CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 96.Janji Revandra


__ADS_3

Revandra baru saja selesai membersihkan dirinya sendiri. Melihat betapa takutnya Angelicha tadi membuat Revandra agak sedikit khawatir.


Pria mana yang tega melihat seorang wanita dilecehkan dengan tatapan nakal dari pria lain? Jangan berpikir jika Revandra sudah mulai menyukai Angelicha!


"Tidak ada telfon dari Angelicha maupun bi Limah. Itu tandanya kondisi disana baik-baik saja, syukurlah." kata Revandra lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Matanya terpejam dan mencoba untuk menyelami alam mimpi. Berkali-kali dirinya mencoba untuk menutup mata namun selalu saja tidak bisa terpejam sempurna.


'Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu,'


'Janji ya, Revandranya aku tidak akan pernah memberikan cintanya untuk wanita lain!"


'Maukah kau menjadi istriku?'


'Janetta, apa kamu bodoh?! Aku sudah bisa mencukupi semua kebutuhan kamu untuk apa kamu menerima kontrak gila itu?!'


'Itu impianku sejak kecil, sensasi yang kita buat tidak seramai dengan kabar kontrakku. Sudahlah Revandra, kita akhiri saja hubungan kita. Kau rawat Soya, nanti aku akan kembali untuk merebutnya dan menghancurkanmu!'


Kepala Revandra kembali berdenyut, kilasan-kilasan masa lalu membuat kepalanya pening. Jika kalian kira Revandra sudah tidak mencintai mantan istrinya dugaan kalian salah.


Revandra tidak pernah bisa melupakan Janetta, sosok wanita yang anggun dan penuh kasih yang meninggalkan dirinya empat tahun lalu. Cintanya masih sama seperti dulu dan itu membuat Revandra tidak bisa membenci sosok Janetta.


Revandra menggapai botol obat dari laci nakas. Meneguknya dengan segelas air putih. Obat tidur tersebut sudah rutin dirinya minum ketika Revandra tidak bisa tidur.


______


Angelicha tengah nyenyak menyelami mimpi indahnya. Lampu kamarnya telah padam digantikan lampu tidur dengan cahaya temaram.


Shhhh


Angelicha menggeliat kala merasakan ada tangan yang membelai lengan kanannya yang berada diluar selimut. Masih menganggap itu hanyalah gangguan alam bawah sadarnya.


Sosok itu menyampurkan sebuah bubuk pada air putih digelas yang terletak diatas nakas. Sosok itu kembali merunduk dan menjilat sensual tengkuk Angelicha.


"Siapa?!!" Angelicha langsung terlonjak dan melihat sekelilingnya.


Nafasnya terdengar terengah-engah karna kaget. Was-was apalagi mengingat ada Rizky dirumahnya, takut kejadian beberapa bulan yang lalu terjadi lagi.


Angelicha turun dari ranjang dan memastikan bahwa pintunya sudah terkunci. Nyatanya pintunya lupa belum dirinya kunci, untung saja dirinya sadar.


Meminum air diatas nakas dan kembali merebahkan tubuhnya. Memilih tidak ambil pusing dan kembali memejamkan mata.


"Shhh kenapa jadi gerah seperti ini?!" gerutu Angelicha lalu keluar dari balutan selimut.


Angelicha mulai tak tenang menaikan suhu AC kamarnya. Menanggalkan atasan sembarangan arah sehingga menyisakan celana piyama dan tanktop warna hitam.


"Shhh kenapah gatal semuahh?!" gerutunya frustasi.


Sejenak Angelicha terdiam melihat sosok yang baru keluar dari kolong ranjang. Ketakutannya kembali lagi dan berkali-kali lipat lebih besar.


"Tolong!!" teriak Angelicha sebelum menendang Rizky.


Tak lama Angelicha kembali menggeliat lagi. Rizky tertawa iblis melihat Angelicha layaknya ikan yang kekurangan air.


Rizky mengeluarkan ponselnya dan merekam adegan didepannya. Angelicha menangis namun juga tubuhnya semakin tak terkendali.


Rizky semakin tertawa kencang melihat Angelicha menggeliat-geliat sampai seperti itu. Angelicha masih menahan gejolak yang timbul pada dirinya.


Rizky mengurung Angelicha dalam rengkuhannya. Rizky mencoba untuk melecehkan Angelicha dan Angelicha terus memberontak seakan pengaruh obat tadi sudah tidak bereaksi lagi.


"Setidaknya biarkan gue yang ngambil mahkota lo sebelum lo nikah." bisik Rizky lalu meraup paksa bibir Angelicha.


Brak!

__ADS_1


Bugh!


Rizky langsung tumbang kala mendarat tendangan pada tengkuknya. Disana ada sosok pria asing yang tengah menatapnya murka.


______


Revandra menggeliat kala merasakan ponselnya bergetar. Perasaan khawatir mulai menyerang kala tahu bi Limah yang menelfon.


Dengan pakaian seadanya serta jaket yang membungkusnya, Revandra melajukan mobilnya menuju kediaman Angelicha.


"Aku harus segera menikahinya dan membawanya pergi dari sana." batinnya berdecak kesal.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai disana. Bagaimana bisa Angelicha seceroboh itu? Pikirnya tak habis fikir dengan calon istrinya itu.


______


Bugh


"Sialan!" umpat sosok tinggi tersebut.


Bugh


Brak


Kretek


"Sialan!!!" teriakan Rizky menggema lalu dengan langkah tertatih menghampiri Angelicha yang terduduk lemas terbalut selimut disudut ruangan.


"Brengsek!!" teriakan Revandra lalu langsung menyeret Rizky menjauh dari hadapan Angelicha.


Sosok tinggi nan tampan itu hanya tersenyum manis melihat pangeran yang sesungguhnya telah datang. Ternyata Revandra memang tampan seperti kata bi Limah.


"Jangan sentuh milik saya!" tegur Revandra dengan nada penuh amarah.


Bugh!


Mencabut sim cardnya lalu membanting ponsel tersebut tak lupa menginjak-injak benda persegi tersebut. "Saya akan melaporkanmu kepolisi!" gertak Revandra lalu melempar tubuh Rizky kedekat sosok tinggi tersebut.


"Jangan sentuh milik saya!" ulangnya lagi lalu membiarkan sosok tinggi tersebut menyeret tubuh lemas Rizky.


Revandra langsung memeluk erat Angelicha, membiarkan Angelicha menangis dan meraung didekapannya.


"Angelicha milik saya, jangan sentuh milik saya!" batinnya menegaskan kata itu berkali-kali dengan yakin.


Revandra menggeliat lalu melirik Angelicha yang tertidur dipelukannya. Semalam Revandra membawa Angelicha untuk menginap dirumahnya, namun karna ketakutan Angelicha meminta Revandra untuk menemaninya.


Hari ini tanggal merah dan itu berarti sekolah maupun kantor diliburkan. Revandra berniat untuk fetting baju pengantin dan persiapan lainnya.


Tangannya terasa pegal karna posisinya lengan Revandra dijadikan bantal Angelicha. Wajah polos dengan mata yang terlihat memerah sungguh sangat tenang untuk dipandangi apalagi bantuan hangat sinar mentari.


"Revandra siapa yang kau ajak tidur?!!"


Revandra maupun Angelicha langsung terbelalak kaget. Angelicha memegangi dadanya berdebar-debar karna terkejut dengan teriakan nyaring seorang perempuan.


"Momy!!"


Hanum cengo melihat cucunya langsung berhambur naik keatas ranjang dan memeluk gadis yang semalaman tidur dengan Revandra. Lalu mendengar seruan Soya kenapa hatinya jadi memanas?


"Angelicha, kamu mandi dulu. Biar saya yang menjelaskan kepada ibu saya. Soya kamu temani momy disini ya," tutur Revandra lalu bangkit dari ranjang.


Revandra lalu menggiring ibunya untuk masuk kedalam kamar ibunya. Mungkin Revandra harus berdongeng panjang agar ibunya itu mengerti.


Angelicha masih menelaah kejadian semalam. Bersyukur karna ada sosok tampan nan tinggi yang pertama menyelamatkannya sebelum Revandra datang.

__ADS_1


'Jangan sentuh milik saya!'


Pipinya merona kala mendengar perkataan Revandra yang penuh dengan tekanan amarah. Tersenyum-senyum sendiri karna itu merupakan kata cheese pertama yang diucapkan Revandra.


"Momy kok bisa ada disini?" tanya Soya menyisir rambut panjang Angelicha.


"Daddy yang mengajak momy kemari." jawab Angelicha sambil mengusap pipi Soya.


"Nanti kalau momy udah nikah sama daddy, Soya pengen adik kembar!" seru Soya antusias.


Angelicha tidak merespon serius jadi hanya mengangguk saja. Kepalanya masih pusing jika mengingat kejadian semalam.


______


Plak!


"Sejak kapan kamu berubah jadi brengsek seperti sekarang?!" tanya Hanum to the point.


Revandra hanya menunduk sambil memegangi pipi kirinya yang kena tampar. Dalam hati benar-benar kesal dengan ibunya yang tidak mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


"Dia Angelicha, calon istriku sekaligus calon ibu untuk Soya." jawab Revandra lirih.


"Ehh? Beneran?! Kamu nggak bohongkan, kenapa nggak bilang dari awal aja?!" tanya Hanum antusias lalu memeluk Revandra.


Hanum senang bukan main kala mendengar Revandra akan menikah lagi. Tidak perduli anaknya itu menikah dengan siapa, Revandra tak akan pernah main-main memilih pasangan.


"Ayo-ayo ajak dia sarapan!" seru Hanum semangat.


"Sebentar, ada yang mau aku omongin, bu. Aku mohon jangan singgung tentang keluarga dihadapan Angelicha." lirih Revandra menatap dalam sang ibu.


"Kenapa?" tanya Hanum sedikit memiringkan kepalanya.


Revandra menarik nafas sebelum akhirnya menceritakan semuanya. Hanum mendengar dengan seksama serta kadang-kadang juga tersenyum.


"Ibu setuju sama kamu, setidaknya disini masih ada ibu dan Soya. Lalu bagaimana dengan pria brengsek itu?" tanya Hanum lagi.


"Aku berjanji akan memenjarakan pria brengsek yang sudah mencoba menyentuh milikku!" tegas Revandra dengan nada dingin.


Hanum tersenyum geli melihat anaknya itu. Umur Revandra itu masih sangat muda menurutnya untuk menjadi duda dengan satu anak umur enam tahun.


For you information saja, Revandra menikah diumur dua puluh tahun dan sekarang usianya baru menginjak dua puluh enam tahun. Masih muda, bukan? Jadi tak pantas jika Angelicha memanggilnya om.


Revandra ikut tersenyum sendiri mengingat kata 'milik saya' yang terus berputar-putar dikepalanya. Ayolah, Angelicha bukan barang yang dihak patenku, lagi pula Revandra bukan siapa-siapa Angelicha.


Revandra segera menyusul kemeja makan. Sudah menjadi kebiasaan ketika libur, dirinya akan sarapan terlebih dahulu dan mandi agak siang.


_________


Hanum tak henti-hentinya tersenyum hangat melihat interaksi Soya dengan Angelicha. Sungguh pemandangan yang sangat manis, baru kali ini Soya tertawa selepas itu ketika bermain dengan orang lain.


Hanum bisa mengerti alasan Soya tidak mau bermain dengan pekerja rumah dirumah ini. Soya adalah anak kecil yang selalu peka, dia tahu mana yang tulus dan mana yang mengharap imbalan.


"Angelicha, minggu depan kamu dan Revandra akan menikah. Jadi jangan takut untuk mengadu keluh kesahmu kepada ibu ya," tutur Hanum sambil tersenyum simpul.


"I-iya bu." jawab Angelicha agak canggung.


"Saya berjanji akan membawa ibu kamu kepelukan kamu, itu janji saya kepada kamu, Angelicha." kata Revandra lalu mengusap bahu Angelicha.


"Sialan gw baper!" rutuk Angelicha dalam batinnya.


Revandra yakin bahwa dia bisa membawa calon ibu mertuanya kedekapan Angelicha. Itu janji seorang Revandra Aditya, si om kasar dan mesumnya Angelicha.


***

__ADS_1


Sampai sini gimana? Ada yang kanget sifat bar-bar Angelicha nggak?


See you next chapter:)


__ADS_2