
Itu tidak mungkin, hiks. Awasi pergerakannya akan ku bunuh dia!" murka Adenra.
Wanita itu berlutut dengan tatapan kosong. Tangannya bergerak untuk membanting ponsel tersebut hingga menghantam tembok dan hancur seketika.
"Kenapa Tuhan tidak pernah adil kepadaku?!!" Adenra berteriak murka.
"Aku belum pernah tidur di pangkuannya, kenapa Tuhan mengambil mama dariku?" isaknya lirih.
Wanita itu bangkit dan segera mengambil kunci mobilnya. Tujuannya adalah rumah sang ibu kandung, dirinya masih belum menyangka
Brughhh
Angelicha berlutut dengan tangisan yang mulai keluar. Memukul dadanya berharap rasa sesak yang dideritanya akan pudar.
"Enggak mungkin, mama nggak mungkin pergi secepat ini!" teriaknya diantara isakannya.
Revandra hanya bisa mendekap erat tubuh istrinya yang rapuh. Revandra tahu betul bagaimana rasa sakitnya ditinggal oleh orang yang paling dirinya cintai.
"Dad, mama tidak mungkin pergi secepat ini kan?" tanya Angelicha masih mencoba mencari tahu bahwa kabar yang didapatkannya adalah bohong.
Revandra hanya bisa menggeleng lirih. Air matanya ikut menetes bersamaan dengan jemari Angelicha yang meremat erat kemajanya.
"Siap-siap, kita urus pemakan mama." ujar Revandra.
"Mama belum meninggal, dad! Mama masih hidup!" Angelicha berteriak dan meronta dari dekapan sang suami.
"Angelicha," lirih Revandra dengan suara dalamnya.
Angelicha tak bisa berkutik. Menurut kala sang suami menuntun tangannya untuk menaiki tangga. Setelah membiarkan Angelicha bersiap, kini giliran dirinya yang memberi pengertian kepada putrinya.
"Soya, ayo sana siap-siap kita kerumah nenek Arum." ujar Revandra.
"Dad, nenek Arum nyusul kakek ya?" tanya Soya polos.
"Iya sayang, do'akan nenek ya." jawab Revandra.
"Momy pasti sedih ya, dad. Jadi Soya tidak boleh nakal begitu?" tanya Soya kembali, masih dengan tatapan polosnya.
Angelicha masih setia menangis memeluk nisan sang ibu. Tak percaya ibunya meregang nyawa dengan cara ditikam sebanyak tujuh kali.
Sedangkan Adenra, wanita itu sedikit menjauh dari keramaian. Wajahnya datar tak berekpresi apapun namun tangannya terkepal kuat disisi tubuhnya.
__ADS_1
Siapapun yang melihat Adenra akan benar-benar merasa terimindasi sekarang. Terlihat tenang namun nyatanya, otaknya tengah flashback disetiap detik dengan sang ibu dan hatinya mendadak meradang.
Revandra hanya bisa mengelus pundak sang istri yang masih setia terisak. Satu persatu kerabat Angelicha yang melayat mulai meninggalkan makam.
"Kak, ayo kita pulang. Hari sudah mulai gelap!" ajak Icha, gadis itu mengusap kasar air matanya melihat kesedihan yang begitu mendalam dimata sepupunya.
"Kalian pulang aja. Kasihan mama, disini mendung pasti mama kedinginan. Aku mau disini saja sambil memeluk mama," sahut Angelicha.
"Sayang, iklaskan mama ya. Biarkan beliau istirahat dengan tenang." tutur Revandra.
"Nggak mau dad, aku mau disini menemani mama!" tolak Angelicha.
Shin menghampiri adik sepupunya itu dan mengusap lembut punggung Angelicha. Perlahan-lahan mulai menuntun Angelicha untuk berdiri dibantu oleh Revandra.
"Ayo kita pulang, hari sudah malam." tutur Rahma diangguki semuanya.
Setelah dirasa keluarga Angelicha sudah pergi, kini giliran Adenra yang mendekat. Dirinya ingin menangisi ibunya tanpa seorangpun yang melihatnya.
Bersimpuh sambil memeluk nisan sang ibu. Rambut hitam kelamnya yang dibiarkan tergerai menari indah diterpa angin semilir.
"Mama, sepertinya hidupku selalu diisi tentang kehilangan. Terkadang aku berpikir bahwa Tuhan tidak adil kepadaku. Semua orang yang aku sayangi pasti meninggalkanku." keluhnya sambil mengusap kasar air matanya.
"Aku tidak akan memeluk nisan mama sepanjang malam. Aku akan membasahi nisan mama dengan darah siluman rubah itu. Anggap saja itu sebagai bukti berbaktiku," lanjutnya lalu tersenyum manis.
________
Arga tengah mondar-mandir khawatir didalam rumah sederhana milik pacarnya sekarang. Khawatir jika tiba-tiba saja ada polisi yang mendatangi mereka berdua.
"Ningmas, kamu yakin tidak meninggalkan bukti apapun ditempat penusukan tersebut?" tanya Arga khawatir.
"Tidak mas. Pisaunya juga aku bawa dan sudah kukubur ditaman belakang rumah kita, jadi tak akan ada yang tahu bahwa aku yang menusuknya." jawab wanita bernama Ningmas tersebut.
"Untung saja aku sudah membalik nama perusahaan sebelum polisi datang!" ujar Arga bangga.
"Kamu benar-benar hebat, mas. Lalu setelah ini kita harus apa?" tanya Ningmas.
"Kita pergi yang jauh dan mulai hidup baru," sahut Arga.
"I love you, mas." tutur Ningmas lalu memeluk pacarnya itu.
_______
__ADS_1
Angelicha masih setia duduk disudut ruangan dengan tatapan kosong. Angelicha benar-benar merasakan sebuah kahilangan yang amat sangat berat bagi dirinya sendiri.
"Mama, aku rindu, hiks." isaknya lirih.
Menenggelamkan kepalanya pada perpotongan lututnya. Isakannya terdengar semakin keras diikuti racauan yang memperjelas bahwa Angelicha tengah benar-benar hancur sekarang.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Revandra yang tampan dengan peci warna hitam tengah masuk sambil membawa senampan makanan untuk Angelicha.
Meletakan nampan isi sepiring makanan tersebut diatas nakas sebelum merengkuh tubuh istrinya. Revandra tahu betul betapa hancurnya Angelicah sekarang.
"Angelicha, ayo makan dulu." tutur Revandra.
Angelicha hanya memberi gelengan lirih. Perutnya nyeri namun nafsu makannya hilang. Menatap nasi malah membuatnya merasa mual.
"Makan sedikit saja, mama pasti sedih melihat kamu seperti ini. Ayo makan," ujar Revandra lalu menuntun Angelicha untuk duduk disofa.
Revandra dengan telaten menyuapi Angelicha sedikit demi sedikit. Tak banyak karna yang masuk hanya lima suapan kecil lalu setengah gelas air putih.
"Sekarang sudah malam, ayo kita tidur." ajak Revadra setelah membereskan sisa makanan Angelicha tadi.
Angelicha hanya menurut. Berbaring seperti instruksi Revandra dan membiarkan suaminya itu merapikan selimut sebelum akhirnya ikut berbaring disebelahnya.
_________
Angelicha terbangun tepat pukul dua pagi. Wanita itu melilik hoodie hitam yang tergantung ditempat gantungan pakaian.
Menyeringai kala sebuah ide melintas dipikirannya. Melirik Revandra yang masih nyenyak tertidur, mungkin efek kelelahan seharian ini.
Angelicha bangkit dan memakai hoodie tersebut. Mengecup singkat kening sang suami sebelum menyambar kunci motor beat milik Violet.
Mengendap-endap masuk kegudang untuk mencari bensin yang sempat pak Ali simpan digudang. Tangan kirinya sibuk menyala pematik api seolah api adalah sahabatnya.
Mengendarai motor sambil membawa jerigen isi bensin. Tekatnya kuat untuk menghabisi dua tua bangka yang merebut nyawa sang ibu.
Meski polisi masih menyekediki kasus ini, namun dirinya yakin bahwa ayahnya yang membunuh sang ibu. Apalagi ditambah laporan dari pengacara ibunya yang mengatakan bahwa nama perusahaan telah diubah menjadi nama Arga.
Tak butuh waktu lama Angelicha sampai dirumah sederhana tersebut dengan cat dominan putih. Sedikit tak menyangka karna pembunuh ibunya adalah ibu dari sahabatnya sendiri.
"Mari kita akhiri permainan ini!" serunya dalam hati senang.
__ADS_1
Angelicha menarik ikat rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai. Tangan kanannya membawa jerigen isi bensin sedangkan tangan kirinya tengah mematik sebuah korek api.
"Jika kalian pikir aku berubah setelah menikah, jawabannya salah. Angelicha si bar-bar tetaplah hidup hingga sekarang!" batinnya berseru.