
Ivyna sangat terkejut dengan tindakan mantan kekasihnya yang di luar batas. Beraninya Randy menyentuh tubuhnya tanpa izin. Jika tidak ingat mereka sedang berada di keramaian, sudah pasti Ivyna akan memaki dan menampar pria itu. Namun ia menahan diri agar tidak memancing perhatian tamu yang lain.
"Singkirkan tanganmu, Randy! Kita tidak punya hubungan apa-apa jadi jangan coba menyentuhku!" tolak Ivyna tajam sembari melepaskan tangan lelaki itu. Ekspresi wajah Randy berubah keruh.
"Kenapa Ivy? Aku hanya ingin melindungimu dari tatapan nakal para pria. Kalau kamu bersamaku, mereka tidak akan mengganggumu."
Ivyna berdecih mendengar kalimat manis yang diucapkan Randy. Sepertinya ia baru saja meniru salah satu kalimat dalam novel. Mungkin bila ia adalah Ivyna sepuluh tahun yang lalu, ia pasti akan luluh dan jatuh ke pelukan pria itu. Namun setelah mengetahui perangai asli Randy, kini ia merasa muak dengan sikap romantisnya.
"Aku bisa menjaga diri sendiri, kamu tidak perlu repot memikirkan aku. Selamat malam."
Ivyna bergegas menuju ke meja lain, meninggalkan Randy yang masih terpaku di tempatnya. Namun sesaat kemudian Randy berjalan mengikuti Ivyna. Dia bertekad tidak akan melepaskan cinta pertamanya itu untuk kedua kali.
Sementara Keano sudah tiba di ballroom. Ia berpapasan dengan Jevan di depan pintu masuk.
"Akhirnya kamu memenuhi undanganku, Tuan Besar. Sesekali kamu harus datang ke acara semacam ini supaya imagemu sebagai pengusaha berdarah dingin bisa terhapuskan. Mereka harus tahu bahwa hatimu sebenarnya seperti teletubbies," seloroh Jevan.
Keano langsung memelototi sepupunya itu. Di antara anggota keluarganya yang munafik, memang hanya Jevan yang akrab dengannya. Jevan juga yang dulu berjasa menguatkannya ketika ia harus kehilangan orang tua di usia muda.
"Aku mau masuk ke dalam, Van."
"Kenapa buru-buru? Tidak sabar bertemu wanitamu? Dia sudah ke dalam tadi."
"Iya, aku akan menyusulnya," ucap Keano.
"Kean, dimana kamu menemukan wanita itu? Dia sangat cantik dan berkelas. Nanti selesai acara perkenalkan aku dengannya," puji Jevan.
"Jangan macam-macam atau aku akan menghajarmu," ancam Keano yang hanya direspon dengan seringai lebar oleh Jevan.
Ivyna sudah mendapatkan kursi kosong di samping pasangan suami istri paruh baya. Ivyna tersenyum kepada pasangan itu lalu duduk dengan anggun. Namun ia dikejutkan kembali dengan kehadiran Randy yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Randy, kenapa kamu mengikutiku?"
__ADS_1
"Karena aku tidak mau jauh darimu. Aku tahu kamu belum menikah sampai sekarang karena kamu masih mencintaiku. Dan sekarang kita bertemu disini tanpa pasangan. Bukankah ini takdir?"
Mata Ivyna langsung menyipit. Randy begitu percaya diri sehingga mengira dirinya masih tersimpan di hati Ivyna. Nampaknya pria ini perlu disadarkan bahwa ia hanyalah bagian dari masa lalu pahit seorang Ivyna Adhiyaksa.
"Takdir? Kamu kesini tanpa pasangan itu karena ulahmu sendiri, bukan karena takdir. Seharusnya kamu ke acara ini bersama Clara dan anak kalian."
"Ivy, aku sudah resmi berpisah dari Clara setahun yang lalu, karena itu aku pulang ke Jakarta."
"Pasti kamu berselingkuh sehingga Clara meminta cerai," sindir Ivyna.
"Tidak, perpisahan adalah jalan terbaik karena aku tidak mencintai Clara. Kamu tahu alasan kenapa aku menikahinya dulu," ucap Randy memegang tangan Ivyna.
"Hentikan, Randy! Aku tidak mau mendengar drama rumah tanggamu dan lepaskan tanganku!"
"Ada apa ini, Tuan? Mengapa Anda memegang tangan istri saya?"
Randy terperanjat karena lengannya ditarik dengan kasar oleh seseorang. Sontak ia menoleh dan bertemu pandang dengan mata tajam seorang pria. Wajah pria itu merah padam seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Siapa yang Anda maksud sebagai istri Anda?" tanyanya tak kenal takut.
"Tentu saja wanita yang Anda pegang tangannya, Ivyna Adhiyaksa. Saya adalah Keano Atmaja, suaminya," tekan Keano dengan intonasi tinggi. Pasangan suami istri di sebelah Ivyna sampai melongo mendengar suaranya.
Randy mengarahkan pandangannya kepada Ivyna, seolah mempertanyakan kebenaran ucapan Keano.
"Ivy, apa benar kamu sudah menikah dengan pria ini?"
Melihat orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan, Ivyna segera beranjak dari kursi. Ia tidak ingin nama keluarga Adhiyaksa menjadi sorotan akibat keributan yang tidak penting. Terlebih Ivyna merasa jengah berada di antara kedua pria egois ini. Yang satu mantan kekasih yang telah berkhianat dengan sahabatnya sendiri, dan satunya lagi suami pura-pura yang berusaha mengendalikan hidupnya sesuka hati.
"Iya, aku sudah menikah. Maaf, aku harus pergi, Tuan-Tuan."
Tanpa menghiraukan Keano maupun Randy, Ivyna berjalan meninggalkan mejanya. Hentakan heelsnya sampai menggema saat beradu dengan lantai granit. Yang diinginkan Ivyna hanyalah segera keluar dari hiruk pikuk pesta yang menyesakkan jiwanya.
__ADS_1
Keano dan Randy kembali bersitatap dengan sorot penuh selidik. Andai mata bisa dipakai sebagai senjata untuk menyerang, maka mereka pasti akan saling melukai satu sama lain.
"Tuan, saya peringatkan, jangan menyentuh istri orang lain jika Anda tidak ingin dipermalukan!" ancam Keano masih berusaha mengontrol emosinya.
"Nama saya Randy Syailendra, Tuan. Saya juga ingin menasehati Anda, jika Anda suami yang baik seharusnya Anda menemani Ivy, bukan malah meninggalkannya sendirian di tengah pesta."
Tangan Keano terasa gatal hendak memberikan pelajaran kepada pria kurang ajar ini. Namun di sisi lain ia harus mengejar Ivyna. Ia tahu Ivyna pergi dalam keadaan marah dan mungkin saja wanita itu akan berbuat nekat.
"Kalau kamu mengganggu istriku lagi, aku pastikan kamu akan menyesal," ujar Keano sebelum melangkah keluar dari ballroom.
Setengah berlari Keano menengok ke kiri dan ke kanan. Ia mencari Ivyna di seluruh sudut lobi tapi istrinya itu tidak terlihat dimanapun. Ponsel Ivyna juga tidak dapat dihubungi. Rasanya mustahil bila Ivyna menghilang secepat itu dari hotel.
Keano pun memutuskan mencari Ivyna di area parkir mobil. Ternyata wanita itu juga tidak ada disana. Sambil berdesis kesal, Keano terpaksa kembali ke dalam hotel.
"Sedang mencari wanitamu? Apa kalian bertengkar?" tanya Jevan menghampiri Keano yang seperti orang kebingungan.
"Iya, aku mencarinya tapi dia tidak ada dimana-mana."
"Coba saja cari di sekitaran hotel. Mungkin dia ke restoran, ke bar atau menginap di salah satu kamar."
...****************...
Ivyna sedang memandangi gelas berwarna merah yang ada di hadapannya. Awalnya ia terlihat ragu-ragu, namun ia sedang membutuhkan minuman ini untuk menenangkan kepalanya yang sangat kacau. Entah apa dosanya di kehidupan lalu sehingga ia selalu sial dalam hal cinta. Dulu Randy sekarang Keano. Kedua pria yang masuk dalam kehidupannya adalah penipu ulung dan sekedar memanfaatkan dirinya untuk keuntungan pribadi.
Tanpa berpikir lagi, Ivyna menenggak minuman itu sampai habis. Ia sedikit mengernyitkan hidung karena ini adalah pengalaman pertamanya mengkonsumsi minuman beralkohol.
"Kenapa harus mengaku sebagai suamiku di depan Randy? Aku membencimu, Keano! Kamu dan Randy sama jahatnya!"
rutuk Ivyna.
Bersambung
__ADS_1