CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 10 Separuh Nyawaku Hilang


__ADS_3

"Kak, biar aku yang menyetir," ucap Alarick mengambil alih setir kemudi. Ia tahu Almero masih syok karena kepergian Marion yang tiba-tiba.


Almero hanya diam dengan tatapan kosong. Namun ia menurut saja pada kata-kata Alarick.


Tanpa membuang waktu, Alarick mengemudikan mobilnya keluar dari gedung kantor Adhiyaksa Group. Sesekali ia melirik Almero dari kaca spion. Kakaknya itu tidak bicara sama sekali, tapi raut wajahnya terlihat begitu pucat, pertanda ia sedang mengalami kedukaan yang mendalam.


"Kak, tabahkan hatimu. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap Alarick berusaha menghibur Almero.


Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit Permata. Almero segera berlari ke kamar jenazah, namun ia tidak menemukan kedua orang tua Marion disana.


"Suster, dimana pasien bernama Marion yang baru meninggal karena kecelakaan?" tanya Alarick mencoba membantu kakaknya.


"Coba tanya saja ke resepsionis, Pak," jawab Suster itu.


Almero yang masih kebingungan, memutuskan untuk menghubungi Tuan Peter.


"Halo, Om, saya sudah sampai di rumah sakit. Dimana Om dan Tante sekarang? Saya ada di kamar jenazah," tanya Almero dengan suara parau. Ia memaksakan diri untuk berbicara meskipun rongga dadanya terasa nyeri.


"Kami ada di depan ruang operasi di lantai empat, Al."


"Ruang operasi? Siapa yang dioperasi, Om?" tanya Almero terkejut.


"Dokter sedang melakukan operasi transplantasi jantung, Al. Sesuai pesan terakhir Marion, dokter memindahkan jantungnya ke tubuh seorang pasien penderita gagal jantung."


Bak tersambar petir, Almero mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. Ia langsung mematikan panggilan itu dan terduduk lemas di kursi.


"Kak, ada apa?" tanya Alarick cemas.


"A-aku...tidak percaya ini. Marion...dia benar-benar mendonorkan jantungnya," ucap Almero terbata-bata. Detik selanjutnya Almero berdiri sambil berpegangan pada bahu Alarick.


"Rick, aku tidak bisa membiarkan ini! Aku tidak mau bagian tubuh Marion diberikan kepada orang lain. Aku tidak rela," ujar Almero menaikkan nada suaranya.


"Tenang dulu, Kak. Bukankah ini keinginan Marion sendiri? Kakak harus ikhlas menerima keputusannya."


"Tidak, aku harus ke lantai empat sekarang juga untuk mencegahnya."

__ADS_1


Almero berjalan cepat menuju ke lift diikuti oleh Alarick. Selama menunggu pintu lift terbuka, Almero terlihat sangat gelisah. Begitu denting lift terdengar, Almero langsung menghambur keluar. Setelah menengok ke kiri dan ke kanan, ia berhasil menemukan keberadaan calon mertuanya.


Dari tempatnya berdiri, Almero melihat Ny. Indira sedang menangis di pelukan Tuan Peter. Tak jauh dari mereka, ada pria dan wanita yang juga menunggu di depan ruang operasi dengan wajah cemas. Bisa dipastikan mereka adalah keluarga pasien yang menerima jantung Marion.


Almero pun bergegas menghampiri kedua orang tua Marion. Sedangkan Alarick menelpon Cleantha, Raja, dan Ivyna untuk memberikan kabar soal kepergian Marion.


"Om, Tante, kenapa mengizinkan mereka mengambil jantung Marion?" seru Almero. Rasa marah, sedih dan putus asa yang bercampur menjadi satu membuatnya tidak mampu berpikir jernih.


"Al, ini juga berat untuk kami, tapi kami tidak mau mengecewakan Marion," jawab Ny. Indira berurai air mata.


"Betul, Al. Kita harus menghormati keinginan terakhir Marion untuk mendonorkan jantungnya," sambung Tuan Peter menimpali perkataan istrinya.


"Mungkin Om dan Tante bisa menerima hal ini, tapi saya tidak. Saya harus menghentikan operasi terhadap Marion sekarang juga."


Almero memandang lampu indikator yang masih menyala. Itu artinya operasi transplantasi jantung masih berlangsung di dalam sana. Tanpa berpikir panjang, Almero bergerak cepat menuju ke pintu ruang operasi. Sekuat tenaga, ia berusaha mendobrak pintu itu.


"Buka, Dokter! Hentikan operasinya!!!" teriak Almero seperti orang gila. Sontak semua yang ada disitu terkejut menyaksikan tindakan nekat Almero.


Melihat kakaknya hilang kendali, Alarick mematikan telponnya lalu berlari untuk menyadarkan Almero.


"Tidak bisa! Aku tidak mau jantung wanita yang aku cintai diberikan kepada orang lain."


Almero terus meronta sehingga Alarick kewalahan. Keributan itu baru terhenti saat dua orang petugas rumah sakit membantu Alarick membawa Almero pergi dari ruang operasi.


Diva dan Tuan Dewa hanya tertegun menyaksikan semua kejadian itu. Perhatian mereka terpecah antara memikirkan kondisi Aura dengan peristiwa tak mengenakkan yang baru saja terjadi di depan mata mereka.


"Kak Dewa, siapa pemuda tadi? Kenapa dia berusaha menghentikan operasi Aura?" tanya Diva prihatin.


"Aku juga tidak tahu. Dari teriakannya tadi, aku rasa dia kekasih Marion. Dia keberatan bila jantung Marion diberikan untuk Aura," jelas Tuan Dewa. Dia mengetahui nama Marion karena sudah berkenalan dengan Tuan Peter dan Ny. Indira.


"Kalau Aura sampai mengetahui hal ini, dia pasti sedih sekali, Kak."


"Kita harus merahasiakannya dari Aura. Jangan sampai dia tertekan pasca operasi nanti."


"Iya, Kak, aku mengerti," jawab Diva seraya mengangguk kecil.

__ADS_1


Sementara di luar, Almero masih berusaha untuk memberontak. Dengan susah payah, Alarick dibantu oleh perawat dan security berhasil membawa masuk Almero ke dalam mobil. Ia segera menyalakan mesin mobil sebelum Almero mengamuk lagi.


"Kak, sebaiknya kita pulang. Kakak harus beristirahat dan menenangkan diri."


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku menghentikan kegilaan itu, Rick? Tubuh Marion akan dibedah sesuka hati oleh mereka," tanya Almero dengan mata memerah.


"Karena operasi itu dilakukan sesuai permintaan Marion. Kalau Kakak benar-benar mencintai Marion, harusnya Kakak menghormati keputusannya," tegas Alarick.


Ucapan Alarick membuat Almero terdiam. Kepergian Marion telah membuatnya kehilangan separuh nyawa. Marion adalah seluruh cinta baginya, ibarat tarikan napas yang menggerakkan seluruh kehidupannya. Kini selepas Marion tiada, hatinya terasa hampa, sangat hampa.


Alarick sangat prihatin melihat kondisi Almero yang begitu terpukul. Ia menaikkan kecepatan mobilnya agar mereka segera sampai di kediaman Adhiyaksa. Ia tahu Almero membutuhkan dukungan dari seluruh anggota keluarganya, agar dia bisa melewati masa sulit ini.


Begitu memasuki gerbang rumahnya, Alarick melihat kedua orang tuanya dan Ivyna telah menanti kedatangan mereka.


"Almero, kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Cleantha memeluk Almero.


"Clea, Ivy, bawa saja Almero ke kamarnya. Aku dan Alarick akan pergi ke rumah sakit untuk membantu Tuan Peter mengurus pemakaman Marion," ucap Raja.


"Iya, Dad."


Ivyna dan Cleantha menggandeng tangan Almero lalu menuntunnya ke lantai dua.


Almero masih membeku, tidak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.


"Mom, aku akan mengambilkan makan malam untuk Almero. Dia pasti belum makan apa-apa," ucap Ivyna setelah membantu Cleantha membaringkan Almero.


"Terima kasih, Ivy." Ivyna menutup pintu kamar adiknya lalu turun ke bawah.


Selepas Ivyna pergi, Cleantha mengelus sayang rambut Almero. Ia sungguh tidak tega melihat putra sulungnya menderita seperti ini.


"Al, istirahatlah dulu. Mommy akan menemanimu."


Memandang wajah teduh ibunya, Almero mendadak bangun. Ia memeluk Cleantha erat-erat sambil menumpahkan kesedihannya.


"Mom, apa rasanya sesakit ini waktu Daddy Alvian meninggalkan Mommy untuk selamanya?" tanya Almero tidak mampu menahan air matanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2