
"Om tidak bisa buka maskernya," jawab Alarick bersikeras. Meskipun kedua bocah ini masih kecil bisa saja mereka mengadukannya kepada Ravella.
"Kenapa Om? Wajah Om jelek ya? Atau...Om jerawatan?" tanya Mirel mendekatkan wajahnya ke pagar.
Alarick menghela napas. Terus terang ia tidak pandai dalam menghadapi anak-anak. Namun dalam situasi begini ia mesti mencari alasan yang masuk akal supaya mereka percaya kepadanya.
"Siapa namamu gadis manis?" tanya Alarick mengeluarkan jurus rayuannya. Ia turun dari motor dan membungkuk supaya sejajar dengan Mirel.
"Mirel."
"Dengar, Mirel, sebenarnya Om sedang pilek. Om bersin-bersin dan ingusan. Kalau Om buka masker, bisa-bisa kamu tertular. Nanti hidungmu yang mungil ini jadi merah karena keluar ingus. Mirel mau seperti itu?" gertak Alarick.
Mirel hanya mengerjapkan matanya yang bulat. Sedangkan Marco bergerak maju untuk melindungi adik kembarnya. Ia menarik Mirel agar menjauh dari pagar.
Marco tampak meragukan penjelasan yang dibuat Alarick.
"Apa benar Om pilek?"
"Om, buka sekarang ya supaya kalian percaya."
Alarick membuat gerakan seolah hendak melepas tali maskernya. Namun di saat yang bersamaan, taksi yang ditumpangi Ravella datang. Alarick bergegas memperbaiki posisinya menjadi tegak kembali.
"Mama!!!" seru Marco dan Mirel melihat Ravella keluar dari taksi.
"Rick, kamu sudah sampai duluan? Kenapa masih di luar?" tanya Ravella.
"Saya tidak bisa masuk karena anak Ibu tidak membukakan pagar untuk saya."
Ravella segera maju ke depan untuk bicara dengan kedua anaknya.
"Marco, dimana Mbak Sari? Kenapa kalian tidak memanggilnya supaya membukakan gembok pagar?"
"Mbak Sari di dapur sedang cuci piring. Lagipula kami takut kalau Om ini penculik."
"Marco, Om Alarick teman sekantor Mama. Dia kesini karena membantu Mama. Sekarang tolong panggilkan Mbak Sari. Mama lupa tidak membawa kunci cadangan."
Marco mengangguk lalu berlari ke dalam rumah. Berbeda dengan Mirel yang masih bengong menatap mamanya dan Alarick secara bergantian. Ia merasa Ravella terlihat cocok bersama dengan teman kerjanya ini. Apalagi pria bernama Alarick ini sepertinya tangguh dan mampu melindungi mereka.
"Rick, maaf ya. Aku yang mengajari Marco dan Mirel supaya berhati-hati terhadap orang asing. Karena itu mereka curiga padamu."
"Tidak masalah, Bu. Justru anak-anak harus bisa melindungi diri dari orang yang berniat jahat," jawab Alarick.
Tak berapa lama, Sari datang tergopoh-gopoh untuk membukakan pagar. Ia keheranan melihat seorang pria datang ke rumah Ravella.
__ADS_1
"Biar aku yang mengurus motornya, Rick. Kamu pulang saja dengan taksi," kata Ravella merasa sungkan.
"Baik, Bu, besok pagi hati-hati saat berangkat kerja. Kalau penguntit itu mengikuti Ibu lagi, segera telpon saya."
Alarick berjalan ke dalam taksi yang tadi dinaiki Ravella. Ia melambaikan tangan kepada Marco dan Mirel sebelum memasuki taksi. Entah mengapa kedua anak kembar itu menarik perhatiannya padahal biasanya dia tidak menyukai anak kecil.
"Ma, penguntit itu apa?" tanya Marco penasaran.
"Penguntit adalah orang yang mengikuti kita diam-diam karena punya maksud buruk, misalnya mau mencuri atau melakukan penculikan."
"Mama tadi diikuti penjahat?" sambung Mirel terkejut.
"Iya, untungnya ada Om Alarick yang menolong Mama. Yuk, kita masuk ke rumah," ajak Ravella.
Marco dan Mirel mengekor di belakang Ravella dengan beragam pertanyaan di benak mereka.
Saat Ravella mandi, Mirel dan Marco berdiskusi tentang Alarick.
"Kak, Om Alarick itu ternyata hebat, dia bisa melawan penjahat. Aku rasa dia cocok menjadi papa kita."
"Iya juga, tapi kita perlu lihat wajahnya dulu," jawab Marco.
"Kita cari saja di internet, Kak. Biasanya orang dewasa memasang foto-foto mereka disana."
Marco segera menyalakan komputernya. Ia mengetikkan nama Alarick di mesin pencarian dan keluarlah banyak sekali daftar orang dengan nama yang sama.
"Coba kita lihat yang gambarnya paling ganteng, Kak," jawab Mirel polos.
Ketika mereka sedang asyik melihat-lihat, Ravella mendadak muncul di kamar.
"Hayo, kalian sedang apa? Kenapa belum tidur dan malah bermain komputer?" tanya Ravella berkacak pinggang.
Karena kedua anak kembarnya tidak kunjung menjawab, Ravella pun maju untuk memeriksa apa yang mereka lakukan. Dia terkejut ketika membaca nama Alarick muncul di mesin pencarian.
"Kenapa kalian membuka foto-foto ini?"
"Kami cuma ingin tahu seperti apa wajah Om Alarick. Karena tadi dia tidak mau melepas masker," jawab Mirel.
"Iya, Ma, katanya dia sedang pilek."
Ravella mengerutkan dahinya. Seingatnya sepanjang hari Alarick tampak sehat-sehat saja. Apa mungkin dia mendadak flu gara-gara kehujanan menolong dirinya? Jika benar itu terjadi, dia semakin merasa tidak enak hati.
"Sekarang kalian tidur. Mulai besok jangan mencari data maupun foto orang dewasa, mengerti?" ucap Ravella seraya mematikan komputer.
__ADS_1
Dengan patuh, Marco dan Mirel naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut ke atas. Apabila Ravella sudah berkata setegas ini, artinya mereka tidak akan bisa membantah lagi.
...****************...
"Halo, Tuan Gani bagaimana penyelidikan Anda hari ini? Apa Anda berhasil menemukan alamat rumah Ravella?" tanya Steven tidak sabar.
"Maaf, Tuan, anak buah saya yang mengikuti Nona Ravella belum berhasil menemukan alamat rumahnya. Menurut laporannya, Nona Ravella bersama seorang pria dan pria itu membuatnya kehilangan jejak."
Steven mencengkeram ponselnya. Suaranya naik satu oktaf karena menahan amarah kepada detektif yang disewanya ini.
"Saya membayar mahal untuk jasa Anda! Kenapa menangani urusan sepele saja Anda tidak becus?"
"Sabar, Tuan. Anak buah saya yang satu lagi sudah menemukan alamat sekolah Marco dan Mirel."
Kemarahan Steven mereda seketika.
"Bagus, Tuan Gani. Tolong kirimkan alamat lengkapnya sekarang. Besok saya akan menemui mereka."
Usai mematikan panggilannya, Steven mendapatkan pesan berisi alamat sekolah kedua anaknya. Mata Steven berbinar terang karena sebentar lagi dia akan bersatu dengan mereka.
...****************...
"El, apa kamu menyukai acara tadi?" tanya Ivyna setelah mereka berada di dalam mobil. Eleanor mengangguk sambil memeluk bonekanya erat-erat.
"A...aku mau...gaun princess, Mom," jawab Eleanor. Gadis kecil itu sangat terpukau menyaksikan para model berlenggak-lenggok di atas panggung. Terlebih mereka memamerkan berbagai jenis gaun pengantin yang luar biasa indah. Ivyna sampai harus membujuk Eleanor berulang kali agar mau diajak pulang.
"Kalau begitu besok Mommy akan mengajak Eleanor ke salon. Mommy punya koleksi gaun anak-anak yang cantik. Nanti kamu pilih sendiri mau gaun yang mana."
Eleanor tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ivyna.
"El, jangan ngantuk dulu ya. Kita akan makan malam bersama Grandma dan Grandpa," ucap Ivyna membelai rambut Eleanor. Walaupun baru sehari mereka bersama, Ivyna sudah merasakan kedekatan dengan gadis kecil ini.
"Nyonya, ada telpon dari Tuan Keano," ujar Pak Rahmat, supir pribadi Keano. Pria berkumis tebal itu menyerahkan ponselnya kepada Ivyna.
Dengan malas, Ivyna pun menerimanya.
"Ivy, apa kamu tidak tahu ini jam berapa? Aku memintamu ke restoran sebelum jam tujuh tapi kamu melanggarnya. Aku mengizinkanmu bekerja bukan berarti kamu bisa seenaknya melanggar kesepakatan kita. Kedua orang tuamu juga sudah menunggu sejak tadi di restoran," sembur Keano dengan nada tinggi. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Ivyna untuk menjelaskan alasannya.
"Aku tahu ini setengah delapan malam dan aku sudah terlambat. Tidak usah memarahiku, sebentar lagi aku sampai di restoran," balas Ivyna dengan mata berkaca-kaca.
**Bersambung
Like
__ADS_1
Vote
Comment**