CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 53 Bagaimana Cara Membalas Budi (Part 1)


__ADS_3

"Lepaskan saya, Tuan," tolak Aura berusaha menyingkirkan tangan Almero. Jantungnya memompa berkali lipat lebih cepat. Apabila posisi mereka terus begini, mungkin lambat laun ia akan jatuh pingsan.


"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu masuk ke mobilku."


"Tapi, Tuan...."


"Ssshhh, diam! Aku harus mengejar waktu," hardik Almero. Dia bahkan tidak peduli saat beberapa orang karyawan memandang heran kepada Aura. Nampaknya mereka beranggapan bahwa sang CEO telah memiliki kekasih baru yang masih belia.


Almero terus menggiring Aura hingga sampai di tempat parkiran mobil.


"Val, keluarlah dulu," perintah Almero kepada asistennya.


Dengan wajah kebingungan, Noval pun menurut. Ia tidak tahu apa yang direncanakan oleh bosnya dengan membawa serta Aura ke dalam mobil.


"Duduk disini," ucap Almero memaksa Aura duduk bersebelahan dengan Pak Yanto. Kemudian ia mengenakan sabuk pengaman ke tubuh Aura supaya gadis itu tidak bisa kabur.


"Pak Yanto, antar Nona Aura ke Yayasan Peduli Jantung dan tunggu dia sampai selesai. Setelah itu bawa dia kembali ke kantor Adhiyaksa Group."


Pak Yanto melongo mendengar perintah dadakan dari bos besarnya itu.


"Tuan, bukannya kita akan ke hotel Heritage?"


"Tidak jadi, Pak Yanto antarkan saja Aura. Aku dan Noval akan naik mobil yang lain. Berangkat sekarang, Pak."


"Iya, baik, Tuan."


Pak Yanto tidak berani membantah karena melihat ekspresi Almero yang tegas. Ia pun segera melajukan mobilnya keluar dari gedung perkantoran. Sementara itu Noval menatap Almero penuh tanda tanya. Tidak biasanya Almero mengubah rencana tanpa berdiskusi dulu dengannya. Apalagi sampai memasukkan seorang wanita muda ke dalam mobil perusahaan.


Sebelum Noval bertanya, Almero segera memberikan penjelasan.


"Aku menyuruh Aura untuk menemui Bu Feni. Kita berangkat ke hotel dengan mobil pribadiku. Kamu saja yang menyetir, Val."


"Tuan yakin menyuruh Nona Aura?"


"Iya, hanya dia yang cocok untuk tugas itu. Lagipula dia sudah mengetahui tentang Marion. Aku berharap dia tidak akan bertindak sembarangan disana," ucap Almero berjalan menuju mobilnya.


...****************...


Dalam perjalanan, Aura terus berpikir. Entah harus bagaimana ia menghadapi Bu Feni. Ia memang belum pernah bertemu wanita itu, karena selama ini yang berkomunikasi dengan yayasan adalah papa dan tantenya. Meskipun begitu, Bu Feni pasti akan mengetahui identitasnya setelah mereka berbincang-bincang.


"Non, kita sudah sampai. Itu kan yayasannya?" tunjuk Pak Yanto ke bangunan berlantai dua dengan cat biru.


"Iya, Pak."


"Mau saya anterin ke dalam, Non?"


"Tidak usah, Pak, saya bisa sendiri."

__ADS_1


"Baik, Non, saya tunggu disini."


Dengan ragu-ragu, Aura melangkah keluar dari mobil. Kakinya terasa sangat berat, seolah ada rantai yang membelenggunya dengan erat.


"Aku harus melakukan ini supaya tidak dipecat dari majalah,"


batin Aura menumbuhkan semangatnya.


"Selamat sore, Mbak. Saya ingin bertemu Bu Feni," ucap Aura kepada resepsionis wanita yang bertugas di depan.


"Sore, apa Nona sudah membuat janji sebelumnya?"


"Belum. Saya disuruh oleh Tuan Almero Adhiyaksa untuk menemui Bu Feni."


"Siapa nama Nona?" tanya resepsionis itu.


"Aura."


"Bisa saya pinjam kartu identitasnya?"


Aura pun mengeluarkan KTPnya dan menyerahkan kepada resepsionis itu.


"Tunggu sebentar, saya akan memberitahu Ibu Feni."


Resepsionis itu meninggalkan Aura seorang diri di ruang tamu. Sembari menunggu, Aura melihat-lihat beberapa foto yang terpajang rapi di dinding. Disitu terlihat sejumlah kegiatan yang dilakukan yayasan untuk menyemangati para penderita jantung. Dan ada juga foto para pengurus beserta namanya.


Netra Aura langsung tertuju pada foto seorang wanita cantik yang ada di bagian tengah. Ia terkejut saat melihat nama wanita itu.


gumam Aura terkagum-kagum.


Melihat paras Marion, Aura menitikkan air mata. Ada rasa bahagia, sedih sekaligus merasa bersalah. Apalagi saat ia mengingat perkataan Almero yang terlihat sangat kehilangan dan menderita karena ditinggalkan sang calon istri untuk selamanya.


Seharusnya Marion dan Almero kini sudah menikah, namun semuanya hancur karena maut telah memisahkan mereka. Dan kini justru dialah yang mengambil alih jantungnya. Dalam hal ini Aura merasa tidak berhak untuk berbahagia di atas penderitaan Almero.


"Kak Marion, apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi baikmu? Tanpamu, aku pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan aku harus bagaimana terhadap Tuan Almero? Dia sangat sedih setelah kepergianmu,"


gumam Aura mengusap foto mendiang Marion.


"Nona Aura, silakan masuk. Bu Feni menunggu di dalam," ujar resepsionis itu mengagetkan Aura. Gadis muda itu segera mengusap air matanya lalu mengikuti sang resepsionis ke lantai dua. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kaca.


"Silakan masuk, Nona."


"Terima kasih, Mbak."


Ketika Aura masuk, ia melihat seorang wanita seumuran tantenya sedang duduk di kursi. Wanita itu mengembangkan senyum saat menatap Aura.


"Kamu Aura, keponakannya Diva kan? Aku Feni, ketua yayasan sekaligus teman sekolah tantemu," ucap Bu Feni mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Bu Feni teman tante saya?" tanya Aura terkesiap.


"Iya, panggil saja aku Tante Feni. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu tapi kata Diva kamu masih dalam perawatan. Ternyata sekarang kamu sudah sehat dan terlihat cantik," puji Bu Feni.


"Terima kasih, Tante. Semua ini berkat jantung baru yang diberikan Nona Marion."


Bu Feni mengerutkan keningnya.


"Kamu menerima donor jantung dari Marion, tapi kenapa kamu malah kesini untuk mewakili Tuan Almero? Bukankah Tuan Almero justru sedang mencarimu?"


"Tuan Almero belum tahu kalau...saya orang yang dia cari," jawab Aura meremas jemarinya.


Bu Feni terkejut mendengar jawaban Aura, namun sejurus kemudian ia mengulum senyum.


"Kalau begitu kamu harus mengakui identitasmu kepada Tuan Almero. Kasihan dia."


"Dia belum tentu percaya pada saya, Tante."


"Kenapa tidak percaya? Kamu bisa membawa bukti untuknya."


Bu Feni beranjak dari kursinya menuju ke lemari penyimpanan dokumen. Ia mengambil salah satu map berwarna hijau dan menyerahkannya ke tangan Aura.


"Bawa data ini dan perlihatkan kepada Tuan Almero," ucap Bu Feni penuh keyakinan.


...****************...


"Sudah selesai, Non?" tanya Pak Yanto melihat Aura masuk ke mobil.


"Iya, Pak, kita kembali ke kantor."


"Maaf, Non, barusan Tuan Almero menelpon saya untuk mengantar Non Aura ke hotel Heritage."


"Ke hotel? Untuk apa, Pak?" tanya Aura terkejut.


"Tuan bilang Nona akan diajak makan malam. Tuan Almero belum selesai meeting."


Hati Aura berdebar-debar. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat ia mengakui jati dirinya kepada Almero.


Di hotel, Almero berjabat tangan dengan Mr. David lalu mengantarkan pria itu sampai ke lobi hotel. Hari ini dia merasa lega karena berhasil menjalin kerja sama dengan pria berkebangsaan Amerika tersebut.


Pada saat yang bersamaan, Noval melihat mobil Pak Yanto telah tiba di hotel. Ia pun bergegas memberitahu Almero.


"Tuan, Nona Aura sudah datang."


"Kalau begitu kamu kembali saja ke kantor bersama Pak Yanto. Nanti aku akan pulang dengan Aura," jawab Almero berjalan ke depan.


**Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote.


Nantikan double up setiap hari**.


__ADS_2