CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 105.Rumit


__ADS_3

Angelicha menghela nafas. Akibat terlampau asik bermain, dirinya malah pulang larut. Suasana sangat sepi mengingat Hanum menginap dirumah Arum.


Masih dengan seragam dan tas punggung, gadis itu berjalan memasuki dapur untuk mengambil air. Meneguk perlahan air dalam botol bening tersebut.


Namun tak lama mata Angelicha menatap tangga menuju lantai atas. Angelicha meneguk air susah payah kala melihat Revandra berdiri dianak tangga terakhir. Sorot matanya mengintimidasi dan menatap Angelicha dari atas sampai bawah.


"Bagus! Jam segini baru pulang. Kau tahu, Soya sakit dan kau malah sibuk bersenang-senang dengan kekasihmu. Terserah jika kau ingin bermesraan dengan kekasihmu, hanya saja tolong kau ingat. Sekarang kau sudah menjadi ibunya Soya!" sarkas Revandra.


Angelicha hanya menunduk tak berani menatap Revandra yang kini sudah berdiri tepat di depannya. Jantungnya berdebar-debar, apakah Revandra marah?


"M-maaf," cicit Angelicha.


Huhhh


Revandra menghela nafas lalu kembali menaiki tangga. Entah kenapa, dirinya tidak bisa marah kepada istri kecilnya itu.


Angelicha langsung meletakan tasnya dan berlari masuk kedalam kamar Soya. Benar, bocah itu tengah terlelap dengan plester didahinya.


Angelicha terisak lirih, dirinya merasa sangat bersalah karna mengabaikan putrinya. Masih dengan seragamnya, Angelicha naik dan ikut berbaring diranjang Soya.


"Momy?" lirih Soya lalu menggeliat.


"Momy disini sayang, maaf ya karna mengabaikanmu. Mau momy pijat?" tutur Angelicha.


"Tidak. Aku mau dipeluk momy saja!" seru anak itu lalu tersenyum lebar.


Tanpa pikir panjang Angelicha langsung memeluk Soya. Anak itu tersenyum lalu menyamankan posisi tidurnya dan kembali menutup matanya.


"Benar, aku sekarang sudah mempunyai tanggung jawab. Aku tidak boleh semena-mena lagi," batinnya.


Tak terasa Angelicha ikut terlelap disamping Soya. Masih dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


Ceklek!


Lampu menyala, Revandra membuang nafas lega melihat Angelicha sudah tertidur. Dirinya tidak bisa benar-benar mengabaikan gadis itu. Sungguh, untuk marah saja Revandra merasa menjadi orang jahat.


Revandra berjalan mendekati Angelicha. Mengecup sekilas jidat sang istri lalu ikut berbaring disisi samping Soya yang satunya.


Rencana kencannya jadi batal karna istrinya itu malah sibuk bermain hingga lupa waktu. Tak apa, Revandra setia menanti kok.


"Selamat malam," lirihnya lalu memejamkan mata.


______


Meja makan terasa sangat sunyi. Soya sibuk dengan omletnya sedangkan Angelicha sibuk dengan bacaan dibukunya lalu Revandra, pria itu hanya makan dengan tenang.


"Momy rajin sekali belajar," puji Soya.


"Iya, supaya momy bisa terbang ke Jerman. Soya juga harus rajin belajar," sahut Angelicha lalu tersenyum.


"Kamu mau apa ke Jerman?" tanya Revandra.


"Kuliah, sekalian cari masa depan disana setelah nanti kita lepas," lirih Angelicha.


"Angelicha ak-- belajar yang rajin agar masa depan kamu cerah." ujar Revandra lalu bangkit dari bangkunya.


Soya hanya bisa diam melihar raut wajah kecewa dari Revandra. Tidak tahu kenapa, tapi anak itu mengerti kalau Revandra tidak ingin ditinggal sang momy.


"Momy mau ninggalin aku sama daddy, kayak yang dilahkukan bunda Janetta dulu?" tanya Soya polos.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan mereka, bahkan aku rela kehilangan nyawa untuk mereka berdua." batinnya berkata.


Angelicha hanya tersenyum manis lalu menunduk. Dirinya juga bingung harus merespon apa. Bohong jika dirinya tidak tertarik dengan Revandra.


"Kalau gitu momy juga jahat!" ujar Soya lalu berlalu mengambil tas sekolahnya.


Angelicha merasa bersalah karnanya acara sarapan jadi berantakan. Tidak tahu kenapa Revandra sangat sensitif jika menyangkut 'perpisahan'.


Angelicha ingin mengklaim Revandra mencintainya, namun dirinya tidak bodoh jika pria itu masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya bersama Janetta. Lalu Angelicha harus bagaimana?!

__ADS_1


Setelah membereskan sarapan yang kacau tadi, dirinya segera melangkah. Revandra sudah berangkat bersama Soya dan meninggal Angelicha!


"Huhhh yang benar saja!" cibir Angelicha kesal.


"Pak Ucup anterin saya ke sekolah!" seru Angelicha.


"Baik nyonya!" sahut pak Ucup.


________


Revandra menghela nafas berkali-kali. Mengingat perkataan Angelicha tadi membuat moodnya benar-benar hancur. Entah sudah berapa banyak pegawai yang dirinya bentak dan omelin hanya karna masalah sepele.


"Jerman?! Apa perlu aku menghancurkan negara itu? Atau ku tenggelamkan saja?!" gerutu batinnya.


Kenapa harus Jerman?!


Tahu sekali Angelicha jika Revandra tidak bisa berbahasa Jerman. Lagi pula, bukankah masa depan Angelicha sudah terjamin hidup menjadi nyonya Revandra Aditya?!


"Sejak tadi lo emosi mulu, pah~ curhat dong!" ujar Reza mendayu syahdu.


"Apa perlu gw kirim nuklir ke Jerman ya?" tanya Revandra.


"Ngadi-ngadi! Lo jangan coba-coba nyari masalah dah!" sergah Reza.


"Ya, abisnya gw kesel sama Angelicha! Masa iya setelah kita cerai nanti dia bakal ke Jerman? Nggak ada kesempatan buat gw ngejar dia dong?!" oceh Revandra.


Reza tersenyum sinis. Terkekeh geli mendengar ocehan tak berfaedah dari Revandra. Tidak menyangka lebih tepatnya.


"Mau lo taruh mana Jean habis ini?!" tanya Reza dingin lalu melangkah pergi.


Angelicha dengan menatap sendu foto yang terpampang jelas dilayar ponselnya. Tiba-tiba rasa dikecewakan mampir dihatinya dan memporak-poranda perasaannya.


Difoto itu ada Revandra yang tengah berpelukan dengan wanita cantik dengan kulit putih serta tinggi setelinga Revandra. Lagi-lagi Angelicha mendengus kesal.


"Kenapa sih aku pendek?!" makinya dalam hati.


Angelicha membecik lalu melempar asal ponselnya. Moodnya benar-benar buruk rasanya dan ini karna foto sialan itu!


Memilih untuk bodo amat, Angelicha beranjak masuk kamar mandi untuk mandi. Matahari sudah terbenam namun Revandra belum pulang juga.


"Pasti sedang bersama selingkuhannya itu," gumamnya kesal.


________


Brak!!!


Revandra terlonjak kala Reza datang-datang menggebrak meja kerjanya. Tolong ingatkan Revandra untuk memecat Reza setelah ini.


"Lo ap--"


"Lo apa-apaan bangs*t?! Lo brengsek!" umpat Reza berapi-api.


"Lo kena--"


"Maksud lo apa dihotel sama Jean?!" sentak Reza menyela lagi ucapan Revandra.


"Gw bisa jel--"


"Jelasin sialan! Maksud lo apaan hah?!" sela Reza lagi.


Revandra gondok sekali dengan temannya ini. Bagaimana dia mau jelasin kalau setiap berucap saja Reza selalu memotong perkataannya.


"Ya gimana gw mau jelasin kalau setiap omongan gw aja lo potong ter--"


"Alasan lo! Ngga usah bohong deh! Gw apal mulut buaya cem lo!" sela Reza lagi.


"Ya Gusti, bunuh aja Reza!" serunya dramatis.


"Oh lo nyumpahin gw mati hah?! Kalau gw mati yg bakal ngurus jadwal-jadwal lo siapa?!" bentak Reza.

__ADS_1


Reza langsung merubah ekspresinya seperti orang bodoh. Seperti menyesali ucapan yang terlontak tadi. Lalu melotot melihat Revandra menyeringai menatapnya.


"Kalau lo mati gampang sih, gw tinggal buka aja pendaftaran buat sekertaris baru. Kasihan ya lo, meninggal sebelum nikah." ledek Revandra.


"Ehh Revandra ganteng banget sih hari ini. Umm pasti abis dapet jatah dari Angelicha ya, makanya mukanya berseri-seri. Tadi itu yang ngomong setan bukan gw, jadi jangan pecat apalagi nyumpahin gw mati sebelum nikah ya." ujar Reza lembut dan dramatis.


"Jijik gw!" sentak Revandra.


"Bentar-bentar, kok jadi gini. Harusnya gw yang marah! Jelasin maksud lo apaan selingkuh dari Angelicha?!" nada bicara Reza naik lagi akhir kalimat.


Revandra menghela nafas lalu memberesi barang-barangnya. Dirinya harus mampir keapartemen untuk suatu urusan penting.


"Ceritanya panjang. Gw harus ke apartemen dulu, ada urusan penting. Nanti kalau pihak rumah telfon, bilang aja gw ada meeting. Ntar gaji gw naikin asal lo mau aja," ujar Revandra lalu meninggalkan Reza yang tengah menganga bak orang bodoh.


"Wah bener-bener sialan! Lihat aja Angelicha labrak lo nanti!" desisnya lalu tertawa iblis.


Reza langsung merogoh ponsel dalam saku celana dan menelfon istri baru bosnya itu. Berharap Angelicha percaya dengan perkataannya.


'Iya kak Reza ada apa?'


Reza tersenyum mendengar suara lembut Angelicha disebrang sana. "Kakak ganggu kah? Soalnya ada urusan penting. Apa Revandra udah pulang kerumah?"


'Belum kak, dia tadi pamit ada meeting. Kenapa memangnya?' tanya Angelicha dari sana.


"Kamu pengen tahu kelakuan bejat Revandra? Kamu datang aja kealamat yg aku kirim. Apartemen lantai dua puluh tiga kamar nomer 105, jangan lupa bawa golok buat ngebiri Revandra nantinya." celetuk Reza.


'Bodo amat kak. Mau dia bunuh diri, mau dia koit, mau dia modar aku nggak perdul--'


"Dia bakal nginep sama mantan pacarnya disana." sela Reza cepat.


'Oh~'


Tut!!!


Reza menghela nafas lalu ikut membereskan barangnya untuk pulang kerumah. Pekerjaannya juga sudah selesai jadi tak perlu sampai lembur seperti kemarin.


_______


Angelicha dengan langkah cepat berlari keluar dari lift yang membawanya kelantai dua puluh tiga. Dadanya kembang kempis seperti menahan gelora amarah yang siap meledak kapan saja.


Sampailah dia didepan apartemen yang dimaksud Reza. Memencet tombol berharap dibukakan oleh seseorang.


"Ya ad-- Angelicha?!'" kaget Revandra.


"Oh? Dad kenapa ada disini bukannya tadi meeting?" tanya Angelicha pura-pura kaget walau dalam hati ingin sekali memukul wajah tampan Revandra.


"O-oh y-ya, kamu lebih baik pulang ya." ujar Revandra gugup.


"Setidaknya aku mau minum dulu, capek naik tangga dari lantai satu kesini tuh." bohongnya lalu mendorong Revandra agar pria itu memberinya akses masuk.


Sepi


Angelicha tersenyum lega lalu berlalu kedalam dapur untuk mengambil segelas air putih. Revandra nampak resah dan gugup apalagi kala ditatap intens Angelicha.


"Dari mana kamu tahu kalau aku punya apartemen disini?" tanya Revandra.


"Dari ibu. Tadi aku bosen jadi milih kesini, cari suasana aja sih. Terus kenapa daddy ada disini? Bukannya meeting sama client dari Jepang? Terus kemana kak Reza, bukannya dia sekertaris daddy?" cerca Angelicha.


"Oh itu-- itu lho. Reza izin kel--"


"Sayang ada siapa?" Angelicha lantas menoleh dan menganga melihat seorang wanita yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan gaun tidur tipis nan tembus pandang.


"Oh okeee," gumamnya santai.


Angelicha menghela nafas lalu berjalan mendekati wanita tinggi yang tengah tersenyum manis menatapnya. Angelicha membalas senyum itu dengan sebuah seringai iblis.


Byurr!


"Bahkan satu siraman saja belum cukup untuk dirimu sialan! Lahkukan apa yang ingin kalian lahkukan! Aku tidak perduli!" bentak Angelicha lalu berlari keluar setelah membanting gelas kosong tadi ketanah.

__ADS_1


Jean hanya membeo mendapat siraman sayang dari Angelicha. Gadis kecil itu benar-benar pandai memaki rupanya.


"Astaga, gelasku pecah lagi.." lirih Revandra meratapi gelasnya yang pecah.


__ADS_2