CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 23 Hamil Sungguhan


__ADS_3

Kehadiran Ravella yang tiba-tiba membuat wajah Alarick memerah. Namun ia segera mengatasi rasa terkejutnya dengan balik bertanya.


"Bukannya jam makan siang masih delapan menit lagi, Bu?"


"Delapan menit itu sangat berharga bila dipakai untuk bekerja daripada dibuang percuma untuk mengobrol. Staf marketing harus bisa mengatur waktu dengan efisien. Berangkat lebih awal maka pekerjaan kita akan lebih cepat selesai," jawab Ravella ketus kepada Alarick.


Feri dan Iksan tidak berani berkomentar. Menurut tebakan mereka Ravella tersinggung karena mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alarick.


"Baik, Bu, saya akan mengambil tas kerja saya di atas," jawab Alarick berdiri dari kursinya. Kali ini dia akan mengalah pada Ravella karena telah kepergok bergosip tentang wanita itu.


"Aku tunggu di parkiran," jawab Ravella berjalan mendahului Alarick.


"Semangat, Rick," ujar Feri menyeringai.


"Pasti," jawab Alarick mengacungkan ibu jarinya.


Alarick memilih menaiki tangga supaya lebih cepat sampai di lantai tiga. Ia menyambar tasnya dan langsung turun ke area parkir motor. Sedangkan Ravella sudah menunggu sambil membawa helm di tangannya.


"Ini, helm untukmu. Aku meminjamnya dari security," ujar Ravella menyerahkan helm berwarna hitam.


"Terima kasih, Bu."


Ravella tidak menjawab. Ia bersiap naik ke atas motor namun Alarick menghalanginya.


"Bu, bagaimana kalau saya yang di depan dan Ibu di belakang? Saya seorang pria dan lebih tinggi dari Ibu, lebih baik saya yang mengendarai motor."


"Apa kamu hafal jalan di Bogor? Kamu bukan orang asli sini, kan?"


"Iya, tapi Ibu bisa memberitahu saya arah jalannya."


"Jangan, nanti perjalanan kita terhambat. Lebih baik kamu perhatikan dulu jalur yang aku lewati. Ayo, naik," jawab Ravella tidak ingin dibantah.


"Begini repotnya kalau punya atasan wanita, sensitif dan mudah sekali ngambek,"


pikir Alarick terpaksa menuruti kemauan Ravella.


Mau tak mau, Alarick membonceng di belakang Ravella meskipun itu terkesan aneh. Sebenarnya Ravella juga tidak nyaman karena harus mengantar pria yang posturnya dua kali lipat darinya. Namun bila ia membiarkan Alarick yang mengemudi, bisa jadi mereka malah akan tersesat.


Ravella melajukan motornya dengan kecepatan sedang sehingga membuat Alarick gemas. Perjalanan yang semestinya singkat jadi terasa berjam-jam lamanya. Jika ia yang melajukan motor pastilah mereka akan sampai lebih cepat.


"Itu outlet kita. Kamu turun saja dulu," kata Ravella menunjuk ke sebuah toko bercat hijau.


Ravella memarkirkan motornya sementara Alarick menunggu di depan pintu. Ketika mereka masuk bersamaan, dua orang pegawai outlet yang mengenal Ravella menyapa mereka.


"Mbak Ravella sedang inspeksi mendadak?"


"Bukan, Astrid, aku mau mengantar staf baru untuk mempelajari produk."

__ADS_1


"Halo, saya Alarick," ucap Alarick menyalami mereka.


Kedua gadis muda itu tersenyum malu-malu seraya menatap Alarick. Dari sorot mata mereka tampak bahwa keduanya mengagumi Alarick. Jika dibiarkan terlalu lama, mungkin mereka tidak akan bekerja. Karena itu Ravella segera mengambil tindakan.


"Rick, berkelilinglah untuk melihat produk. Aku akan memeriksa laporan penjualan outlet sebentar."


"Iya, Bu," jawab Alarick pergi menjauh.


Alarick mengamati satu per satu barang yang dijual di toko itu sambil membuat catatan di agendanya. Sementara kedua pegawai wanita itu masih memperhatikannya dari jauh.


"Mbak Ravella, Alarick mirip artis ya," ucap mereka kepada Ravella yang sedang membaca laporan.


"Artis? Mungkin kalian salah lihat," jawab Ravella seadanya.


"Nggak, Mbak. Coba perhatikan wajahnya. Kalau dia lepas kaca mata dan model rambutnya diganti, pasti dia ganteng sekali."


"Lebih baik kalian cari pacar supaya tidak berkhayal terlalu tinggi. Aku mau mengajari Alarick dulu," jawab Ravella meletakkan laporan yang dipegangnya. Ia tidak mengerti mengapa gadis-gadis ini bersikap layaknya penggemar fanatik terhadap bintang idolanya.


...****************...


Ivyna mengikuti Keano memasuki sebuah kamar dengan ornamen serba pink. Ketika melangkahkan kakinya, aroma vanila yang manis tercium oleh hidungnya. Di sekeliling kamar terpajang banyak boneka dan mainan anak perempuan. Suasana kamar yang manis ini mengingatkan Ivyna pada kamarnya sendiri semasa kecil. Jujur, ia tidak menduga ada ruangan yang sedemikian indah di rumah pria dingin seperti Keano.


"El, dimana kamu?" panggil Keano mencari putrinya.


Dina, pengasuh Eleanor, datang tergopoh-gopoh untuk menyambut Keano. Ia keheranan melihat Keano menggandeng Ivyna yang masih mengenakan gaun pengantin.


Tanpa bicara, Keano menarik Ivyna ke balkon untuk menemui Eleanor.


Sejenak Ivyna terkesima kala memandang seorang gadis kecil bergaun biru. Gadis itu tengah duduk di kursi seraya memegang crayon. Di depannya ada buku gambar, pensil, dan penghapus. Nampaknya gadis kecil itu memiliki hobi menggambar. Mungkinkah gadis cantik tersebut adalah putri Keano yang bernama Eleanor?


Gadis kecil itu menoleh lalu berlari menghampiri Keano.


"Dad!" serunya menyelusup ke pelukan Keano.


Keano membungkukkan badan dan membelai lembut rambut Eleanor.


"El, sedang menggambar apa?"


"Birth...day party," jawab Eleanor terbata.


Ivyna tercengang menyaksikan pemandangan ajaib di hadapannya. Siapa sangka Keano Atmaja bisa berubah menjadi penyayang dan lembut saat bersama dengan putrinya. Ternyata pria ini masih memiliki sisi kemanusiaan dalam dirinya.


"Daddy membawa hadiah yang selalu kamu tunggu-tunggu, El. She is your mommy," tunjuk Keano kepada Ivyna.


Eleanor melerai pelukan Keano. Matanya membulat tatkala melihat Ivyna yang berdiri di samping ayahnya. Ibu barunya ini begitu cantik dalam balutan gaun pengantin.


"You...are princess. Are you...my...mommy?" tanyanya kepada Ivyna. Dari jarak dekat, Ivyna bisa melihat alat bantu dengar yang dipakai Eleanor. Ia pun paham jika gadis kecil ini memiliki masalah dengan pendengaran dan perkataannya.

__ADS_1


Pertanyaan Eleanor membuat Ivyna terpaku. Apalagi gadis kecil itu memegang kedua tangannya penuh harap. Entah mengapa perasaannya jadi menghangat karena bertemu Eleanor.


"Yes, I'm your mommy," jawab Ivyna membungkukkan badan seraya mengelus pipi Eleanor.


Kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajah Eleanor. Ia segera memeluk Ivyna dengan erat.


"Mom...disini," ucapnya meminta Ivyna selalu berada di sisinya.


"Yes, I'm with you," balas Ivyna tersenyum.


Dengan senang hati, ia akan selalu bersama dengan Eleanor. Bahkan ia akan tidur setiap malam di kamar gadis kecil ini. Daripada berduaan dengan Keano, ia lebih memilih merawat Eleanor dengan penuh kasih sayang. Dengan begitu, Keano tidak akan punya kesempatan untuk menyentuhnya. Tidak boleh ada malam pengantin di antara mereka.


"El, Mommy Ivyna harus berganti baju. Nanti dia akan ke kamarmu lagi. Sekarang lanjutkan dulu menggambarnya," ucap Keano memisahkan mereka.


Eleanor mengangguk. Dengan ditemani pengasuhnya, gadis kecil itu kembali melakukan kegiatan menggambar dan mewarnai.


Sebaliknya Ivyna merasa gelisah. Ia tidak mau meninggalkan kamar Eleanor barang sedetikpun.


"Ikut ke kamarku untuk ganti baju," titah Keano.


"Aku ganti baju saja disini."


"Baju-bajumu sudah disusun oleh pelayan di dalam kamarku. Bagaimana bisa kamu mengganti baju di kamar Eleanor?"


"Tentu bisa. Aku akan memindahkan bajuku ke kamar ini lalu...."


Enggan mendengarkan protes dari Ivyna, Keano merengkuh pinggang wanita itu dan menggiringnya untuk berpindah ke kamar.


"Kenapa kamu suka sekali memaksakan kehendak?" tanya Ivyna saat Keano mendorongnya ke dalam kamar pribadinya.


"Karena kamu lebih suka dipaksa daripada mematuhi ucapanku. Aku harus selalu memaksamu supaya kamu menjadi wanita yang penurut."


Keano melepaskan jas dan kemejanya tanpa rasa bersalah. Sebaliknya Ivyna melirik pria itu dengan geram. Sambil melepaskan hiasan rambutnya, Ivyna teringat akan fitnah Keano mengenai kehamilannya. Sekaranglah waktunya ia harus meminta penjelasan dari pria ini.


"Kenapa kamu mengarang cerita di depan orang tuaku kalau aku hamil? Ulahmu itu sudah mencoreng nama baikku," seru Ivyna.


"Apa lagi yang kamu cemaskan? Bukankah aku sudah menikahimu?"


"Apa kamu tidak memikirkan dampaknya? Bagaimana kalau orang tuaku sampai tahu bahwa aku tidak hamil? Mereka akan sangat kecewa karena kita telah berbohong."


Keano menaikkan setengah alisnya sambil bersedekap.


"Lalu apa maumu? Kamu ingin hamil sungguhan? Kalau iya, memohonlah padaku. Aku akan mengabulkan keinginanmu malam ini," ucapnya santai.


**Bersambung


Like, comment, vote**

__ADS_1


__ADS_2