CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 51 Bagian Dari Dirinya


__ADS_3

Almero keheranan karena Aura hanya bengong saja setelah mendengar jawabannya. Tak diragukan lagi gadis ini masih sangat hijau dalam hal melakukan wawancara.


"Untung saja gadis ini bertemu denganku, kalau orang lain sudah pasti akan memarahinya,"


pikir Almero.


Dia pun berdehem untuk menyadarkan Aura dari lamunan.


"Ehemmm, Nona apa pertanyaannya sudah selesai? Jika iya, saya akan mengerjakan yang lain."


"Belum, masih ada pertanyaan lain."


Aura berusaha menyudahi rasa gugupnya. Belum tentu juga Marion yang disebutkan Almero adalah Marion yang sama. Dan bila ternyata benar, toh hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa padanya.


"Seperti apa kriteria pasangan hidup yang Anda cari?" tanya Aura ragu-ragu.


"Apa? Bisa diulang pertanyaannya, Nona Aura?" tanya Almero pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu.


"Kriteria pasangan hidup Anda, Al," ulang Aura. Dari tatapan tajam Almero, dia tahu pria ini sedang mengingatkan kesalahannya yang tidak menyebutkan nama.


"Oh, yang itu. Bagi saya yang penting dia bisa menjadi penyemangat saya di saat lelah dan membuat saya tersenyum jika berada di dekatnya. Intinya saya memilih pasangan hidup berdasarkan hati, bukan pada kriteria yang ditentukan secara spesifik," ucap Almero mencodongkan bahunya ke depan.


"Apa prioritas utama Anda sekarang? Perusahaan, keluarga, atau pasangan hidup?"


Almero terdiam sejenak. Ia merasa inilah waktu yang tepat untuk memberitahukan soal wanita yang sedang dicarinya.


"Keluarga tentu saja, tapi saya juga memiliki prioritas lain yang sangat penting."


Aura menangkap sesuatu yang berbeda dari nada suara Almero, dan itu membuat perasaannya menjadi tidak tenang.


"Tunangan saya adalah seorang aktivis yayasan peduli jantung. Sebelum meninggal, dia mendonorkan jantungnya untuk seorang pasien wanita. Saat ini saya sedang mencari siapa wanita yang menerima donor jantung dari tunangan saya. Saya berharap bisa bertemu dengannya walaupun hanya sebentar."


Wajah Aura memucat. Pantas saja dia merasakan getaran yang berbeda setiap kali berada di dekat Almero. Ternyata pria ini adalah tunangan Marion dan getaran aneh itu pasti berasal dari jantung Marion yang kini berada di dalam tubuhnya.


Seperti orang yang terkena hipnotis, Aura melontarkan pertanyaan yang di luar rencananya.


"Ke...napa Anda ingin bertemu dengan wanita itu?"

__ADS_1


"Untuk melihat bahwa paling tidak ada bagian dari diri Marion yang masih hidup di dunia ini."


Jawaban Almero serasa menyayat hati Aura hingga ke bagian terdalam. Entah mengapa ia mendadak ingin menangis.


Aura pun berusaha mati-matian menahan air mata yang hendak tumpah keluar. Karena resah, tanpa sadar tangannya bergerak hingga menyenggol cangkir teh yang ada di hadapannya. Seluruh isi cangkir itu pun tumpah dan membasahi meja Almero. Krisna yang duduk di samping Aura ikut terkejut melihat kecerobohan rekan kerjanya.


"Ma...af, saya tidak sengaja," ucap Aura gemetar. Ia buru-buru meraih kotak tissue untuk membersihkan meja, namun tangannya malah menyenggol cangkir teh milik Krisna. Alhasil cangkir itu pun terpental ke lantai dan hancur berantakan.


"Praangg!"


"Aura, kenapa denganmu? Jangan membuat malu nama majalah kita," tegur Krisna kesal. Ia segera mematikan alat perekam supaya insiden ini tidak diketahui oleh orang lain.


"Maaf, Kak Krisna." Mata Aura sudah berkaca-kaca karena rasa malu dan sesal yang menjadi satu.


"Kamu harus membersihkan kekacauan ini, Aura."


"Tidak usah dibersihkan. Disini ada office boy dan staf yang bisa membereskannya," potong Almero. Dia tidak tega melihat paras Aura yang pucat dan ketakutan. Almero mengira Aura sangat terharu dengan ceritanya sampai tidak bisa mengontrol diri.


"Saya atas nama Daily Inspiration minta maaf kepada Anda, Tuan Almero," ucap Krisna merasa sungkan. Bagaimanapun ia turut andil berbuat salah karena membiarkan Aura yang tak berpengalaman melakukan wawancara.


"Tapi itu tadi pertanyaan terakhir," jawab Aura tertunduk.


Krisna pun mengambil alih untuk mengakhiri sesi wawancara dengan Almero.


"Kami mengucapkan terima kasih atas waktu yang Anda berikan, Tuan Almero. Dan saya mewakili Aura minta maaf yang sebesar-besarnya. Untuk tanggal artikel Anda dimuat nanti akan diinfokan oleh Simena. Sekarang kami mohon diri, Tuan," pamit Krisna.


"Baik, silakan."


"Ayo, Aura, kita pulang."


Krisna menarik Aura agar segera meninggalkan ruang CEO. Ia khawatir Aura akan bertindak ceroboh lagi sehingga mencoreng nama baik majalah Daily Inspiration. Namun ketika mereka telah berada di depan pintu, Aura tiba-tiba berhenti.


"Tunggu, Kak. Saya tidak bisa lari dari tanggung jawab. Saya harus membersihkan ruangan Tuan Almero dulu sebelum pergi. Kak Krisna balik saja ke kantor."


"Hah, kamu yakin mau aku tinggalkan sendiri? Bagaimana kalau kamu memecahkan atau merusak barang Tuan Almero yang lain?"


"Tidak akan, Kak, saya akan hati-hati. Saya yang berbuat salah, saya yang harus menanggung konsekuensinya sendiri."

__ADS_1


"Oke, kalau itu maumu, aku tidak bisa memaksa. Lagipula jam kerjamu juga sudah selesai."


"Terima kasih Kak Krisna."


Aura bergegas berbalik untuk masuk ke ruangan CEO. Almero yang sedang menelpon office boy nampak terkejut melihat kedatangan gadis itu.


"Kenapa kembali kesini? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Almero keheranan.


"Bukan, saya ingin membersihkan meja Anda dan pecahan cangkir di lantai."


"Sudah aku katakan tidak usah, kenapa kamu masih ngotot ingin membersihkannya? Aku harus pergi karena ada meeting di luar, kamu tidak bisa tinggal di ruanganku," tambah Almero. Ia tidak mengerti dengan sikap keras kepala yang ditunjukkan Aura.


"Saya janji tidak akan lama. Setelah selesai bersih-bersih, saya akan langsung pulang. Anda bisa memantau aktivitas saya dari CCTV untuk memastikan saya tidak akan mencuri atau mengambil barang-barang Anda," jawab Aura meyakinkan Almero.


Tatapan memohon gadis ini membuat hati Almero melunak.


"Baiklah, terserah kamu. Sebentar lagi akan ada office boy yang datang, bekerja samalah dengan dia."


Sambil menggelengkan kepalanya, Almero melangkah keluar dari ruangannya untuk menemui Noval.


"Val, kita berangkat sekarang," ucap Almero.


"Tapi Tuan, Nona Aura masih berada di ruangan Anda."


"Biarkan saja, dia sendiri yang minta membersihkan ruanganku."


Noval akhirnya mengikuti Almero menuju ke lift. Tepat saat itu, ponsel Almero berdering.


"Selamat sore, dengan siapa ini?" tanya Almero melihat nomer yang tak dikenalnya.


"Sore, apa ini Tuan Almero Adhiyaksa? Saya Ibu Feni, dari Yayasan Peduli Jantung."


Almero terkesiap mendengar suara orang yang sudah lama dinantikannya. Siapa lagi kalau bukan Bu Feni, ketua yayasan tempat Marion mengabdikan diri.


"Lusi mengatakan kalau Anda mencari saya karena ingin menanyakan data penerima donor jantung. Kebetulan saya pulang lebih cepat ke Jakarta. Kalau Anda ingin menemui saya, Anda bisa datang ke yayasan sekarang," ucap Bu Feni dari balik telpon.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2