
Pagi-pagi sekali Angelicha sudah heboh karna mendapatkan pesan dari grub kelasnya. Berita ini menyangkut namanya, dan sejak tadi juga ponsel Angelicha selalu diberondong oleh chat aneh-aneh dari teman-temannya maupun siswa-siswi dari kelas lain.
"Hey... kenapa kamu kacau?" tanya Revandra lalu memeluk Angelicha dari belakang.
Gadis itu menyugar rambutnya dan menghela nafas. Rambutnya jadi acak-acakan kembali, padahal lima belas menit lagi dirinya harus sudah tiba disekolahan.
"Udah ayo kita berangkat!" seru Angelicha menarik Revandra untuk keluar dan mengantarnya.
Hanum dan Soya yang duduk dimeja makan hanya menatap dengan mulut terbuka. Angelicha datang mendekati Soya lalu mengecup kening bocah itu singkat tak lupa menyalami ibu mertuanya.
"Soya, ibu, Angelicha berangkat dulu!" pamit Angelicha tergesa-gesa.
"Tak sarapan dulu, nak?" tanya Hanum.
"Udah telat, bu. Ayo dad, cepetan!" ujar Angelicha menarik Revandra.
Revandra mencoba untuk menarik tangannya yang ditarik Angelicha. Pasalnya pria itu belum mandi bahkan hanya menggunakan kaos hitam polos serta celana selutut.
Namun tak apa, dirinya sudah mencuci muka dan gosok gigi. Tak perlu khawatir, ketampanannya hanya berkurang sedikit.
"Angelicha, kamu kenapa?" desak Revandra.
"Ada pembunuhan disekolah." jawab Angelicha menyenderkan punggungnya kekursi penumpang.
"Lha kok bisa? Kapan kejadiannya?" tanya Revandra tak kalah terkejut seperti Angelicha waktu pertama kali mendapat pesan dari Ridho.
"Nggak tahu, polisi lagi menyelidiki." jawab Angelicha. Gadis itu memejamkan mata, jika saja tak ada namanya dikasus ini mungkin Angelicha akan jadi orang pertama yang bodo amat.
________
Mereka sudah sampai disekolah. Terlihat suasana sekolah sangat ricuh oleh polisi dan juga wartawan yang melapor. Tak sedikit pula wali murid yang bergerumun memadati lapangan.
Angelicha menarik nafas sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Ingin menangis sekencang mungkin, teman-teman kelasnya menatapnya dengan pandangan mengintimidasi.
"Lo gapapa kan?" tanya Mela khawatir.
"Ini ada apa sih?" tanya Angelicha.
Plak!
Angelicha meringis merasakan tamparan dipipi kirinya. Wanita paruh baya itu nampak begitu murka menatapnya, begitupun beberapa siswa lain.
"Apa yang kamu lahkukan kepada putraku?! Salah apa dia kepadamu?! Kau apakan putraku?!!" teriak wanita paruh baya tersebut berusaha untuk menyerang Angelicha kembali.
Revandra langsung masuk kedalam kerumunan dan menyembunyikan Angelicha didalam dekapannya. Tidak tahu maksud dari wanita ini hingga tega menampar Angelicha.
Semua siswa menatap aneh Revandra, walau banyak juga yang berbisik memuji ketampanannya. Angelicha sudah benar-benar menangis didalam dekapan Revandra, membuat hati Revandra ikut berdenyut.
"Kau apakan putraku?!!" teriak wanita itu lagi.
Wanita paruh baya itu semakin histeris sebelum akhirnya pingsan dan dibawa masuk kedalam ambulance oleh suaminya. Sebelum membawa istrinya, pria paruh baya itu nampak menatap Angelicha iba.
Kerumunan mulai bubar kala Ridho, Hanif serta Fahmi menyuruh mereka semua untuk bubar. Angelicha masih setia terisak didekapan suaminya, antara sesak akibat teror ini juga dada Revandra nyaman dijadikan tempat menangis.
Revandra sempat bersitatap dengan salah satu petugas evakuasi lalu petugas tersebut tersenyum kecil menatapnya. Revandra juga membalas senyumannya lalu kembali menenangkan Angelicha.
"Kamu siapanya Angelicha?" tanya Mela antusias.
"Sa-saya... hmmm siapa ya saya, ahh--"
"Pasti pacarnya. Nggak nyangka Angelicha punya pacar sekeran kakak!" puji Ridho memotong ucapan Revandra.
Fahmi hanya menatap kecewa. Sahabatnya sudah berbohong kepadanya. Padahal kemarin Angelicha bilang sebatas sepupu, namun melihat bagaimana pria itu memeluk erat Angelicha Fahmi jadi tidak percaya.
__ADS_1
"Cha, gw balik dulu ya. Sorry, mau gimanapun gw juga harus balik ke Jerman. Gw minta maaf banget nggak bisa bantuin lo," ujar Fahmi lalu mengusap kepala Angelicha.
Lalu setelah berpamitan dengan teman-temannya yang lain. Fahmi pergi dengan menaiki motor pespanya.
Mela mengajak Angelicha untuk pergi ketaman belakang sekolah sedangkan Revandra ditarik menuju parkiran oleh Ridho dan juga Hanif. Kedua pria itu ingin bertanya resep wajah tampan Revandra.
_______
"Gw ngga tau apa-apa, Mel." racau Angelicha.
"Iya gw yakin bukan lo pelakunya. Kita tunggu aja apa hasil dari kepolisian. Tapi, apa lo yakin bukan pacar lo yang bunuh Michel?" tanya Mela.
"Gw yakin, Mel. Kemaren sore kita jalan sampe malem," bantah Angelicha.
"Pelakunya orang luar. Nggak mungkin kalau salah satu murid disini yang ngebunuh," ujar Mela serius.
"Gw takut Mel. Gw takut habis ini bakal dikeluarin dari sekolah ini, gw takut kalian bakal ninggalin gw!" racau Angelicha kembali menangis.
"Udah nggak usah nangis. Kita bakal tetep ada buat lo!" ujar Mela positif.
________
'Telah terjadi pembunuhan di SMA Negri Satu Jakarta. Menurut penyelidikan polisi, kedua korban dibunuh oleh pelaku yang sama. Hingga sekarang polisi masih menyelidiki tentang kasus ini. Korban perta--'
Glap!
Pria tersebut tertawa puas melihat berita yang baru ditampilkan disebuah chanel. Sekolah pujaan hatinya tengah gempar dengan kabar tersebut.
"Hanif... Hanif, polos banget jadi orang!" serunya lalu kembali tertawa.
"Angelicha milikku, siapapun yang berani menyentuhnya atau memiliki perasaan kepadanya siap-siap menemui ajalnya." gumamnya.
Pria itu menuangkan alkohol kedalam gelasnya. Berjalan kesisi tembok dan tersenyum menatap poto Michel yang sudah dilumuri darah pria itu sendiri.
"Mengenaskan sekali hidupmu, kawan." desisnya.
***
Sampai sini ada yang udah menemukan titik terangnya?
Aku seneng banget lho kalian ada yang sempet-sempetin komen sepanjang itu.
Oke langsung aja ya,
****
Hanif duduk merenung dikursi perpustakaan seorang diri. Keadaan sekolah sudah lumayan tenang tak seheboh kemarin.
Andin yang melihat itu sedikit keheranan. Niat awal ingin mencari referensi untuk puisinya mendadak memilih menguping dibalik rak buku.
"Jawab gw, lo yang ngebunuh Michel sama pak satpam kan?" tanya Hanif sayup-sayup bisa didengar oleh Andin.
Perpustakaan benar-benar sepi, penjaga perpus tadi izin untuk ketoilet. Jaman sekarang benar-benar jarang siswa yang mau masuk perpustakaan dan membaca buku. Sekalipun masuk perpustakaan mungkin untuk ngadem (berteduh).
"Lo gila! Kalau sampai sidik jari lo ketahuan gimana?" geram Hanif.
Andin tak salah mendengar kan?
Gadis itu merogoh ponselnya dan merekam percakapan Hanif di telfon secara diam-diam. Dirinya harus memberitahu teman-temanya yang lain agar lebih waspada.
"Lo beneran belum waras!" umpat Hanif.
"Awas aja lo sampe berani nyentuh Fahmi. Gw nggak segan buat bunuh lo, Vin!" tegas Hanif lalu mematikan sambungan telfon.
__ADS_1
Andin langsung menutup rekamannya dan bersembunyi dari Hanif. Hanif bangkit dan meneliti sekitar sebelum akhirnya keluar begitu saja.
"Gw bakal bicarain nanti," gumam Andin lalu ikut keluar.
_______
Angelicha hanya ingin menyelesaikan ujiannya dengan tenang. Namun tatapan serta cemoohan dari siswa-siswi lain membuat dirinya seperti dirundung oleh bullyan kawan-kawannya.
Angelicha lelah secara batin. Bahkan sakitnya lebih sakit dibanding perlakuan kedua orang tuanya dulu. Di Manapun Angelicha berada, pasti mereka memilih mengawasi intens atau menjauh karena takut berakhir sama seperti Michel.
"Angelicha, are you ok?" Angelicha menoleh melihat Hanif yang mengambil duduk disebelahnya.
"I'm not okay, Hanif. I'm tired, i wanna give up." ujar Angelicha lalu terisak.
"I know, baby. Don't cry, masih ada aku disini." ujar Hanif lembut.
Angelicha mengerjabkan matanya. Dari suara Hanif lebih terdengar dalam nan serak. Angelicha menoleh dan melihat Hanif menatapnya intens sekali.
Menatap Angelicha layaknya orang yang tengah kasmaran. Tidak tahu saja jika Angelicha takut ditatap Hanif seperti itu.
Hening menyapa keduanya. Angelicha menunduk, entah kenapa berada disisi Hanif malah membuatnya semakin khawatir saja. Sedangkan Hanif, pria itu nampak santai-santai saja dan masih menyungingkan senyuman nakal.
"Lusa kita sudah diliburkan, gimana kalau kita liburan bersama? Hanya kita," tawar Hanif.
"Lo apa-apaan sih?!" sentak Angelicha kala Hanif merangkul bahunya.
Gadis itu langsung bangkit dan pergi berlari meninggalkan Hanif. Hanif hanya mengerjab polos lalu terkekeh tak jelas.
"Gw terlalu agresif ya? Ahh bodoh. Padahal niat gw cuma mau deket," gumamnya.
________
Revandra masih pusing dengan sikap Angelicha sejak mendengar kabar pembunuhan disekolahnya. Gadis itu sering diam dan melamun menatap poto Michel diponselnya.
Revandra juga sangat ingin memeluk Angelicha erat, namun Revandra mengerti jika Angelicha masih membutuhkan ruang sendiri. Angelicha hanya akan tersenyum dihadapan Soya dan Hanum, namun Revandra tahu jika semua itu hanya senyuman palsu.
"Angelicha, udah ya. Jangan seperti ini terus," rengek Revandra memeluk Angelicha dari belakang.
Angelicha yang sejak tadi melamun tersentak kala mendapat pelukan dari Revandra. Angelicha tahu betul jika Revandra membenci dirinya yang sekarang.
"Aku nggak apa-apa kok," jawab Angelicha lalu mengecup pipi Revandra.
"Angelicha, aku juga pernah ada diposisi kamu. Kalau ada apa-apa cerita jangan dipendam sendiri. Aku suami kamu, sudah seharusnya kamu membagi suka maupun duka kepadaku begitupun sebaliknya." tutur Revandra.
Angelicha bangkit lalu memeluk Revandra. Menumpahkan segala perasaan sesak yang dilandanya beberapa hari terakhir. Revandra juga menerima dengan senang hati.
"Menangislah," ujar Revandra lembut sambil mengusap punggung sempit istrinya.
_______
Hanif masih terdiam diatas balkon kamarnya. Nyawa sahabatnya sedang dalam bahaya. Kembarannya itu benar-benar iblis versi manusia.
"Pa, bilang ke Calvin untuk berhenti memata-matai sahabat Hanif. Hanif nggak mau kalau teman-teman Hanif berakhir tragis seperti Michel, bahkan pria itu tak salah apa-apa. Tolong sadarkan dia agar berhenti dari obsesi gilanya!" geram Hanif, kedua tangannya mengepal erat mana kala melihat sang papa hanya menggeleng lirih.
"Papa tidak bisa apa-apa, Nif. Jika Calvin saja bisa membunuh ibu kalian, kenapa dirinya tidak bisa membunuh orang lain. Bahkan spikiater saja menyerah menangani dirinya," lirih Ibram menatap sendu putranya.
"Aku tidak mau dia memanfaatkan wajahnya yang mirip denganku untuk berbuat yang tidak-tidak kepada Angelicha. Papa, bawa dia pergi sejauh mungkin. Aku membenci Calvin!!" teriak Hanif diakhir kalimat.
"Asal kamu tahu, papa juga membencinya. Membenci sifat iblis yang ada padanya. Papa ingin dirinya berubah, papa ingin dirinya hidup layaknya pria diluaran sana. Namun papa bisa apa, mendekati dirinya saja sudah sangat berbahaya." timpal Ibram menunduk. Air matanya lolos begitu saja jika mengingat semua perilaku anaknya yang seperti iblis.
Hanif menghela nafas dan memukul tembok kamarnya. Mempunyai kembaran iblis bukanlah keinginannya. Cukup sekali dirinya dihasut oleh sosok iblis yang berada didalam tubuh adiknya hingga Hanif pernah membunuh pria berumur dua puluh sembilan tahun yang berani memperkosa kekasihnya.
Mengetikan sebuah pesan kepada teman-temannya. Seharusnya dirinya memang sudah harus jujur dari awal. Namun entahlah apa reaksi yang mereka berikan nanti ketika mengetahui Hanif memiliki kembaran iblis serta masa lalu Hanif.
__ADS_1
Mari deskripsikan seperti apa Calvin menurut kalian.
Well, sudah menemukan titik terangkan siapa yang jadi pembunuhnya. So, tunggu aja semuanya terbongkar nantinya.