CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 95.Saya Mommy nya


__ADS_3

Bolehkah Angelicha berteriak menyumpah serapahi pemilik mobil Ferrary merah yang sudah menunggunya didepan gerbang sekolahnya? Ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya.


Sosok pria dengan setelan jas formal serta kaca mata berwarna hitam baru saja membuka pintu mobil tersebut. Revandra, iya Revandra. Sosok yang teramat Angelicha kenal.


Revandra berjalan dengan langkah bak model dired carpet. Sosoknya kini menjadi perhatian setiap siswa yang akan pulang.


"Oh my lord!" umpat Angelicha dalam batinnya.


"Ayo pulang sama saya, saya sudah nunggu kamu hampir setengah jam. Jangan menolak, karna kamu saya terpaksa menunda meeting," tutur Revandra dengan suara dalamnya yang membuat Angelicha mati kutu.


Revandra langsung memegang erat pergelangan tangan Angelicha dan menariknya pelan. Tapi karna Angelicha memberontak, jadinya Revandra lenih erat mencengkram pergelangan tangan Angelicha.


"Tolong saya mau diperkosa sama orang sinting!!" Angelicha berteriak kencang sekali hingga semua orang memperhatikan dirinya.


Revandra berhenti hingga membuat Angelicha menabrak punggungnya. Berani bersumpah jika Revandra ingin sekali mengirimkan santet kepada gadis bau menyan ini.


"Tolongin saya! Saya masih perawan siapapun tolong saya mau diculik om-om mesum!!" Angelicha masih terus berteriak layaknya orang gila yang beneran ingin diculik.


Semua orang membeo, menghela nafas melihat keadaan akward tersebut. Sudah jelas jika posisinya sekarang Angelicha yang memegang erat lengan Revandra, kenapa pula barus berteriak.


"Auah berisik! Bawa aja sana si toa berjalan!!" teriak salah satu siswa lalu membubarkan kerumunan.


Semua mulai kembali seperti semula. Revandra memandang tangan Angelicha yang tengah melingkar dilengannya. Ingin rasanya menyumpah serapahi Angelicha.


"Masuk mobil atau saya gendong kamu?!" Angelicha langsung berlari masuk kedalam mobil mendengar ancaman dari Revandra.


Revandra ikut menyusul masuk mobilnya. Memandang Angelicha yang tengah tersenyum lebar tak berdosa dari kaca spion depan mobil.


"Saya bukan supir kamu, duduk didepan!" tegur Revandra mengalihkan pandangannya.


Angelicha mendecak lidah lalu kembali keluar dan kembali lagi masuk dan duduk disamping Revandra. Wajahnya terlihat bahwa dirinya kesal sendiri.


"Om buat apasih jemput saya?" gerutu Angelicha.


"Jemput calon istri sendiri masak nggak boleh?" goda Revandra sambil tersenyum kaku.


"Alah ngalus mulu dasar buaya!" kesal Angelicha lalu membuang pandangannya keluar jendela.


Mungkin Angelicha terlihat kesal namun dalam hatinya tengah tertawa puas. Mengerjai Revandra dan membuatnya malu adalah hobinya mulai sekarang.


"Kita makan dulu lalu menjemput Soya ditempat les kemudian saya akan meminta izin keluarga kamu nanti," Angelicha terpaku, mendengar kata keluarga entah kenapa dadanya mendadak sesak.


"Dan saya tidak menerima penolakan. Kamu tetap harus menjadi istri saya, tidak ada kontrak-kontrakan. Kita menikah sah demi Soya, hanya demi Soya!" tegas Revandra menjelaskan dan Angelicha hanya bisa pasrah.


"Baiklah, demi Soya. Jadi kalau suatu saat aku ingin lepas, apakah om akan melepasku?" tanya Angelicha ragu.


Revandra sedikit menoleh mendengar pertanyaan ragu-ragu dari Angelicha. Menarik paksa bibirnya hingga membuat senyuman lebar.


"Tentu, jika kamu mau lepas ya saya lepas tapi setelah hak asuh Soya benar-benar aman ditangan saya. Lagi pula saya juga tidak mau punya istri modelan kamu." jawab Revandra yakin.

__ADS_1


"Baiklah. Aku mau nikah sama om." pasrah Angelicha.


_______


"Momy!" Angelicha tersenyum kala melihat Soya berlari dan langsung berhambur memeluk Angelicha.


Revandra hanya bisa tersenyum kaku apalagi kala ada salah satu guru les Soya yang datang menghampirinya. Revandra sudah terlanjur hafal maksud dari guru tersebut.


"Pak sebelumnya maaf, kami terpaksa harus mengeluarkan Soya dari kursus ini. Banyak orang tua siswa lain yang menginginkan Soya dikeluarkan," kata guru tersebut tak berani menatap Revandra.


"Apa karna Soya sering menyendiri lalu menyakiti teman-temannya? Berapa siswa yang disakiti oleh Soya? Apa mereka hanya melihat sisi lebam ditubuh anaknya dan tidak melihat kelakuan anaknya?" tanya Revandra berentet membuat guru tersebut diam.


"Apa seperti ini sistem ajaran kalian?" tanya Revandra dingin.


Angelicha mendongak menatap wajah kesal Revandra. Dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya menggendong Soya untuk berdiri.


Angelicha mengelus pelan bahu Revandra dan ikut menatap tajam guru tersebut. Untung saja Angelicha sudah berganti baju tadi.


"Ck, kalian tidak adil. Soya tidak akan berbuat kasar jika mereka tidak memulai terlebih dahulu, apakah kasus bullying tidak ditindak ditempat ini?" tanya Angelicha dengan nada menantang.


Angelicha memang tahu jika Soya selalu diejek teman-temannya karna tidak mempunyai ibu. Cukup, hal itu membuat Angelicha sakit hati.


"Maaf, apakah Anda kerabatnya Soya?" tanya guru tersebut sopan.


"Saya momy-nya!" seru Angelicha lalu menggandeng tangan Revandra dan mengajaknya segera pergi dari hadapan guru pembimbing tersebut.


Guru pembimbing hanya mampu menunduk. Sayang jika Soya dikeluarkan tapi itulah kemauan wali murid nya.


Didalam mobil Soya menangis histeris, takut jika Revandra akan marah padanya. Angelicha terus menepuk-nepuk punggung Soya agar bocah itu tenang.


"Sayang udah ya, daddy nggak akan marah kok. Momy yakin," tutur Angelicha mencoba meyakinkan Soya.


Soya masih terus menangis sedangkan Revandra hanya diam sepanjang perjalanan. Revandra sangat sulit ditebak, dirinya nampak kecewa tapi tidak tahu kecewa akan Soya atau pada dirinya sendiri.


"Om, bicara baik-baik jangan seperti ini." gumam Angelicha menepuk-nepuk bahu Revandra.


Revandra menepikan mobilnya, matanya berkaca-kaca serta bibirnya bergetar. Mendongakan kepala dan menggigit bibir bawahnya.


"Saya ayah yang buruk ya?" tanya Revandra sendu.


Angelicha tersenyum manis. Dirinya paham jika Revandra kecewa dengan dirinya sendiri. Hari ini dirinya melihat sisi lain dari seorang 'om kasar dan mesum' itu.


"Saya kasar makanya Soya mengikuti jejak ayahnya," lanjutnya dan tepat setelah itu air matanya luruh begitu saja.


"Karna keegoisan saya, Soya jadi harus menanggung konsekuensinya," tuturnya lagi.


"Saya masih belum pantas menjadi ayah yang baik untuk Soya." pungkasnya.


Soya menatap ayahnya dan langsung menghentikan tangisannya. Angelicha tersenyum lalu menghapus air mata Revandra yang jatuh kerahang tegasnya.

__ADS_1


"Jangan menangis, om tidak salah. Semua orang pasti pernah melahkukan kesalahan. Om harus berubah kalau mau Soya juga berubah." ujar Angelicha lalu tersenyum simpul.


"Saya ayah yang buruk Cha," Angelicha tersenyum karna Revandra memanggilnya 'Cha' dirinya jadi rindu sahabatnya.


"Tidak, percaya sama aku om. Om ayah yang terbaik, iyakan Soy?" tanya Angelicha kepada Soya.


Soya mengangguk lemah, "Daddy terbaik. Bunda yang jahat!" seru Soya lalu kembali menangis lagi.


Angelicha semakin erat mengeratkan pelukannya pada Soya. Dirinya memang tidak pernah bertemu dengan sosok ibu kandung Soya jadi kurang faham.


"Mau seburuk apapun dia, dia tetap ibu Soya. Kalau tidak ada dia bagaimana Soya bisa lahir?" tanya Angelicha lembut.


"Mau seburuk apapun ibu kita, dia tetaplah ibu kita. Wanita yang mengandung kita selama sembilan bulan lamanya dan bertaruh nyawa demi melahirkan kita, kasih sayang ibu tulus, sayang. Jangan pernah membenci ibumu, mau sejahat apapun dia tetaplah ibumu. Mengerti?" ujar Angelicha dibalas anggukan oleh Soya.


Dalam diam Revandra tersenyum, tidak salah dirinya memilih Angelicha sebagai ibu untuk Soya. Senyumannya digantikan dengan wajah datar kala Angelicha tersenyum layaknya joker menatapnya.


Angelicha tertawa melihat ekspresi Revandra. Melihat Revandra selemah itu cukup membuat akal piciknya bahagia.


"Ck, sudahlah lebih baik kita segera sampai rumahmu dan meminta izin untuk melamarmu." decak Revandra yang kesal.


"Om, nggak perlu. Orang tuaku sibuk dan mereka tidak ada dirumah, kalau mau menikah ayo kita menikah langsung. Orang tuaku tidak akan perduli." gumam Angelicha menunduk sedih.


"Momy tidak boleh sedih, Soya yakin kakek dan nenek akan datang!" seru Soya semangat menunjukan senyuman terbaiknya.


Angelicha tersenyum walau terlihat jelas senyum keterpaksaan. Revandra mengusap pelan kepala Angelicha sambil tersenyum yakin.


Tak butuh waktu lama mereka tiba dihalaman rumah yang beberapa hari lalu pernah Revandra kunjungi. Kini kali kedua dirinya bertamu disini.


Ketika hendak keluar ternyata mereka berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda tengah menggandeng mesra tangan pria yang lebih muda darinya.


Angelicha hanya menatap Revandra dengan pandangan sulit diartikan. Revandra dengan yakin turun duluan dan membukakan pintu untuk Angelicha.


Revandra menatap tajam pria asing tersebut yang tengah menatap Angelicha dengan pandangan menelanjangi. Angelicha menahan isakannya menyadari tatapan nakal kekasih ibunya yang tak lain mantan kekasihnya.


"Tolong jaga pandangan Anda, dia calon istri saya!" tegas Revandra lalu memeluk Angelicha dari samping.


"Angelicha-ku sudah dewasa. Benarkah kalian akan menikah? Kalau begitu selamat. Ibu merestui kalian!" kata Arum lalu berlalu begitu saja.


Pria itu masih menatap Angelicha dengan pandangan nakal serta seringai tipis dibibirnya. Revandra bisa merasakan cengkraman kuat dijas hitamnya.


"Sayang sekali gue belum pernah nyentuh lo!" desis pria itu lalu pergi meninggalkan Angelicha.


Tepat setelah pria itu pergi Angelicha langsung terjatuh dan terisak dalam dekapan Revandra. Revandra tak tahu apa-apa tapi bisa dilihat jelas bahwa pria tadi adalah seorang pria bajingan.


"A-ku takut hiks... aku nggak mau!" racau Angelicha disela-sela tangisnya.


Revandra hanya terdiam, situasi akward ini membuat dirinya bingung. Terlalu akward untuk ditelaah secara jelas.


"Husttt, ada saya. Kalau ada apa-apa telfon saja saya, sekarang ayo saya antar masuk kekamar kamu. Saya kawal sampai kamu benar-benar masuk kamar," oceh Revandra lalu terkekeh pelan.

__ADS_1


Angelicha hanya mengangguk dan memegang erat tangan Revandra. Entah kenapa ada Revandra dirinya merasa aman dari tatapan nakal Rizky tadi.


__ADS_2