
Ravella bangun pagi-pagi hari ini karena dia memasak lebih banyak dari biasanya. Selain menyiapkan bekal makan siang untuk anak-anaknya, Ravella juga menyisihkan sebagian untuk Alarick. Ini adalah bentuk dari rasa terima kasihnya atas bantuan Alarick kemarin. Terlebih lelaki itu sampai terserang flu karena menolongnya.
Ravella meletakkan tiga buah kotak makanan di atas meja, kemudian masuk ke kamarnya. Ia sendiri akan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Dari luar terdengar derap sepatu Marco dan Mirel mendekat ke pintu.
"Ma, kami berangkat ya. Mobil jemputannya sudah datang," kata Marco berpamitan.
"Tumben mobilnya datang sepuluh menit lebih awal."
"Sekarang ada tambahan dua anak baru yang ikut jemputan. Jadi Om Yudi datang lebih pagi," jawab Marco.
"Hati-hati ya. Belajar yang rajin. Jangan lupa bawa bekal makanan kalian di meja," ucap Ravella memeluk Marco dan Mirel bergantian.
"Iya, Ma, bye."
Setelah kedua anaknya berangkat sekolah, Ravella berganti baju kerja. Sebelum keluar dari kamar, ia mengambil satu strip vitamin dari kotak obat. Ravella teringat perkataan Mirel bahwa Alarick sedang flu. Jika benar demikian, ia akan memberikan vitamin supaya pria itu segera sembuh.
"Mbak Sari, aku berangkat dulu. Nanti jangan lupa antar Marco dan Mirel membeli peralatan untuk pelajaran seni rupa."
"Iya, Bu."
Ravella bergegas menaiki motornya lalu meluncur ke jalan. Karena jalanan tidak terlalu padat, ia sampai di kantor pukul tujuh lewat lima menit.
Usai memarkirkan motor, Ravella bergegas naik ke lantai tiga. Semula ia mengira akan menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di ruang marketing, nyatanya ia salah menduga. Alarick sudah tiba terlebih dulu. Lelaki itu tampak sehat dan tidak lagi memakai masker seperti kemarin.
"Selamat pagi, Bu," sapa Alarick melihat kedatangan Ravella.
"Rick, jam berapa kamu berangkat?"
"Yang pasti lebih pagi dari Ibu. Saya teringat nasehat dari seseorang bahwa staf marketing harus rajin. Makanya saya termotivasi untuk menjalankan nasehat tersebut," jawab Alarick diplomatis. Ravella merasa perkataan Alarick itu sengaja ditujukan untuk menyindirnya.
"Bagus kalau begitu," jawab Ravella berjalan menuju ke mejanya. Karena belum ada orang lain di ruangan itu, Ravella memutuskan untuk memberikan bekal dan vitamin yang dibawanya. Ravella pun meletakkan kotak makanan tersebut di meja Alarick.
"Apa ini, Bu?" tanya Alarick menaikkan satu alisnya.
"Ucapan terima kasihku. Dan yang ini vitamin untuk menambah daya tahan tubuh. Minumlah supaya kamu cepat sembuh dari flu."
Awalnya Alarick merasa bingung, namun kemudian ia mengerti apa yang dimaksud Ravella. Pastilah anak kembar itu yang melaporkan kepada Ravella perihal alasannya memakai masker.
"Saya sehat-sehat saja, Bu. Tapi terima kasih atas perhatian Ibu. Saya akan menyimpannya untuk makan siang."
__ADS_1
"Hmmm," jawab Ravella kembali ke mejanya. Ia mengambil setumpuk dokumen lalu menyerahkannya kepada Alarick.
"Pelajari ini, Rick. Nanti kita pergi ke Sentul setelah makan siang."
"Baik, Bu."
Ravella pun meninggalkan Alarick dan berkutat dengan pekerjaannya sendiri. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing sampai jam istirahat siang tiba.
...****************...
"Rick, kamu tidak beli makan?" tanya Feri melihat Alarick duduk santai di meja kantin.
"Sudah ada yang membawakan bekal. Jadi aku tidak perlu susah-susah antri seperti kalian," jawab Alarick menyeringai.
Pernyataan Alarick memancing rasa penasaran teman-temannya.
"Hebat sekali kamu, Rick. Baru pindah ke Bogor sudah ada yang naksir. Coba lihat makanan apa yang dibawakan pacarmu," ujar Iksan ingin tahu.
Alarick membuka bekalnya dengan gerakan perlahan untuk membuat temannya makin penasaran. Dan saat penutup itu terbuka seluruhnya, Alarick terkejut melihat nasi yang dicetak dengan bentuk hati.
"Wuiihh, love and love," seloroh Iksan menggoda Alarick.
"Bagi tipsnya, Rick, gimana membuat cewek jatuh cinta. Wajahmu lebih polos dariku tapi kamu bisa menaklukkan hati wanita. Sedangkan aku masih jomblo," keluh Feri berdecih.
Di tengah obrolan mereka, Iksan melihat Ravella membawa nampan sambil mencari meja yang kosong.
"Bu, duduk disini saja, masih bisa satu orang."
Feri dan Iksan segera bergeser untuk memberikan tempat duduk bagi Ravella.
"Terima kasih, Fer," ucap Ravella. Terpaksa ia duduk di sebelah Alarick karena hanya tempat itu yang masih kosong.
Tanpa banyak bicara, Ravella menyantap nasi soto yang dipesannya. Ia memang tidak membawa bekal untuk dirinya sendiri karena lebih mementingkan anak kembarnya.
"Bagaimana rasanya nasi yang dibuat dengan love? Lebih manis atau lebih asin, Rick?" goda Iksan melanjutkan obrolan mereka.
Alarick mengulum senyum tanpa menjawab pertanyaan iseng temannya. Bagaimanapun ia harus menjaga perasaan Ravella karena wanita itu ada di sebelahnya.
Ravella hampir tersedak mendengar candaan Iksan. Spontan, ia melirik ke kotak makan yang dipegang Alarick dan wajahnya memanas seketika. Kini ia tahu apa penyebabnya Feri dan Iksan terus menggoda Alarick.
"Ya ampun, makanan itu seharusnya untuk Marco. Kenapa bisa tertukar dengan punya Alarick? Dia bisa salah sangka padaku,"
__ADS_1
pikir Ravella menahan malu.
Selama ini, ia selalu membuatkan bekal makanan dengan berbagai bentuk yang unik untuk Marco dan Mirel. Tujuannya adalah supaya mereka lebih bersemangat menghabiskan bekalnya. Namun tak disangka Marco salah mengambil kotak yang seharusnya untuk Alarick. Dan lebih sialnya ia mencetak nasi putih itu berbentuk hati.
"Rick, kita berangkat sekarang saja. Aku tunggu di parkiran," ucap Ravella buru-buru pergi. Detik ini juga Ravella ingin bersembunyi dalam lubang bawah tanah lalu tidak muncul lagi ke permukaan.
Iksan dan Feri kembali dibuat keheranan melihat sikap Ravella.
"Kenapa Bu Ravella sekarang terburu-buru begitu?" tanya Feri memicingkan mata.
"Iya, dia selalu memaksa Alarick pergi sebelum jam makan siang selesai."
Alarick mengedikkan bahu sambil menutup kotak makan pemberian Ravella.
"Mungkin karena Bu Ravella sedang mengejar target penjualan. Aku pergi dulu ya," jawab Alarick menyusul Ravella. Sebenarnya Alarick cukup senang mendapatkan kejutan manis dari Ravella. Hanya saja dia tidak berminat menjalin hubungan cinta dengan seorang janda beranak dua.
...****************...
Marco dan Mirel sedang menunggu kedatangan pengasuhnya di gerbang sekolah. Mereka berjanji akan pergi ke toko alat tulis setelah jam belajar usai. Cukup lama mereka sudah berdiri disitu, tapi sang pengasuh tidak muncul juga.
"Kak, kemana sih Mbak Sari? Disini panas," keluh Mirel mengusap dahinya dengan tissue.
"Aku juga tidak tahu," balas Marco sama kesalnya.
Perhatian bocah kembar itu teralihkan saat melihat mobil mewah berhenti tepat di depan mereka. Tak berselang lama, keluarlah seorang pria berjas abu-abu dari dalam mobil. Penampilan pria itu sangat rapi. Wajahnya juga terbilang tampan. Pria dewasa itu berjalan menghampiri Marco dan Mirel dengan mata berbinar.
"Apa nama kalian Marco dan Mirel?" tanya pria itu lembut.
Marco dan Mirel saling pandang dengan tatapan bingung.
"Iya, saya Marco, dan ini adik saya, Mirel. Om siapa? Kenapa bisa tahu nama kami?" tanya Marco bersikap waspada.
Tanpa menjawab pertanyaan Marco, pria itu langsung memeluk kedua anak kembarnya.
"Akhirnya kita bisa bertemu juga," ucapnya meneteskan air mata.
Sontak Marco dan Mirel memberontak dari pelukan pria asing tersebut.
"Jangan peluk-peluk! Om mau menculik kami ya?" seru Marco meronta.
"Bukan, Marco. Aku adalah papa kandung kalian...Steven," jawab Steven tak mampu membendung rasa harunya.
__ADS_1
**Bersambung
Jangan lupa like, coment, dan votenya**.