CEO DINGIN & Istri Kesayangan

CEO DINGIN & Istri Kesayangan
Eps. 50. RAYNA DI TEMUKAN


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Wajah cantik yang terlihat pucat itu diterpa cahaya pagi yang mulai beranjak siang. Matanya mengerjap-ngerjap. Seluruh persendiannya terasa nyeri.


Setelah mengumpulkan kesadaran yang sempat menghilang, Rayna mengedarkan pandangannya demi memastikan tempatnya sekarang. Masih sama. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya.


"Awss ..." Rayna meringis. Tulang-tulannya terasa benar-benar patah. Nyeri sekali rasanya.


Dia kembali berusaha menggerakkan tubuhnya, berusaha berdiri. Matanya terus mengawasi sekitar. Burung-burung terdengar berkicau. Cahaya matahari masuk membasuh wajahnya melalui sela-sela daun di atas pohon.


"Tolong ..." suara lemah Rayna terdengar. Kakinya mulai melangkah, menyusuri jalan yang sebelumnya ia lewati. Dia berharap, setidaknya bisa menemukan rumah tua itu.


"Siapa pun, tolong aku ..." suaranya terdengar lemah sekali. Tenggorokannya terasa sakit ketika ia berbicara. Selemah itu saja sudah terasa nyeri. Ia butuh air.


Kaki itu terus melangkah. Tanpa terasa matahari benar-benar berada di atas kepalanya. Pohon-pohon yang lumayan besar menghalau panasnya sinar matahari. Jika siang hari, hutan itu terlihat lebih segar, tidak menyeramkan seperti tadi malam.


" Keanu tolong aku ..." Kakinya sempurna berhenti melangkah. Sudah lebih dari tiga jam ia melangkah, rumah tua itu tidak kunjung nampak. Dia kelelahan. Perutnya butuh diisi. Dia lapar apalagi dia lagi hamil.


Rayna kembali terduduk di bawah pohon besar, beralaskan akarnya yang menyembul keluar. Tenaganya terkuras habis, wajah pucatnya terlihat seperti tidak dialiri darah, benar-benar pucat.


Seingatnya, kemarin ia melangkah tidak sejauh ini. Tidak sampai satu jam ia menjauhi rumah itu. Tapi kenapa sekarang seperti jauh sekali? Apa sekarang ia ada di tengah hutan?


Rayna memeluk lututnya, perutnya terasa melilit. Dia sangat takut. Bagaimana jika selamanya ia ada di sini? Bagaimana mereka bisa menemukan dia, sedangkan tidak ada petunjuk sama sekali tentangnya?


Bryan . Laki-laki itu adalah dalang dari hilangnya dia. Rayna bisa memastikan, Bryan tidak akan hidup jika Keanu- nya tahu dia hilang di sini karena Bryan. Jika saat itu terjadi, Rayna meyakinkan dirinya, dia tidak akan peduli.


"Awss ..." Rayna kembali merasakan nyeri di perutnya. Benar-benar nyeri. Sepertinya penyakit lambungnya sedang kambuh dan baby di dalam kesakitan.Rayna memang memiliki riwayat magg. Seharian ini ia belum mengisi perutnya dengan makanan, lambungnga sudah memberikan kode keras.


Tidak tahan menahan sakit, bumil itu kembali tidak sadarkan diri. Rayna ... kembali pingsan.


🐋🐋🐋🐋🐋🐋🐋


Keanu berlari menuju jalan raya. Selama hampir dua puluh empat jam ia menaiki pesawat, akhirnya ia sudah sampai di Jakarta. Tangannya sibuk menghubungi Mamanya, mencari informasi terkini tentang Rayna.


Tangannya mengepal. Informasinya masih sama dua puluh empat jam terakhir saat ia bertanya. Rayna belum ditemukan.


"Keanu ! Tunggu aku!"


Perempuan dengan dress merah di atas lutut itu berlari dengan koper di tangannya. Kaca mata hitam bertengger di kepalanya. Syal berwarna senada dengan dress-nya menutupi leher jenjangnya.


Ke mendengus, melanjutkan langkah.


"My god! Ke mana bodyguard-bodyguard Uncle !" Bianca bersungut-sungut kesal, menghentikan langkahnya. "Beib, kenapa tidak ada yang menjemput? Tanganku kebas membawa lari koper ini. Berat!"


Keanu menoleh, berhenti melangkah. "Jika ingin ikut, ayo. Kalau ingin menunggu jemputan, aku akan meninggalkanmu."


Bianca mencabik kesal, kembali menyeret kopernya dan berlari menjajari langkah Keanu .


"Cari penginapan dekat sini, Keanu . Aku perlu istirahat," Bianca bersungut-sungut menggunakan bahasa inggrisnya.


"Istirahat di rumah saja. Aku tidak ada waktu untuk mencari penginapan untukmu," Keanu menjawab datar, tetap melangkah.


"Hari sudah gelap! Kau pun juga buruh istirahat. Jangan jadi orang bodoh hanya karena khawatir dengan perempuan itu!" Bianca menarik tangan Keanu , laki-laki itu berhenti dengan wajah kesal.


"Aku tidak peduli! Jika ingin ikut, ayo. Kalau kau mau tinggal, aku akan menghubungi Papa untuk meminta orang menjemputmu. Di sini tidak seberbahaya negaramu!" Keanu menatap tajam Bianca, melepaskan cekalan tangannya.


Bianca mencabik kesal, tetap mengikuti langkah Keanu


🐈🐈🐈🐈🐈🐈


"Apa kabarmu, Keanu ?" Wijaya merangkul pundak Keanu setelah Kevin melepaskan pelukan putra sulungnya.


"Baik, Om. Rayna bagaimana--" Ucapan Keanu terputus kala melihat sosok lelaki keluar dari mobil, disusul Bagas di sebelahnya.


"Bajing*n!" Keanu bergumam dengan nada emosi. Dia mendekati sosok yang keluar dari mobil yang dikendarai Bagas itu, kemudian ....


Bugh!


"Aku sudah memintamu untuk menjaganya! Kenapa kau harus lalai, hah!" Kondisi Keanu yang sedang lelah ditambah kehadiran Dimas membuat emosinya tiba-tiba terpancing.


Bugh!


"Kenapa Rayna bisa hilang? Kau tidak mengantarnya? Apa kau tidak tahu jika dia masuk kelas sore? Kau tidak mengerjakan amanah dariku dengan benar! Apa yang kau lakukan?!"


Emosi yang tidak terkendali membuatnya menghadiahi dua bogeman mentah di wajah sahabatnya. Tak membiarkan Dimas menjawab, Keanu ingin kembali melayangkan pukulannya.


" Keanu , apa yang kamu lakukan?" Wijaya menarik tangan Keanu agar menjauhi Dimas. Sudut bibir pemuda itu sedikit membiru.

__ADS_1


"Coba dia lebih waspada, Pa! Rayna nggak akan hilang!"


"Apa maksud kamu? Rayna hilang tidak ada sangkut pautnya dengan Dimas." Kevin yang dulu sempat tidak begitu menyukai Dimas, sekarang membelanya demi menyalahi putranya.


" Keanu bela-belain pergi jauh ,Dimas tahu Keanu mencintai Rayna ! Keanu pergi juga karena menghargai persahabatan Keanu dengan dia! Tapi apa yang dia lakukan?!"


"Aku batalkan perjanjian nya Keanu ." Dimas menyeka ujung bibir, bersuara.


"Jaga ucapanmu, Dimas!" Telunjuk Keanu mengarah pada Dimas. Wajahnya memerah antara marah, tapi juga lelah.


"Dimas memang membatalkan perjanjian kerjasama, Keanu " Wijaya tersenyum menatap Keanu mendekatinya.


Kali ini Keanu terdiam. Namun, wajahnya masih mengisyaratkan kemarahan. Tidak. Sebenarnya lebih mengisyaratkan kelelahannya.


Papa Wijaya dan papa Kevin saling melempar pandang, tersenyum penuh arti. Dimas pun ikut tersenyum, menatap Keanu. Sedangkan Keanu sendiri memilih pergi dari sana. Ia bingung. Kepalanya terlalu pusing untuk memikirkan ucapan mereka.


Batal? Yang benar saja!


🐟🐟🐟🐟🐟


Keanu menatap langit malam. Kini ia berada di danau tempat favorit Rayna dulu. Entah selama ia pergi Rayna masih sering ke danau itu atau tidak.


Keanu duduk di tepi danau. Tempat ia dan Rayna duduk bersebelahan dulu. Ia merindukan gadis itu. Ucapan Dimas dan Papa Wijaya menari di pikirannya. Bagaimana bisa?


"Apa yang kamu lakukan, Rayna ?" Keanu mengusap wajahnya kasar. Dia lelah, tapi matanya tidak nyaman untuk terpejam. Bayangan Istrinya Itu tersenyum di pelupuk matanya.


Keanu merasakan seseorang menepuk pundaknya, dia menoleh. Sosok Dimas tersenyum tipis dan ikut duduk di sebelahnya.


"Maaf, Keanu . Aku memang lalai dalam menjaga Rayna ." Dimas tersenyum, menatap air danau.


Keanu terdiam, rasa jengkel masih tinggal dalam hatinya. Tapi rasa marah sudah pergi entah ke mana. Sejak kalimat yang mengandung inti 'batal' itu terucap, sejak itu pula rasa marahnya lenyap.


" Seharusnya aku tidak lalai dalam amanahmu. aku tetap menjaga Rayna. Setidaknya, sampai kamu pulang dan ..." Dimas tersenyum, merasa tidak kuat untuk melanjutkan ucapannya.


Keanu masih diam.


Dimas menghela nafas, masih tersenyum. "Informasi terakhir, Rayna dikabarkan pergi dengan Bryan ."


Keanu sempurna menghadap pada Dimas. "Apa maksudmu?" Matanya memancarkan amarah yang siap meledak.


"Lanjutkan!" Suara Keanu terdengar sedikit membentak.


"Dari sekian banyak orang itu, ada beberapa pemuda yang berhasil memancing emosiku. Jika kamu yang ada di sana, mungkin beberapa pemuda itu akan tewas di tempat."


"Apa yang mereka katakan? Di mana mereka?!" Keanu mencengkeram kerah kemeja Dimas, matanya menandakan kemarahan yang amat sangat.


Dimas tersenyum, menurunkan tangan Keanu dari kerah kemejanya.


"Tenanglah sebentar. Beberapa pemuda itu masih aku sekap untuk mendapat informasi mengenai Rayna . Mereka tidak mengaku, tapi mereka sempat salah bicara dan itu mengenai Bryan . Kesimpulan kita dapatkan, Rayna pergi dibawa Bryan "


"Br**gs*k!" Tangan Keanu mengepal, dia langsung berdiri. "Bawa aku ke mereka!"


"Untuk apa?"


Belum genap ucapan Dimas terdengar, Keanu langsung memotong, "Untuk apa katamu? Rayna belum ditemukan selama dua hari dan kamu bertanya untuk apa?!"


"Baiklah-baiklah." Dimas berdiri. "Kita datangi mereka."


🦋🦋🦋🦋🦋🦋


Di tempat penyekapan pemuda itu.


"Rumah tua di tengah hutan ****" Laki-laki yang wajahnya sudah membengkak akibat pukulan Keanu itu akhirnya bersuara. Suaranya amat pelan, bahkan nafasnya mulai tidak berhembus. Beberapa temannya di ruangan itu juga bernasib sama.


Bugh!


"Tunjukkan jalannya atau kau akan mati malam ini!" Keanu mencengkeram rahang salah satu lelaki yang masih terlihat setengah sadar itu.


Dia tidak peduli, lebam-lebam di wajah pemuda di depannya tidak terhitung. Bahkan, mungkin ada yang patah dari salah satu tulang si wajahnya.


Pemuda itu mengangguk lemah. Dia yang masih sadar dari beberapa temannya. Entah mereka sudah mati atau kemungkinan baiknya mereka hanya pingsan.


"Berdiri!"


Dimas yang berdiri di pojok ruangan bergidik ngeri, juga beberapa orang berbadan kekar di sebelahnya. Keanu memperlihatkan keahlian bela dirinya yang sesungguhnya. Mengesankan.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di dalam Hutan


Gadis di tengah kegelapan hutan itu kembali mengerjapkan matanya. Suasana gelap serta bunyi jangkrik menemani ketakutannya. Kembali, dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya.


Sakit. Itu yang ia rasakan. Tanpa sadar, lelehan kristal bening jatuh di pelupuk matanya. Dia benar-benar takut. Dari tadi ia ketakutan, berharap akan menutup mata dan ketika membukanya dia menemukan sosok penyelamat.


Isak tangisnya terdengar. Tangannya memeluk lutut. Rasa nyeri di perutnya masih terasa, walau tidak sesakit tadi. Tapi tetap saja sakit.


"Keanu aku takut ..." Dia menutup matanya. Berharap saat kelopak mata itu terbuka, sosok itu berdiri di depannya dengan senyum yang ia rindukan.


Suara lolongan serigala membuat bulu kuduk Rayna tambah meremang. Kemarin tidak ada suara itu, kenapa sekarang harus ada?


"Dingin ..." Bibir itu bergetar kala mengataknnya. Wajahnya benar-benar pucat. Jika ada yang menyentuh kulit gadis itu, bisa langsung menyimpulkan, dia demam. Suhu tubuhnya lumayan tinggi.


"Keanu ... dingin ..." Tubuh yang meringkuk itu terlihat menggigil. Bajunya kotor oleh lumpur. Wajah pucatnya kotor oleh tanah.


" Keanu ... tolong ... takut ..." Matanya tidak berani membuka, terasa panas. Badannya sempurna sakit, tidak bisa digerakkan.


Setelah membereskan Pemuda-pemuda itu Keany dan Dimas mencari Rayna sesuai arahan dari pemuda yang telah dipukuli nya sampai masuk rumah sakit.


Dimas dan Keanu pergi ke dalam hutan, mereka membawa senter sambil meneriakan nama Rayna.


"Rayna! "


"Rayna !"


Tak berapa lama ada 30 menit mencari di daerah yang telah di kasih pemuda yang di bogem nya. Akhirnya Keanu menemukan Rayna.


" Rayna "


Sorot lampu yang entah dari mana membuat mata itu perlahan membuka. Kejadiannya terasa mimpi, sosok itu dengan wajah khawatirnya berada di depan Rayna.


"Kamu nggak pa-pa?" Rayna merasakan pipinya ditepuk. Suara ini, ia rindu sekali. Matanya ia paksa terbuka walaupun sedikit perih, sulit sekali.


Rayna merasakan tubuhnya melayang. Suara ribut berada di sekitarnya, kesadarannya hampir hilang. Namun, telinganya mendengar gumaman dari sosok yang menggendongnya ini.


"Bertahanlah. Aku janji tidak akan membuatmu seperti ini lagi. Aku janji."


Tangan Rayna memeluk tubuhnya. Orang ini berjalan dengan sangat cepat. Angin yang berhembus membuat tubuhnya tambah menggigil. Tapi dia suka. Rindu akan suara itu perlahan tersampaikan, terbayarkan.


Rayna kembali membuka matanya. Wajah itu ... dalam keadaan sedikit gelap dan sedikit berputar-putar, Rayna melihat wajah itu. Dia rindu dengan wajah itu, ingin mendekapnya.


Tangannya perlahan terangkat, ingin memegang wajah sosok yang menggendongnya. Kepalanya pusing sekali, tapi ia memaksakan diri untuk tetap membuat dirinya sadar.


"Kamu yang sabar, ya. Itu mobilnya udah dekat," dia kembali bergumam. Rayna rindu dengan suara itu, dia tersenyum.


Tangannya berhasil menyentuh wajahnya. Pipinya, hidungnya ... itu dia. Rayna rindu sekali dengan sosok itu.


"Keanu ...."


"Iya, aku di sini. Kamu sabar sebentar. Kita masuk mobil dulu."


Rayna merasakan hawa dingin yang berbeda. Baunya juga berbeda, bau AC mobil. Rayna merasakan mobil ini bergerak.


"Kita pulang, ya. Kamu harus kuat. Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi."


" Keanu ..." Rayna kembali ingin menggapai wajah itu. Wajah yang ia rindukan.


"Aku di sini. Aku sama kamu." Keanu mengambil tangan Rayna, mengecupnya. Kemudian Rayna rasakan tubuhnya sedikit menghangat. Keanu memeluknya.


"Keanu ... aku cinta kamu karena Allah."


Tidak ada yang mendengarnya. Suara itu kecil sekali, lirih sekali. Keanu mendekap Rayna lebih erat. Tidak ada yang mendengarnya. Jelas tidak ada. Kecuali Dia. Keanu jelas tidak mendengarnya. Hanya Dia.


Mata Rayna terpejam.


👋🙋Haii readers,


Rayna sudah ditemukan dengan kekuatan ❤😘.


Tinggalkan jejak like dan komwelnya.


🙏💕 Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2