CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 15 Mencoba Hidup Sederhana


__ADS_3

Almero melangkahkan kakinya ke rumah besar keluarga Wiryadi. Berada di rumah ini mengingatkannya kembali kepada Marion. Dahulu setiap kali datang kemari, wajah cantik dan senyuman hangat Marion selalu menyapanya. Namun semuanya tinggal kenangan. Rumah ini sekarang tampak begitu sunyi tanpa kehadiran wanita yang dicintainya itu.


"Tuan Almero, silakan duduk, Tuan dan Nyonya ada di dalam. Saya akan memberitahu mereka," ucap kepala pelayan.


Suasana berkabung sangat terasa di setiap sudut rumah. Sambil menunggu, Almero kembali terkenang masa-masa indahnya bersama Marion di rumah ini. Dahulu di ruang tamu, mereka kerap kali berpegangan tangan sambil berpelukan mesra. Terkadang mereka saling melemparkan candaan konyol satu sama lain. Sungguh nostalgia indah itu tidak akan terlupakan.


"Al, Tante senang kamu datang kesini," sapa Ny. Indira memeluk Almero.


Almero balas memeluk calon ibu mertuanya. Sesaat mereka saling berbagi kesedihan karena terkenang akan kepergian Marion yang tiba-tiba.


"Duduklah, Al. Anggap ini rumahmu sendiri," ucap Tuan Peter.


Ny. Indira memandang Almero dengan tatapan sendu.


"Al, meskipun Marion sudah tiada, jangan sungkan untuk datang kemari. Kami selalu menganggapmu sebagai anak kami sendiri."


"Terima kasih, Tante. Saya juga menganggap Tante dan Om sebagai orang tua saya."


Tuan Peter memegang bahu Almero.


"Kebetulan kamu datang, Al. Lusa kami akan berangkat ke Amsterdam. Kami ingin menenangkan diri disana untuk sementara waktu. Om titipkan perusahaan dan rumah ini kepadamu. Datanglah sesekali ke Paraland jika pekerjaanmu di Adhiyaksa Group tidak terlalu padat."


"Saya pasti akan mengusahakannya, Om," jawab Almero.


Almero menghela napas dalam-dalam sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.


"Om, sebenarnya saya ingin menanyakan tentang pasien yang menerima jantung Marion. Apakah Om mengenal pasien itu atau keluarganya? Saya sempat melihat mereka ada di depan ruang operasi," tanya Almero berharap akan segera mendapat jawaban.


Tuan Peter dan Nyonya Indira saling berpandangan. Melihat kesedihan di mata Almero mereka tidak sampai hati untuk membohonginya. Tapi di sisi lain, mereka sudah berjanji kepada ayahnya Aura untuk merahasiakan identitas Aura dari Almero.


"Penerima jantung Marion adalah seorang gadis muda. Tapi kami tidak tahu siapa namanya."


"Apa Om tidak sempat berkenalan dengan orang tuanya?" tanya Almero.


"Maaf, Al, saat itu kami sangat sedih. Kami tidak terpikir sama sekali untuk berbicara dengan orang lain."

__ADS_1


Jawaban yang diberikan Tuan Peter membuat Almero lemas seketika. Pupus sudah harapannya untuk menemukan gadis itu dalam waktu dekat. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Cara apapun akan dia tempuh demi bisa mendengar detak jantung Marion yang kini ada dalam tubuh gadis itu.


...****************...


Alarick sudah tiba di kamar kost yang disewanya dengan diantar Pak Sam, supir keluarga Adhiyaksa. Pak Sam membantu Alarick untuk menurunkan koper dan barang bawaannya dari bagasi. Mereka langsung disambut oleh seorang wanita bertubuh gempal. Bentuk wajahnya bulat dengan riasan tebal dan bibir yang berwarna kemerahan.


Wanita itu terlihat sumringah saat mendapati mobil mewah terparkir di halaman kostnya. Ditambah lagi ia kedatangan seorang pria muda yang setampan selebritis di layar kaca. Entah mimpi apa dia semalam sehingga mendapat anugerah sebesar ini.


"Siang, Bu," sapa Alarick kepada wanita itu.


Sambil membasahi bibir dengan lidahnya, wanita itu berdecak kagum memandangi Alarick.


"Siang, kamu siapa ya? Artis sinetron, presenter TV, atau model majalah?"


"Bukan, Bu. Perkenalkan saya Alarick dari Jakarta, penyewa kamar kost nomer 110. Saya yang menghubungi Ibu via telpon."


"Ow, kamu yang bernama Alarick?"


"Iya, Bu."


Tante Lina mengambil kunci lalu memutar kenop pintu kamar Alarick.


"Nah, ini kamarmu, Alarick. Ada tempat tidur, lemari pakaian, dan pendingin ruangan. Lalu di dalamnya ada kamar mandi."


Alarick mengedarkan pandang ke sekeliling kamarnya. Kamar ini terlihat sangat sempit. Jauh berbeda bila dibandingkan dengan kamar mewahnya di rumah maupun apartemen yang pernah dihuninya selama kuliah di luar negri. Namun minimal kamar ini cukup layak untuk tempatnya berteduh sepulang kerja. Jika dia sungguh-sungguh ingin menjadi karyawan biasa, maka dia harus berani mencoba hidup sederhana.


Lina menatap Pak Sam sambil tetap menggandeng erat tangan Alarick.


"Apa Bapak ini supirmu?" tanyanya penasaran.


"Iya, Tante."


"Hmmm, kamu pasti dari keluarga kaya. Kalau ada yang kamu butuhkan jangan sungkan memanggil Tante. Rumah Tante ada di sebelah kost yang pagarnya warna kuning. Tante pulang ya."


"Terima kasih, Tante. Tapi bisa tolong lepaskan tangan saya dulu," ucap Alarick memaksakan diri untuk tersenyum.

__ADS_1


"Ough, iya, Tante sampai lupa. Oke selamat istirahat, Alarick. Sampai jumpa besok."


Lina pun melenggang pergi dengan menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Ia menoleh sekali lagi kepada Alarick sambil melemparkan senyum manis. Bukannya senang, Alarick justru bergidik ngeri dibuatnya. Pak Sam juga ikut melongo menyaksikan tingkah wanita gemuk itu.


"Tuan Muda, mau saya bantu menata baju?"


"Tidak usah. Pak Sam kembali saja ke Jakarta. Katakan kepada Mommy dan Daddy kalau aku sudah tiba dengan selamat di kost. Dan jangan lupa kirimkan segera motor pesananku."


"Baik, Tuan Muda. Saya pamit pulang."


Selepas Pak Sam pergi, Alarick mengunci pintu kamarnya. Ia mengeluarkan semua baju-bajunya dari dalam koper lalu menatanya dengan rapi di dalam lemari. Hal ini tidaklah sulit bagi Alarick karena ia sudah terbiasa hidup mandiri.


Ketika melihat gel rambut dan kacamata, Alarick berhenti sejenak. Ia pun bereksperimen dengan tatanan rambut baru yang diajarkan oleh Ivyna. Ia harus mahir melakukannya untuk menunjang penampilannya besok di kantor.


Awalnya Alarick mengalami kesulitan. Ia sampai mengulang tiga kali untuk mengatur ulang gaya rambutnya. Barulah pada percobaan keempat dia berhasil menata rambut sesuai arahan Ivyna.


"Wah, akhirnya aku bisa juga. Sekarang aku akan coba memakai kacamata ini," gumamnya menghadap ke cermin.


Alarick tampak puas dengan hasil yang didapatnya. Besok ia tinggal berakting menjadi laki-laki yang naif dan berasal dari keluarga sederhana. Entah mengapa ia begitu bersemangat untuk melakukan sandiwara ini.


Selesai dengan latihannya, Alarick hendak menelpon Cleantha. Namun seseorang sudah terlebih dulu menghubunginya. Dahi Alarick berkerut dalam saat melihat nama Monica yang muncul di layar ponselnya.


"Halo, Rick. Bagaimana kabarmu sekarang? Kenapa tidak pernah menghubungiku setelah kamu pulang ke Jakarta?" tanya Monica dengan nada manja.


"Kabarku baik, Monica. Kenapa menelponku?"


"Don't be angry like this, Baby. I miss you so much. Aku akan pulang ke Jakarta minggu depan untuk menemuimu. Nanti kamu harus menemaniku dating dan jalan-jalan."


"Aku tidak bisa, Monica. Aku sedang banyak pekerjaan. Lain kali saja kita bicara lagi."


"Tapi, Rick...."


Alarick segera mematikan ponselnya. Ia malas meladeni Monica, wanita manja yang hanya tahu cara menghamburkan uang. Harus diakui Monica memang cantik dan menarik di mata pria. Namun dia tidak tertarik lagi untuk menjalin cinta dengan gadis itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2