CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 93.Menikahlah Dengan Saya


__ADS_3

Angelicha sudah diperiksa oleh dokter. Menurut hasil pemeriksaan, Angelicha hanya mengalami demam dan magh tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Revandra ikut bernafas lega melihat Angelicha makan disuapi Soya. Pemandangan yang sangat cheese dan mampu membuat siapapun tersenyum tak ayal bi Limah tersenyum manis.


"Sudah Soya, kakak sudah kenyang." tutur Angelicha lirih sambil tersenyum.


"Tidak kakak pembolos! Ayo makan atau aku suruh daddy yang menyuapi kakak pembolos?" ancam Soya sambil menatap tajam Angelicha yang justru terlihat sangat menggemaskan.


"Tapi kakak kenyang. Mulut kakak pahit," lirih Angelicha sambil mengusap puncak kepala Soya.


Soya diam, telunjuknya dirinya letakan didagu dan kepalanya sedikit mendongak. Lalu melirik Angelicha kemudian sang daddy yang duduk dimeja belajar Angelicha.


"Daddy, belikan kakak pembolos eskrim rasa chocomint!" rengek Soya sambil menggoyang-goyangkan tangan sang daddy.


"Setannya lagi sakit tidak boleh mamakan eskrim," tutur Revandra, bukan karna apa hanya saja dirinya malas.


"Daddy memang tidak pernah sayang sama Soya. Aku benci daddy!" seru Soya lalu kembali naik keranjang dan berbaring disebelah Angelicha.


Revandra hanya tersenyum kaku. Menghela nafas lalu bangkit untuk membelikan pesanan sang putri tercintanya tersebut.


Revandra tengah mengabsen isi kebun binatang dalam diamnya.


Soya terkikik geli lalu bangkit dan bermain gadgetnya. Angelicha yang melihat itu langsung mengambil gadget Soya dan menyimpannya diatas nakas.


"Soya tidak boleh terlalu sering bermain game. Mata Soya bisa rusak nanti, kalau rusak harus pakai kaca mata dan kalau pakai kaca mata Soya akan jelek dan tidak punya teman," ujar Angelicha dan dibalas cebikan dari Soya.


"Tapi kalau pakai kaca mata, Soya akan menjadi imut seperti Susanti." celetuk Soya sambil mengerlingkan matanya.


"Mei-mei wehh Susanti sapa dah?!" batin Angelicha menangis meratapi ucapan Soya.


"Soya cantik, yang pakai kaca mata itu Mei-Mei bukan susanti." gumam Angelicha sambil tersenyum.


"Aku mau jadi Susanti kok, kan aku orang Indonesia bukan Cina." bantah Soya sambil menunjukkan wajah tak berdosanya.


"Iya, Susanti cantik kok." pasrah Angelicha.


Tanpa Angelicha sadari, Revandra tersenyum hangat melihat interaksi mereka berdua. Soya adalah anak yang sulit untuk akrab dengan orang lain, tapi dengan Angelicha segampang itu untuk akrab.


Revandra tadi ingin bertanya Soya pesan rasa apa namun diurungkannya ketika melihat Soya tengah digelitiki oleh Angelicha. Tidak mau mengganggu, balik kanan maju jalan.


"Kakak, bisa tidak bulan depan ikut aku? Aku takut dan aku mau sama kakak. Aku nggak mau ikut daddy ataupun bunda, aku mau ikut kakak," lirih Soya sambil menunduk.


Angelicha mengernyitkan dahi. Sebenarnya tidak tahu juga maksud dari bocah kecil tersebut. Ingin bertanya tapi kepalanya mendadak pening kembali.


"Daddy kasar dan bunda jahat. Mereka nggak tulus sayang sama Soya, mereka rebutan Soya cuma untuk menunjukan siapa yang menang." lanjut Soya kemudian terisak lirih.


Angelicha lantas menarik Soya kedalam dekapannya. Membiarkan anak enam tahun tersebut menangis dalam pelukannya.


"Iya, Soya sama kakak saja ya. Kakak janji bakal menyayangi Soya seperti adik kakak sendiri." gumam Angelicha.


"Kenapa adik bukan anak?" tanya Soya polos.


"H-ah a-apa?" Angelicha tergagap dengan respon yang diberikan Soya.


"Kenapa aku harus jadi anak bunda bukan jadi anak kakak saja?" lirih Soya sambil mengeratkan pelukannya.


"Y-ya karna... karna itu takdir, Soya." sahut Angelicha ngelantur.


"Iya, tapi kenapa takdir Soya harus lahir dari bunda. Kenapa daddy menikah dengan bunda bukan dengan kakak saja?" cerocos Soya panjang lebar.


"K-karna--"


"Soya kakaknya biar istirahat, jangan diganggu dulu. Ini eskrim untuk kalian." kata Revandra yang baru saja masuk kedalam kamar Angelicha.


Angelicha menghela nafas lega. Berterimakasih karna Revandra datang tepat waktu, akan sangat rumit menjawab pertanyaan dari Soya tadi.


Soya langsung menyuapkan eskrim kepada Angelicha sambil sesekali menyuapkan kemulutnya sendiri. Tawa renyah mengudara kala Soya sengaja iseng mencoret pipi Angelicha menggunakan eskrim.


"Daddy duduk disini!" titah Soya dan Revandra mengangguk.


"Soya, bisa kamu keluar sebentar? Daddy ingin berbicara dengan kakak dulu," lirih Revandra dan Soya mengangguk patuh.


Tinggalah mereka berdua dalam kamar. Revandra tersenyum simpul dan menunjukan wajah tenangnya walau hatinya tengah gugup setengah mati. Sedangkan Angelicha hanya memberikan tatapan datar tak berminat terhadap pria tampan didepannya.


"Menikahlah dengan saya," tutur Revandra lembut sambil tersenyum menatap Angelicha yang masih setia dengan ekspresi datarnya.


Hayo, gimana jawaban Angelicha nanti?

__ADS_1


Jedorrr!!!


Angelicha langsung terlonjak mendengar suara petir yang tiba-tiba menyambar. Revandra juga terkejut namun mencoba bersikap normal.


"Nikah nggak segampang itu, om." kata Angelicha serius.


"Tapi saya yakin, jadi menikahlah dengan saya." tutur Revandra dingin.


"Bukan-bukan, gini lho. Aku masih sekolah, masih kecil dan om sendiri udah tua, udah mapan, udah punya anak. Kenapa nggak cari aja yang seumuran gitu. Sorry aja ya om, aku nyarinya juga yang seumuran." celetuk Angelicha lalu terkekeh.


Mendengar panggilan om dari bibir Angelicha entah kenapa menggelitik pendengarannya. Hey, Revandra tak setua itu hingga dipanggil om oleh anak SMA.


"Lagi pula aku juga nggak mau nikah. Takut berakhir seperti om atau kedua orang tuaku sendiri dan malah merusak mental Soya." lanjutnya sambil menunduk lesu.


Benar, Revandra juga berpikir demikian. Apalagi mereka tidak saling mencintai dan baru kenal beberapa hari dan main menikah saja. Namun hati Revandra yakin untuk meyakinkan Angelicha.


"Kecuali untuk menikah kontrak. Aku baru mau, om dan aku sama-sama mendapat keuntungan!" kata Angelicha.


"Yha, kau pikir pernikahan untuk dipermainkan? Pernikahan kita akan dilahkukan dihadapan Tuhan secara sah, jangan mencoba untuk mengingkari janji pernikahan!" sentak Revandra.


"Arhhhh sudahlah! Om Revan kasar begitu!" teriak Angelicha sambil menendang Revandra.


Revandra menghela nafas, tersenyum manis walau dalam hati tengah mengabsen seluruh isi kebun binatang. Dirinya kembali duduk dibibir ranjang sebelah Angelicha.


"Saya minta maaf." tutur Revandra lalu mengecup singkat kening Angelicha.


"Yaaa om Revandra mesum!!" teriak Angelicha menggelegar mengalahkan berisiknya hujan diluar.


Bugh!


Kembali lagi Revandra tersungkur dilantai akibat pulukan Angelicha. Gadis itu sedang sakit namun kekuatannya bukan main memang.


"Dasar gadis bar-bar!" rutuk Revandra menatap tajam Angelicha yang menatapnya sengit.


"Abisnya om sih mesum. Akutuh masih perawan, nggak mau disentuh-sentuh duda kurang belaian kayak om!" celetuk Angelicha sambil memeluk dirinya sendiri.


Apa katanya? Duda kurang belaian?!


"Sialan." umpat Revandra dalam hatinya.


Tapi benar sih, dia kurang belaian makanya temperamental seperti wanita pms. Lupakan itu, intinya Revandra benar-benar kesal sekarang.


"Selain bar-bar dia juga gila." batin Revandra bersuara.


Revandra lebih memilih untuk melangkah keluar kamar tersebut atau dirinya akan benar-benar gila berada satu ruangan dengan Angelicha. Membiarkan Angelicha berhalu ria dengan Suga atau siapalah itu.




"Daddy beneran mau nikahin kakak pembolos?" tanya Soya, bocah itu tengah menatap ayahnya dari kursi penumpang dengan tatapan berbinar.



Revandra terdiam, menggunakan Soya sebagai alat membujuk Angelicha tidak buruk juga. Toh hanya membujuk, tidak memaksa.



"Kamu mau setan itu jadi ibu baru kamu?" tanya Revandra memancing.



Soya mengangguk antusias, senang mungkin bisa menjadikan Angelicha sebagai ibunya. Membayangkan setiap hari akan bermain terus dan tidur seharian hingga petang menyapa.



"...kamu harus bujuk setan itu buat mau nikah sama daddy, mengerti Soya?" lanjut Revandra dan dijawab anggukan antusias dari Soya.



"Daddy... jangan panggil momy aku setan, dia itu ibu peri tahu." protes Soya sambil menatap garang Revandra.



"Ck, mana ada ibu peri sekasar dirinya. Angelicha, pelet apa yang kamu gunakan sih?" decak Revandra dalam batinnya.


__ADS_1


Revandra hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Ingat bahwa Revandra menikah dengan Angelicha demi mendapatkan hak auh Soya.



"Pernikahan ini terpaksa. Ingat ini terpaksa dan aku tidak akan terbawa perasaan!" batinnya bersuara tegas.



Pernikahan ini terpaksa!



Terpaksa!



Jika perlu catat diarsip penting jika Revandra tidak akan terbawa perasaan nantinya!



\_\_\_\_\_\_



Angelicha masih setia melamun diatas ranjangnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun matanya enggan terpejam.



"Kasihan juga sih Soya kalau harus diasuh sama ibu kandungnya." pikirnya dalam diam.



"Tapi, mana bisa gue menikah dengan om kasar dan mesum itu... ihh gelay!" rutuknya tiba-tiba.



Mengingat kejadian tadi siang membuat pipinya memerah. Dada bidang Revandra sangat nyaman untuk bersandar, tanpa sadar dirinya tersenyum malu-malu anjing.



Plak!



"Issh apa pula lah gue ini mikirin om kasar dan mesum!" umpatnya sambil memukul pipinya keras.



"Nggak bohong sih kalau om kasar dan mesum ganteng, lebih mirip Lee Min Ho. Eh-- anjirr kenapa pikiran gue konslet gini!" monolognya lagi.



"Lee Min Ho nyungsep digot, itu baru dia!" tegasnya dalam hati.



Dirinya menutup bibir rapat-rapat kala sekelebat bayangan melintas. Membayangkan Revandra bertelanjang dada, sungguh membuat jantungnya tidak normal.



"Aku benar-benar mesum!!" teriaknya sambil memukul kepalanya pada sandaran ranjang.



"Sialan, om kasar dan mesum itu benar-benar membuatku gila! Aku mengatainya mesum tapi kenapa aku sendiri yang mesum?!" umpatnya dalam hati.



Memilih memandangi poster yang tertempel indah di dinding kamarnya yang berisi tujuh pria dengan pose berbeda. Nikmat mana lagi yang Angelicha ragukan, sungguh surga dunia bisa menatap oppa kesayangannya walau hanya dari poster.



~Bersambung



\* Jujur saja kalau kalian kurang nyaman bawa-bawa aktris Korea. Anggap saja ini sebagai pemanis dan hiburan sebelum mencapai konfliknya.

__ADS_1



\* Stay healty okay!


__ADS_2