CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Eps. 61. KEANU DI TEROR


__ADS_3

Pagi harinya, di kantor Keanu.


Kali ini, Keanu akan memberikan pengarahan untuk 5 sekretarisnya Kenapa tidak 2 saja?Karena tugasnya lumayan banyak dan Keanu akan menugaskan semuanya. Apalagi kantor Keanu tengah maju.


"Kalian harus mengikuti peraturan yang ada di kantor saya karena kalian telah resmi diambil dan melaksanakan tugas yang lumayan berat. Saya tidak mau ada kesalahan empat puluh lima persen setiap pekerjaan kalian beberapa bulan kedepan dan jaga sikap dan attitude kalian. Jika sampai kalian kelewatan dan para staff mengadu ke saya, siap-siap kalian angkat kaki dari sini dan nama kalian akan masuk blacklist!" tegas Keanu memasang wajah datar membuat staff-Keanu menunduk ketakutan.


Ping!


Keanu menghentikan langkahnya menuju lift dan memilih duduk di kursi tunggu.


Nomor tak dikenal


(Sudah siap untuk memulai permainannya? Atau aku harus memulainya dulu? Aku akan memperlihatkan permainanku padamu. Tapi, aku tidak tahu kapan dan jam berapa. Yang pasti, kau akan terkejut nantinya. Reyndad, semakin hari kau semakin tanpan. Sayangnya, kau bukan menjadi milikku. Bagaiman rasanya jika aku bisa memilikimu seutuhnya? Pasti aku sangat bahagia dan menjadi wanita paling bahagia bisa memilikimu. Apa yang paling kau takuti dan kau sukai di seluruh duniamu? Apa aku bisa mendapatkan dan merebutnya darimu?)


Keanu berdesis setelah membaca pesan tersebut, mengumpat dan meremas ponsel yang ada di dalam genggamanku.


Keanu menekan tombol hijau yang berada di pojok kanan atas lalu berjalan menuju lift.


Keanu menekan tombol 20 di mana ruanganku berada paling atas.


"Hei bang***, ada perlu apa dan apa tujuanmu mengirim pesan teror itu ke nomorku? Kau tahu, kau berurusan dengan siapa, ha? Bicaralah! Jangan hanya diam seperti orang bodoh saja."


Hening.


"Sh**!" umpatku lalu panggilan itu ia matikan sepihak.


Aku kembali menekan tombol hijau, tapi ia mematikannya.


Ting!


Pintu lift terbuka lalu aku berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruanganku.


Ping!


Nomor tak dikenal


(Kau sangat ingin tahu siapa aku, Reyndad? Kenapa? Kau ketakutan karena aku akan langsung berbuat pada orang yang kau cintai itu? Tidak-tidak, aku lebih suka jika permainanku begitu pelan dan lembut. Bahkan kau tak bisa menyadarinya nanti. Kau tenang saja, awalnya aku tak akan membunuh semuanya. Kau tahu, aku orang yang sangat takut dengan kecerobohan dan tergesah-gesah seperti dirimu. Jangan pernah menelfon diriku, cukup berkirim pesan saja. Aku tak ada waktu untuk berbicara denganmu karena aku juga sibuk lebih dari dirimu.)


To +62 xxxxxxxxxxx


(Dasar manusia biadab, siapa sebenarnya dirimu. Angkatlah teleponku, aku ingin bicara denganmu atau kita bertemu hari ini juga.)


Keanu mengirim pesan pada nomor teror itu dengan cepat.


Ping!


Nomor itu mengirim alamat yang harus kubuka dengan menggunakan data internet.


Nomor tak dikenal


(Kau benar-benar pria yang sangat berani, bernyali tinggi dan membuatku tertantang. Jikapun kita bertemu, kau tak akan mengetahui siapa diriku karena kita tak pernah bertemu. Jangankan bertemu, menjalin kerja sama antar perusahaanku saja aku tak pernha dengan perusahaanmu. Aku takut nantinya kau akan terkejut dengan rupaku yang terlihat sangat luar biasa. Bagaimana? Kau akan tetap bertemu denganku? Baiklah, aku akan mengirim alamatnya.)


Dapat, tapi ini menunjukkan lokasi yang tak pernah kutuju. Jalannya sangat sempit. Tak apa, aku akan menemuinya dan jika perlu, aku akan menghajarnya sebelum dia menyentuh keluargaku.


Aku segera keluar dari ruanganku menuju parkiran mobil. Sebelum aku menuju alamat tersebut, terlebih dahulu aku mengisi bensi mobil karena hampir sekarat dan aku tidak mau pulang dengan keadaan darurat.


"Gosh, God. Is this true? He brought me to this address? It's a grave and I don't know where. There is no one here but myself. That guy really messed up my mind," gumamku seraya mengambil pisau lipat dan pistol kecil.


(Astaga, Tuhan. Ini apa benar? Dia membawaku ke alamat ini? Ini kuburan dan aku tak tahu di mana. Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali diriku sendiri. Pria itu benar-benar keterlaluan!

__ADS_1


Aku sangat takut untuk berjalan kaki menyusuri kuburan yang terkadang tak sengaja ku injak. Mau bagaimana lagi, aku sendirian dan aku juga harus berani.


Ping!


Langkahku terhenti mendengar suara ponselku berbunyi.


Nomor tak dikenal


[Sudah di mana, kau? Apa kau benar-benar datang sendirian? Teruslah susuri kuburan itu hingga kau dapat melihat kehadiranku. Jangan sampai kau kabur dan aku akan menangkap orang yang kau cintai.]


Dia kembali mengancam ku dengan kata-kata yang ia kirim melalui pesan ke ponselku.


To Nomor tak dikenal


[Kau gila?! Aku tak takut padamu.]


Aku kembali menyimpan ponselku di saku celana dan kembali melanjutkan perjalanan menurut kata hatiku karena dia tak mengirim lagi alamatnya.


๐Ÿฅ๐Ÿฅ๐Ÿฅ๐Ÿฅ๐Ÿฅ๐Ÿฅ


Sampai akhirnya aku menemui mereka. Hari semakin gelap dan aku harus menyelesaikan semuanya sebelum pulang.


"Hei!" teriak seseorang.


Seorang pria berwajah cacat itu ingin menjabat tangan denganku. Sementara aku hanya diam bergeming lalu melipat tangan di depan dada.


KKau Keanu ? Perkenalkan, aku orang yang mengirim pesan denganmu."


"Halo orang tua. Apakah kamu yang mengirimiku pesan? Apa artinya mengganggu rumah tangga saya? Tidak punya istri atau warisan yang memilih membuat hidup Anda lebih berwarna dan malah mengganggu kehidupan orang lain? Hei, kamu sudah tua. Lebih banyaklah beribadah dan lakukan lebih banyak hal yang berguna daripada memperlakukan saya. Tak berapa lama lagi, Anda akan dimasukkan ke dalam peti dan ingat itu tua bangka," ucapku sinis.


"Kau anak muda, tapi bicaramu sangat dewasa dan sangat kasar. Apakah papa mu tak mengajarkanmu bagaimana berbicara dengan orangtua dengan sopan, ramah dan tamah? Jangan katakan hal itu lagi, aku bisa emosi dan melakukan hal yang tidak-tidak padamu dan membuatmu menangis, kecewa dan malah bertekuk lutut di depanku."


Dengan cepat, aku mengelak dan memelintir tangan kanannya ke belakang lalu menendang salah satu kakinya.


"Serang dia, jangan menjadi penonton saja!" teriaknya pada anak buah.


Mendengar teriakannya, aku menendang punggungnya sehingga tubuhnya terbentur di atas tanah yang basah.


Terjadilah adegan di mana aku harus melawan dua orang dalam satu waktu.


"Shit!"


Aku mengelap darah yang keluar dari ujung bibirku karena salah satu dari mereka telah berani memukul ujung bibirku.


Mereka tertawa remeh mendengar ocehan ku. Sementara pria cacat itu berjalan mendekatiku, aku berjalan mundur untuk mengambil ancang-ancang agar dia atau bawahannya jika memukulku, aku tahu seberapa luas ruangan agar aku bisa mengelak nantinya.


"Serang dia, jangan menjadi penonton saja!" teriaknya pada anak buah.


Mendengar teriakannya, aku menendang punggungnya sehingga tubuhnya terbentur di atas tanah yang basah.


Aku ada darah yang keluar dari ujung bibirku karena salah satu dari mereka telah berani memukul ujung bibirku.


Kuharap ini tak akan membiru.


"Shit, jangan pernah menantang ku. Kalian tidak akan tahu berhadapan dengan siapa, ha?!"


Buk!


Aku menendang kepala mereka dan akhirnya mereka bertiga pingsan di tempat.

__ADS_1


Aku menelfon Ronald agar ia segera datang ke alamat yang telah ku kirim. Dua puluh menit kemudian, Ronald datang dengan bajunya yang santai. Awalnya dia terkejut.


"Bawa mereka masuk ke dalam mobil lo. Lo bawa barang 'kan yang tadi gue suruh?" Aku menatap Ronald yang terlihat pucat.


"Ya."


Ronald mengeluarkan seonggok tali tambang yang ukuran lumayan besar, aku mengikat mereka bertiga di dalam mobil Ronald lalu kami melanjutkan perjalanan ke rumah Ronald.


Aku meminta izin padanya untuk memakai kamar mandi dan untung saja aku membawa baju yang tersimpan di dalam mobil.


Sekarang sudah pukul 17.00 WIB. Aku menyerahkan mereka pada Ronald untuk dibawa ke kantor polisi dan mengirim bukti screenshoot dari ponselnya untuk menjadi barang bukti.


"Astaga, aku hampir saja lupa membeli nasi Padang pesanannya. Aku membelikan pesanannya dulu baru langsung pulang," gumam ku seraya menepikan mobil lalu mengecek restoran yang menyediakan nasi Padang.


Sampainya di restoran, aku langsung memesan pada pekerja di restoran sana untuk membungkus kan untukku nasi Padang 2 porsi.


"Terima kasih."


Aku berjalan memasuki mobil lalu menjalankan mobil menuju rumah.


"Oh, Tuhan. Semoga lukanya tidak membiru dan memar. Aku sangat takut jika Rayna nanti tahu jika aku babak belur dan dia marah padaku. Semoga saja tidak, aku akan mencari alasan apa jika aku pulang memakai pakaian seperti ini? Macet? Atau kemaleman saja? Ah, aku akan mencari alasan jika aku pulang terlalu larut dan membersihkan diri di toilet ruangan ku. Ah, kau sangat pintar Keanu ."


Aku memberhentikan mobilku saat lampu merah menyala. Mataku berkeliaran pada jalan raya yang ramai dan padat dikelilingi oleh para pengamen.


Tapi, ada salah satu dari mereka menjajahkan cutton candy atau gula awan yang berwarna-warni.


Aku menurunkan kaca mobilku lalu memanggilnya dengan cara melambaikan tangan ke arahnya. Anak remaja laki-laki itu berlari menghampiri mobilku.


"Berapa dek?" tanyaku padanya.


"1 harganya 5000, pak."


"Murah sekali," gumam ku seraya mengeluarkan dompet dari dashboard mobil.


"Saya ambil semuanya."


Mendengar ucapan ku, anak itu tersenyum bahagia. Aku menyuruhnya meletakkan cutton candy itu ke dalam kursi penumpang.


"Berapa semuanya?" tanyaku lagi.


"Lima puluh ribu, pak."


Aku mengeluarkan uang merah sebanyak 8 lembar lalu memberikan padanya.


"Kebanya-"


"Ambil saja. Ini rezeki kamu, simpan uangmu baik-baik."


Aku menjalankan mobilku menuju rumah. Tak sabar dengan reaksi Rayna nantinya.


"Sesekali aku membuat hatinya terenyuh dan senang dengan membawakan banyak cutton candy kesukaannya. Setidaknya untuk mengalihkan banyak pembicaraannya nanti. Aku tak sabar ingin melihat reaksinya seperti apa. Apa dia akan girang? Tersenyum? Memelukku? Menciumiku? Atau loncat-loncat tak jelas sama seperti anak kecil?"


๐Ÿ‘‹๐Ÿ™‹Haii readers,


Semoga suka dengan cerita ku.


Tinggalkan jejak like dan komwelnya.


๐Ÿ™๐Ÿ’•Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2