
Flashback On
Setelah meeting nya selesai Keanu, meninggalkan sekretaris di hotel, namun Keanu menuju kediaman Omanya.
Di rumah Oma
Oma sudah meninggalkan Keanu sendiri di atas atap. Laki-laki itu terlihat canggung saat bicara dengan Mamanya. Dia lebih banyak diam dan menjawab, membiarkan wanita yang melahirkannya itu berceloteh riang.
" Keanu , kapan kamu akan pulang?" mama Luna bertanya, memancing Keanu untuk bersuara.
"Belum tahu, Ma," jawab Keanu pelan.
"Cepatlah pulang, Nak. Ada kejadian besar yang harus kamu tahu," ucap mama . Keanu mendengar, suara Mamanya sangat lirih kala mengatakan itu.
"Kejadian apa, Ma? Mama beritahu aja di sini. Keanu belum bisa pulang dalam waktu dekat," jawab Keanu.
"Dimas dan Rayna . Mereka ..." mama sengaja menggantungkan ucapannya. Ada rasa ragu untuk menceritakannya pada Keanu . Entah ragu kenapa, yang jelas ia merasa tidak nyaman jika membahasnya sekarang.
Keanu sendiri terdiam dengan dada berdebar. Ada rasa nyeri kala mendengar dua nama itu. Ia sengaja diam, memilih mendengarkan kelanjutan ucapan Mamanya.
Keanu mengepalkan tangannya, mendongak menatap ribuan bintang di atas gedung berlantai tiga ini. Menyangkut Rayna, entah kenapa Keanu tidak sanggup mendengarnya.
"Sayang, kamu masih di sana?" Suara mama terdengar.
"Iya, Ma. Maaf, Keanu mau tidur dulu. Di sini udah larut. Mama jaga kesehatan di sana, ya. Keanu titip salam sama keluarga di rumah," ucap Keanu kemudian menutup sambungan teleponnya.
Ia salah. Ia kira ia sudah siap mendengar kelanjutan ucapan Mamanya. Nyatanya, baru mendengar Mamanya berucap, ia takut kecewa duluan. Padahal Mamanya hanya menanyakan kehadiran Keanu
"Rayna, aku cinta sama kamu!"
Malam ini, di atas atap gedung bertingkat tiga ini, di bawah langit malam yang dihiasi ribuan bintang. Di sini, di kota besar yang ada di Paris , Keanu berteriak mengungkapkan isi hatinya yang terpendam.
Mengungkapkan rasa sebagai pecundang, karena ia akui, kehadirannya di sini, tidak lain dan tidak bukan karena ingin mencari alasan agar tidak melihat Rayna menangis.
Di tempat Rayna
"Rayna, kamu ga kelas senam hamil ? " tanya mama Diana
Gerakan tangan Rayna yang hendak mengambil nasi goreng di atas meja terhenti. Gadis itu mendongak, menatap Mamanya.
"Rayna ambil kelas sore, Ma." Gerakan tangannya kembali berkutik.
"Bareng Dita, 'kan?" Naumi duduk disebelahnya memulai acara sarapannya.
"Nggak. Dita ambil kelas siang." Gadis itu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Akhir-akhir ini mood-nya membaik.
Gerakan tangan Naumi yang hendak menyuap terhenti, begitu pun papa yang sedari tadi terdiam dan memilih menikmati sarapannya.
"Kenapa nggak ikut kelas siang kayak kaka Dita?" Naumi bertanya, wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran.
Rayna menggidikkan bahunya. " Gurunya masukin Rayna ke kelas sore, Ma. Nggak masalah, Rayna baik-baik aja kalau nggak sama Dita."
Dia paham sekali kekhawatiran Mamanya. Bila masuk sore, kemungkinan besar Rayna akan 'lembur' sampai malam. Ibu mana yang tidak khawatir bumil malam-malam masih diluaran ?
"Perlu Papa carikan seseorang untuk menjagamu, Rayna ?" papa Wijayabersuara.
Rayna menatap Papanya, menggeleng pelan. "Rayna baik-baik aja, Pa."
Seseorang untuk menjaganya? Sesuatu itu mengingatkan Rayna pada Keanu. Bila ada orang lain, tidak menutup kemungkinan Rayna akan menangis kembali karena merindukan suaminya.
Percayalah. Pertahanan Rayna untuk menjaga hatinya hanya untuk satu orang sangat lemah. Sedangkan saat ini ia hanya ingin mencintai Keanu. Menjadikan laki-laki itu yang terakhir untuknya yaitu suaminya.
__ADS_1
π€π€π€π€π€
Siang ini Rayna kedatangan tamu istimewa. Tamu yang menjadi alasan membaiknya mood Rayna. Bumil itu sudah berada di taman belakang rumahnya, tempat mereka menghabiskan siang bersama.
" Mama ada kabar gembira, Rayna ." mama Luna yang merupakan orang spesial itu berucap dengan semangat.
"Apa, ma?" Rayna bertanya. Wajahnya terlihat berseri-seri.
"Pagi tadi Keanu menelpon."
Rayna segera memegang lengan mama matanya berbinar. "Benarkah? Dia bilang apa, Tan? Keadaannya gimana? Baik-baik aja, 'kan?"
Mama tersenyum, mengusap tangan Rayna. "Katanya dia baik. Di sana tadi malam hari, Mama nggak bisa ngobrol banyak sama anak itu. Tapi mama yakin, dia pasti baik-baik aja. mama seneng banget akhirnya bisa denger suara anak bandel itu."
Rayna menganggukkan kepalanya, dia pun senang Keanu sudah bisa dihubungi. Walau pun mungkin dia belum bisa menghubungi Keanu setidaknya mamanya Keanu bisa.
"Kamu harus bersabar menunggu Keanu pulang. Anak itu, memang bandelnya beda sama saudara-saudaranya yang lain. Dia lebih mirip sama Papanya waktu muda." mama Luna terkekeh pelan mengingat sifat Keanu dan suaminya.
Rayna mengangguk. Inilah yang membuat moodnya membaik. Mama Luna selalu bersedia menceritakan kebiasan-kebiasaan Keanu waktu kecil. Sifat-sifat yang tidak pernah terlihat, dan hanya mama Luna-lah yang tahu sifat anaknya itu.
π£π£π£π£π£
Rayna sudah bersiap hendak ke kelas senamnya , mama Luna baru saja pulang. Jam masuknya jam empat nanti. Sebenarnya tidak terlalu sore, hanya saja karena rumah Rayna yang lumayan jauh dari kelas senamnya, memintanya untuk sampai di rumah malam hari.
Bumil itu memilih menggunakan motor saat berangkat. Selama Keanu pergi dan dia mulai masuk kelas senam lagi, Rayna lebih banyak bepergian menggunakan motornya. Selain tidak dibolehkan oleh Papanya menaiki mobil, menggunakan motor lebih membuat Rayna tenang.
Alasannya, karena angin alami yang ia dapat bisa menyegarkan pikirannya. Ya, walau pun polusi juga menyebar di mana-mana.
"Ma, Rayna berangkat!" Rayna berlari menuruni anak tangga, tas sudah tersampir di pundaknya.
"Pulang jangan malam-malam, Sayang. Langsung pulang, jangan mampir ke mana-mana," Naumi menimpali, kini ia tengah berada di dapur.
Rayna tidak menjawab. Dia sudah berada di atas kuda besinya, bersiap mengendarai. Kepalanya sudah mengenakan helm, motornya sudah dipanasi, siap digunakan.
Saat SMP, Keanu suka sekali balapan dengan Keanu menggunakan sepeda motornya Sampai-sampai anak itu jatuh dan dapat jahitan di rahangnya. Namanya anak nakal, mana kenal kapok baru sekali jatuh. Dia tetap aja balapan terus gak ada kapoknya.
Rayna membayangkan, saat-saat Keanu SMP, berarti dia masih SD. Dia pun lagi nakal-nakalnya saat itu, nyolong buah tetangga sama Abang sepupu keduanya --yang saat ini tengah menjalankan perusahaan milik Papanya di luar kota.
Rayna pun turut membayangkan kala mama Luna bercerita tentang ribetnya punya anak kembar. Ditambah lagi kehadiran adiknya Keanu yang tiga tahun kemudian lahir. Disaat Keanu tengah aktif-aktifnya, ada kehadiran adik bayi yang membuat repot kedua orangtuanya.
Rayna jadi membayangkan, bagaimana jika dia dan Keanu nanti punya anak kembar? Pasti rumah jadi rame. Keanu dan dia pun pasti akan kelabakan menjaga anak kembarnya.
Untung saja Rayna masih menggunakan helm. Kalau tidak, mungkin orang yang melihatnya akan mengira Rayna gila. Pasalnya, gadis itu terus senyum-senyum sendiri sepanjang jalan.
Senyum memang ibadah, tapi bila kita senyum dengan orang lain. Kalau kita senyum sendiri? Apa namanya kalau bukan orang gila?
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya Rayna sampai di kelas senamnya. Segera ia memarkirkan motor miliknya dan berjalan menuju kelas.
Bisa dipastikan, hari ini ia akan kehilangan momen menatap langit senja. Mungkin juga ia akan menatap langit malam di atas motornya.
π¬π¬π¬π¬π¬π¬π¬
"Huuft ...."
Rayna membuang nafas kesal. Materi hari ini cukup menguras badannya . Wajahnya terlihat kusut. Dengan tergesa ia berjalan menuju parkiran. Ia harus pulang sekarang, karena waktu sudah menunjukkan pukul enam.
Langkah bumil itu terlihat melambat kala melihat seseorang yang tengah duduk di atas motornya. Astaga, ingin sekali ia berlari saat itu juga saat mengetahui siapa sosok yang ada di sana. Tapi sayang, sosok itu sudah menangkap kehadiran dirinya.
Tidak peduli dengan tatapan orang itu, Rayna segera berbalik dan berlari. Namun, sayang. Seperti dipermainkan takdir, beberapa orang lelaki sudah mengepung di belakangnya.
"Mau apa kalian!" Rayna memberontak. Beberapa lelaki itu memegangi kedua lengannya, menyeretnya paksa mendekati seseorang yang tersenyum sinis di atas motornya.
__ADS_1
"Lepasin!" Rayna masih berusaha memberontak.
Keadaan kelas senamnya sudah sepi. Hampir tidak ada orang yang berlalu lalang di area parkiran. Jumlah motor pun tidak sampai jumlah jari salah satu tangan Rayna.
"Jangan sakiti kesayanganku, Kawan. Lepaskan dia," ucap orang yang tengah duduk di atas motor, tersenyum miring.
Laki-laki yang memegangi Rayna tertawa, melepaskan pegangannya. Mereka tidak pergi, tapi menonton apa yang dilakukan orang itu.
"Kamu sombong sekali, Sayang. Mentang-mentang sudah ada bodyguard bodoh itu, kau melupakanku?" Orang itu mencengkeram pipi Rayna.
Bumil yang tengah mengusap pergelangan tangannya itu dipaksa mendongak, menatap sosok lelaki di hadapannya. Tatapan benci.
"Lepasin aku, Bryan. Aku mau pulang."
Bryan tertawa, melepaskan cengkeramannya dari pipi Rayna dengan pelan. Berjalan memutari Rayna di bawah suara tawa berapa lelaki tadi.
"Beberapa tahun kamu mencampakkanku, saat kamu sudah berada di genggamanku, kamu minta untuk dilepaskan?" Bryan berhenti tepat di depan wajah Rayna, menatap tajam gadis itu.
"Tapi kamu yang ninggalin aku, Bryan Kamu pergi sama selingkuhan kamu itu, dan kalian sudah nikah, 'kan, sudah punya anak lagi ?" Rayna mundur, menjauh dari Bryan yang mendekatkan wajah keduanya.
Bryan tertawa sinis. "Nikah? Ya, benar. Bahkan dia sekarang sudah jadi istriku."
"Kalau gitu lepasin aku, BryanBuat apa kamu tahan aku di sini?" Rayna masih berusaha menjauh dari Bryan, sampai salah satu sepeda motor yang ada di sana membuatnya berhenti.
"Buat apa? Kamu kira aku rela lihat kamu bahagia sama CEO bodoh itu? Nggak! Sebelum ..." Tatapan Bryanmemindai pergerakan Rayna tersenyum penuh arti.
"Jangan, Bryan," suara Rayna mulai lirih. Kepalanya menggeleng, air matanya mulai meluncur.
"Jangan menangis, Sayang. Aku tahu kamu terharu dengan ucapanku. Mari kita nikmati malam ini bersama." Bryan mengusap air mata yang jatuh di pipi Rayna, kemudian mengecup singkat pipinya.
Plak!
"Aku nggak semurahan istrimu, Brengs*k! Pergi!" Rayna mendorong Bryan setelah berhasil memberikan tamparan yang membuat tangannya panas ke pipi Bryan.
Bryan sedikit terhuyung, membuat Rayna punya tempat untuk berjalan motornya. Tangannya berhasil mencekal pergelangan tangan Rayna, membuat gadis itu berada dipelukannya dengan sekali tarikan.
"Kamu menamparku, Sayang. Aku akan memberikan hadiah untuk ini." Bryan memeluk Rayna erat, membuat gadis itu terus memberontak dipelukannya.
"Lepas, Bryan! Aku benci kamu! Brengs**!"
Bryan tertawa pelan, kemudian mengangkat tubuh Rayna membawanya pergi dari sana. Laki-laki tadi hanya tertawa, terlihat senang sekali dengan tangisan Rayna.
"Kita bersenang-senang, Baby?"
"Lepasin, Bryan ! Aku mohon, aku akan lakukan apa aja. Tapi lepasin aku, Bryan! Please, Bryan lepasin!"
Bryan memasukkan Rayna ke dalam mobilnya. Kembali mencium pipi gadis itu sebelum menutup pintu mobilnya.
Rayna dan Bryan menghilang dari pandangan para lelaki yang masih tertawa senang di parkiran.
Di dalam mobil Bryan tertawa senang mendapati Rayna yang terus memberontak. "Jika melakukan ini bisa membuatmu jadi milikku, apa pun akan aku lakukan, Sayang."
Rayna masih berusaha membuka pintu mobil Bryan, sesekali mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata. Terus bergumam, "Aku benci kamu, Bryan. Aku benci."
Flashback End
ππHaii readers,
Semoga suka dengan ceritanya,
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
__ADS_1
ππTerimakasih