
Ravella kembali dengan membawa handuk dan pakaian untuk Alarick. Sebelumnya ia sudah mandi secara kilat dan berganti dengan setelan piyama lengan panjang.
"Ini pakailah. Akan kutunjukkan kamar mandinya," ucap Ravella mendahului Alarick. Pria itu mengikuti Ravella menuju ke dalam rumah. Luas rumah Ravella memang tidak ada setengahnya dari kediaman Adhiyaksa, tapi tampak cukup nyaman untuk ditinggali.
"Masuklah, pakai saja sabun dan shampoku untuk mandi. Maaf, aku tidak punya peralatan mandi pria," ucap Ravella di depan pintu.
"Santai saja, Bu. Terima kasih karena memberikan tumpangan untuk saya."
"Selesai mandi kamu bisa ke kamarku yang di samping sini," tunjuk Ravella.
Setelah Alarick melenggang ke kamar mandi, Ravella buru-buru menuju ke kamarnya sendiri untuk melakukan misinya. Pertama, ia mengunci lemari bajunya lalu menyingkirkan barang-barang pribadinya sebelum Alarick tidur di kamar itu.
"Boneka, alat make up, tas, apa lagi yang perlu aku simpan?"
gumam Ravella kebingungan.
Mata Ravella terbelalak ketika menyadari fotonya yang terpajang di dinding. Disitu ada fotonya berdua dengan mendiang kakaknya, Raisa. Tapi bukan itu masalahnya. Yang membuat Ravella harus menyembunyikan foto tersebut adalah baju yang dia kenakan. Ia memakai setelan pantai yang minim karena sedang liburan bersama Raisa. Jika Alarick sampai melihatnya, maka ia akan malu setengah mati.
Ravella pun bergegas mengambil kursi yang biasa dia pake untuk merias diri. Mendorong kursi itu mendekati dinding lalu naik ke atasnya. Tanpa membuang waktu, Ravella melepas foto itu. Namun tatkala hendak turun dari kursi, pintu kamarnya mendadak terbuka.
Ravella sangat terkejut melihat Alarick sudah berdiri di ambang pintu. Alhasil ia gagal menjaga keseimbangan dan terjatuh dari kursi. Bingkai foto yang dipegangnya pun terpental ke lantai.
"Auwww, sakit!" pekik Ravella mengelus pergelangan kakinya.
"Ibu tidak apa-apa? Kenapa bisa jatuh?" tanya Alarick berlari untuk membantu Ravella.
"Aku jatuh gara-gara kamu masih juga bertanya,"
rutuk Ravella di dalam hati. Ia heran mengapa Alarick mandi begitu cepat padahal ia belum menyelesaikan misinya.
"Apa kaki Ibu terkilir?" tanya Alarick penuh perhatian.
"Hanya nyeri sedikit saja kok."
"Jangan berjalan dulu. Saya akan memeriksa kaki Ibu."
Alarick menyangga bahu Ravella dan memapahnya dengan hati-hati ke tempat tidur. Jarak mereka yang dekat membuat Ravella bisa mencium harum sabunnya yang menempel pada tubuh Alarick. Rasanya sedikit aneh menyadari Alarick kini memiliki aroma yang sama dengannya.
__ADS_1
Alarick mengangkat kaki Ravella dan meletakkannya di atas pangkuannya. Bersentuhan langsung dengan pria itu membuat Ravella salah tingkah. Apalagi Alarick malam ini terlihat berbeda dari biasanya. Dengan mengenakan kaos oblong yang sedikit kekecilan dan celana pendek, ia justru terlihat tampan. Ditambah rambutnya yang agak basah dan berantakan. Oh, mungkin dia harus memeriksakan diri ke psikiater karena pikirannya mulai melantur kemana-mana.
"Rick, aku bisa memijat kakiku sendiri," tolak Ravella.
"Sudah, percayakan saja pada saya, Bu. Saya berpengalaman dalam hal mengatasi kaki keseleo. Saya mewarisi keahlian ini dari ayah saya," tutur Alarick memijat pergelangan kaki Ravella.
Karena kakinya memang nyeri, Ravella menurut saja. Namun atensinya kembali tertuju kepada fotonya yang masih tergeletak di lantai. Beruntung foto itu jatuh dalam posisi tertelungkup sehingga hanya bagian belakang yang terlihat.
"Bagaimana caranya aku bisa memungut foto itu tanpa ketahuan oleh Alarick? Aku harus tetap membawanya keluar dari sini,"
pikir Ravella mencari ide.
"Bagaimana, Bu, nyerinya sudah berkurang?" tanya Alarick. Ia mengerutkan dahi karena Ravella sejak tadi menatap ke arah lantai
"Sudah, terima kasih."
"Saya perhatikan Ibu dari tadi memandangi foto yang jatuh itu. Mau saya ambilkan?"
"Eh, tidak usah. Nanti aku ambil sendiri," cegah Ravella.
"Aduh!" pekik Ravella. Alarick juga ikut terkejut. Secara refleks ia membalikkan badan lalu menangkap tubuh Ravella agar tidak terjerembap ke bawah.
"Hati-hati, Bu. Kenapa memaksakan diri padahal kaki Ibu masih sakit?" tegas Alarick. Ia benar-benar dibuat pusing dengan kelakuan ganjil Ravella. Untung saja wajahnya cantik, bila tidak ia pasti akan memarahi wanita ini habis-habisan.
"A...aku mau ambil foto itu lalu tidur di kamar Mirel. Tolong kamu menyingkir sebentar."
"Yakin tidak mau bantuan saya?"
"Tidak!" jawab Ravella lugas.
Ravella menundukkan badan dan meraih bingkai tersebut dengan tergesa-gesa. Lalu ia menempelkan bagian depan foto ke tubuhnya supaya tidak terlihat oleh Alarick.
"Terima kasih atas bantuanmu, selamat malam," ucap Ravella berjalan mundur. Membiarkan Alarick memandangnya dengan penuh tanda tanya.
Ketika berhasil sampai di kamar Marco dan Mirel, Ravella menghembuskan napas lega. Ia pun menyimpan foto itu di laci lemari baju Mirel lantas berbaring di samping putrinya. Ravella ingin melupakan semua peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi hari ini. Namun pikirannya mendadak gelisah karena teringat akan sesuatu.
Sementara itu di kamar Ravella, Alarick sedang bertindak sebagai detektif. Ia mencoba menyelidiki isi kamar Ravella untuk memastikan apakah seorang pria pernah tinggal di dalamnya. Sayang sekali ia tidak mendapati apa-apa. Bahkan lemari dan seluruh lacinya terkunci sempurna. Foto pun hanya ada satu buah, yaitu foto Ravella yang merayakan ulang tahun keempat Marco dan Mirel.
__ADS_1
"Sepertinya Ravella sudah mengantisipasi kehadiranku disini. Tunggu dulu, foto yang bersikeras dia bawa tadi...apa itu foto pernikahannya dengan mantan suaminya? Pantas saja Ravella tidak mau aku melihatnya. Tapi dia belum tahu siapa Alarick Adhiyaksa. Aku akan membongkar semua rahasia yang disembunyikannya,"
pikir Alarick menjadi kesal sendiri.
Karena pencariannya gagal, Alarick memutuskan untuk tidur saja. Ia merebahkan diri di tempat tidur Ravella. Ukuran bajunya yang terlalu ketat membuatnya kesulitan bergerak dengan leluasa. Alarick pun bangun dan memutuskan untuk melepas saja kaos yang dipinjamkan Ravella itu.
"Ah, begini saja lebih nyaman,"
gumam Alarick melempar kaosnya ke bawah.
Saat ia akan berbaring lagi, terdengar suara ketukan di pintu.
"Rick, tolong buka pintu sebentar!" panggil Ravella dari balik pintu.
"Iya, tunggu."
Alarick bergegas membuka pintu untuk Ravella tanpa menyadari kondisinya saat ini. Ketika mereka bertatapan, spontan wajah Ravella memerah seperti kepiting rebus.
"Ke...napa kamu tidak pakai baju?" tanya Ravella menutup matanya dengan telapak tangan.
"Karena baju yang saya pakai kekecilan," jawab Alarick santai.
"Cepat pakai bajumu. Aku kesini karena mau ambil kemeja dan blazer untuk ke kantor besok," kata Ravella masih menutup matanya.
"Kalau begitu silakan masuk, Bu."
"Tidak mau, kamu harus pakai baju dulu."
Alarick tersenyum smirk melihat kegugupan Ravella. Ia merasa harus mengerjai wanita ini. Detik selanjutnya Alarick pun menarik Ravella dan memaksanya membuka mata.
"Mau apa kamu? Jangan macam-macam!" tanya Ravella ketakutan.
"Tenang, Bu, saya cuma mau mengatakan kalau saya...bersedia menjadi suami kontrak Ibu. Karena itu Ibu tidak perlu menutup mata saat saya tanpa baju," bisik Alarick menyunggingkan senyum.
**Bersambung
Like, Comment, Vote**
__ADS_1