
Holla, makasih atas respon positif kalian
Seorang pria tampan baru saja turun dari mobilnya. Berjalan cepat menghampiri sang anak yang sedang bermain dengan neneknya.
"Astaga Soya, daddy sampai khawatir mencarimu!" rutuk Revandra menghampiri anaknya.
Soya meringsut dan bersembunyi dibalik punggung neneknya. Soya sangat takut dengan ayahnya sendiri, pernah sekali Revandra membentak Soya dengan kata-kata kasar.
Revandra hanya menghela nafas, dirinya tahu betul jika anaknya tidak mau dekat-dekat dengannya. Jika bisa mengulangi waktu, mungkin Revandra ingin mencegah makian itu keluar dari bibirnya.
"Kamu ini jadi daddy ceroboh sekali. Ada urusan apa sampai kamu tega meninggalkan anakmu sendirian di indoapril? Sudah tahu kalau Soya benci sama tempat ramai dan asing. Kamu ini kenapa?" omel Hanum yang kesal dengan tingkah ceroboh anaknya.
"Tadi ada telfon dari Reza, dia bilang ada rapat dadakan makanya aku tinggal Soya disana. Aku sudah menyuruhnya menungguku disana tapi dia malah pulang dengan siswi SMA." sahut Revandra ikutan kesal.
Soya semakin merapatkan tubuhnya dipunggung Hanum, bibirnya bergetar melihat tatapan kesal Revandra yang menusuk batinnya. Teramat takut jika Revandra benar-benar marah.
"Kamu juga, kalau dibilang tunggu ya tunggu. Hobi sekali membuat orang khawatir." sinis Revandra menatap tajam Soya.
"Revandra, kau tidak bisa asal menyalahkan Soya. Dia masih kecil, seharusnya kamu yang disalahkan. Dimana rasa tanggung jawabmu sekarang?" tutur Hanum dan langsung menggendong Soya masuk kedalam kamarnya.
Revandra jadi mendesah panjang. Kepalanya terasa sangat pusing sekarang. Masalah kantor, masalah tentang perceraiannya dan ditambah masalah Soya yang tidak mau dekat dengannya.
Revandra sangat menyayangi Soya hanya saja dirinya tidak mengerti bagaimana mencurahkan itu semua. Dirinya ingin menjadi ayah yang tegas namun malah membuat putrinya ketakutan dan menjauh.
"Daddy sayang sama kamu Soya." lirihnya sambil mengacak rambutnya.
____________
"KAU GILA ATAU APA?! BERANI SEKALI MEMBAWA SELINGKUHANMU KERUMAHKU!"
"KALAU KAU BISA MEMBAWA BABY GIRLMU KERUMAH KENAPA AKU TIDAK BISA?!"
"KAU TERLALU BODOH UNTUK MENJADI SEORANG ISTRI DAN IBU. MARTABATMU TERNYATA SUDAH TURUN!"
"KAU JUGA SAMA, MENCARI SELINGKUHAN SEUMUR DENGAN PUTRIMU SENDIRI!"
"HEY KAU MALAH MENGGANDENG KEKASIH ANAKMU SENDIRI!"
Angelicha mendesah pasrah. Memasangkan earphonnya dan memutar musik dengan volume kencang. Kepalanya pusing mendengar kegaduhan diluar.
Menumpukan kepala diatas meja belajarnya, sudah biasa dirinya mendengar teriakan dan lain-lain. Keluarganya jauh dari kata baik-baik saja.
Angelicha adalah gadis yang bar-bar jika diluar rumah tapi dirinya pendiam dan penyendiri didalam rumah. Dirinya selalu merasa asing didalam rumahnya sendiri.
Menangis?
Tidak, Angelicha lebih memilih menuangkan emosinya dalam bentuk lirik-lirik lagu. Ya, musik adalah jiwanya. Menjadi produser adalah mimpinya dan terkenal adalah keinginannya.
"Astaga, dua tua bangka itu tidak pernah sadar. Bukankah lebih bagus jika mereka berpisah dan menjalani hidup sesuka hati mereka? Orang tua memang susah dimengerti." gumamnya.
"Aku bisa gila jika terus berada disini. Berjalan-jalan sepertinya tidak buruk." lanjutnya dan segera memakai hoodie hitamnya serta topi hitam juga.
____________
Revandra berniat mengajak Soya ke taman depan komplek. Disana adalah tempat favorit Soya bermain bersama dengan neneknya.
"Soya, daddy minta maaf untuk tadi. Ayo kita bermain ketaman." tutur Revandra mengusap surai panjang putrinya.
"A-apa daddy tidak marah?" cicit Soya sambil menunduk.
"Tidak, ayo kita ketaman sekalian beli eskrim." jawab Revandra sambil tersenyum teduh.
Soya mengangguk dan langsung meminta gendong sang daddy. Sebenarnya mudah membujuk Soya hanya saja membuat Soya takut juga teramat mudah.
___________
Angelicha mengutuskan untuk membeli eskrim disebuah kedai tak jauh dari taman. Menikmati secone eskrim rasa chocomint tidak buruk juga menurutnya.
Dirinya ikut mengantri dalam barisan yang tidak terlalu panjang. Namun netranya langsung menyipit melihat ada anak kecil yang menangis.
Memilih menyelesaikan antriannya dulu, akhirnya pesanannya pun sudah dirinya dapat. Membayar lalu langsung melangkah keluar dari kedai tersebut.
"Lho, Soya?" sapa Angelicha kaget ternyata bocah yang menangis adalah Soya, dibocah yang merampas permennya tadi siang.
__ADS_1
Soya mendongak dan beranjak memeluk Angelicha. Angelicha juga menyambutnya dengan pelukan tak kalah hangat.
"Jangan bilang kalau kamu ditinggal lagi sama orang tua kamu." tebak Angelicha dan dijawab anggukan oleh Soya.
"T-tadi d-daddy me-mengejar mommy hiks." sahut bocah tersebut sambil menangis.
"Stttt tenang ya, ada kakak disini." tutur Angelicha sambil mengusap-usap punggung Soya.
"Soya?"
Angelicha langsung menoleh kala mendengar suara laki-laki memanggil Soya. Pandangannya menatap datar pria yang dirinya yakini sebagai ayah Soya.
"Sudah daddy bilang jangan dekat-dekat dengan orang asing, kamu ini bandel sekali sih!" bentak pria tersebut.
"YHA kau seharusnya tidak meninggalkan putrimu begitu saja. Tidak salah pandangan pertamaku tentang kau, kau itu pria kasar!" sentak Angelicha sambil menatap sangar pria didepannya itu.
Sedangkan Soya tidak perduli ayahnya marah, dirinya sudah nikmat menyantap eskrim pemberian Angelicha. Membiarkan dua orang dewasa beradu mulut.
"Oh apa hak kamu menilai saya dasar gadis bar-bar!" sentak Revandra tak kalah menatap sengit Angelicha.
BUGHHH!
"Arghhh sialan!" rutuk Revandra menutup bagian vitalnya yang ditendang oleh Angelicha.
"Iya gue bar-bar makanya gue tendang!" sinis Angelicha lalu pergi begitu saja.
Revandra dibuat mengumpat berkali-kali mengingat tendangan gadis bar-bar yang ditemui beberapa menit lalu ditaman. Tidak bisa membayangkan, gadis sekecil dan seimut itu mempunyai tendangan seperti pria dewasa.
Ngilu bukan main rasanya, ingin menangis tapi malu. Akan hilang jiwa berwibawanya jika menangis dihadapan sang anak.
Ya, Soya tadi langsung mengajak pulang setelah menghabiskan eskrimnya dan melerai adu mulut keduanya. Dan sekarang Soya tengah bermain dengan gadgetnya dibangku belakang.
"Senang sekali ya kamu kalau bermain dengan setan tadi?" cibir Revandra pasalnya sejak ditinggal mengejar mantan istrinya Soya total abai padanya.
"Iya, kakak pembolos baik hati." jawab Soya tanpa niat mengalihkan pandangannya dari gadgetnya.
"Kakak pembolos?" lirih Revandra membuat Soya menoleh menatapnya dari spion depan.
"Heem, kakak itu yang kemarin nganterin aku pulang terus beliin aku banyak permen ditambah hari ini aku diberikan eskrim. Sangat baik, berbeda dengan bunda..." sahut Soya melirih diakhir kalimatnya.
"Dad, bolehkah aku bermain dirumah kakak pembolos hari minggu?" tanya bocah itu polos.
Revandra hanya tersenyum lalu mengangguk tanda setuju, tidak bohong jika didalam hati tengah mengumpati Angelicha dan bertanya-tanya pelet apa yang dirinya gunakan untuk sang putri.
Angelicha tersenyum sinis kala melihat seorang perempuan seumuran dengannya tengah duduk manis disofa ruang tamu. Pakaiannya yang benar-benar ketat menunjukan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas sudah membuktikan bahwa perempuan itu bukan perempuan baik-baik.
Angelicha ikut duduk disofa depan perempuan tersebut. Masih mempertahankan senyuman sinisnya dan dibalas senyuman manis dari perempuan didepannya.
"Naas sekali ya kak, karna hidup kau jadi harus pontang panting menjadi bit\*h. Hidup itu memang keras, ahhh ngomong-ngomong bagaimana rasanya cukup memuaskan om-om berduit tapi saldo dalam rekening selalu bertambah?" tutur Angelicha lalu meregangkan tubuhnya.
Perempuan tersebut diam melihat anak semata wayang sugar daddynya. Hatinya sedikit tercubit memang mendengar penuturan Angelicha.
"Ahahaha, tunggulah tua bangka itu kembali dari kantor. Jika butuh apa-apa ambil saja, anggap saja rumah sendiri." kata Angelicha lalu bangkit dan meninggalkan perempuan bernama Mona tersebut.
Angelicha menghela nafas. Dadanya sesak jika melihat perempuan tersebut berada dirumahnya. Mendengar suara laknat dari kamar sang ayah malah akan menambah rasa bencinya.
Sudah katam melihat kedua orang tuanya menghabiskan waktu dengan selingkuhan mereka masing-masing. Angelicha hanya mencoba tidak perduli dan berpura-pura baik-baik saja walau hatinya menjerit.
__ADS_1
"Uang adalah segalanya, tapi cinta dari keluarga tidak akan pernah bisa digantikan dengan uang." gumamnya menatap sendu bingkai foto dimeja nakasnya.
Jika melihat dari sudut pandang orang lain, Angelicha adalah pribadi yang bar-bar, ceria, happy virus, kocak serta tidak punya beban hidup. Tapi jika melihatnya secara jelas, Angelicha tidak lebih adalah gadis yang memiliki hati rapuh serta rasa kesepian yang selalu mencekamnya setiap malam.
Percayakah ada malam tanpa tidur?
Angelicha sudah benar-benar kebal dengan malam seperti itu. Tidak akan tertidur selama beban dipundaknya belum bisa diluruhkan dan akan tertidur pada pagi hari.
"Hahhh hidup memang tidak selalu adil." leguhnya lirih.
"Dad, kita akhiri saja hubungan ini. Aku kasihan setiap melihat tatapan Angelicha. Angelicha teramat baik karna sama sekali tidak membenciku, diusianya sekarang dia tengah membutuhkan support dari kedua orang tuanya. Kalian berbaikanlah, jangan sampai Angelicha menjadi korban keegoisan kalian." lirih Mona mencoba menasihati sugar daddynya itu.
"Tidak perlu memikirkan anak bodoh itu. Dirinya tidak pantas untuk dibanggakan, kalau kita mengakhiri ini kamu yakin bisa hidup glamour seperti sekarang?" tutur Arga mengusap sayang bibir merah merekah milik Mona.
"Sekarang pulanglah, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku masih ada urusan." lanjutnya dan dibalas anggukan patuh dari Arga.
Arga dengan langkah murkanya mendobrak pintu kamar Angelicha. Sedangkan pemilik kamar hanya menatapnya datar tak berminat.
"Apa yang telah kau katakan kepada Mona?!" sentak Arga sambil mencengkram erat pergelangan Angelicha.
"Aku hanya mengatakan bahwa hidup itu sulit." jawab Angelicha seadanya.
"Jangan berbohong, kau pasti menghinanya bukan?!" geram Arga.
"Terserah apa tuduhan Anda. Saya hanyalah anak bodoh yang hobi membual." ujar Angelicha sambil tersenyum manis.
Tanpa perasaan Arga menyeret Angelicha memasuki kamar mandi. Mendorong tubuh mungil tersebut hingga terduduk dibawah shower yang menyala dan mengalirkan air dingin.
"Disini sampai pagi, kalau perlu sampai mati!" desis Arga lalu keluar tak lupa mengunci pintu kamar mandi Angelicha.
Didalam Angelicha hanya mampu tersenyum sendu merasakan air dingin yang menyengat pori-pori kulitnya. Tidak usah kaget, ini bukan kali pertamanya Angelicha diperlahkukan seperti ini baik ayah atau ibunya mereka sama saja.
"Angelicha bukan gadis rapuh. Angelicha kuat kok!" gumamnya menghapus kasar air matanya yang bercampur dengan air shower.
"Tapi Angelicha yang kuat akan berubah ketika malam menyapa. Angelicha yang kuat hanya berlaku untuk siang bukan malam." lanjutnya sambil tersenyum manis.
Menunggu seseorang yang akan membukakan pintu untuknya, biasanya akan dibuka ketika jam makan siang dan itu tandanya Angelicha dikunci didalam kamar mandi lebih dari sepuluh jam.
__ADS_1
Hanya berharap pembantunya masuk kedalam kamarnya, kepalanya pusing dan maghnya kambuh. Dingin yang menambah penyiksaannya akan dirinya alami malam ini.