
Dengan kalut, Ivyna segera meraih jubah yang ia letakkan begitu saja di sampingnya. Ia tidak mau kulit putih mulusnya terpampang di hadapan Keano. Namun sialnya jubah itu malah terjatuh di kolam renang.
Keano bergegas memungutnya sebelum jubah tidur itu terhanyut ke tengah air.
"Basah sekali, tidak bisa dipakai," ucap Keano. Ivyna bergeser menjauh ketika pria itu duduk lagi di sebelahnya.
"Jaga jarak minimal satu meter! Tadi kamu memakiku telah melanggar kesepakatan. Sekarang kamu sendiri akan melakukannya!" hardik Ivyna meradang.
"Jadi kamu menaruh dendam padaku?"
Ivyna enggan menjawab pertanyaan Keano. Ia memilih mengurut kakinya lalu bergegas pergi. Ia tidak mau memberikan kesempatan kepada Keano untuk menyakiti hatinya lagi.
"Kenapa kakimu? Sini biar aku lihat," tanya Keano menawarkan bantuan. Keano meraih kaki Ivyna tanpa meminta persetujuannya.
"Jangan pegang-pegang!" protes Ivyna.
"Kakimu lecet, harus diobati."
"Tidak usah pedulikan aku! Kamu bisa pura-pura baik di depan kedua orang tuaku, tapi kamu tidak perlu melakukannya di hadapanku. Karena aku sudah mengenali siapa kamu sebenarnya."
"Lalu menurutmu siapa aku? Apa kamu tahu makanan kesukaanku, apa hobiku, siapa nama lengkap orang tuaku, dan apa nama sekolahku? Kalau kamu bisa menjawabnya, aku menganggapmu benar-benar mengenalku," balas Keano menanggapi kecaman Ivyna.
Ivyna dibuat mati kutu dengan pertanyaan yang dilontarkan Keano. Ia memang belum dan tidak ingin mengetahui data apapun tentang pria gila ini. Toh tidak ada gunanya juga untuknya.
"Tidak bisa menjawab? Makanya jangan mengaku-aku mengenalku."
Sepersekian detik kemudian, Ivyna dibuat terkejut karena Keano mendadak memijat kakinya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Mematahkan kakimu. Tentu saja aku sedang memijat," jawab Keano santai.
"Lain kali jelaskan padaku apa yang terjadi supaya aku tidak salah paham. Eleanor tadi bercerita kalau dia sangat suka melihat acaramu sampai tidak mau pulang," imbuh Keano.
Lagi-lagi Ivyna dibuat tercengang. Pria angkuh, dingin, dan egois ternyata bisa bertutur dengan lembut. Bahkan kini bersedia menyentuh dan memijat kakinya. Dan meski tak ada kata "maaf" yang terselip, namun rangkaian kalimatnya menunjukkan penyesalan. Tunggu dulu, benarkah Keano sungguh menyesal karena sudah membentaknya? Ataukah dia sedang bermimpi saat ini?
"Kamu tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Bagaimana aku bisa menjelaskan? Oh ya, besok aku akan mengajak El ke salon. Aku ingin mencarikan gaun untuk ulang tahunnya. Itu juga kalau kamu mengizinkan," ucap Ivyna masih ketus.
"Kamu boleh mengajaknya setelah dia selesai belajar. Gurunya mengajar sampai jam dua belas siang."
Saat Keano menghentikan pijatannya, Ivyna merasa kehilangan. Tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa nyaman diperlakukan dengan manis oleh pria ini.
"Besok aku akan pulang malam karena ada meeting di luar kota. Jangan keluar sendirian di larut malam apalagi berteriak seperti tadi. Nanti pelayan akan menganggapmu mengalami depresi berat."
Setelah berkata begitu, Keano mengangkat tubuh Ivyna dan menggendongnya masuk ke rumah.
__ADS_1
"Tidak perlu menggendongku. Kakiku hanya lecet sedikit, aku bisa jalan sendiri."
"Badanmu dingin, pertanda kamu sangat kelelahan. Kamu harus tidur sekarang," balas Keano seraya menggendong Ivyna menaiki anak tangga.
Semula Ivyna mengira ia akan dibawa ke kamar Eleanor. Tapi ternyata Keano membawanya ke dalam kamar pribadinya.
"Aku tidak mau tidur denganmu. Jangan mengambil keuntungan dalam situasi ini," ancam Ivyna.
Keano mendudukkan Ivyna di tepi tempat tidur lalu bergerak ke kotak obat. Ia mengambilkan beberapa obat oles dan menyerahkannya ke tangan Ivyna.
"Pilih sendiri dan obati lukamu. Aku tidak mau dianggap mencuri kesempatan. Setelah selesai, kembalilah ke kamar Eleanor."
Ivyna menerima obat itu tanpa banyak bicara.
Saat mengobati lukanya, ia melihat Keano membuka lemari. Pria itu mengeluarkan gaun tidur wanita berwarna hitam lalu meletakkannya di sofa.
"Ganti baju tidurmu supaya tidak kedinginan."
Ivyna mengerutkan dahi. Ia yakin Keano suka berganti-ganti pasangan hingga menyimpan baju wanita di kamarnya. Tentu saja hal itu wajar karena Keano sepertinya telah menduda cukup lama.
"Aku tidak mau memakai pakaian milik wanita yang tidak jelas. Lagipula aku punya yang lebih bagus di kamarku," tolak Ivyna.
"Baju ini milik ibunya Eleanor, bukan milik wanita sembarangan. Tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak memaksa."
"Ibunya Eleanor? Kenapa dia tidak menyebut sebagai istrinya?"
Sebelum meninggalkan kamar, Ivyna tiba-tiba tergerak untuk menanyakan tentang ibu kandung Eleanor. Siapa tahu wanita itu masih hidup. Jika benar demikian, ia akan mencari keberadaan wanita tersebut lalu memohon padanya agar kembali pada Keano. Dengan demikian, ia bisa terbebas dari belenggu pernikahan ini.
"Dimana Ibu kandung Eleanor?" tanya Ivyna memberanikan diri.
Kedua alis Keano melengkung tajam. Raut wajahnya berubah seketika mendengar pertanyaan Ivyna.
"Untuk apa kamu menanyakannya? Kamu tidak perlu mengetahui hal yang bukan urusanmu," tegas Keano.
Jawaban ketus dari mulut Keano membuat Ivyna kembali tersulut emosi.
"Kamu seenaknya menyelidiki tentang aku dan keluargaku. Saat giliranku bertanya sedikit mengenai istri pertamamu, kamu langsung marah-marah. Aku peringatkan sekali lagi, aku punya hak sebagai istrimu untuk menanyakan masa lalumu," hardik Ivyna sambil melotot.
"Baguslah jika kamu sadar posisimu sebagai istri. Tapi perlu aku ingatkan juga seorang istri selain punya hak juga punya kewajiban terhadap suaminya."
"Tapi aku tidak...."
Sebelum Ivyna melanjutkan kalimatnya, Keano sudah membungkam dengan bibirnya. Ivyna berusaha berontak tapi Keano terlampau kuat merengkuhnya. Dan dengan keahliannya, Keano berhasil membuat Ivyna yang semula memberontak jadi terlena dengan permainannya.
Ivyna pun merasakan tubuhnya yang dingin berangsur menghangat. Karena terbawa arus, Ivyna membalas ciuman Keano dan mengalungkan lengannya di leher pria itu. Lidah keduanya bertaut, saling bertukar saliva hingga menghasilkan decapan yang membara.
__ADS_1
Keduanya mulai lupa diri. Terlebih saat tangan Keano merambat di lekukan tubuh Ivyna. Namun ketika suasana makin panas, tiba-tiba Keano menghentikan semuanya. Dengan napas memburu, ia melepaskan Ivyna dari pelukannya.
"Ivy, kembalilah ke kamar Eleanor sekarang. Kalau tidak, jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu di antara kita."
Ivyna buru-buru berlari keluar dari kamar Keano. Dengan wajah bersemu, ia masuk ke kamar Eleanor. Sambil meredakan debar jantungnya yang tak beraturan, Ivyna bersandar pada daun pintu.
"Apa aku sudah gila? Kenapa aku malah ingin diperlakukan lebih oleh Keano?"
pikir Ivyna menutup mulutnya.
...****************...
Almero sedang berbaring di tempat tidurnsambil memandangi foto Marion. Entah mengapa pasca bertemu dengan gadis muda di restoran itu, rasa rindunya kepada Marion semakin bertambah.
Ketika sedang memikirkan Marion, ponsel Almero bergetar.
"Halo, Rick, bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya Almero menyapa adiknya. Ia merasa senang karena Alarick yang menghubunginya.
"Bisa dikatakan baik dan buruk sekaligus, Kak," jawab Alarick.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Almero penasaran.
"Baik karena pekerjaanku lumayan gampang. Tapi buruk karena aku memiliki atasan seorang wanita yang ceroboh dan bermasalah. Tapi sudahlah, Kak, aku akan menceritakannya saat aku pulang ke Jakarta."
"Aku menghubungi Kakak untuk menanyakan soal Ivy. Sejak tadi aku coba menelponnya tapi ponselnya mati. Aku khawatir dengan Ivy. Tiba-tiba saja dia menikah padahal kita belum mengenal siapa suaminya," lanjut Alarick.
Almero menghela napas panjang.
"Aku juga mencemaskan Ivy. Tidak biasanya dia merahasiakan sesuatu dari kita apalagi soal kekasihnya. Aku curiga ada sesuatu yang salah disini."
"Kalau begitu besok Sabtu kita berdua harus bicara dengan Keano Atmaja."
"Rick, tidak ada gunanya kita bicara dengan pria itu. Keano Atmaja sangat sombong dan memiliki reputasi yang negatif di dunia bisnis. Dia diisukan berhubungan dengan dunia mafia. Aku tadi bahkan sempat bersitegang dengannya," jelas Almero.
"Lalu kenapa Daddy dan Mommy menikahkan Ivy dengan pria seperti itu?"
"Karena Ivy terlanjur hamil. Akhir pekan nanti kita temui saja Ivy lalu menanyakan padanya secara langsung apakah dia baik-baik saja."
"Iya, Kak."
"Rick, aku ingin menanyakan pendapatmu. Lebih baik aku menyewa detektif atau mencari cara lain untuk menemukan penerima jantung Marion?" tanya Almero meminta saran adiknya.
"Menurutku Kakak coba saja temui pengurus Yayasan Peduli Jantung. Mereka pasti punya daftar nama pasien yang meminta donor jantung."
"Kamu benar, Rick. Besok aku akan kesana," ujar Almero.
__ADS_1
Bersambung