamuk menggigit Angelicha.


"Astaga, aku mohon jangan balas Angelicha!" rutuknya dalam hati.


Revandra mematikan ponselnya dan langsung melemparnya kekasur. Jam sudah menunjukan pukul dua belas tepat, ayolah dirinya jadi tidak bisa tidur"Kenapa aku yang baper sendiri? Dia baper nggak ya?" gumamnya sebelum menutup mata.


____


"Apa dia memikirkanku?!" Angelicha memekik tertahan membaca pesan dari Revandra.


Kenapa perasaannya jadi berdebar-debar seperti ini? Ayolah, dirinya tidak pernah menyangka Revandra bisa mengetikan kata-kata tersebut.


"Baper nggak ya?" gumamnya sambil menahan senyumannya.


"Nggak ah, gini doang." batinnya bersuara.


"Tapi gw baper, sialan!" umpatnya lalu menghentak-hentakan kedua kakinya diatas kasur.


Angelicha gila hanya dengan kata-kata cheese dari Revandra. Sepanjang hidupnya, dia tak pernah mendapat kalimat seperti itu.


Pipinya bersemu merah. Bilang saja Angelicha lebay, terserah apa kata kalian. Angelicha hanya bahagia!

__ADS_1


__ADS_2