CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Episode 90. Gadis Barbar ( Sessions 2)


__ADS_3

Ini Kisah Dari anak kedua nya dari Rayna dan Keanu Revandra Aditya.


Revandra Aditya, siapa yang tidak mengenal dirinya? CEO muda dari perusahaan tambang yang sudah melebar dikawasan Asia.


Tampan, mapan, matang untuk menjadi suami, berkharisma dan juga ramah oh ya jangan lupakan Revandra juga orang yang rendah hati.


Menikah dengan seorang model bernama Janetta Larasati dan dikaruniai seorang putri kecil bernama Soya. Mendapat julukan 'Best couple' dari masyarakat yang mengenal mereka.


Keduanya aktif dalam dunia intertaiment, tak jarang sosok mereka banyak digemari. Namun ada kabar baik dan buruknya juga sih.


Tahun ini perselisihan diantara Revandra dan istri tercinta terlalu berat dan mengutuskan untuk perpisah. Jahat memang jika perceraian seseorang dianggap kabar baik, namun itulah yang dipikirkan kaum hawa kebanyakan.


Kabar buruknya, kini mereka berdua malah terlihat seperti rival yang memperebutkan hak asuh Soya. Mereka saling terlibat berita miring yang tak berdasar karna Janetta lebih memilih karir dibanding keluarga kecilnya.


Sifat Revandra mulai berubah. Dingin, kasar, bermulut pedas dan arogant. Apapun yang dirinya inginkan, semua harus didapatnya dan sempurna!


Sedangkan Angelicha Elizabeth, seorang gadis SMA yang bar-bar dan bodoh. Gadis keturunan Jawa London itu paling malas dengan yang namanya pernikahan.


Dirinya tidak mau menikah tapi ingin mempunyai anak untuk diajak bermain, pikirkan sendiri betapa bodohnya dia.


Sifatnya yang lebih mirip preman pasar membuat teman-teman sekelasnya malu. Cantik memang tapi buat apa cantik kalau bar-bar dan bodoh?


Naik kelas dengan nilai pas-pasan saja sudah bersyukur tapi punya cita-cita ingin berkuliah di Berlin, Jerman. Salahkan Fahmi, sahabatnya yang tiba-tiba pindah kesana.


Lalu bagaimana jika Revandra si arogan dan ingin semuanya sempurna dipersatukan dengan Angelicha sigadis bar-bar dan bodoh hanya demi kebahagiaan seorang anak kecil berumur enam tahun?


"Kamu pake pelet apa sih, kok saya heran. Anak saya aja nggak mau deket sama saya kenapa kalau sama kamu lengket banget. Ayo jujur kamu pake pelet apa?!" Revandra Aditya.


"Heh jan ngadi-ngadi ya lo. Ngaca lo aja kasar begitu mana mau anak lo deket, yang ada takut!" Angelicha Elizabeth.


***


Siswi mana yang ketika jam masuk malah pergi membolos dengan cara meloncat dari dinding belakang sekolah, mungkin jarang tapi itulah yang dilahkukan Angelicha.


Hari ini adalah jadwal fisika dan dirinya paling benci itu. Menurutnya otaknya mudah panas dengan segala rumus yang bahkan lebih rumit dibanding kehidupannya dalam rumah.


Berjalan sambil menendangi batu krikil disepanjang jalan memasuki komplek perumahannya. Wajahnya murung dan berkali-kali bibirnya mengucapkan kata umpatan.


Ketika melihat indoapril entah kenapa hatinya tergerak untuk membeli permen. Ya mungkin dengan permen moodnya akan membaik.


Angelicha tersenyum lebar kala memasuki indoapril tersebut. Sedangkan kasir yang melihatnya hanya tersenyum kaku, terlalu hafal dengan gadis SMA itu.


Angelicha mulai menjelajahi setiap rak khusus makanan manis, semacam coklat dan permen. Mengambil beberapa permen lalu berniat membayarnya dikasir.


"Hiks... hiks... daddyh. S-Soya takut hiks."

__ADS_1


Angelicha langsung berhenti melangkah. Tersenyum kaku dan menoleh kesekeliling, takut jika mbak-mbak semalam yang mendatanginya. Angelicha akan langsung mengumpat jika mbak-mbak semalam yang datang mengganggunya kini mengikutinya lagi.


Iya mbak-mbak yang sering nongki manja diatas pohon. Mbak-mbak yang hobinya ketawa ngakak atau nangis serem gitu, semalam Angelicha dikejar karna nggak sengaja ngledekin mbak-mbak itu.


"M-mbak, kan saya udah minta maaf." gumamnya sambil celingukan.


Tak mendapati siapa-siapa pandangannya menunduk dan melihat ada gadis kecil yang menangis sambil memeluk lutut, rambutnya digerai dan menutupi wajahnya.


Angelicha memberanikan diri untuk berjongkok dan mengelus kepala anak kecil tersebut. Angelicha suka dengan anak kecil dan dirinya tidak pernah tega melihat mereka menangis.


"Kamu kenapa?" lirihnya lembut ketika melihat anak tersebut mendongak menatapnya.


"K-kakak bukan nenek lampir 'kan? Hiks." tanya anak tersebut disela isakannya.


"Bocah sialan!"


Angelicha hanya tersenyum manis dan menggeleng, menyumpah dalam diam. Menuntun bocah tersebut berdiri.


"Oh ya, kakak punya permen kamu mau?" tawar Angelicha sambil memperlihatkan macam-macam rasa permen.


"Ahhh makasih. Sayang kakak banyak-banyak!" celoteh bocah tersebut senang dan merampas semua permen tersebut.


"Nyesel gue nawarin." gumam Angelicha namun tetap tersenyum manis.


"Dasar anak jaman sekarang, keluarganya banting tulang untuk menyekolahkan anaknya tapi anaknya malah sering membolos." tutur kasir tersebut menyindir Angelicha.


Angelicha hanya menyeringai. Sudah terlalu hafal dengan kasir tersebut. Sudah tidak kaget juga mendengar sindiran yang jelas itu untuk Angelicha.


"Totalnya 20.000 rupiah." kata kasir tersebut sambil tersenyum menyerahkan permen yang dikantongi beserta struknya.


Angelicha langsung merogoh kantong roknya dan mengeluarkan uang lima puluh dari sana. Menyerahkan uang tersebut dan menunggu kembalian.


"Mau nambah susu Jermannya kak? Mumpung promo, beli satu gratis dua." tutur kasir tersebut mulai berceloteh menawarkan setiap promo.


"Enggak." sahut Angelicha malas.


"Otaknya mbak, mumpung lagi promo biar kalau pelajaran fisika berfungsi." oceh kasir tersebut.


Angelicha tidak menjawab dan langsung menerima uang kembalian yang sudah dipotong untuk kantung kresek berlogo indoapril.


"Mbak, niat kerja atau nyabe? Itu dempul lima senti terus bibir semerah itu. Mbak nggak sexy, tapi malah kelihatan mirip cabe-cabean!" sinis Angelicha lalu menggandeng tangan bocah disampingnya.


Angelicha tertawa dalam diam, melihat ekspresi kesal dari kasir tersebut. Berani bersumpah jika kasir itu adalah rivalnya.


Angelicha itu bermulut pedas. Dia cerewet serta tak sungkan mengeluarkan kata umpatan bahkan dengan guru sekalipun. Angelicha juga gadis yang moodyan, moodnya bisa berubah-ubah dengan hal-hal secuil kukupun.

__ADS_1


"Oh ya, siapa namamu?" tanya Angelicha melihat bocah tersebut tengah mengulum permennya.


"Soya." jawab bocah tersebut sambil terus menarik tangan Angelicha.


"Kemana orang tuamu?" tanya Angelicha lagi.


"Tadi Soya pergi sama daddy, tapi daddy langsung pergi ninggalin Soya setelah dapet telfon." jawab bocah bernama Soya tersebut.


Angelicha menyeringai, dirinya ingin mengerjai bocah ini. Katakan jika Angelicha masih belum rela semua permennya dirampas oleh bocah ini.


"Kamu tahu rumah kamu? Atau jangan-jangan kamu dibuang sama orang tua kamu?" ujar Angelicha mencoba menakut-nakuti Soya.


"Soya tahu jalan pulang dan nggak mungkin daddy tega buang Soya yang gemesin ini." oceh bocah itu sambil tersenyum lebar.


"Kamu yakin kamu ingat rumah kamu?" tanya Angelicha ragu.


Soya hanya diam dan menarik tangan Angelicha mengikutinya. Soya memang tidak tahu dia tinggal dimana tapi dia ingat betul jalan dan rumahnya.


"Eh kamu ini anak orang kaya ya?" tanya Angelicha kala sadar dirinya memasuki komplek elit.


Soya hanya diam dan terus melangkah, hingga kaki gadis kecil tersebut berhenti didepan pagar tinggi rumah megah berlantai dua dengan cat dominasi putih.


"Coba kakak pencet bel itu!" perintah Soya sambil menunjuk bel dekat pagar.


Tak lama ada seorang satpam yang membukakan gerbang dan langsung tersenyum ramah melihat anak tuan mudanya pulang dengan siswi SMA.


"Eh non, memang daddy kemana?" tanya pak satpam yang berjongkok menyesuaikan tinggi badannya dengan Soya.


"Daddy pergi. Tapi untung saja ada kakak ini yang mengantar Soya pulang." jawab Soya sambil menunjuk Angelicha.


Angelicha hanya tersenyum kikuk menyadari satpam tersebut menatapnya heran. Pasti dirinya dicap sebagai siswa nakal karna ini masih jam sekolah.


"Namaku Angelicha paman. Oh ya, aku permisi dulu takut dicari mama." tutur Angelicha malu-malu kucing.


"Oh hati-hati nak." nasihat pak satpam dan Angelicha mengangguk.


"Soya kakak pulang dulu ya." pamit Angelicha sambil mengusap kepala Soya.


"Kakak pembolos hati-hati ya. Besok jangan membolos lagi!" seru bocah itu semangat.


"KAKAK PEMBOLOS?!!" batin Angelicha berteriak tidak terima.


👋Haii readers semoga suka dengan session 2 nya


Terima🙏💕 kasih

__ADS_1


__ADS_2