
"Saya hanya ingin tahu siapa namanya dan di kamar mana dia dirawat. Apa itu saja tidak bisa?" tegas Almero mulai meradang.
"Maaf, Pak, kami tidak bisa memberikan data pasien. Lagipula pasien tersebut sudah berpindah rumah sakit."
Almero membelalakkan matanya mendengar informasi dari petugas tersebut.
"Pindah ke rumah sakit mana?"
"Mohon maaf sekali lagi, Pak, kami...."
"Cukup! Saya tidak mau mendengar permintaan maaf lagi. Kalau begitu saya ingin bertemu dengan dokter yang melakukan operasi transplantasi jantung kemarin malam. Siapa nama dokternya?"
"Dokter Hermawan, Pak. Tapi Beliau hari ini tidak ada jadwal praktek. Jadwal Beliau adalah besok pukul lima sore."
"Mbak sengaja menghalangi saya mencari pasien itu?" tanya Almero geram.
Melihat Almero mulai hilang kendali, Alarick memegang bahu kakaknya itu.
"Sabar, Kak, tidak ada gunanya kita terus memaksa. Lebih baik kita pulang ke rumah. Kakak bisa menanyakan identitas pasien itu kepada Tuan Peter dan Ny. Indira. Mereka pasti mengenal keluarga pasien."
"Iya, kamu benar, Rick. Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu sebelumnya," jawab Almero menghela napas.
"Ayo, Kak, kita pulang."
Almero mengikuti Alarick ke mobil sambil berpikir. Tidak mungkin ia bertanya sekarang pada calon mertuanya yang tengah dirundung duka. Itu artinya dia harus menunggu sampai besok untuk mengetahui siapa orang yang telah menerima jantung kekasihnya.
"Aku tidak akan menyerah sampai aku menemukannya. Aku harus memastikan orang itu layak mendapatkan jantung Marion,"
batin Almero mengepalkan tangannya.
...****************...
Dua orang pria duduk berhadapan di sebuah kafe bergaya vintage. Salah seorang pria yang berkumis tebal menyerahkan sebuah dokumen kepada pria yang lain.
"Tuan Steven, maaf saya terlambat melaporkan hasil penyelidikan saya. Itu karena saya harus pergi ke beberapa tempat untuk mencari keberadaan Nona Raisa."
"Apa Anda berhasil bertemu dengan Raisa dan anak saya?" tanya Steven mencodongkan badannya ke depan.
"Tuan, sebenarnya Nona Raisa sudah meninggal dunia tujuh tahun yang lalu."
__ADS_1
Wajah Steven berubah pucat mendengar kabar mengejutkan ini. Dia tidak menyangka wanita yang pernah menjadi tambatan hatinya telah tiada.
Steven mencengkeram dokumen di tangannya.
"Meninggal? Lalu bagaimana dengan anak saya?"
"Nona Raisa meninggal setelah melahirkan bayi kembarnya, Tuan. Tapi kedua anaknya selamat."
"Jadi aku punya anak kembar?" gumam Steven dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa nama anak-anak saya? Dimana mereka sekarang dan siapa yang mengasuhnya?" tanya Steven beruntun.
"Anak kembar Tuan bernama Marco dan Mirelia. Mereka diasuh oleh adiknya Nona Raisa, namanya Ravella. Fotonya ada di dalam, Tuan."
Dengan tangan gemetar, Steven membuka map berwarna biru itu. Ia tertegun saat melihat wanita yang ada di foto tersebut. Ya, tidak salah lagi, wanita ini adalah wanita muda yang pernah dilihatnya di kantor Adhiyaksa Group tempo hari. Ternyata kemiripan paras wanita itu dengan Raisa dikarenakan mereka adalah kakak beradik. Andai saja saat itu ia mengetahui kebenarannya lebih awal, maka ia akan meminta kepada Ravella agar dipertemukan dengan anak-anaknya.
Steven pun segera membuka data tentang Ravella. Gadis itu bekerja sebagai supervisor marketing di sebuah perusahaan alat kebersihan di Bogor. Steven menelusuri lebih lanjut untuk mencari alamat rumah Ravella, tapi ia tidak menemukannya di dalam dokumen.
"Tuan Gani, kenapa tidak ada alamat rumah Ravella dan foto anak kembar saya disini?"
"Maaf, Tuan, saya butuh waktu tambahan untuk menemukan alamat rumah dan alamat sekolah anak-anak Anda. Beri saya waktu satu minggu lagi untuk menyelidiki kehidupan sehari-hari Nona Ravella."
Steven berdesah kesal karena informasi yang didapatnya belum lengkap. Tapi ia juga tidak bisa memarahi detektif ini karena waktu yang diberikannya terbilang singkat.
"Pasti, Tuan Steven."
Steven dan detektif itu berjabat tangan sebelum mereka berpisah. Sesudah mengakhiri pertemuan tersebut, Steven langsung menelpon ibunya untuk memberitahukan mengenai kedua anak kembarnya.
"Ma, Tuan Gani sudah berhasil menemukan anakku. Aku punya anak kembar, laki-laki dan perempuan. Namanya Marco dan Mirelia."
"Mama punya cucu kembar?"
"Iya, Ma. Aku sangat bahagia," ucap Steven tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya.
"Kalau begitu tunggu apalagi, Steven. Kita jemput mereka sekarang."
"Tidak bisa, Ma. Tuan Gani belum menemukan alamat rumah Ravella. Dia adalah adik Raisa yang mengasuh dan merawat anak-anakku selama ini."
Terdengar Ny. Tantri mendengus kesal.
__ADS_1
"Lambat sekali detektifmu itu. Paksa dia supaya bekerja lebih cepat atau kita ganti saja dengan orang lain."
"Tuan Gani berjanji akan memberikan kabar minggu depan. Kita tunggu saja," ucap Steven menenangkan ibunya.
...****************...
Almero termenung sendirian di kamar sambil memandangi foto Marion. Sejak pulang dari rumah sakit, ia lebih memilih untuk mengurung diri di kamar. Pasalnya, ia sedang enggan berbicara dengan siapapun
Almero mengambil contoh undangan pernikahannya dari dalam laci. Di dalam undangan berwarna keemasan itu tertera namanya dan nama Marion yang akan melaksanakan akad nikah. Membaca huruf demi huruf pada undangan itu membuat hati Almero tercabik-cabik. Kini impiannya akan pernikahan yang indah telah kandas karena Marion tidak ada lagi di sisinya.
Almero tersentak ketika mendengar suara ketukan di pintu. Sambil menghapus air matanya, ia menyimpan undangan itu di laci meja lalu bergegas membuka pintu. Ia melihat Ivyna dan Alarick sudah berdiri menantinya.
"Al, boleh kami masuk?" tanya Ivyna sedikit ragu-ragu.
"Tentu saja, masuklah."
Ivyna dan Alarick duduk di samping tempat tidur Almero. Mereka sangat ingin meringankan beban kesedihan saudaranya ini.
"Kak, aku akan menunda kepergianku ke Bogor. Sementara ini aku akan membantumu bekerja di kantor," ucap Alarick.
"Aku juga akan membatalkan partisipasiku di acara wedding expo. Aku dan Alarick akan mengajakmu berlibur ke villa kita di Bogor. Nanti disana kita bisa berkuda, memanah, dan berenang sepuasnya seperti saat kita masih kecil. Bagaimana? Kamu setuju, Al?" sambung Ivyna seraya memegang tangan Almero yang terasa dingin.
Almero meletakkan foto Marion lalu menatap sendu Alarick dan Ivyna secara bergantian.
"Terima kasih, kalian sangat peduli padaku. Tapi aku tidak ingin rencana kalian gagal karena aku. Ivy, Rick, tetap lakukan kegiatan kalian sesuai rencana. Jangan khawatirkan aku. Sesedih apapun aku sekarang, aku tidak akan gelap mata. Aku juga tidak akan menelantarkan pekerjaan di Adhiyaksa Group," ucap Almero meyakinkan kedua saudaranya.
"Rick, berangkatlah ke Bogor dan raihlah cita-citamu. Ivy, acara wedding expo itu sudah lama kamu tunggu-tunggu. Ikutlah dan tunjukkan hasil karyamu kepada orang banyak."
Ivyna tidak dapat membendung air matanya mendengar ucapan Almero. Mereka bertiga pun berpelukan dalam kasih sayang persaudaraan yang kuat. Dalam hati masing-masing, mereka berjanji akan saling mendukung dan menyayangi dalam keadaan apapun.
"Rick, bukankah kamu akan melakukan penyamaran? Kamu harus bersiap mulai sekarang. Lusa kamu sudah berangkat," ucap Almero mengingatkan adiknya.
Alarick mengangkat bahu sambil menyeringai ke arah Ivyna.
"Oh iya, aku harus minta tolong pada ahli make up yang tercantik di kota ini. Ivy, kamu harus mencari cara untuk menutupi ketampananku," seloroh Alarick.
"Ah, itu mudah sekali. Aku sudah menyiapkan semuanya. Tunggu disini, Rick, dan lihat bagaimana aku mengubahmu dengan cara yang sederhana," ucap Ivyna penuh percaya diri.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, dan komennya.
Terima kasih