
Angelicha memilih untuk melompat gerbang setinggi dada tersebut. Menatap nyalang pintu rumah tersebut.
Mengitari rumah sambil menyiramkan bensin disetiap sudut rumah Ningmas. Terkekeh seperti seorang iblis yang baru mendapatkan mainan baru.
Cresshhh!
Grep!
"Jangan bodoh, Angelicha!" korek yang dipegang Angelicha terpelanting cukup jauh karena pelukan mendadak dari seseorang.
Angelicha menatap nyalang Adenra. Matanya mengatakan bahwa Angelicha benar-benar benci diganggu saat ini.
"Ikut aku! Kau bisa membahayakan dirimu sendiri!" tegas Adenra lalu menarik Angelicha masuk kedalam mobilnya.
Plak!
Adenra meringis merasakan tamparan keras mendarat dipipinya. Angelicha tengah menatapnya nyalang sekarang dan Adenra tidak suka ditatap seperti itu.
"Kau menggagalkan rencanaku bodoh!" sarkas Angelicha.
"Aku ingin membalaskan dendam kematian mama. Kau juga anaknya, tapi kau sama sekali tidak merasa kehilangan atas kepergian mama! Aku tahu kau tidak menyayangi mama!" cerca Angelicha.
Adenra membiarkan Angelicha menumpahkan segala amarahnya walau tak dipungkiri hati Adenra sakit. Dirinya juga benci ditinggal oleh ibunya yang bahkan baru beberapa hari ditemuinya.
"Minggir! Gw mau ngebakar rumah j*l*ng keparat itu!!" gertak Angelicha.
Adenra masih setia mencengkram kuat pergelangan tangan Angelicha. Dirinya tak akan membiarkan adiknya berbuat nekat yang mana malah akan membahayakan Angelicha sendiri.
"Kau masih punya Revandra dan Soya! Pikirkan mereka kalau sampai kau masuk kedalam jeruji besi!" seru Adenra mencoba menyadarkan Angelicha.
Angelicha langsung bungkam dan menatap dalam kakak kembarnya itu. Sedetik kemudian air matanya tumpah ruah dalam dekapan sang kakak.
"Angelicha, kamu salah jika mengira aku tidak sedih. Aku juga benci kepada takdir, aku bahkan baru dipertemukan dengan mama beberapa hari yang lalu. Aku tahu kamu baru kali ini merasa kehilangan karena kematian, tapi aku sudah terlalu khatam dengan segalanya. Semua orang yang aku cintai satu persatu pergi tak tersisa," ujar Adenra mengelus punggung Angelicha.
"Jangan pernah menyesali segalanya. Belajar lah bahwa kehilangan seseorang orang itu menyakitkan dan hargai seseorang yang masih ada sekarang agar tak menyesal nantinya. Kamu masih punya Revandra dan Soya, mereka berdua membutuhkan mu." lanjutnya, wanita itu ikut meneteskan air mata namun buru-buru dihapus.
"Bayangkan jika mereka berdua selamat lalu menuntut kamu ke polisi. Bagaimana respon anakmu nanti?" tanya Adenra menohok.
Angelicha mengangguk menyetejui. Benar juga kata kembarannya itu. Angelicha sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih karena terlalu larut dalam kesedihannya.
"Angelicha, kamu lebih baik jangan dulu membuka ponselmu. Kemarin aku mematikan daya ponselmu, tolong jangan hidupkan sampai aku yang memintamu menghidupkan!" kata Adenra tegas.
"Hey tidak bisa begitu! Aku juga butuh ponsel!" protes Angelicha meronta dari pelukan Adenra.
"Kau kan bisa ganti ponsel baru. Ponselmu juga sudah retak karena kau banting kan?" remeh Adenra.
Angelicha menghapus air matanya dan menatap tajam Adenra. Angelicha bingung, bagaimana bisa Adenra mengetahui segala sesuatu yang dilakukan olehnya.
"Bagaimana bisa lo tahu segalanya tentang gw, tapi gw nggak tahu apa-apa tentang lo?" protesnya lagi.
"Ada deh," sahut Adenra lalu merogoh ponselnya.
"Jangan bilang lo mata-matain gw dengan nyuruh stalker ngawasin gw setiap saat. Bilang ke suruhan lo, nggak usah ngancem segala!" oceh Angelicha.
Adenra hanya diam. Melihat wajah lega adiknya membuatnya enggan untuk jujur. Adenra bisa melihat apapun dengan komputernya tanpa harus meminta bantuan kepada bawahannya.
"Iya itu aku yang mengirimnya!" jawab Adenra tegas hingga tak dicurigai Angelicha bahwa dirinya tengah berbohong.
"Lalu kau tenang saja, masalah kasus Michel. Kamu resmi dibebaskan dari tuduhan tersangka, sudah jelas jika yang membunuh adalah orang asing bukan kamu." lanjutnya.
Angelicha tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Pantas saja pihak polisi tidak pernah mengusik hidupnya.
"Aaa terimakasih!" seru Angelicha.
"Arhhh lepaskan aku br***s*k! Kau mau membunuhku?!" sewot Adenra kala Angelicha memeluknya erat.
"Tapi, bagaimana bisa mereka membebaskan ku tanpa mengintrogasi lebih dulu? Atau--"
"Heh bocah! Lebih baik kau pulang. Suami mu akan mencarimu jika dirinya bangun tak menemukanmu!" sela Adenra cepat.
"Hah orang yang kau panggil bocah ini sudah bisa membuat bocah kalau kau ingin tahu!" sewot Angelicha.
__ADS_1
"Kau belum se-pro diriku j*l*ng kecil! Cepat pulang sana!" bentak Adenra.
"Baiklah-baiklah! Pantas masih jomblo, galak banget jadi cewek!" cibir Angelicha lalu keluar dari mobil.
Angelicha langsung kembali menaiki motornya dan mengutuskan untuk pulang. Melupakan rencana bodohnya dan lebih baik mencoba untuk iklas mendengar penuturan jika sosok kembarannya selalu kehilangan orang yang dicintainya, setidaknya Angelicha tidak akan meninggalkan Adenra.
_______
Angelicha mematung melihat Soya tengah menangis kencang sambil memanggil-manggil namanya dan Revandra yang mengumpat sambil memainkan ponselnya. Angelicha jadi merasa bersalah karena membuat kedua orang yang dicintainya menghawatirkan dirinya.
"Momy pulang!" seru Angelicha.
Soya langsung menoleh dan berlari memeluk Angelicha. Bocah itu tadi berniat untuk ikut tidur dengan kedua orang tuanya, namun Angelicha malah pergi entah kemana.
"Momy dari mana saja hiks?" tanya Soya masih terisak.
"Stttt momy habis bertemu dengan tante Adenra. Kenapa Soya bangun?" tanya Angelicha lalu mengusap kepala Soya.
Revandra mendekati mereka berdua lalu menggendong Soya. Tersenyum kala melihat istrinya lebih segar dari tadi siang.
"Sudah lebih baik?" tanya Revandra.
"Sudah. Aku tadi bertemu dengan Adenra, aku banyak mendapat pencerahan darinya. Maaf tidak izin terlebih dahulu," ujar Angelicha.
"Tak apa. Asal kamu pulang dengan selamat." tutur Revandra lalu menggandeng tangan Angelicha dan menuntunnya kembali ke kamar.
Heyyo sorry banget aku lama up, aku tumbang teman-teman. Karena kecapean jadinya hampir tiga hari nggk sampai online facebook dan ya aku lagi nge-stuck mikir kelanjutan Angelicha sama om Revandra.
Mela mendesah pasrah. Dirinya kacau terus diberondong oleh chat-chat misterius dan chat dari keluarga Nichol dan Andin.
"Angelicha kemana sih?" tanya Mira ikut khawatir juga.
"Itu masalahnya. Angelicha pindah dan dia nggak ngasih tahu kita. Ponselnya juga mati. Gw harus gimana sekarang?!" sewot Mela lalu membanting macbook dipangkuannya.
Mira bergidik ngeri melihat macbook tersebut patah, memisahkan papan keyboard dan layarnya. Mela benar-benar menakutkan jika sedang khawatir atau marah.
Tak lama ponsel diatas meja kaca berdering. Mela yang merasa takut tak berani untuk menjawab panggilan tersebut, namun disisi lain dirinya juga penasaran.
'Bagaimana, sudah kau pikirkan? Kau ingin menyerahkan Angelicha kepadaku atau kau ingin teman-temanmu mati ditanganku?'
Mira dan Mela saling menatap. Keringat dingin mulai membasahi pelipis mereka berdua. Jantung keduanya berdebar tak karuan seperti tengah dikejar oleh hantu.
"Gw mohon, jangan sakiti temen-temen gw!" sahut Mira ketakutan.
'Huhuhu... sudah aku bilang, berikan Angelicha kepadaku maka teman-temanmu yang lain akan selamat!'
"Gw akan nyerahin Angelicha. Tapi tolong jangan sakiti Nichol!" sahut Mira cepat.
Mela menggeleng tidak percaya dengan perkataan Mira. Ingin protes jika Mira sama saja mengorbankan sahabatnya sendiri untuk sahabat yang lainnya.
"Nggak ya! Nggak usah gila lo!" sarkas Mela lalu merebut paksa ponselnya.
Bugh
Mela meringis merasakan tinjuan Mira dipelipisnya. Suasana mendadak tegang antara mereka berdua. Mira yang menatap Mela tak terima begitupun sebaliknya.
"Nyawa Nichol, Hanif dan Andin ada ditangan kita, sialan!" sarkas Mira.
"Kita bisa diskusiin ini baik-baik! Nggak usah nyangkut pautin Angelicha disini! Ibunya baru aja meninggal!" ujar Mela tak kalah sarkas.
"Apa lo bilang?" tanya Mira remeh.
"Angelicha nggak ada sangkut pautnya sama ini semua? Udah jelas kalau sibr*ngs*k itu mengincar Angelicha sedari awal, dan lo bilang kalau Angelicha nggak terlibat. Gw tau lo suka sama Angelicha, tapi-- rasa lo salah, Mel!" cerca Mira.
"Iya! Karna gw cinta sama Angelicha, makanya gw nggak mau ngorbanin dia disini!" sarkas Mela.
"A-apa?"
Kontan mereka berdua menatap pintu utama. Disana ada Angelicha yang tengah berdiri bersama dengan Adenra, menatap mereka berdua dengan pandangan kaget.
"Waw drama macam apa ini?" gumam Adenra kemudian menggeleng lemah.
__ADS_1
"G-gw bisa jelasin, Cha. Semua nggak kayak yang lo denger!" seru Mela cepat dan bergetar. Matanya berkaca-kaca menatap Angelicha yang masih setia terdiam dengan mulut terbuka sedikit.
_______
Revandra masih menatap aneh pria didepannya ini. Tampangnya sangat datar namun memberikan kesan dingin dan mengintimidasi.
"Aku Cello, pacar Adenra." sapa pria tersebut memperkenalkan diri.
"Aku--"
"Aku sudah tahu. Kau Revandra, suami kembaran Adenra bukan?" sela Cello.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." tambah Cello lalu meminum minumannya.
"Apakah penting?" tanya Revandra mulai jengah dengan sosok didepannya ini.
"Menyangkut istrimu." jawab Cello datar.
Revandra terdiam kala Cello menyerahkan ponsel milik Angelicha. Tatapannya memicing dan semakin curiga dengan sosok didepannya ini.
"Kau bisa melihat semua histori chat ataupun panggilan disana. Banyak juga vidio yang dikirim oleh nomer seseorang," ujar Cello.
"Aku ingin meminjam istrimu untuk memancing psychopat tersebut agar keluar dari persembunyiannya. Lagi pula, p******* itu juga sangat berbahaya bagi negara ini. Jika dia saja bisa mengambil arsip penting kedutaan Amerika Serikat, bisa aku pastikan dirinya juga akan mudah mengambil arsip Indonesia." lanjutnya kemudian menunjukan sebuah chat di ponselnya.
"Maksudmu? Kau akan menumbalkan istriku begitu?!" tanya Revandra tak terima. Enak saja istrinya dijadikan umpan oleh pria ini.
"Ck, aku bersumpah akan mengembalikan istrimu tanpa lecet sedikitpun. Adenra sudah menyusun rencana dengan sangat apik," sahut Cello dingin.
Revandra menggeleng tidak percaya. Feelingnya benar jika kembaran sang istri ternyata mempunyai maksud lain atas kehadirannya di hidup Angelicha. Dan, Revandra tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kau tenang saja. Negara akan melindungi istrimu. Ini kartu namaku kalau kau belum yakin," Cello memberikan kartu namanya kepada Revandra.
"Agen CIA? dan kau ketua dari kelompok elit?" tanya Revandra tidak percaya.
"Benar. Dan Adenra adalah agen FBI, dia menjabat sebagai Letnan atas pasukannya. Adenra ingin keluar dari FBI, namun pemerintah awalnya keberatan jika Adenra sampai keluar jadinya, mereka memberikan misi ini sebagai misi terakhir baru Adenra boleh mengundurkan diri dari komunitas jika berhasil membawa Calvin Smith baik hidup ataupun mati." jelas Cello.
Revandra menganga. Fakta apalagi ini? Seumur hidup baru kali ini Revandra berurusan dengan mata-mata negara seperti Cello dan Adenra. Menikah dengan Angelicha ternyata membuka mata Revandra dan menyuruhnya percaya dengan adanya mata-mata seperti CIA dan FBI.
"Jadi bagaimana?" tanya Cello lalu menyunggingkan senyuman gusinya.
________
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu. Yang aku butuhkan adalah bantuan kalian berdua." kata Angelicha dingin.
"A-apa?" tanya Mela terbata.
"Aku akan menyerahkan diriku. Bilang kepada psychopat gila itu, aku akan menemuinya!" titah Angelicha.
"T-tapi, Cha. Lo--"
"Tinggal bilang apa susahnya sih?" sela Angelicha cepat.
Adenra tersenyum miring melihat drama persahabatan antara kembarannya dan dua gadis didepannya ini. Sebenarnya tanpa harus dijelaskan pun Adenra mengerti jika Mela memang menyimpan perasaan kepada Angelicha.
____Dibaca sok nggk dibaca juga monggo____
[Penjelasan agen CIA]
Badan Intelijen Pusat adalah salah satu badan intelijen pemerintah federal Amerika Serikat. Sebagai lembaga eksekutif, CIA berada di bawah Director of National Intelligence.
[Penjelasan agen FBI]
Biro Investigasi Federal adalah badan investigasi utama dari Departemen Keadilan Amerika Serikat. Sekarang ini, FBI memiliki yurisdiksi investigasi atas pelanggaran lebih dari 200 kategori kejahatan.
Perbedaan CIA dan FBI:
FBI, sebagaimana namanya, adalah badan investigasi dengan kapasitas dalam negeri Amerika Serikat. Sementara itu, CIA adalah lembaga intelijen yang berskala internasional.FBI berperan menyelidiki kejahatan, sementara CIA mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan intel.
[Sumber. Wikipedia.com & grid.id ]
Bagian kalian yang mungkin suka cerita bergenre action dan sejenisnya pasti tahu kan ada istilah-istilah seperti ini. Apalagi kalau menyangkut MAFIA dan sekelompok nya, pasti sebagian ada yang menggunakan dua agen ini dicerita mereka.
__ADS_1