
"Mom...can...tik," ucap Eleanor terpukau dengan kecantikan Ivyna.
"Terima kasih, El," kata Ivyna mengelus surai hitam gadis kecil itu.
Sebelum Ivyna selesai berbicara, pintu kamar Eleanor terbuka dari luar.
Eleanor segera berlari ke pelukan pria yang baru saja masuk itu. Sebaliknya Ivyna malah berjalan ke lemari untuk mengambil tasnya. Ia pura-pura tidak peduli padahal ia tahu benar siapa yang datang. Terlebih aroma parfum pria itu sangat familiar di hidungnya.
"El, kamu sudah makan malam?" tanya Keano lembut.
Eleanor menunjukkan ibu jarinya kepada sang ayah sambil tersenyum.
"Good, El. Sekarang kamu bobok ya ditemani Mbak Dina. Daddy akan pergi sebentar bersama Mommy."
Eleanor menjawab dengan bahasa isyarat sambil mengangguk. Usai mengusap pelan pucuk kepala putrinya, Keano melirik ke arah Ivyna. Wanita itu tampak sibuk sendiri membenahi riasannya, seolah tidak menghiraukan kehadirannya. Padahal Keano menyangka Ivyna akan mengamuk akibat momen panas yang mereka lalui semalam.
Perhatian Keano teralihkan saat melihat penampilan Ivyna yang kelewat berani. Dengan gaun yang menonjolkan kemolekan tubuh ditambah make up yang glamour, tampaknya Ivyna sengaja ingin mengundang perhatian para pria hidung belang.
"El, Daddy pergi sekarang."
Keano mengecup sayang pipi putrinya lalu berdiri untuk menghampiri Ivyna. Ia menarik tangan istrinya itu dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Jangan menarik tanganku!" tanya Ivyna menghempaskan tangannya.
"Kenapa kamu memakai gaun terbuka seperti ini?" tanya Keano dengan ekspresi tidak suka. Ia merasa trauma memiliki istri yang cantik tapi gemar memamerkan tubuh kepada orang lain seperti yang seringkali dilakukan Alexa.
"Apa salahnya dengan gaunku? Bukankah pesta untuk penggalangan dana itu diadakan di hotel?"
"Tapi kamu seharusnya memakai gaun yang lebih tertutup. Apa kamu ingin digoda oleh para lelaki disana?" tanya Keano menunjukkan sifat posesifnya.
Ivyna berdecih sambil menyilangkan tangan.
__ADS_1
"Tuan Keano, apa kamu hidup di zaman batu? Gaun model begini sudah biasa dipakai oleh para wanita di pesta. Kalau kamu memaksaku ganti baju, jangan salahkan aku jika kita terlambat datang," jawab Ivyna santai.
Keano memandang jam yang hampir menunjukkan pukul tujuh. Sebenarnya ia malas hadir di acara basa- basi seperti ini. Namun karena sepupunya, Jevan, menjadi salah satu penyelenggara, ia terpaksa memenuhi undangannya. Lagipula Keano memiliki tujuan lain. Ia mengajak Ivyna karena mengira wanita ini sedang frustasi dan membutuhkan hiburan untuk melepaskan penat.
Dengan menahan kekesalannya, Keano melangkah keluar menuju ke mobilnya. Sedangkan Ivyna menyusul di belakang dengan berjalan lebih lambat. Dalam hati Ivyna merutuki pria labil yang menjadi suaminya ini. Kemarin Keano telah mengambil keuntungan darinya kemudian tanpa dosa mengajaknya pergi secara mendadak. Dan sekarang Keano malah mengomel dan meninggalkannya berjalan seorang diri. Sungguh pria ini sangat keterlaluan!
...****************...
Selama mengemudi, Keano mencuri pandang lewat spion. Ivyna terlihat begitu santai dan memasang earphone di telinganya untuk mendengarkan musik. Tidak ada ekspresi geram, benci, maupun tertekan.
Semula Keano mengira Ivyna akan marah padanya karena telah melanggar perjanjian. Nyatanya wanita itu justru tampak bahagia. Keano menjadi ragu apakah wanita di dalam mobilnya ini adalah Ivyna Adhiyaksa.
Berbagai pertanyaan muncul di benak Keano. Mungkinkah Ivyna lupa dengan semua yang mereka lakukan? Ah, rasanya mustahil karena itu adalah pengalaman pertama bagi sang istri. Apalagi ia telah meninggalkan beberapa jejak di tubuh Ivyna. Atau barangkali wanita sombong ini sudah menyerah kalah dan merelakan diri untuk menjadi istrinya?
Sebaliknya Ivyna masih terus berakting bahwa ia baik-baik saja. Padahal ia mati-matian menahan rasa marah bercampur malu. Berdekatan dengan Keano membuatnya teringat betapa gila kelakuannya semalam bersama pria itu. Tanpa sadar Ivyna sampai menggigit bibirnya sendiri.
"Kenapa menggigit bibirmu sendiri?" tanya Keano tiba-tiba.
"Makanya lepas earphone itu supaya kamu mendengar apa yang aku tanyakan."
"Ya apa yang kamu tanyakan Tuan Keano?" jawab Ivyna menghadap pria itu.
"Aku perhatikan kamu diam saja dari tadi sambil menggigit bibir. Apa kamu jengkel karena sesuatu?" pancing Keano.
"Kenapa aku harus jengkel? Aku justru sangat senang hari ini. Aku hampir menyelesaikan gaun pesanan klienku dan berhasil menelpon seseorang yang sangat penting. Dan sekarang aku akan bersenang-senang menghadiri pesta."
Alis Keano terangkat setengah mendengar ucapan Ivyna yang ambigu. Entah mengapa ia penasaran dengan orang penting yang dimaksud Ivyna. Namun Keano menunda untuk menanyakan itu karena mereka sudah sampai di hotel.
"Turunlah dulu, aku akan mencari parkiran mobil," ucap Keano menyodorkan undangan VIP ke tangan Ivyna.
"Oke, nanti kamu tidak perlu mencariku. Kita duduk di meja yang terpisah saja," balas Ivyna buru-buru keluar dari mobil.
__ADS_1
Ivyna berjalan dengan anggun menuju ke ballroom hotel. Di depan pintu, ia disambut oleh penerima tamu. Salah satunya adalah pria berjas hitam yang tak lain adalah Jevan. Ia terkejut melihat undangan VIP bertuliskan nama Keano yang dibawa oleh Ivyna. Jevan tak menyangka sepupunya yang dingin itu membawa seorang wanita yang super cantik dan menggoda. Ia memang belum mengetahui bahwa Keano telah menikah lagi pasca perceraiannya dengan Alexa.
"Selamat malam, Nona. Apakah Nona pasangan Keano Atmaja?" tanya Jevan memastikan.
"Iya, tapi dia masih ada di parkiran. Boleh aku masuk ke dalam, Tuan?"
"Oh, silakan, Nona."
"Terima kasih," balas Ivyna menyunggingkan senyum hingga membuat Jevan terpesona. Bila tidak ingat wanita ini adalah pasangan Keano, mungkin dia akan segera merayu Ivyna dan membujuknya agar bersedia menjadi kekasihnya.
Sementara itu, Ivyna tengah berjalan untuk mencari meja yang kosong. Ia sengaja tidak duduk di meja khusus para tamu VIP supaya bisa berjauhan dari Keano. Ketika Ivyna sedang melihat-lihat, ia merasakan sentuhan tangan seseorang di bahunya.
"Ivy, kamu ada disini?"
Ivyna menoleh dan bertatapan dengan manik mata coklat seorang pria. Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar karena ia sangat mengenali siapa pria tampan yang berdiri di belakangnya. Pria yang membuatnya tidak percaya lagi pada cinta bahkan tidak berminat sama sekali untuk menikah.
"Randy?" tanya Ivyna tak percaya.
"Aku senang kamu masih mengenaliku setelah hampir sepuluh tahun kita tidak bertemu. Kamu semakin cantik, Ivy."
"Tentu saja aku tidak akan melupakan seseorang yang telah bermain curang di belakangku," jawab Ivyna ketus.
"Kamu masih belum memaafkan aku, Ivy? Aku sudah berpisah dari Clara karena aku sadar bahwa...."
"Cukup, Randy. Tidak usah membahas masa lalu kita karena itu tidak penting lagi untukku. Tolong menyingkirlah, aku mau lewat."
Ivyna hendak berjalan pergi tapi tangan Randy mendadak menahannya.
"Kamu mencari meja yang kosong kan? Duduk saja bersamaku," ucapnya merangkul pinggang Ivyna dari belakang.
BERSAMBUNG
__ADS_1