CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 17 Bersedia Menikah


__ADS_3

Bola mata Ivyna membulat penuh. Ia tidak mengerti apakah pria ini sedang bercanda atau mengigau sehingga mengajaknya untuk menikah. Yang jelas ia tidak boleh ikut-ikutan gila. Ia harus berusaha menyadarkan pria ini dari dunia halusinasinya.


"Aku tidak pernah membantu siapapun untuk kabur dari pernikahannya. Aku bahkan tidak mengenal calon istrimu, Tuan Keano," tolak Ivyna.


"Lalu bagaimana dengan gadis bernama Nadine yang menjadi klienmu? Apa kamu mengenalnya? Dia adalah calon istriku dan kamu telah membantunya kawin lari dengan kekasihnya."


Mata Keano berkilat aneh ketika mengungkapkan rencana pernikahannya dengan Nadine.


"Nadine?" tanya Ivyna tidak percaya.


Ivyna pun teringat percakapan antara Nadine dan Edo. Ketika hendak menikah, mereka pernah menyebut-nyebut nama Keano. Hanya saja waktu itu ia belum mengerti siapa Keano yang mereka maksud. Barulah sekarang ia paham apa yang sebenarnya terjadi. Tahu begini, ia tidak akan menyanggupi permintaan Nadine untuk meriasnya menjadi seorang pengantin. Sungguh sial nasibnya. Gara-gara mendapat klien yang salah, ia harus berurusan dengan orang yang berbahaya seperti Keano.


"Tugasku hanyalah merancang gaun lalu merias Nadine. Itu saja. Aku tidak ada hubungannya dengan pelariannya. Kalau kamu ingin menikah, kamu bisa mencari wanita lain. Di luar sana ada banyak wanita yang bersedia menjadi istrimu. Nanti aku akan meriasnya secara gratis sebagai bentuk permintaan maaf," bujuk Ivyna. Karena ditatap tajam oleh Keano, Ivyna menundukkan kepalanya.


"Kamu benar. Mudah sekali bagiku mendapatkan wanita manapun yang kuinginkan. Tapi sayangnya aku hanya mau kamu yang menjadi istriku."


"Coba pikir, Tuan Keano, kita bahkan tidak saling kenal. Bagaimana mungkin dua orang asing bisa menikah tanpa adanya cinta?" tanya Ivyna coba mengembalikan akal sehat Keano.


"Aku memilihmu bukan karena aku tertarik padamu apalagi mencintaimu. Tapi karena kamu memenuhi kriteria yang kutetapkan," balas Keano dingin.


"Kriteria istri yang baik tidak ada dalam diriku, Tuan. Aku tidak bisa masak, manja, pemarah, tidak menyukai anak-anak, suka bangun siang dan juga hobi berbelanja barang-barang mewah. Aku yakin kamu tidak akan tahan denganku."


Keano mendengus kesal mendengar seribu satu alasan yang dilontarkan Ivyna.


"Sudah selesai bicaranya? Jika kamu berkata begitu, artinya yang terjadi justru sebaliknya."


"Satu lagi, meskipun kamu menikahiku, kamu tidak akan bisa menguasai Adhiyaksa Group karena kedua adikku yang berhak mewarisinya. Aku sendiri tidak mengerti apa-apa soal perusahaan," cerocos Ivyna.


"Aku tidak berminat pada perusahaan keluargamu. Sekarang ikut aku," titah Keano tidak ingin dibantah. Ia menarik Ivyna dan memaksanya keluar dari ruangan itu. Ivyna terus memberontak tapi usahanya sia-sia belaka.

__ADS_1


Dengan frustasi, Ivyna menggigit bibir bawahnya. Lebih baik baginya untuk melajang seumur hidup daripada dinikahi oleh seorang Keano Atmaja. Ia harus berpikir cepat supaya bisa kabur dari pria abnormal ini.


Sebuah gagasan cemerlang mendadak terlintas di benak Ivyna. Gagasan yang akan membuat singa buas ini lari terbirit-birit darinya.


"Tunggu, Tuan. Aku perlu memberitahumu sebuah rahasia besar yang selama ini kupendam. Bahkan keluargaku tidak mengetahuinya."


Keano berhenti seraya memicingkan mata.


"Jangan berdalih untuk membohongiku!" ancam Keano.


"Apa Tuan tidak curiga kenapa aku belum menikah sampai sekarang?"


Keano terdiam sesaat. Memang belum terpikir olehnya kenapa wanita cantik, kaya, dan sukses seperti Ivyna belum menikah. Mungkinkah ia terlalu pemilih atau enggan terikat dengan satu pria saja?


Melihat Keano terpengaruh ucapannya, Ivyna merendahkan suara dan memasang ekspresi serius. Ia yakin setelah mengatakan ini, Keano pasti batal menikahinya.


Dahi Keano berkerut begitu dalam. Tampak jelas bahwa ia sedang menimbang apakah Ivyna mengarang cerita atau mengatakan yang sejujurnya.


"Semoga dia segera pergi meninggalkan aku,"


batin Ivyna senang.


Namun semenit kemudian, Keano justru melakukan tindakan yang tidak terduga. Ia mengangkat tubuh Ivyna dari lantai lalu menggendong wanita itu masuk kembali ke ruang kerjanya.


"Lepaskan aku!!!" Ivyna menendang-nendangkan kakinya karena panik.


"Diam! Jangan cerewet!"


Keano melihat sebuah pintu lagi di ujung ruang kerja Ivyna.

__ADS_1


"Ruangan apa itu?" tanya Keano penasaran.


"Bukan apa-apa, cuma gudang. Tolong pergilah dari sini."


Tidak menghiraukan permohonan Ivyna, Keano mendorong pintu itu dengan kakinya. Ia terlihat senang ketika mengetahui ruangan itu adalah sebuah kamar tidur.


Ivyna langsung merasakan bahaya besar karena Keano menemukan kamar yang biasa dipakainya ketika menginap di salon.


"Kamu tidur disini rupanya."


Keano tersenyum tipis saat merasakan tubuh Ivyna yang gemetaran. Terlebih saat ia membaringkan wanita cantik itu di atas tempat tidur.


"Mau apa kamu? Kuperingatkan jangan bertindak terlalu jauh atau aku akan menuntutmu secara hukum," ucap Ivyna dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa takut? Bukankah katamu tadi tidak menyukai laki-laki? Harusnya kamu tidak merasakan apa-apa saat aku mendekatimu seperti ini."


Keano mendekat ke bibir lembut Ivyna yang dipoles lipstik berwarna nude.


"Aku akan membuktikan sendiri apakah ucapanmu tadi bohong atau jujur. Terpaksa aku akan memajukan malam pengantin kita menjadi hari ini. Lagipula aku sudah bosan mendengar ocehanmu."


Ivyna berusaha mendorong Keano menjauh, tapi pria itu sudah terlebih dulu menciumnya. Ivyna menutup mulutnya rapat-rapat. Air mata mulai terjatuh di sudut bibirnya tatkala ciuman Keano semakin intens. Mungkinkah malam ini dia akan kehilangan mahkotanya di tangan pria berhati iblis ini? Jika itu sampai terjadi maka dia akan hancur berkeping-keping.


Melihat Ivyna menangis, Keano pun menarik diri.


"Aku tidak suka melihat wanita menangis di depanku. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Menikahlah denganku dan ikuti semua perintahku. Jika kamu menolak, aku akan memaksamu menjalani malam pengantin sekarang juga. Dan setelah itu aku juga akan mengusik kehidupan keluargamu, terutama Almero Adhiyaksa."


"Jangan, Tuan. Baiklah, aku setuju untuk menikah denganmu," jawab Ivyna sambil terisak. Dalam kondisi terjepit begini, ia tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Keano.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2