
Ivyna memasangkan tiara kecil di kepala Nadine sebagai sentuhan akhir. Kini penampilan Nadine sebagai pengantin wanita sudah sempurna.
"Selesai, kamu siap menjadi pengantin sekarang," ucap Ivyna tampak puas dengan hasil pekerjaannya.
Nadine menatap dirinya di cermin dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan memegang tangan Ivyna.
"Terima kasih. Jasa Mbak Ivyna sangat besar untukku. Aku dan Edo tidak akan melupakannya."
Ivyna mengernyitkan dahi. Ia sungguh tidak mengerti mengapa Nadine bersikap sentimentil seperti ini.
"Ini memang sudah tugasku sebagai make up artist, Nadine. Semoga pernikahanmu berjalan dengan lancar."
Nadine memeluk Ivyna sebentar lalu minta diantarkan menemui Edo. Saat sejoli itu bertemu kembali, mereka langsung menautkan tangan satu sama lain. Mereka bagaikan pasangan Romeo dan Juliet yang tidak terpisahkan satu sama lain.
Edo bergegas mengeluarkan debit cardnya dan melakukan pelunasan biaya make up dan baju pengantin.
"Mbak, nanti jika ada pria yang mencariku tolong katakan kalau aku sudah pergi jauh," ucap Nadine kepada Ivyna.
"Pria siapa, Nadine? Dan kemana kamu akan pergi?" tanya Ivyna bingung.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Mbak. Maaf, aku harus berangkat sekarang."
Edo menggandeng tangan Nadine dan mengajaknya keluar dari bridal salon milik Ivyna.
Ivyna hanya bisa terpaku menyaksikan Nadine masuk ke dalam mobil. Pernikahan kliennya ini sangat aneh. Tidak ada keluarga maupun sanak saudara yang mendampingi mereka. Bahkan mobil yang mereka naiki tidak terlihat sebagai mobil pengantin. Namun untuk kesekian kalinya Ivyna mengabaikan segala keganjilan ini. Perhatiannya teralihkan oleh kedatangan calon klien yang lain. Setelah mengurusnya, dia akan segera pulang ke rumah untuk makan malam bersama keluarga besar Adhiyaksa.
...***...
Ravella merebahkan diri di atas kasur hotel yang empuk. Senyuman tak kunjung pudar dari bibir tipisnya. Rasa lega yang tak terhingga menyelimuti hati Ravella usai menuntaskan tugasnya. Ya, dia berhasil meyakinkan Pak Surya untuk menggunakan semua produk alat kebersihan dari perusahaannya. Mulai hari ini PT. Cemerlang Clean Equipment telah menjadi partner resmi Adhiyaksa Group. Sungguh tidak ada yang lebih membahagiakan dari kenyataan ini.
Ravella ingin membagikan kabar bahagia ini pada kedua anak kembarnya, Marco dan Mirel. Dengan penuh semangat, Ravella meraih ponselnya dari nakas. Namun belum sempat ia menelpon, Marco lebih dulu menghubunginya.
Suara kecil bernada melengking menyapa Ravella dari seberang telpon.
"Mama ada dimana sekarang?"
"Mama masih di hotel, Marco. Besok jam tujuh pagi Mama pulang ke Bogor. Ada apa, Sayang?" tanya Ravella.
"Aku menelpon karena Mirel merengek terus. Katanya semalam dia bermimpi buruk, Ma. Nih, dia lagi minta peluk Mbak Sari," jelas Marco mengadukan adik perempuannya.
Raut wajah Ravella berubah cemas. Seingatnya Mirel hampir tidak pernah bermimpi buruk selama ini. Apakah mungkin gadis kecil itu ketakutan karena dia tidak ada di rumah?
__ADS_1
"Berikan telponnya pada Mirel. Mama mau bicara dengannya," kata Ravella kepada Marco.
"Mirel, ini Mama," seru Marco dari balik telpon.
Selang beberapa detik, terdengar suara gadis kecil yang sangat disayangi Ravella.
"Halo, Sayang. Mirel sedang takut? Memangnya Mirel mimpi apa semalam?" tanya Ravella khawatir.
"Mirel mimpi bertemu seorang laki-laki dewasa. Orangnya tinggi dan matanya menakutkan. Dia mendekati Mirel dan Kak Marco lalu menggendong kami keluar dari rumah. Mirel berusaha berontak tapi laki-laki itu bilang dia Papa Mirel. Dia akan membawa Mirel jauh dari Mama."
Sontak tangan Ravella gemetar mendengar cerita dari puteri kecilnya. Hampir saja ia menjatuhkan ponsel yang dipegangnya ke lantai. Apakah mimpi Mirel merupakan pertanda buruk bahwa ayah kandung mereka akan segera muncul? Ah, mustahil rasanya bila pria yang menolak mengakui anaknya sendiri mendadak datang untuk mencari mereka. Lagipula pria tidak bertanggung jawab itu tidak akan mengetahui keberadaan mereka.
"Mirel, tenang ya. Itu cuma mimpi, bunga tidur. Mama tidak akan membiarkan orang jahat membawa Mirel pergi. Mama pasti akan memukulnya dan melindungi Mirel dan Kak Marco. Sekarang Mirel jangan takut lagi," bujuk Ravella.
Ravella bisa mendengar hembusan napas pelan Mirel.
"Iya, Ma. Tapi kapan Mama pulang?"
"Besok pagi, Sayang. Mama sudah membeli boneka Unicorn pesanan Mirel."
"Hore, Mirel punya boneka baru."
Meskipun begitu Ravella tidak dapat memungkiri kerisauan hatinya. Jika suatu hari pria bernama Steven itu datang untuk mengambil Marco dan Mirel, lalu apa yang harus dilakukannya? Meskipun di atas kertas mereka adalah anaknya, tapi ia bukanlah ibu kandung Marco dan Mirel. Bila pria itu menuntut hak asuh di pengadilan, sudah pasti ia akan kalah. Apalagi statusnya kini masih sendiri. Wanita yang belum pernah menikah tidak akan dipercaya oleh pihak yang berwenang untuk mengasuh sepasang anak kembar.
"Sudahlah, aku tidak perlu memikirkan ini. Mirel hanya sekedar bermimpi. Lagipula kalau pria brengsek itu berani muncul, aku akan melawannya habis-habisan,"
batin Ravella menenangkan diri sendiri.
...****************...
Malam ini Cleantha dan Raja sangat bahagia karena ketiga anaknya berkumpul di meja makan. Rasanya sudah sangat lama mereka tidak bersama seperti ini sejak Alarick melanjutkan kuliah di luar negri. Namun kini putera kebanggaan mereka telah pulang dengan membawa dua gelar sarjana sekaligus.
Ivyna juga tersenyum senang. Ia duduk di tengah, diapit oleh kedua adik laki-lakinya yang tampan. Ia sedang membutuhkan penyegaran mata sesudah letih mengurusi klien seharian.
"Mom, Dad, aku sekarang bingung harus memilih siapa? Almero atau Alarick?" tanyanya menyeringai.
"Pilih saja aku, Sayang. Aku masih single. Kak Almero sebentar lagi jadi suami Marion," gurau Alarick sambil menyuapkan sepotong apel ke bibir Ivyna.
Almero tertawa melihat kekonyolan adik dan kakaknya itu. Sementara Cleantha dan Raja hanya tersenyum simpul.
Ivyna mencubit pipi Alarick dengan gemas.
__ADS_1
"Tapi kamu masih terlalu muda untukku, tampan."
"Oh, jadi kamu suka pria yang lebih tua, Ivy. Jangan-jangan kamu juga lebih menyukai duda daripada pria single?" tanya Alarick menaikkan kedua alisnya yang tebal.
"Hmmm, mungkin. Duda biasanya lebih matang dan berpengalaman. Kalau pria single rata-rata masih kekanak-kanakan. Aku sering bertemu calon pengantin pria yang sikapnya belum dewasa," jawab Ivyna acuh tak acuh.
Cleantha langsung menegur anak perempuannya itu.
"Ivy, jangan bicara sembarangan. Kata-kata adalah doa."
"Jangan dimarahi, Mom. Mungkin selera Ivyna memang seperti itu," timpal Almero terkekeh.
"Rick, apa benar kamu ingin bekerja di perusahaan lain sebagai staf biasa?" tanya Raja menyela sendau gurau ketiga anaknya.
"Iya, Dad. Mommy dan Kak Almero sudah menyetujuinya. Aku ingin mendapat banyak pengalaman selagi masih muda."
"Berapa lama kamu akan bekerja dan di perusahaan mana?" tanya Raja memastikan.
"Mungkin sekitar satu sampai dua tahun saja. Setelah itu aku akan kembali ke Adhiyaksa Group. Untuk perusahaannya, aku akan memilih di antara beberapa rekan bisnis kita."
"Aku sudah menyiapkan list yang kamu minta, Rick," potong Almero.
"Terima kasih, Kak. Nanti bantu aku memilihnya."
Ivyna menatap wajah Alarick dengan ekspresi serius.
"Tunggu dulu, bagaimana kamu bisa menyamar menjadi karyawan biasa?"
"Aku akan menghilangkan nama belakangku. Dan aku akan minta tolong pada owner perusahaan untuk merahasiakan identitasku sebagai bagian keluarga Adhiyaksa."
"Bukan itu maksudku, Rick. Lihat wajahmu yang tampan dan postur tubuhmu yang seperti model majalah. Apa mereka akan percaya kalau kamu orang biasa?" tanya Ivyna.
"Betul juga. Kenapa aku tidak memikirkannya? Ini perkara yang cukup sulit," balas Alarick tersenyum smirk.
Ivyna memutar bola mata sambil menopang dagunya dengan satu tangan.
"Tidak perlu cemas. Apa kamu lupa siapa kakakmu ini? Aku adalah MUA, make-up artist yang mahir menyulap wajah orang dari biasa saja menjadi mempesona. Sebaliknya aku juga bisa membuat yang wajahnya mempesona menjadi biasa bahkan jelek seperti hantu," ujar Ivyna terkekeh.
**Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan vote**.
__ADS_1