CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 99.Pernikahan


__ADS_3

Tamu-tamu sudah berdatangan. Tak banyak mengingat pernikahan ini diadakan secara tertutup. Hanya kerabat dekat lalu rekan bisnis Arum, Revandra maupun Hanum sendiri.


Arum yang sejak tadi tak berhenti mondar-mandir membicarakan menantunya keteman-temannya. Dirinya sangat bahagia dengan pernikahan putri semata wayangnya.


Disusul pula Hanum yang sama-sama senang dan tak kalah heboh dari Arum. Dirinya kesana-kesini menyambut para tamu dan mengajaknya ngobrol sebatas basa-basi.


Semua keluarga dari dua belah pihak sama-sama heboh. Shin sejak tadi sibuk dengan kameranya dan memotret momen-momen yang bisa dijadikan kenang-kenangan.


Hanya ada satu gadis yang murung tengah duduk dianak tangga terakhir. Siapa lagi kalau bukan Icha Adelia si pembenci keramaian.


Gadis dengan dress selutut berwarna peach hanya bisa mengupil dan sesekali menggigitu buku jarinya. Terlalu bingung mau apa, semuanya terasa asing baginya.


Revandra dengan langkah gagahnya segera mengambil duduk didepan penghulu dan paman Angelicha sebagai ayah. Sedangkan Arga sendiri? Dirinya tahu namun enggan datang dengan alasan malu anaknya menikah muda.


"Bagaimana? Apa sudah siap?" tanya pak penghulu tersenyum melihat ekspresi Revandra yang santai.


"Insyaallah..." tutur Revandra lalu dengan yakin menjabat tangan pak penghulu.


Semua tamu diam dan tak ada yang bersuara. Tak lama Revandra dengan suara lantang nan tegas berhasil mengucap ijab dengan benar.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu menunggu sahutan para tamu undangan.


"Sah!!!" sahut semua tamu undangan serempak.


"Alhamdulillah..." kata penghulu lalu langsung membacakan do'a.


"Kyaaaa!!! Akhirnya kakak ku tidak duda lagi!" seorang gadis berteriak kegirangan.


Angelicha yang melihat tingkah adik iparnya hanya bisa menunduk malu. Dadanya berdebar sejak semalam, membayangkan Revandra gagal mengucap ijab membuatnya ingin menangis.


"Sekarang ayo kakak ipar, kita turun dan temui suami-mu," tutur Violet lalu menggandeng tangan Angelicha.


Angelicha diiringi teman-teman Violet yang umurnya tak jauh berbeda darinya menuruni tangga. Perhatian semua tamu mengalih pada Angelicha yang nampak bak bidadari surga.


Revandra tak berani melirik tangga, dadanya berdebar-debar apalagi melihat teman-temannya tersenyum jahil menatapnya. Dalam hati merutuki teman-teman kantor maupun kuliahnya.


Kembali ke Violet, gadis itu merutuk menyumpah serapahi Icha yang tengah duduk ditangga menghalangi dirinya. Ingin rasa menendang gadis yang seumuran dengannya itu.


"Yak! Minggir bodoh!" gerutu Violet.


Icha hanya memberikan ekspresi datar lalu menyingkir dan membiarkan rombongan kakaknya lewat. Dalam hati tersenyum bahagia melihat kakaknya sudah terlihat dewasa nan cantik.


"Semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek," batin Icha berdo'a.


Angelicha dan Revandra sudah saling memegang tangan untuk memasangkan cin-cin pernikahan. Tidak bisa dipungkiri wajah tegang Revandra baru terlihat. Debaran dada keduanya ibarat menjadi backsound acara hari ini.


Angelicha memejamkan mata kala Revandra mendekat untuk mengecup keningnya. Pipinya sangat merah ditambah blush-on malah menambah warna merah.


Revandra ingin terkikik geli melihat Angelicha memejamkan mata dengan sangat erat. Revandra tersenyum hangat lalu membubuhkan kecupan ringan didahi sang istri.


Semua tamu bersorak bahagia. Ibarat ada euphoria yang disarasakan setiap tamu menguap menjadi satu dalam rumah Revandra.


________


"Jangan mengada-ngada! Tidak mungkin Aditya Company mencabut seluruh sahamnya!" bentakan dari Arga memenuhi ruangannya.


Semua pekerjanya langsung ciut melihat kemarahan dari Arga. Mereka menunduk takut jika dijadikan pelampiasan oleh bos yang terkenal kasar dan galak.


"Atur janji untuk ku bertemu dengan CEO Aditya Company malam ini!" perintah Arga mutlak.


"M-maaf pa-pak... be-beliau tengah melangsungkan pe-pernikahan sekarang." cicit salah satu pegawai.


"Si tua itu malah menikah lagi setelah membuat perusahaanku rugi banyak!" umpatnya.


Arga belum pernah bertemu dengan CEO atau pemilik baru Aditya Company. Seringai muncul kala dirinya mengingat sesuatu.


"Bukannya Fikri memiliki anak laki-laki? Aku jual saja Angelicha kepada anaknya." batinnya tersenyum jahat.


"Baiklah, pergi sana kalian! Dasar pegawai tidak berguna!" sentak Arga lalu dengan hormat beberapa pegawainya pergi.


________


Angelicha tengah berusaha menahan teriakan keluar dari mulutnya. Violet dan teman-temannya sangat senang menggodanya.

__ADS_1


"Heh sialan! Berhenti menggodaku!!" Angelicha berteriak lalu melempar bantal pada Violet.


"Gw like gaya lo kak!" ucap Ibel memprovokasi.


"Hayyuk gas!!" sorak Nadin dan Aurel.


"Ihh kasar aku nggak like!" ucap Violet dramatis.


Tanpa mereka sadari, Shin berhasil mengabadikan pertengkaran kecil mereka semua. Entahlah, Shin suka mengabadikan momen-momen yang jarang terjadi.


Tak jauh berbeda, dibawah Revandra juga diledek habis-habisan oleh Reza dan teman-temannya. Berani bersumpah, Revandra sangat ingin menendang teman-temannya pergi dari rumahnya.


"Nanti live ye, Van. Mau berapa ronde nih?" goda Ferdinan lalu disambut tawa yang lain.


"Nanti anaknya cewek ya biar bisa gw nikahin." celetuk Edo.


"Anjirr pedofile!" ledek Vincen lalu tertawa ngakak.


"Bibit-bibit unggul pisan euy." goda Ujang.


"Bisakah kalian diam? Kuping gw panas bangs*t!" gerutu Revandra.


"Ung... santai babyhh, mainnya nanti pelan-pelan. Kasihan masih perawan." timpal Vincen dan dihadiahi satu geplakan dari Revandra.


"Mesum lo!" desis Revandra lalu tersenyum malu-malu.


"Alah malu-malu monyet lo mah. Gass aja udah!" seru Reza, Vincen, Fernandi, Edo dan Ujang serempak.


Dasar orang-orang dengan pemikiran mesum!


Angelicha berbaring diatas ranjang sambil bermain ponselnya. Dirinya belum mandi namun sudah berganti pakaian dengan pakaian biasa yang lebih nyaman dan simpel.


Make up juga sudah dirinya hapus, risih menggunakan make up tebal seperti tadi. Bulu mata saja sampai membuatnya sulit melebarkan mata.


Ceklek


Lantas Angelicha menoleh menatap Revandra yang baru saja masuk kedalam kamar. Pria itu duduk ditepi ranjang membelakangi Angelicha yang masih bermain ponsel.


"Sana mandi dad, bau kecut tau!" titah Angelicha masih setia dengan ponselnya.


"Kenapa memang?" dasar Angelicha bodoh, sekalinya lola akan lola terus.


"Kita nggak mungkin nglakuin itu 'kan?" tanya Revandra dengan nada canggung.


"Itu apa?" Angelicha malah balik bertanya.


"Itu lho..." Revandra bahkan bingung menjelaskannya bagaimana.


"Itu lho apa sih?!" Angelicha kesal dengan omongan Revandra yang berbelit-belit.


Revandra hanya tersenyum canggung walau dalam hati tengah menyumpah serapahi istrinya itu. Dia polos atau bodoh? begitu pikirnya.


"Itu lho, issh gimana ya? Kamu masak nggak ngerti maksud saya?" Revandra masih berusaha, bung.


"Malam pertama ya tidur. Namanya juga malam kan, udah ah sana mandi!" tutur Angelicha berteriak diakhir kalimat.


"Lha kan cuma nanya, kok ngamok," gerutu Revandra.


"Yang ngamok tuh siapa?!" sewot Angelicha.


Meletakan ponsel diatas nakas lalu duduk bersila dengan tatajam tajam menatap Revandra. Revandra juga tak kalah menatap tajam Angelicha, walau hatinya tengah berdebar-debar.


"Aku hitung sampai tiga. Kalau nggak mandi, terpaksa aku seret masuk kamar mandi." ancam Angelicha.


"Satu..."


Revandra masih diam ditempat, malas sekali untuk mandi. Air dingin bisa membuatnya masuk angin nanti.


"Dua..."


Revandra malah meraih ponselnya dari saku dan melihat-lihat aplikasi diberanda. Membiarkan Angelicha mengoceh sendirian.


"Tiga... ayo sini aku seret!" sewot Angelicha lalu bangkit dan menarik kerah kemeja milik Revandra.

__ADS_1


Revandra meronta kala Angelicha berjalan mendekati kamar mandi. Dirinya tidak mau mandi, sungguh setidaknya mandi dengan air hangat.


Revandra didorong hingga membentur tembok tepat dibawah shower. Angelicha tertawa iblis lalu menyalakan shower tersebut.


"Rasai-- eh!" dirinya terlonjak kala Revandra menarik dirinya.


Angelicha mematung, saat ini tubuh mereka saling menempel dibawah guyuran air shower. Pipi Angelicha mendadak bersemu kala dada Revandra tercetak jelas dibalik kemeja putih tersebut.


"L-lepas!" Angelicha berontak namun pelukan dipinggangnya malah semakin dikencangkan.


"Kamu juga belum mandi, sekalian mandi sama saya," tutur Revandra dengan suara dalamnya.


Tangan Angelicha yang berada diatas dada bidang Revandra bergetar. Bulu kuduknya meremang mendengar suara dalam Revandra.


"Sial!" rutuknya dalam hati.


"Lepash! Mesum banget sih!" seru Angelicha menginjak kaki Revandra.


Tepat setelah itu Revandra mengaduh sambil memegang jempolnya yang terasa nyut-nyutan. Injakannya bukan main-main guys, jadi harap maklum.


"Issh mesum banget sumpah. Nggak laik!" kesal Angelicha.


"Kan sekarang gw juga ikutan basah ihk!" omelnya sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Angelicha," panggil Revandra seduktif.


"Apa?!" sinis Angelicha.


"Bra kamu warna hitam ya?" tanya Revandra frontal.


Angelicha langsung membalikan tubuh kala menyadari kaosnya mencetak lekuk tubuhnya. Angelicha malu, ingin menenggelamkan diri kerawa-rawa rasanya.


"Udah sana kamu mandi di bath-up, biar saja di shower." ujar Revandra tak tahu saja jika Angelicha tengah malu.


Tak ada cara lain, akhirnya Angelicha mengisi air bathup lalu menutup hordeng pemisah antara shower dan bathup. Enak saja memberikan tontonan untuk Revandra.


"Jangan ngintip, aku nggak segan-segan potong kebanggaan om sekarang juga." desis Angelicha.


"Maaf, kamu bukan tipe saya. Saya nggak selera sama triplek kayak kamu." ledek Revandra.


Berakhir mereka mandi sambil terus berceloteh menjelek-jelekan satu sama lain. Biarkan mereka menghabiskan waktu dengan air.


________


"Shhh gimana kedengeran nggak?" tanya Arum menatap penasaran Hanum.


"Kok nggak ada suara apa-apa? Apa mereka udah tidur?" respon Hanum heran.


"Ahh terus produksi baby nya kapan dong?" gerutu Rahma.


Shin yang kebetulan lewat dan melihat ketiga wanita yang sibuk menempelkan telinga dipintu kamar Revandra membuatnya terkikik geli. Sekepo itukah?


"Ck, dasar ibu-ibu kepo!" cibir Shin lalu mendapat tatapan tajam dari ketiga wanita paruh baya tersebut.


"Mereka mungkin cap--"


"Argh... sakit! Pelan-pelan bodoh!"


Mereka berempat terdiam dengan wajah sulit terdeskripsikan. Suara lengkingan Angelicha membuat fikiran mereka langsung konek.


"Kalian denger kan?" tanya Shin yang kaget.


Ketika wanita itu mengangguk-anggukan kepala mereka. Sekasar itu Revandra? pikir mereka serempak.


"Jangan digigit juga! Sakit! Jangan diisep juga! Ngerti nggak sih?!" suara Angelicha semakin membuat senyum joker mereka melebar.


"Semoga anaknya kembar!" bisik-bisik mereka serempak.


Mereka lebih memilih untuk segera enyah dari sana. Dosa mendengar suara anak adam dan hawa yang sedang berkembang biak.


"Biarkan mereka berdua larut dalam malam indah tersebut." pikir mereka berempat.


Holla, aku masih sempetin up padahal kondisi tubuh kurang fit. Buat kalian jangan lupa istirahat patuhi protokol kesehatan.

__ADS_1


Salam manis dari bininya Lee Min Ho >●<


__ADS_2