CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 52 Menjadi Utusanku


__ADS_3

Perkataan Bu Feni membuat Almero dilanda dilema. Di satu sisi, ia ingin sekali melajukan mobilnya secepat kilat menuju Yayasan Peduli Jantung. Namun di sisi lain, ia tidak bisa meninggalkan meeting dengan calon investor. Padahal esok hari yayasan itu tutup dan dia pun tidak bisa kemana-mana karena harus menghadiri pesta ulang tahun anak sambung Ivyna. Selain itu Alarick juga akan pulang ke Jakarta.


"Maaf, Bu, saya harus menghadiri rapat penting. Sampai jam berapa Ibu berada di yayasan?" tanya Almero.


"Saya akan menunggu Anda sampai jam enam, Tuan Almero."


"Baik, saya usahakan kesana setelah meeting selesai. Terima kasih, Bu."


"Sama-sama, Tuan Almero."


Almero menutup panggilannya dengan gelisah. Seandainya bisa, dia ingin menyuruh Noval untuk mewakilinya menemui Mr. David. Tapi itu tidaklah mungkin mengingat Mr. David akan segera kembali ke negara asalnya.


"Val, kira-kira meeting kita akan berlangsung berapa lama?"


"Sekitar dua jam, Tuan. Mungkin setelah itu kita sekalian makan malam bersama."


"Ah, kenapa semua harus begini," desah Almero.


"Ada apa, Tuan?"


"Tadi Bu Feni menelponku. Dia sudah kembali ke Jakarta dan bersedia memberikan data pasien yang menerima jantung Marion."


Noval terdiam sejenak. Ia tahu bosnya ini tengah dilanda kebimbangan, tapi dia sebagai asisten tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus mendampingi Almero untuk menyiapkan dokumen dan mencatat beberapa kesepakatan penting dengan Mr. David.


"Mungkin kita bisa mengutus orang untuk menemui Bu Feni, Tuan."


"Jangan, aku tidak mau urusan pribadiku ditangani orang lain."


Almero masuk ke dalam mobil walaupun pikirannya masih tertuju pada Bu Feni. Sebenarnya ide yang diberikan Noval tidaklah buruk dan bisa menjadi jalan keluar baginya. Tapi masalahnya ia belum menemukan sosok orang yang bisa dipercaya untuk melakukan tugas tersebut.


Ketika mobilnya baru keluar dari area perkantoran Adhiyaksa Group, Almero tiba-tiba teringat pada seseorang.


"Pak Yanto, putar balik," titah Almero kepada supirnya.


Noval yang duduk di samping Pak Yanto tampak bingung dengan perintah yang diberikan oleh Almero.


"Kenapa, Tuan? Apa ada barang Anda yang tertinggal?"


"Tunggu disini, Val. Aku tidak akan lama," ujar Almero buru-buru membuka pintu.

__ADS_1


...****************...


Di dalam ruangan CEO, Aura sedang mengelap meja kerja Almero dengan kain dan cairan pembersih. Sedangkan office boy yang bernama Didin sibuk menyapu lantai dari pecahan cangkir yang berserakan.


"Menurut Mas ini sudah bersih belum ya?" tanya Aura kepada Didin. Ia meminta pendapat office boy itu untuk memastikan pekerjaannya tidak akan mengecewakan Almero.


"Sudah bersih sekali, Non."


"Kalau begitu saya akan mengepel lantai."


"Jangan, Non, biar saya yang mengerjakan. Ini sudah menjadi pekerjaan sehari-hari saya."


"Tapi Mas jadi repot karena kesalahan saya. Sekarang giliran saya membantu untuk mengepel lantai," ujar Aura memaksa.


"Kalau kamu benar-benar ingin membantu, aku punya tugas lain untukmu," potong suara berat seorang pria.


Sontak, Aura dan Didin menoleh bersamaan ke sumber suara itu. Nyali keduanya langsung menciut, saat melihat Almero Adhiyaksa sudah berdiri di hadapan mereka.


"Tuan, maaf, saya belum selesai bersih-bersih," ucap Didin membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa, Din. Keluarlah sebentar, aku ingin bicara dengan Nona Aura."


Sesudah office boy itu pergi, Almero bergegas menutup pintu. Aura merasa was-was karena mereka hanya tinggal berdua saja di dalam ruangan itu.


"Mau apa, Tuan?" tanya Aura saat Almero mendekatinya. Secara refleks, Aura mundur ke belakang sampai hampir menabrak pinggiran meja. Ia heran mengapa Almero kembali padahal tadi pria itu bilang akan pergi.


"Sa...ya sudah...mengelap meja Anda," kata Aura terbata-bata. Berdekatan dengan Almero selalu membuatnya salah tingkah.


"Aku tidak menanyakan tentang meja. Aku cuma ingin memastikan apakah kamu sungguh ingin menebus kesalahanmu?"


"Iya, Tuan. Saya akan mengepel lantai sekarang."


Aura hendak mengambil alat pel yang ditinggalkan Didin, tapi Almero dengan cepat mencekal lengannya.


"Dengarkan aku. Aku tidak memintamu menjadi petugas kebersihan. Tapi aku mau kamu melakukan sesuatu untukku."


"Saya harus melakukan apa, Tuan?" tanya Aura ketakutan.


"Kamu tahu kalau aku sedang mencari pasien wanita yang menerima donor jantung Marion. Sekarang bantu aku menemukan wanita itu. Pergilah ke Yayasan Peduli Jantung bersama supirku Pak Yanto. Temui ketua yayasan yang bernama Bu Feni dan mintalah data pasien itu darinya. Jika Bu Feni bertanya, katakan aku yang menyuruhmu."

__ADS_1


Suara Aura tercekat di tenggorokan. Mana mungkin dia menerima tugas dari Almero sementara pasien itu adalah dirinya sendiri. Akan terlihat sangat ganjil apabila dia nekat menemui Bu Feni.


"Bisa-bisanya kamu melamun saat aku mengajakmu bicara," ucap Almero menjentikkan jarinya.


"Saya tidak bisa pergi kesana, Tuan. Saya akan membersihkan seluruh ruangan ini sebagai permintaan maaf."


Almero berdesis kesal. Waktunya hanya tersisa sedikit, tapi gadis ini malah menolak permintaannya. Tak ada cara lain, ia harus memberikan sedikit ancaman supaya Aura bersedia menjadi utusannya.


Almero pura-pura mengambil ponselnya dan bersiap untuk menelpon.


"Baiklah, kalau kamu menolak pergi ke yayasan, aku akan menelpon pimpinan redaksi Daily Inspiration sekarang. Akan kukatakan padanya kalau kamu mengotori ruang kerjaku dan juga tidak fokus selama proses wawancara."


"Jangan, Tuan, saya mohon," jawab Aura dengan suara bergetar. Ia tidak mau kehilangan pekerjaan yang sudah lama didambakannya hanya karena kecerobohan sesaat.


"Pilihan ada di tanganmu. Bantu aku atau kamu akan dikeluarkan dari majalah Daily Inspiration," tukas Almero. Melihat ekspresi ketakutan Aura, sebenarnya Almero tidak tega. Namun ia terpaksa melakukan ini supaya bisa bertemu wanita yang memiliki jantung Marion.


Aura menggigit bibir bawahnya dengan kencang. Dia bingung keputusan apa yang harus diambilnya. Haruskah ia mengaku saja bahwa dialah wanita yang dicari Almero selama ini. Namun bila dia mengatakan itu, bisa jadi Almero malah akan menganggapnya sebagai seorang pembohong.


"Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu tidak menjawab, aku akan menelpon pimpinan redaksi!"


"I...iya, Tuan, saya bersedia," jawab Aura. Dalam situasi terjepit, ia terpaksa mengambil keputusan yang bertentangan dengan akal sehat.


"Bersedia untuk apa, katakan yang jelas."


"Bersedia menemui ketua yayasan yang bernama Bu Feni."


"Bagus, kamu harus mendapatkan nama, usia, alamat rumah dan nomer ponsel pasien itu atau paling tidak salah satu anggota keluarganya. Lalu pulanglah bersama Pak Yanto dan tunggu aku di ruangan ini. Mengerti?"


"Saya mengerti."


"Ikut aku sekarang!" ucap Almero keluar lebih dulu dari ruangannya. Aura mengikuti pria itu dari belakang. Ia sengaja berjalan lambat sambil memikirkan bagaimana caranya supaya bisa melarikan diri.


"Lambat sekali jalanmu seperti siput," tegur Almero kesal. Gadis ini selalu saja menguji tingkat kesabarannya.


Almero pun berbalik dan menarik kuat tangan Aura. Tindakan Almero membuat Aura terkejut setengah mati, apalagi saat tangan Almero sudah melingkar di pinggangnya.


"Sepertinya aku harus mengajarimu cara berjalan yang benar, gadis kecil," ucap Almero.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2