
Melihat Keano sudah menjauh darinya, Ivyna buru-buru bangun dari tempat tidur. Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada pria ini untuk melecehkannya lagi. Untuk sementara, ia terpaksa menuruti kemauan Keano. Namun Ivyna berusaha mengulur waktu sambil mencari jalan keluar untuk melarikan diri.
"Sekarang kamu harus ikut ke rumahku. Aku akan memastikan kamu tidak kabur dari acara pernikahan. Besok kita akan menemui ayahmu, Raja Adhiyaksa, agar dia menjadi wali pernikahan kita," ucap Keano menarik Ivyna keluar dari kamar.
"Tolong biarkan aku menginap di salon malam ini. Aku harus menyelesaikan gaun untuk pameran wedding expo besok," tunjuk Ivyna ke gaun pernikahan yang terpajang di ruang kerjanya.
Keano menghentikan langkahnya dan memandang gaun itu. Kemudian ia beralih menatap Ivyna, seolah ingin membandingkan antara keduanya.
"Kamu boleh menyelesaikan pekerjaanmu dengan dua syarat. Pertama pakai gaun itu di pernikahan kita besok. Kedua aku akan menginap disini untuk mengawasimu."
"Aku harus memakai gaun rancanganku yang belum selesai? Dan kamu akan menginap disini?" tanya Ivyna tidak percaya.
"Tepat sekali. Sekarang cepat selesaikan pekerjaanmu."
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Keano duduk di sofa. Ia mengangkat satu kaki sambil melebarkan lengannya di sandaran sofa. Gaya dudukya sangat mirip dengan seorang raja yang sedang menanti dayangnya untuk bekerja.
"Sekarang aku akan mengalah padamu. Tapi lihat saja nanti, aku pasti akan membalas perbuatanmu,"
desis Ivyna.
Ia berusaha tidak mempedulikan kehadiran Keano. Anggap saja pria itu adalah bagian dari makhluk tak kasat mata yang menjaga salonnya. Dengan demikian ia bisa berkonsentrasi penuh pada gaun yang akan dipamerkannya besok di hadapan orang banyak. Namun saat memandang gaun rancangannya, Ivyna tersadar pada satu kenyataan. Gaun ini besok akan menjadi gaun pernikahannya sendiri. Oh tidak, ia harus menghentikan semua kegilaan yang dilakukan Keano.
Dari tempatnya duduk, Keano memperhatikan Ivyna. Wanita itu sangat lincah dan terlihat mahir dalam mengerjakan gaun rancangannya. Helaian rambutnya yang bergelombang sesekali turut berayun ketika ia bergerak kesana kemari. Pemandangan ini sungguh terlalu indah untuk dilewatkan. Ketika ia sedang asyik mengamati Ivyna, tiba-tiba saja wanita itu berpaling kepadanya.
"Tuan," panggil Ivyna mengejutkan Keano.
"A...da apa?"
Ivyna menunjuk ke rak bertingkat di belakang Keano.
"Tolong ambilkan manik-manik di rak paling atas."
"Kamu menyuruhku?" tanya Keano tercengang.
"Iya, memangnya ada orang lain disini? Daripada kamu diam dan tidak melakukan apa-apa lebih baik membantuku," balas Ivyna dengan santai. Ia sengaja mengerjai Keano supaya pria itu kesal padanya. Pria angkuh ini pasti tidak mau diperintah karena ia terbiasa memerintah orang lain.
Sorot mata Keano menggelap, tapi di luar dugaan ia berdiri dan melakukan apa yang diminta Ivyna.
"Ini," ucapnya datar seraya menyerahkan sekotak manik-manik.
Ivyna pun melanjutkan taktiknya untuk membuat Keano tersulut emosi.
"Sekalian ambilkan juga benang warna putih di rak nomer tiga, pinset di laci meja, dan air mineral di lobi. Aku haus sekali karena belum minum dari tadi."
__ADS_1
Dengan pandangan yang menusuk, Keano menatap Ivyna. Seumur hidup, baru kali ini ada wanita yang berani memerintahnya. Jika bukan demi Eleanor, ia tidak akan sudi merendahkan harga dirinya sampai begini. Nampaknya wanita ini sengaja menantangnya. Karena itu, ia akan meladeni dulu kemauan Ivyna sebelum membuatnya bertekuk lutut.
"Rasakan! Aku yakin kamu akan marah lalu keluar dari salonku,"
batin Ivyna merasa puas.
Namun perkiraan Ivyna meleset jauh. Keano ternyata bersedia melaksanakan perintahnya. Ivyna jadi kehabisan akal. Entah harus dengan cara apalagi dia membuat pria gila ini menjauh darinya.
"Ini minumanmu. Ada lagi yang harus aku kerjakan?" tantang Keano.
"Tidak ada."
"Kalau begitu sekarang giliranku memberikan perintah padamu. Selesaikan pekerjaanmu dalam tiga puluh menit."
"Tiga puluh menit? Aku butuh waktu lebih banyak untuk..."
"Aku tidak suka dibantah. Lagipula gaun itu akan kamu pakai sendiri," potong Keano kembali duduk dengan santai.
Keano menyalakan timer di ponselnya lalu menunjukkan kepada Ivyna.
"Lihat aku sudah memasang timer. Jika kamu melewati batas waktu, aku akan mengambil tindakan."
Ivyna menggertakkan giginya menahan kejengkelan. Entah seberapa besar dosanya di masa lalu sehingga ia harus terlibat masalah dengan laki-laki ini.
"Aku akan memperlihatkan padanya kalau tidak ada yang bisa mengatur Ivyna Adhiyaksa,"
Tiga puluh menit kemudian, suara timer dari ponsel Keano berdering nyaring. Namun Ivyna tidak mempedulikannya.
"Waktumu habis," ucap Keano berjalan mendekati Ivyna.
"Aku akan mengingatkanmu, Tuan Keano. Salon dan ruangan ini milikku. Kapanpun aku bekerja, tidak ada yang bisa melarangku apalagi seorang tamu," ucap Ivyna berkacak pinggang. Ia sudah kehilangan kesabarannya.
"Rupanya kamu belum paham juga dimana posisimu."
Tanpa aba-aba, Keano mengangkat tubuh Ivyna dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar. Ia membaringkan tubuh Ivyna di atas kasur lalu mengunci pintu.
"Hey, jangan mengingkari janjimu. Aku sudah setuju menikah denganmu jadi jangan coba menyentuhku," teriak Ivyna.
"Diam! Pikiranmu kotor sekali. Siapa yang berminat menyentuhmu? Sekarang tidur!" perintah Keano. Pria itu merampas ponsel Ivyna kemudian naik ke tempat tidur. Dengan seenaknya, ia berbaring di samping Ivyna seolah-olah mereka adalah pasangan.
Ivyna kehilangan kata-kata. Seandainya bisa, ia ingin terjadi gempa bumi yang bisa membelah tempat tidurnya menjadi dua. Ia benar-benar muak harus tidur bersama dengan Keano.
"Cepat tidur sebelum aku berubah pikiran! Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali," sentak Keano. Kemudian ia membalikkan badan untuk memunggungi Ivyna.
__ADS_1
Ivyna hanya bisa bergeser untuk menjaga jarak dari Keano.
"*A*pa aku harus tidur bersama pria tidak waras ini sepanjang malam?"
pikir Ivyna bergidik ngeri.
...****************...
Setelah menyiapkan bekal sekolah untuk kedua anaknya, Ravella berangkat ke kantor. Hari ini ia harus datang lebih awal untuk menyambut staf baru. Tak ayal lagi bobot tugasnya akan bertambah dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.
"Rajin sekali, Mbak Ravella. Pagi-pagi sudah datang," sapa Pak Danang, security yang bertugas di depan gerbang kantor.
"Iya, Pak, apa ada karyawan yang mencari saya?" tanya Ravella penasaran.
"Belum ada, Mbak. Memangnya ada karyawan baru?"
"Iya, Pak. Namanya Alarick. Nanti tolong interkom saya kalau dia sudah datang."
"Siap, Mbak," jawab Pak Danang menyanggupi.
Ravella bergegas masuk ke lobi kantor lalu menaiki lift yang masih kosong. Dengan cepat, ia sampai ke lantai tiga. Karena datang paling pagi, Ravella mengeluarkan kunci dan membuka ruang kerja divisi marketing.
Seperti rutinitasnya setiap pagi, ia menyalakan komputer lalu mengeluarkan beberapa dokumen yang akan digunakan untuk mengajari Alarick. Tak berselang lama, para staf sudah berdatangan. Mereka menyapa Ravella lalu duduk di meja masing-masing. Sebagian ada yang bersiap-siap untuk melakukan kunjungan ke customer.
Ravella melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan lewat sepuluh menit, namun karyawan bernama Alarick itu belum juga muncul. Security juga tidak kunjung memberikan info, karenanya Ravella memutuskan untuk turun menunggu stafnya itu.
"Nanti aku akan menegur Alarick. Sebagai staf marketing seharusnya dia datang lebih pagi,"
pikir Ravella berdiri di depan lift.
Sambil menunggu, Ravella menerima telpon dari Pak Tian, sang manajer.
"Pagi, Pak."
"Pagi, Vel. Saya izin masuk siang hari ini karena mau mengantar istri saya ke rumah sakit. Tolong kamu handle briefing pagi. Dan jangan lupa bantulah staf baru."
"Baik, Pak."
Begitu pintu lift terbuka, Ravella ingin masuk sambil masih bicara dengan Pak Tian di telpon. Ia tidak sadar bila ada seorang pria yang keluar dari lift. Akibatnya ia membentur tubuh kokoh pria itu dan hampir saja hilang keseimbangan.
"Eh, maaf, Tuan," ucap Ravella spontan. Aroma parfum segar dari pria itu tercium oleh Ravella.
Perlahan Ravella mendongak ke atas. Tubuh pria ini tinggi dan tegap, mirip gambaran pria tampan di komik Jepang. Namun penampilannya cukup aneh. Ia memakai kacamata besar dengan tatatan rambut yang klimis ke samping.
__ADS_1
"Makanya jangan menelpon sambil berjalan, Mbak. Untung saja saya pria baik-baik. Kalau tidak, saya pasti akan mengambil keuntungan," balas pria itu dengan logat daerah yang kental.
BERSAMBUNG