
Almero melesatkan mobilnya ke dalam gerbang rumah bertingkat tiga itu. Ia melihat beberapa orang pria berbadan kekar sedang berjaga-jaga. Saat ia keluar dari mobil, salah satu dari mereka bergegas menghampirinya.
"Maaf, Tuan, apa Anda Almero Adhiyaksa?" tanya pria itu seraya menatap Almero dan ponselnya secara bergantian. Nampaknya ia mencocokkan wajah Almero dengan foto yang ada di ponselnya.
"Iya, saya akan menghadiri pernikahan kakak saya, Ivyna Adhiyaksa. Boleh saya masuk sekarang?"
"Silakan, Tuan."
Almero tergesa-gesa memarkirkan mobilnya melewati para bodyguard tersebut. Ia teringat rumor seputar sepak terjang Keano di dunia bisnis. Nampaknya desas-desus itu bukan isapan jempol semata. Nyatanya Keano memang memiliki sejumlah penjaga yang berpenampilan layaknya mafia.
Hingga detik ini, Almero tidak mengerti mengapa Ivyna mau menjalin cinta dengan pria yang memiliki reputasi buruk. Bahkan Ivyna merahasiakan hubungan ini darinya meskipun mereka berdua sangat dekat. Entah rayuan apa yang diberikan Keano sampai Ivyna mau menerima cintanya.
Ketika Almero masuk ke ruangan itu, ia tertegun melihat Ivyna duduk di samping Keano dengan memakai gaun pengantin. Sedangkan Raja ada di depan mereka bersama dengan penghulu.
"Al, akhirnya kamu datang juga," ucap Cleantha dan Raja berdiri menyambut Almero.
"Maaf, Mom, Dad, aku baru saja selesai meeting dengan Tuan Riyadi."
"Tidak apa-apa, Al. Kami akan memulai acaranya setelah kamu datang," jawab Raja menepuk bahu putranya.
Melihat Almero, Ivyna tidak sanggup menahan kesedihannya.
"Almero," panggil Ivyna berlari menghambur ke pelukan adiknya itu. Tindakan Ivyna membuat Keano terhenyak. Entah mengapa ia merasa kesal melihat Ivyna berpelukan dengan pria lain, meskipun itu adiknya sendiri. Apalagi Almero Adhiyaksa sangat rupawan. Seandainya mereka tidak bersaudara, maka Ivyna dan Almero tampak serasi sebagai pasangan.
"Kenapa menangis, Ivy? Apa kamu tidak ingin menikah? Katakan yang jujur kepadaku," ucap Almero menenangkan Ivyna yang terisak di pelukannya.
Ivyna menggeleng kecil.
"Bukan, aku ingin minta maaf karena menikah di saat kamu masih berduka. Dan lagi aku tidak memberitahumu sebelumnya."
"Tidak masalah bagiku jika kamu menikah sekarang. Yang penting kamu sudah yakin dan benar-benar mencintai suamimu."
Sebelum Ivyna menjawab, Keano sudah lebih dulu menanggapi perkataan Almero.
"Tentu saja kami saling mencintai. Kalau tidak, kami tidak akan menikah. Dan mulai hari ini aku akan menjadi kakak iparmu, Tuan Almero."
Almero menaikkan kedua alisnya melihat ekspresi Keano. Pria itu tampak tidak suka kepadanya, begitu pula sebaliknya. Bila tidak mengingat Ivyna sedang hamil, ia pasti akan mencegah Ivyna untuk menikah dengan pria angkuh ini.
"Kita mulai sekarang saja," ucap Keano kepada penghulu.
Cleantha memakaikan kain putih kepada Ivyna dan Keano sebelum ijab kabul dimulai.
__ADS_1
Dari tempatnya duduk, Almero hanya bisa menyaksikan bagaimana kakak perempuannya menjadi istri sah dari Keano Atmaja. Ada perasaan sedih di hatinya ketika menyaksikan prosesi pernikahan tersebut. Tiba-tiba terbayang di benaknya bahwa ia yang duduk berdampingan bersama Marion. Saling tersenyum dan memegang tangan satu sama lain. Namun Almero segera menepis khayalannya itu. Ia tidak boleh bersedih di tengah peristiwa bahagia dalam hidup kakak perempuannya.
Usai acara, Ivyna bersimpuh untuk meminta restu dari kedua orang tuanya.
"Saya sudah menyiapkan dinner untuk keluarga kita di restoran Glasstown jam tujuh malam, Tuan," ucap Keano kepada Raja setelah penghulu dan para saksi pergi.
"Jangan panggil aku Tuan, karena kamu sekarang adalah menantu keluarga Adhiyaksa. Panggil aku dan Clea seperti Ivyna memanggil kami."
"Iya benar, Keano," sambung Cleantha. Ia beralih mengelus pipi Ivyna yang terasa dingin.
"Ivy, beristirahatlah dulu. Wanita yang hamil muda tidak boleh terlalu lelah. Kami pulang dulu. Nanti kita bertemu lagi saat makan malam."
Ivyna mengangguk, tapi di dalam hatinya terjadi pergolakan hebat. Kebohongan tentang kehamilannya terlanjur berlarut-larut. Entah bagaimana dia harus menjelaskan kepada keluarganya bila terbukti perutnya tidak kunjung membesar.
Ivyna pun memeluk Raja dan Cleantha lalu terakhir ia memeluk erat Almero dengan erat. Perasaan Ivyna campur aduk. Rasanya ia ingin meminta Almero untuk membawanya pergi dari belenggu pernikahan paksa ini.
"Al, kita akan jarang bertemu sekarang."
"Jangan khawatir, Ivy, kalau kamu butuh sesuatu telpon saja aku."
"Ivyna tidak akan membutuhkan apa-apa karena sekarang ada aku yang bertanggung-jawab sebagai suaminya," potong Keano seraya menarik tangan Ivyna.
"Ivy, aku harus kembali ke kantor sekarang. Ada pertemuan penting dengan investor yang harus aku hadiri sampai malam. Aku juga tidak bisa hadir di acara makan malam keluarga."
"Kamu tidak mau makan bersama kami? Apa kamu marah padaku?" tanya Ivyna kecewa.
"Mana mungkin aku marah padamu. Aku mau kamu selalu bahagia, Ivy," ucap Almero tersenyum.
"Terima kasih, Al."
Keano menatap sinis kepada Almero dan Ivyna. Menurutnya hubungan mereka sebagai kakak beradik kelewat mesra.
Dengan berat hati, Ivyna mengantarkan keluarganya hingga ke mobil. Ia tidak tahu bagaimana akan menjalani hari-harinya ke depan tanpa kehadiran mereka. Terlebih ia akan tinggal satu atap dengan Keano, pria yang kewarasannya patut dipertanyakan.
Sesudah mobil Raja dan Almero keluar dari gerbang, Keano menarik Ivyna masuk ke dalam rumahnya.
"Tidak usah memegang tanganku, aku bisa masuk sendiri," tolak Ivyna menghempaskan lengan Keano.
"Aku ingin memperingatkanmu. Selama menjadi istriku jangan dekat-dekat dengan pria lain, termasuk Almero Adhiyaksa."
"Almero itu adikku sendiri. Kamu tidak berhak melarangku."
__ADS_1
"Kamu pikir aku tidak tahu siapa ayah kandung Almero. Dia adalah putranya Alvian Adhiyaksa. Artinya kalian hanya sepupu, bukan kakak dan adik kandung. Aku tidak mau kamu sering bertemu dengannya."
Ivyna mengerutkan dahi melihat sikap Keano yang berlebihan menyikapi kedekatannya dengan Almero. Apakah pria ini sedang menunjukkan kecemburuannya? Ah, mustahil. Tidak mungkin ada rasa cemburu antara pasangan yang tidak saling mencintai.
"Sekarang ikut aku ke lantai dua. Aku akan memperkenalkanmu pada putriku, Eleanor. Nanti bersikaplah baik padanya sebagai seorang ibu," tukas Keano.
...****************...
Alarick sedang makan siang bersama dua orang staf pria bernama Feri dan Iksan. Sekaligus dia ingin mencari tahu lebih banyak tentang Ravella, atasannya yang sering bertingkah konyol.
"Fer, sudah berapa lama Bu Ravella menjabat sebagai supervisor?" tanya Alarick.
"Sekitar dua tahun. Memangnya kenapa, Rick?"
"Aku lihat usianya masih muda tapi sudah mendapat kepercayaan sebagai pemimpin."
"Itu karena Bu Ravella rajin dan loyal. Dia sudah bekerja sebagai staf disini sejak lulus kuliah. Dia juga selalu menunjukkan prestasi yang bagus. Makanya Pak Tian mengangkat Bu Ravella sebagai supervisor."
Iksan menambahkan penjelasan Feri seraya mencodongkan badannya ke depan.
"Selain itu, Bu Ravella seorang pekerja keras. Maklum dia adalah orang tua tunggal yang harus membiayai kedua anak kembarnya."
Kedua alis Alarick langsung terangkat ke atas.
"Maksudmu Bu Ravella sudah punya anak dan anaknya kembar?" tanya Alarick tidak percaya.
Feri dan Iksan seketika terdiam karena melihat Ravella berjalan mendekati meja mereka. Sebaliknya Alarick yang tidak paham malah tertarik untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Apa Bu Ravella menikah saat dia masih kuliah?"
Feri memberikan kode dengan matanya agar Alarick berhenti bicara. Namun Alarick tidak mengerti sampai sebuah suara membuatnya menoleh ke belakang.
"Ehemm....Rick, ayo kita berangkat sekarang ke outlet," tandas Ravella dengan nada tinggi.
**Bersambung
Like
Comment
Vote**
__ADS_1