
"Aku tidak mau dimake up seperti wanita. Nanti aku gagal menjadi lelaki sejati," tolak Alarick mentah-mentah.
Ivyna terkekeh sambil memiringkan kepalanya.
"Aku tidak akan meriasmu seperti wanita, tapi membuat wajahmu itu supaya tidak terlalu tampan. Aku punya beberapa trik. Itu juga kalau kamu mau menerima saranku."
"Jangan ngambek, Cantik. Nanti akan kupikirkan idemu. Seperti apa contoh trikmu?" jawab Alarick nyengir lebar.
Ivyna membingkai wajah Alarick dengan jemarinya.
"Mungkin kamu perlu memakai kaca mata minus lalu tatanan rambutmu harus diganti ke samping. Untuk alismu, aku akan mengubahnya sedikit."
"Kalau hanya begitu, aku setuju."
Mereka kembali bercanda hingga makan malam yang hangat itu usai. Setelahnya, Cleantha dan Ivyna membereskan meja makan dibantu oleh para pelayan. Sedangkan para lelaki masuk ke dalam ruang kerja.
Almero segera memasang flash disk untuk menunjukkan daftar nama perusahaan yang menjadi rekanan Adhiyaksa Group.
"Baca dulu satu per satu, Rick," tandas Almero kepada Alarick.
Mata jeli Alarick berfokus pada bidang usaha, profil, dan lokasi perusahaan-perusahaan tersebut. Target utama Alarick adalah perusahaan yang berlokasi di luar kota. Ada sekitar dua belas perusahaan yang menarik perhatiannya. Namun ia merasa perlu berdiskusi dulu dengan ayah dan kakaknya yang lebih berpengalaman.
"Dad, bagaimana dengan PT. Marga Otomotif? Aku rasa ini cocok denganku," tanya Alarick kepada Raja.
"Itu perusahaan multi nasional milik Tuan Haidar. Karyawan disana sering dimutasi ke berbagai cabang di luar Jawa," jelas Raja.
"Iya, lebih jangan, Rick. Mommy pasti akan khawatir jika kamu sering berpindah lokasi," timpal Almero.
Raja menunjuk sebuah perusahaan properti yang berlokasi di Surabaya.
"Bagaimana dengan PT. Wijaya Land?"
"Jangan, Dad, aku tidak bisa menjadi marketing perumahan," tolak Alarick.
Ia kembali menghadap layar laptop dan berhenti pada nama perusahaan yang ada di urutan paling akhir.
"PT. Cemerlang Clean Equipment, resmi menjadi mitra...."
Alarick mengernyitkan dahi ketika melihat tanggal yang tertera.
"Kak, PT. Clean Equipment baru menjadi mitra kita hari ini?"
__ADS_1
Almero memicingkan mata untuk membaca nama perusahaan yang ditunjuk oleh adiknya.
"Iya, tadi Pak Surya melapor padaku kalau alat kebersihan mereka sangat bagus dan awet. Jadi aku menyetujui untuk mengambil produk mereka."
"PT. Cemerlang milik teman sekolah Daddy, namanya Tuan Devano. Kami baru bertemu lagi saat acara reuni bulan lalu. Meskipun perusahaannya tidak terlalu besar tapi produk mereka cukup populer di supermarket, hotel, dan perkantoran," terang Raja.
Mata Alarick tampak berbinar mendengar penuturan ayahnya. Ia segera mencari website resmi PT. Cemerlang Clean Equipment untuk mempelajari profil perusahaan tersebut. Bila ditelaah lebih lanjut, tipe perusahaan kelas menengah tampak lebih cocok dijadikan tempat untuk mencari pengalaman. Apalagi lokasi perusahaan ini terletak di kota Bogor, tidak jauh dari Jakarta.
"Bisa Daddy bicara ke Tuan Devano? Aku ingin bekerja di perusahaannya sebagai staf marketing."
Almero menaikkan kedua alisnya ketika mendengar permintaan Alarick.
"Rick, kamu yakin mau menjadi marketing alat kebersihan?"
"Apa salahnya? Justru pekerjaan ini tidak terlalu sulit bagiku. Dan lagi mereka semua tidak akan mengenaliku karena baru satu hari menjadi rekanan Adhiyaksa Group."
Raja menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui keputusan putra bungsunya.
"Daddy akan menghubungi Devano besok. Jika dia bersedia menerimamu, kapan kamu akan mulai bekerja dan berapa lama? Daddy harus memberitahu Devano dari awal."
"Senin depan, Dad, sampai satu tahun ke depan. Aku rasa itu cukup."
"Lalu kamu akan tinggal dimana?" tanya Raja lagi.
"Persiapkan semuanya dengan matang sebelum kamu berangkat. Daddy istirahat dulu. Lanjutkan saja diskusimu bersama Almero," ucap Raja menepuk bahu Alarick.
Percakapan mereka terjeda karena suara dering ponsel Almero.
"Sebentar, Rick, Marion menelponku."
"Halo, Marion, kamu sudah di rumah?" tanya Almero kepada calon istrinya.
"Iya, maaf, aku tadi tidak sempat menelponmu karena sedang ada rapat di Yayasan. Sayang, aku terpilih menjadi pengurus inti untuk periode dua tahun ke depan," jelas Marion terdengar bahagia.
"Kamu akan menikah denganku kenapa malah menyibukkan diri seperti ini?"
"Aku janji akan membagi waktu dengan baik, Al. Sekalian aku ingin minta izin darimu. Besok pagi aku akan berangkat ke Bandung untuk mengunjungi beberapa anak penderita jantung. Aku akan pulang ke Jakarta sekitar jam tujuh malam."
Almero menghela napas berat. Marion memang berhati emas dan suka menolong orang lain, tapi ia tidak suka melihat calon istrinya terlalu sibuk. Namun bila ia melarang sudah pasti Marion akan kecewa.
"Baiklah, selalu kabari aku dalam perjalanan. Jangan sampai kamu mengantuk atau kelelahan. Have a good night," pesan Almero sebelum mematikan telpon.
__ADS_1
"Kak, kenapa wajahmu ditekuk begitu? Bertengkar dengan Marion?" tanya Alarick keheranan.
"Bukan, aku hanya tidak habis mengerti dengan sikap Marion. Bukannya merawat diri seperti calon pengantin wanita, dia malah mengurusi kegiatan sosial. Besok dia akan pergi ke Bandung."
"Sabar, Kak. Pikiran wanita kadang sulit ditebak. Lagipula menurutku Kakak jangan terlalu membatasi kegiatan Marion," ujar Alarick.
Almero kembali menghela napas panjang.
"Aku bukan mengekangnya, hanya khawatir saja. Entah kenapa perasaanku akhir-akhir ini sangat sensitif bila berkatian dengan Marion. Sudahlah, Rick, ayo lanjutkan pembahasan kita," ujar Almero kepada adiknya.
...****************...
"Ivy, kamu jadi ikut wedding expo?" tanya Cleantha.
"Iya, Mom. Aku akan menginap di salon mulai hari Jumat sampai hari Minggu karena banyak persiapan yang harus aku lakukan."
"Jangan terlalu lelah, Ivy. Jaga kesehatanmu."
"Pasti Mom."
"Sekarang istirahatlah. Besok kamu harus merias pengantin kan?"
"Iya, Mom. Aku naik dulu ke atas," jawab Ivyna.
Ivyna menaiki tangga menuju ke kamarnya. Ketika sampai di dalam, ia terkejut saat menerima pesan dari Arum. Dengan cepat, ia menghubungi asistennya itu.
"Arum, benar ada empat orang pria berbadan besar yang mendatangi salon kita?" tanya Ivyna.
"Benar, Bu, mereka mencari Mbak Nadine. Saya mengatakan kalau Mbak Nadine sudah menikah. Dia datang ke salon karena minta dirias."
"Lalu bagaimana tanggapan mereka?" tanya Ivyna.
"Mereka bertanya kapan Ibu Ivyna datang ke salon. Saya bilang besok jam sepuluh."
"Ya ampun, Arum, harusnya kamu jangan mengatakan itu. Bagaimana kalau mereka penjahat?" jawab Ivyna cemas.
"Waktu saya tanya mereka mengaku sebagai pegawai dari Tuan Keano, Bu."
Sontak Ivyna mengangkat alis saat mendengar nama pria itu.
"Keano? Apa pria itu yang disebutkan Nadine tempo hari? Siapa dia sebenarnya?"
__ADS_1
pikir Ivyna bertanya-tanya.