
Mendengar pertanyaan Almero, hati Cleantha terasa pilu. Cairan bening mulai menggenangi pelupuk matanya. Cleantha tahu benar bagaimana perasaan Almero saat ini karena ia pernah mengalami hal yang serupa. Ditinggalkan oleh pasangan jiwa rasanya begitu menyakitkan. Bahkan setelah sekian tahun lamanya, rasa sakit itu masih mendera setiap kali dia mengingat Alvian.
Tanpa mampu berucap, Cleantha mengelus sayang punggung Almero. Inilah cara yang selalu dia pakai untuk menenangkan Almero semasa kecil. Sebisa mungkin, Cleantha menahan diri untuk tidak menangis karena ia tidak ingin menambah beban kesedihan putranya.
"Menangislah sepuasmu, Al. Jangan ditahan. Mommy mengerti perasaanmu," lirih Cleantha.
"Waktu Daddymu pergi dulu, Mommy berpikir untuk ikut bersamanya. Tapi Mommy ingat masih ada kamu. Kamu adalah peninggalan Daddy Alvian yang harus Mommy jaga."
"Lalu bagaimana aku bisa bertahan seperti Mommy? Aku dan Marion bahkan belum sempat menikah," kata Almero dengan suara parau.
"Kalian pasti punya banyak kenangan indah yang bisa diingat. Kalau kamu merindukan Marion, ingatlah kenangan itu. Atau mungkin Marion meninggalkan sesuatu untukmu sebelum dia pergi. Seperti Daddymu dulu, dia memberikan kalung eternal love kepada Mommy sebagai tanda cintanya yang terakhir. Sampai sekarang Mommy masih menyimpannya."
Almero terdiam sejenak saat mendengar perkataan ibunya. Mungkinkah Marion juga memberikan sesuatu yang bisa dikenangnya? Sesuatu yang mampu membuatnya bertahan untuk menjalani hari-hari ke depan?
"Mom, aku ingin tidur sebentar di pangkuan Mommy. Apa boleh?" tanya Almero menatap Cleantha. Saat ini dia membutuhkan kasih sayang ibunya lebih dari apapun.
"Tentu saja, Sayang. Tidurlah, nanti Mommy akan membangunkanmu sebelum acara pemakaman Marion dimulai."
Ketika Ivyna masuk membawa makan malam, Almero sudah tertidur di pangkuan Cleantha. Pemandangan itu membuat Ivyna sangat tersentuh.
"Mom, Almero tidur?" tanya Ivyna meletakkan nampannya.
"Iya, Ivy, dia butuh istirahat untuk menghilangkan kesedihannya. Almero sangat kehilangan Marion."
"Kasihan Al, padahal pernikahannya sebentar lagi. Dia pasti sedih sekali."
Cleantha memegang tangan Ivyna sambil memandang wajah cantik putrinya.
"Ivy, tolong bantu Mommy menguatkan Almero. Kamu dan Alarick pasti bisa menghibur Almero dan membangkitkan semangatnya lagi."
"Iya, Mom, aku pasti akan melakukannya tanpa diminta," ucap Ivyna memeluk Cleantha.
...****************...
Almero berdiri tak bergeming menyaksikan jenazah sang calon istri dimasukkan ke liang lahat. Di sampingnya, Cleantha terus memegang tangan Almero untuk memberikan dukungan kepada putranya itu. Sedangkan Alarick dan Ivyna berdiri di belakang Almero. Mereka bersiap jika sampai terjadi hal yang tak diinginkan pada saudara mereka.
Dari balik kacamata hitamnya, Almero meneteskan air mata. Timbunan tanah yang mulai menggunung, membuatnya tidak bisa lagi melihat jasad Marion. Almero berusaha keras menguatkan hatinya ketika menyaksikan Marion terkubur di bawah sana. Marion sudah lenyap dari pandangannya untuk selama-lamanya. Hingga saat upacara pemakaman telah berakhir, Almero tidak tahan lagi. Ia pun bersimpuh di pusara Marion sambil menangis tersedu.
"Al, ayo kita pulang," ucap Cleantha memegang bahu Almero.
__ADS_1
"Mom, tolong tinggalkan aku sebentar. Aku ingin bersama Marion untuk terakhir kali."
Cleantha mengangguk lalu meninggalkan Almero seorang diri.
"Marion, kenapa kamu meninggalkan aku sendirian, Sayang? Aku tidak bisa tanpamu,"
batin Almero seraya mengusap batu nisan yang berdiri di hadapannya.
Kini hatinya ibarat padang gurun yang gersang tanpa mata air. Setelah ini Almero yakin tidak akan bisa mencintai wanita manapun lagi. Sejak dulu jantungnya hanya berdebar ketika berada di dekat Marion.
"Jantung? Jantung Marion?"
Seakan terlempar kembali ke dunia nyata, Almero mendadak berdiri lalu berlari menuju ke mobil. Ia teringat bahwa ada bagian penting dari diri Marion yang masih ada di dunia ini.
"Al, ada apa?" tanya Cleantha bingung.
"Mom, aku akan pergi ke rumah sakit sekarang bersama Alarick. Mommy dan Daddy pulang saja."
"Untuk apa ke rumah sakit, Al?" timpal Raja.
"Aku harus mengurus hal penting yang ditinggalkan Marion, Dad. Aku akan pulang setelah urusanku selesai."
"Rick, tolong antarkan aku ke rumah sakit sekarang. Aku harus tahu nama pasien yang menerima jantung Marion. Bila perlu aku mau bertemu dengannya."
"Kak, pasien itu pasti masih dalam tahap pemulihan. Lebih baik Kakak jangan mengganggunya apalagi membuat keributan."
"Aku tidak akan mengulangi perbuatanku kemarin, Rick. Aku hanya ingin mengetahui identitas pasien itu. Kalau kamu tidak mau mengantarku, biar aku yang mengemudikan mobil ini," pinta Almero dengan nada memohon.
Alarick menarik napas panjang. Dia tidak akan membiarkan Almero menyetir dalam keadaan kacau begini karena itu bisa mengancam keselamatan kakaknya. Mau tidak mau akhirnya Alarick menyetujui permintaan Almero.
"Baiklah, Kak, aku akan mengantarmu."
...****************...
Aura mengerjapkan matanya perlahan. Samar-samar ia melihat wajah tantenya yang sedang menunggunya di tepi tempat tidur.
"Tante," lirih Aura.
"Aura, Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Diva lembut.
__ADS_1
Aura menggeleng perlahan.
"Tidak, Tante. Hanya saja aku merasa ada yang aneh dalam diriku," ucap Aura menyentuh sebentar bagian da..danya.
"Sabar, Sayang. Kamu mungkin belum terbiasa dengan jantung barumu, tapi lambat laun kamu pasti bisa menyesuaikan diri. Lagipula dokter mengatakan perkembangan kesehatanmu sangat baik. Artinya jantung ini cocok denganmu."
Aura melihat ke sekeliling ruang rawat untuk mencari keberadaan ayahnya.
"Tante dimana Papa?"
"Papamu sedang mengurus administrasi perpindahan rumah sakit. Kamu akan dipindahkan ke Rumah Sakit Premier hari ini."
"Kenapa aku dipindahkan, Tante?" tanya Aura bingung.
"Karena fasilitas disana lebih memadai, Sayang," ucap Diva menutupi kebenaran. Padahal bukan itu alasan sesungguhnya mereka memindahkan Aura. Mereka hanya khawatir kekasih Marion akan datang lalu membuat kekacauan yang bisa berdampak buruk bagi kondisi Aura.
Aura urung bertanya lebih lanjut tatkala mendengar suara derit pintu yang terbuka. Ia melihat ayahnya beserta dua orang perawat masuk dengan tergesa-gesa.
"Syukurlah kamu sudah bangun, Aura. Kita akan pindah ke Rumah Sakit Premier," ujar Tuan Dewa.
Aura hanya bisa menurut saja dengan keinginan ayahnya. Para perawat pun segera mencabut segala peralatan medis dan memindahkan Aura ke kursi roda. Meskipun tidak terlalu memahami alasan perpindahannya, namun Aura yakin semua ini dilakukan sang ayah demi kebaikannya.
Bersamaan dengan itu, Almero sudah tiba di rumah sakit. Ia bergegas menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan identitas pasien yang menerima jantung Marion.
"Mbak, saya Almero Adhiyaksa. Saya ingin menanyakan data pasien yang menjalani operasi transplantasi jantung kemarin?"
"Siapa namanya, Pak?" tanya petugas rumah sakit.
"Saya...tidak tahu namanya, Mbak. Yang jelas dia menerima jantung dari pasien korban kecelakaan yang bernama Marion."
"Baik, tunggu sebentar, Pak."
Dengan tidak sabar, Almero menunggu petugas rumah sakit itu mencari data di komputernya. Ia sama sekali tidak sadar jika ada seorang gadis muda yang lewat di dekatnya. Gadis itu diantarkan oleh perawat dengan kursi roda untuk keluar dari lobi rumah sakit. Alarick yang berdiri di samping Almero sempat melihat gadis itu. Tapi ia tidak menduga bahwa sang gadis adalah orang yang dicari oleh kakaknya.
"Maaf, Pak, kalau kami boleh tahu apakah Bapak keluarga atau saudara dari pasien?" tanya petugas rumah sakit.
"Bukan, saya calon suami Marion, pendonor jantung untuk pasien tersebut," jawab Almero dengan jujur.
"Saya minta maaf, Pak, tapi kami tidak bisa memberikan data pasien kepada orang luar. Ini adalah peraturan dari rumah sakit."
__ADS_1
Bersambung