CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 49 Harus Bertemu Dengannya


__ADS_3

"Tante, hari ini aku tidak bisa pulang cepat. Mungkin aku akan sampai rumah sekitar jam enam sore. Boleh ya, Tante?" rayu Aura memandang Diva dengan tatapan puppy eyes.


Diva tak lantas menjawab. Kendatipun masih mengkhawatirkan kesehatan sang keponakan, tapi Diva tidak tega melarang Aura melakukan kegiatan yang ia sukai. Apalagi Aura baru saja mendapatkan kembali semangat hidupnya.


"Iya, boleh tapi hanya sekali ini. Dan Tante akan membawakan bekal makan untukmu."


"Terima kasih, Tante," ucap Aura memeluk Diva. Sebenarnya Aura tidak ingin diperlakukan sebagai anak kecil. Namun untuk sementara ia harus menurut sampai bisa membuktikan bahwa kesehatannya telah pulih seratus persen.


Mata Aura melebar ketika melihat tantenya menenteng dua buah tas besar.


"Aku harus bawa semua ini, Tante?"


"Tante membawakan dua porsi sekaligus untuk makan siang dan malam. Ada juga jus di dalamnya. Jangan lupa habiskan."


"Iya, Tante, terima kasih," jawab Aura memaksakan senyum. Sesungguhnya dia merasa ngeri membayangkan seluruh makanan itu masuk ke dalam perutnya. Bukannya sehat, mungkin ia justru akan muntah saat wawancara berlangsung.


"Tante, aku pergi ya."


"Semoga pekerjaanmu lancar, Sayang."


Diva melepaskan Aura dengan berat hati. Ia memandangi mobil yang dinaiki Aura hingga keluar dari pagar rumah.


Di dalam mobil, Aura teringat kejadian di toilet bersama Almero. Memikirkannya saja membuat pipinya memanas, apalagi jika harus berhadapan muka lagi dengan pria tersebut. Sayangnya ia tidak mungkin menolak tugas pertama yang diberikan oleh pimpinan redaksi.


"Nanti aku akan pura-pura tidak mengenalnya. Lagipula yang akan melakukan wawancara adalah Mbak Simena. Aku hanya bertugas sebagai asisten. Dia tidak akan memperhatikan aku,"


batin Aura menenangkan diri sendiri.


"Non, mau Bapak tunggu atau ditinggal?" tanya Pak Jarot, supir keluarga Aura.


"Bapak balik saja ke rumah. Nanti saya telpon Bapak kalau saya mau pulang."


"Baik, Non."


Aura berjalan cepat menuju ke kantor Daily Inspiration. Saat masuk ke dalam, ia melihat Simena sudah sibuk dengan laptopnya.


"Akhirnya kamu datang juga. Cepat bantu aku menyelesaikan draft liputan besok. Temanya tentang rumah impian generasi milenial," titah Simena layaknya seorang bos. Ia melirik sekilas penampilan Aura yang menarik. Gadis ini memang berwajah cantik mirip boneka barbie walaupun kulitnya sedikit pucat. Beruntung usia Aura masih belia. Bila tidak, mungkin ia akan tersaingi di hadapan Almero.


Simena segera berdiri lalu meletakkan tumpukan buku dan artikel di meja Aura.


"Kerjakan dengan cepat. Kita harus ke kantor Adhiyaksa jam dua siang."


"Jam dua? Jadwalnya dimajukan, Mbak?" tanya Aura terkejut.


"Tuan Almero mendadak ada pertemuan dengan relasi bisnisnya. Kita yang harus mengalah. Makanya kita harus menyelesaikan pekerjaan sebelum makan siang."

__ADS_1


"Iya, Mbak, saya mengerti."


Menit demi menit berlalu, Aura berusaha keras melakukan tugasnya. Walaupun mengalami kesulitan, ia jarang bertanya karena takut mendapat bentakan dari Simena.


"Aura, lanjutkan saja besok pagi. Kita makan siang lalu berangkat."


"Kris, ayo," ajak Simena pada Krisna yang akan bertugas sebagai fotografer sekaligus driver.


...****************...


"Aura, kamu tidak pesan makanan?" tanya Krisna melihat Aura hanya diam saja di meja kafe.


"Tidak, Kak, saya bawa bekal dari rumah."


"Kalau begitu pesan mocca latte saja. Kopi disini rasanya lumayan enak."


"Saya tidak minum kopi karena pernah mengidap kelainan jantung, Kak," jawab Aura jujur.


Krisna dan Simena saling berpandangan. Mereka nampak terkejut mendengar jawaban yang diberikan Aura.


"Tapi saya sudah sembuh berkat operasi transplantasi jantung," sambung Aura.


"Kamu pernah melakukan transplantasi jantung? Artinya ada orang yang mendonorkan jantungnya untukmu?" tanya Simena mengerutkan dahinya.


Sebelum Aura menjawab, ponsel milik Simena bergetar-getar. Simena langsung mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari Keyla, ibunya.


"Mena, tolong ke rumah sakit Primary sekarang. Papamu tiba-tiba pingsan di kantor dan dilarikan ke rumah sakit."


"Papa pingsan? Kalau begitu aku kesana sekarang, Ma, tunggu aku."


"Ada apa, Mena?" tanya Krisna melihat rekan kerjanya panik.


"Papaku pingsan, Kris. Aku harus ke rumah sakit untuk menemani Mama."


"Lah, lalu bagaimana wawancara kita dengan Tuan Almero?"


"Kamu saja yang menggantikan aku, Kris. Please," pinta Simena.


"Aku??? Mana bisa. Aku ini fotografer, bukan reporter. Aku tidak terbiasa mewawancarai pebisnis terkenal. Bisa-bisa aku mati gaya. Lebih baik kamu telpon Tuan Almero dan minta izin agar wawancaranya diundur," kilah Krisna.


"Aku tidak enak bila membatalkan wawancara begitu saja. Apalagi Tuan Almero sangat sibuk. Mungkin dia tidak akan punya waktu luang lagi untuk meladeni kita. Dan Pak Dika pasti marah bila deadline sampai dimundurkan."


Aura masih bungkam mendengar perbincangan para seniornya. Jika ditanya, ia pun tidak memiliki solusi atas permasalahan ini. Namun Aura terkejut saat Simena dan Krisna tiba-tiba memandangnya secara bersamaan.


"Aura, bagaimana kalau kamu saja yang menggantikan aku? Kamu membantuku mengerjakan draft wawancara, pasti kamu hapal semua pertanyaannya," tunjuk Simena.

__ADS_1


"Jangan, Mbak, saya takut salah. Saya belum pernah melakukan wawancara," tolak Aura. Membayangkan dirinya berhadapan dengan Almero membuat bulu kuduknya meremang.


"Dengar, selalu ada yang pertama dalam setiap hal yang kita lakukan. Kalau kamu ingin menjadi jurnalis yang sukses, kamu harus berlatih dari sekarang. Jadikan ini sebagai kesempatan emas untuk belajar."


"Betul, Aura, nanti kita akan merekam sesi wawancara itu. Jadi semisal ada yang terlewatkan, Simena bisa mengedit laporan yang kamu buat," tambah Krisna meyakinkan Aura.


"Cepat putuskan, Aura!" desak Simena.


Aura merasa serba salah. Sebagian dirinya sangat takut, namun sebagian lagi merasa ingin mencoba pengalaman yang berharga ini. Terlebih Aura tergerak untuk membantu Simena yang tengah ditimpa kesulitan.


"Baik, Mbak, saya akan mencobanya."


...****************...


"Al, sekali lagi aku minta maaf," ucap Simena dari balik telpon.


"Ini bukan salahmu, Mena. Jangan lupa kabari aku dan Mommy mengenai perkembangan kesehatan Om Dimas. Besok kami akan menjenguk Om Dimas di rumah sakit."


"Iya, Al, thank you."


"Oh, ya, siapa tadi nama asistenmu yang akan mewawancarai aku?" tanya Almero sembari mengecek laporan keuangan dari manajernya.


"Namanya Aura. Aura Melivia. Sebentar lagi dia akan sampai di kantormu bersama Krisna, fotografer majalah kami."


Di luar, Aura dan Krisna sudah sampai di kantor Adhiyaksa. Setelah melapor ke bagian resepsionis, mereka langsung diarahkan untuk naik ke lantai sepuluh. Aura tak henti-hentinya mengagumi kemegahan gedung perkantoran Adhiyaksa Group. Namun ketika berada di dalam lift, kegugupan mulai melandanya. Entah mengapa hati Aura berdebar-debar tak karuan seolah hendak menghadapi sidang pengadilan.


"Aura, kamu baik-baik saja?" tanya Krisna melihat gerakan Aura yang gelisah.


"Aku nervous, Kak."


"Tenang saja, aku akan membantumu."


Krisna berjalan lebih dulu menuju ke pintu ruangan CEO. Kedatangan mereka telah ditunggu oleh asisten Almero yang bernama Noval. Krisna pun menyerahkan kartu tanda pengenalnya kepada Noval.


"Selamat siang, Pak, saya Krisna dan ini rekan saya, Aura. Kami dari majalah Daily Inspiration yang akan melakukan wawancara dengan Tuan Almero Adhiyaksa."


"Tuan Almero sudah menunggu di dalam. Mari ikut saya," ujar Noval mempersilakan tamunya.


"Aura, kamu masuk duluan. Aku mau menyiapkan kamera."


Aura mengangguk setuju, namun telapak tangannya terasa begitu dingin.


"Silakan masuk, Nona," ucap Noval membukakan pintu lebar-lebar.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2