CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 57 Apakah Kamu Cemburu


__ADS_3

Di depan cermin, Ravella memaki dirinya sendiri karena sudah terperdaya oleh Alarick. Ia yakin pria itu sedang menertawainya saat ini. Dia memang harus membalas kebaikan Alarick tapi bukan dengan cara menjadi korban pembodohan pria itu.


"Bu, sudah selesai belum?" Terdengar suara Alarick memanggil dari balik pintu.


Ravella bergegas merapikan rambutnya dan keluar dari kamar Mirel. Ia menaikkan dagu dan berusaha bersikap biasa saja. Menjelang jam kerja, ia harus kembali bersikap layaknya atasan kepada bawahan.


"Apa kosmu jauh dari kantor?" tanya Ravella membuka pembicaraan.


"Nanti Ibu lihat saja sendiri," jawab Alarick menuju ke motornya. Selama ini ia sering dibuat penasaran oleh Ravella, maka sekarang gilirannya membuat wanita itu merasakan hal yang sama.


Ravella pun enggan bertanya lagi. Ia memilih untuk mengikuti saja kemana pria itu membawanya. Yang penting mereka tidak sampai terlambat masuk ke kantor.


"Bisa tidak Ibu naik ke atas motor sendiri? Kaki Ibu masih sakit?"


"Bisa, kakiku sudah tidak sakit lagi."


"Bagus kalau begitu. Tadinya saya berpikir untuk menggendong Ibu," seloroh Alarick.


"Mbak Sari, aku berangkat. Tapi aku pasti kembali secepatnya ke rumah ini," ucap Alarick berpamitan kepada Mbak Sari yang mengantar mereka.


"Iya, Tuan, hati-hati."


Ravella melirik ke arah pembantunya yang senyam-senyum sendiri melihat Alarick. Ia heran dengan kepiawaian pria ini dalam tebar pesona, baik kepada anak kecil maupun asisten rumah tangga. Sungguh ia sudah tertipu oleh penampilan Alarick yang seperti kutu buku di awal pertemuan mereka.


"Apa kamu bisa mengendarai motor tanpa kaca mata?" tanya Ravella. Ia mengira Alarick mengalami rabun jauh sehingga harus memakai kaca mata minus.


"Sebenarnya mata saya sangat sehat, bahkan setajam burung elang," gurau Alarick.


"Lalu untuk apa kamu selalu pakai kaca mata di kantor?"


"Untuk menutupi ketampanan saya. Ibu tahu sendiri bagaimana reaksi orang-orang saat memandang saya. Karena itu, saya putuskan untuk menyamarkan kelebihan saya agar tidak membuat gaduh para wanita di kantor," jawab Alarick jujur. Ia merasa tidak perlu menutupi apapun lagi dari Ravella, kecuali identitasnya sebagai putra kedua keluarga Adhiyaksa.


"Isshhh, over percaya diri sekali pria ini,"


batin Ravella berasa ingin muntah. Dalam hati ia mengakui bahwa Alarick memang sangat indah dipandang dari segi manapun. Tapi tidak perlu juga ia menyombongkan diri sampai seperti itu.

__ADS_1


...****************...


"Nah, itu kos saya," tunjuk Alarick ke bangunan putih dengan banyak jendela.


Ravella nampak takjub dengan kos megah di hadapannya. Sudah pasti biaya sewa kos ini cukup mahal untuk ukuran karyawan biasa. Namun anehnya Alarick berani bertempat tinggal disini.


"Ayo masuk, Bu!" ajak Alarick menggandeng tangan Ravella usai memarkirkan motor.


"Aku tunggu di depan pagar saja," tolak Ravella.


"Jangan, Bu. Disini ada banyak pria dari berbagai kalangan. Bagaimana kalau ada yang menculik Ibu? Ibu tunggu saja di depan pintu kamar saya."


Ravella pun mengikuti Alarick dan menunggu pria itu selesai berganti baju. Tepat pada saat itu, Tante Lina, si pemilik kos lewat di kamar Alarick. Ia bermaksud menyambangi Alarick sebelum pria muda itu berangkat ke kantor. Namun yang dilihatnya malah seorang wanita.


Pandangan Tante Lina berubah tak suka kala memandang Ravella yang berwajah cantik dan memiliki tubuh proporsional.


"Kamu siapa ya? Kenapa berada di depan pintu kamar Alarick? Wanita tidak boleh masuk ke kamar pria," tegur Tante Lina.


"Saya rekan kerjanya, Bu. Anda sendiri siapa?" tanya Ravella.


"Di dalam, Tante."


Tak berselang lama, Alarick keluar dengan memakai kemeja biru tua, dasi, dan celana panjang abu-abu. Ia mengubah gaya rambutnya menjadi normal dan tidak memakai kaca mata. Tante Lina sampai melongo melihat kesempurnaan Alarick. Sedikit lagi air liurnya mungkin akan menetes keluar.


Ravella juga ikut tercengang. Ia curiga bahwa Alarick berdandan setampan ini untuk menarik perhatian Bu Jenny, manajer Hotel Akasia yang akan mereka temui siang nanti. Pasalnya mereka akan menawarkan alat pembersih keluaran terbaru kepada wanita bertubuh sintal itu.


"Rick, ya ampun, kamu semalam kemana? Tante sampai khawatir karena kamu tidak pulang ke kos."


"Saya menginap di rumah seseorang, Tante," ujarnya cengar-cengir. Ia tahu bahwa kedua wanita beda usia ini sedang terbius oleh pesonanya. Padahal penampilannya ini belum seberapa. Jika ia memakai jas custom, mobil mewah, sepatu, dan jam tangan bermerk, barangkali mereka akan langsung jatuh pingsan.


"Seseorang itu siapa, Rick?" tanya Tante Lina ingin tahu.


Ravella memilih diam saja. Namun ia terkejut tatkala Alarick tiba-tiba menarik tangannya lalu menggenggamnya dengan erat.


"Perkenalkan Tante, ini calon istri saya, Ravella. Kemarin saya menginap di rumahnya sambil menunggu hujan reda. Mumpung Tante ada, sekalian saya pamit. Saya akan pindah dari kos ini karena akan segera menikah."

__ADS_1


"Hah, menikah?!" tanya Tante Lina kaget. Sementara Ravella jadi salah tingkah karena perlakuan Alarick. Seingatnya pria ini yang memintanya untuk merahasiakan pernikahan mereka. Namun sekarang ia malah memberikan pengumuman ke sembarang orang.


Mata Tante Lina langsung bergerak seperti alat sensor, memindai Ravella dari atas hingga ke bawah.


"Jadi kamu calon istrinya, Alarick? Kenapa tadi bilang rekan kerjanya?"


"Karena calon istri saya ini pemalu. Iya kan Sayang?" tanya Alarick menatap Ravella sambil mengedipkan mata. Ravella tidak menjawab namun wajahnya memanas hingga ke bagian telinga.


"Tante saya berangkat ke kantor dulu ya. Mungkin besok atau lusa saya akan mengosongkan kamar ini."


"Rick, Tante jadi sedih karena tidak bisa melihatmu lagi. Jangan lupa undang Tante ke pernikahan kalian ya," ucap Tante Lina merajuk. Ravella jadi jengah melihat sikap wanita berumur yang kegenitan ini.


"Rick, ayo ke kantor sekarang," ajak Ravella menarik lengan Alarick. Ia tidak tahan melihat Alarick didekati oleh tante girang.


"Iya, Sayang, sabar. Aku tahu kamu selalu ingin berduaan denganku," jawab Alarick dengan wajah tanpa dosa.


Ravella mengatupkan bibirnya. Jika tidak ada Tante Lina, sudah pasti ia akan menginjak kaki Alarick sampai kesakitan.


"Saya harus pergi, Tante, sampai jumpa," ucap Alarick. Ia bergegas mengendarai motornya untuk meninggalkan area kos. Namun ketika mereka akan keluar ke jalan raya, Ravella tiba-tiba memintanya berhenti.


"Rick, berhenti sebentar."


"Ada apa, Bu?" tanya Alarick. Ia menepikan motornya sesuai permintaan Ravella.


"Pakai dulu kaca matamu sebelum ke kantor," tegas Ravella.


"Kenapa harus pakai kaca mata lagi? Saya sudah nyaman begini."


"Seperti katamu tadi, supaya tidak menghebohkan para wanita. Aku tidak mau konsentrasi kerjamu terganggu karena hal sepele. Lagipula kita akan menemui Bu Jenny," tandas Ravella. Ia mengenal bagaimana karakter wanita itu yang genit dan suka memakai rok mini.


Sudut bibir Alarick terangkat ke atas. Ia yakin bukan itu alasan Ravella menyuruhnya memakai kaca mata. Namun karena wanita itu tengah dilanda cemburu.


"Saya mau memakai kaca mata tapi dengan satu syarat. Ibu yang harus memakaikannya," ucapnya melepaskan helm.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2