
Nggak bohong sih kalau om kasar dan mesum ganteng, lebih mirip Lee Min Ho. Eh-- anjirr kenapa pikiran gue konslet gini!" monolognya lagi.
"Lee Min Ho nyungsep digot, itu baru dia!" tegasnya dalam hati.
Dirinya menutup bibir rapat-rapat kala sekelebat bayangan melintas. Membayangkan Revandra bertelanjang dada, sungguh membuat jantungnya tidak normal.
"Aku benar-benar mesum!!" teriaknya sambil memukul kepalanya pada sandaran ranjang.
"Sialan, om kasar dan mesum itu benar-benar membuatku gila! Aku mengatainya mesum tapi kenapa aku sendiri yang mesum?!" umpatnya dalam hati.
Memilih memandangi poster yang tertempel indah di dinding kamarnya yang berisi tujuh pria dengan pose berbeda. Nikmat mana lagi yang Angelicha ragukan, sungguh surga dunia bisa menatap oppa kesayangannya walau hanya dari poster.
****
Keesokan Harinya
Angelicha dengan langkah kelewat santai baru saja memasuki area sekolah. Dirinya tidak perduli dengan jam berangkatnya, selagi tidak ada guru yang melihat dirinya terlambat.
"Angelicha Elizabeth, dari kelas 12 MIPA2. Apa alasan kamu terlambat?" tanya seorang cowok dengan almameter osis tengah menatapnya dari atas sampai bawah dengan pandangan tajam.
"A-anu... itu, emmm macet! Iya macet!" serunya menutupi kebohongannya.
Cowok yang tak lain bernama Nova itu menatap Angelicha penuh aura intimidasi. Angelicha salting ditatap seperti oleh Nova, pasalnya semenjak kelas sepuluh dirinya dan Nova satu kelas baru kali ini mereka berbicara langsung.
"Saya kenal kamu sudah sangat lama Angelicha, berkali-kali saya menutupi kesalahan kamu berharap kamu mau berubah. Setiap hari kamu melihat saya tapi kenapa kamu tidak pernah menyapa saya?" tanya Nova dengan bahasa formal serta nada sendu.
Angelicha menggigiti kuku jarinya, kebiasaan ketika sedang gugup. Mencoba mencari jawaban yang pas untuk jawaban dari Nova siwakil osis.
"Alah baperan!" sentak Angelicha lalu berlalu begitu saja meninggalkan Nova yang melongo dibelakang.
Angelicha hanya terkikik, itulah jurus andalannya ketika dirinya dipojokan. Ya, faktanya semenjak ada kata 'baperan' orang-orang mulai lupa kata 'maaf'.
"Ck, sialan guru sudah mulai mengajar." desisnya kala mengintip dari jendela kelasnya.
"Angelicha Elizabeth, ayolah sejak kapan kau takut dengan guru itu?!" batinnya meronta-ronta.
Angelicha dengan langkah yakin memasuki kelasnya. "Holla everybody, Angelicha yang cantik jelita kambek!!!" kelas mendadak hening, semua mata tertuju pada Angelicha dengan pandangan berbeda-beda.
"Iya, gue tahu gue cantik kok. Tapi biasa aja dong liatinnya, adek kan jadi malu!" seru Angelicha sambil tersenyum lebar tak berdosa.
__ADS_1
"Keruangan saya sekarang!" sentak pak Burhan, si guru botak yang bertugas mengajar hari ini.
"Hayyuk gasslah pak, keruangan bapak kan ada ac-nya. Saya lagi gerah nih!" sahut Angelicha semangat.
Satu kelas dibuat tepuk jidat dengan kelakuannya. Sekalinya bar-bar maka tetap bar-bar, begitu pikir mereka sekelas.
____
Prak!
Reza yang melihat ekspresi kesal bos sekaligus sahabatnya itu hanya bisa mengerutkan kening. Revandra yang datar dan dingin sudah biasa, tapi Revandra dengan wajah kesal serta berkali-kali mengucapkan kata umpatan benar-benar langka.
"Lo kenapa dah?" tanya Reza yang jengkel melihat bosnya itu.
"Masa iya gue om-om kasar dan mesum yang kurang belaian?!" gerutu Revandra sebal.
Reza mengulum tawanya, ingin tertawa sih mendengar kata 'om-om kasar dan mesum yang kurang belaian'. Menurutnya itu terlalu menggelikan ditelinganya.
"Siapa yang bilang gitu?" tanya Reza kepo.
"Angelicha, gadis SMA yang sedang gue incer buat jadi nyokapnya Soya!" jawab Revandra yakin.
"Jadi lo dikatain begitu sama gadis bau kencur?" tanya Reza lagi, kali ini lebih serius.
"Bukan bau kencur, tapi bau menyan!" gerutu Revandra lalu menyandarkan punggungnya pada punggung kursi kebanggaannya.
"Isss, mbak kunti kali ah!" gerutu Reza ikutan kesal juga dengan bos sekaligus sahabatnya itu.
Revandra mulai bercerita tentang Angelicha, Reza hanya sesekali mengangguk dan menahan tawanya kala ada bagian yang menurutnya lucu. Kita ambil saja contoh Revandra yang ditolak dan juga Revandra yang kena tendang diselangkangannya.
"Dan, maksud gue gini... gue nikahin dia cuma sebatas tameng buat nglindungi Soya dari jangkauan Janetta. Sebagai gantinya aku akan melepasnya setelah masalah hak asuh ini selesai," tutup Revandra lalu mengambil nafas lega.
"Dan lo brengsek kalau nglakuin itu!" desis Reza penuh penekanan lalu pergi dari ruangan Revandra.
Revandra hanya mengernyit samar. Kenapa Reza marah? Terlihat jelas dari wajah dan omongannya yang agak berbeda dari biasanya.
______
"Angelicha Elizabeth, saya capek mengurus segala kenakalan kamu. Kapan kamu berubah? Teman-temanmu semua sibuk mempersiapkan ujian tengah semester, tapi kenapa kamu malah jadi seperti ini?" tutur pak Burhan dengan nada letihnya.
__ADS_1
"Maaf pak!" sahut Angelicha sambil menunduk.
"Kamu ada masalah apa? Dimana Angelicha yang jenius itu? Bapak kenal kamu dari SMP, dan Angelicha yang bapak kenal bukan Angelicha yang saat ini berdiri didepan bapak." lirih pak Burhan lalu melepas kaca matanya dan menaruh diatas meja.
"Semua orang bisa berubah pak. Tergantung kondisi lingkungan tempatnya tumbuh dan belajar," jawab Angelicha menatap datar Burhan.
"Berubah itu pasti pak, semua manusia juga mengalami fase berubah. Semua tergantung bagaimana kita menyikapnya." lanjutnya lalu menunduk kembali.
"Kamu sudah tidak bisa ditoleransi lagi, saya akan menelfon kedua orang tua kamu!" tegas pak Burhan lalu mengotak-atik telfon tersebut.
"Permisi say-"
"Apa yang dilahkukan anak bodoh dan tidak berguna itu sampai kau repot-repot menelfon diriku? Aku sibuk. Jika memang dia tidak berguna, keluarkan saja aku sebagai ibunya tidak akan peduli!"
Tutt....
Burhan terdiam mendengar kata 'anak bodoh dan tidak berguna' cukup membuat hatinya berdenyut. Tidak menyangka respon ibu Angelicha sekasar itu.
Burhan menatap Angelicha yang seperti tahu apa yang dibicarakan disebrang sana. Angelicha hanya memberikan senyuman manis tanpa beban.
"Saya akan coba telfon ayah kamu, setidaknya orang tua kamu harus ada yang datang," kata pak Burhan sambil mengehela nafas.
"Assshh... yahh kenapah? Apa yang dilahkukan anak bodoh dan tidak berguna ituhh? Akuh sedang sibuk--"
Tut...
Pak Burhan kembali menatap Angelicha dalam. Angelicha masih setia tersenyum tanpa beban dengan tatapan seolah 'semua sudah biasa'.
"Nggak berguna pak kalau telfon kedua orang tua saya, mereka nggak akan perduli. Jika mau scors atau drop out nggak papa kok, saya juga nggak keberatan..." lirih Angelicha.
Pak Burhan hanya diam, masalah Angelicha ada pada keluarganya. Dirinya dibuat tercubit kala melihat lelehan air menetes dari netra Angelicha.
"Angelicha nggak nangis kok, cuma kelilipan." kata Angelicha cengengesan dan mengusap kasar matanya.
* 👋Haii readers
*Stay healty okay
*🙏💕Terimakasih banyak atasnya dukungan like, favorit, dan vote nya.
__ADS_1