
Masih tercengang, Ivyna mengamati sekali lagi paras sang model yang terpampang di cover majalah. Tidak salah lagi, bila diperhatikan dengan seksama ada kemiripan antara Alexa Juanetta dengan Eleanor, terutama di bagian mata. Pantas saja Eleanor memiliki wajah yang menawan. Ternyata dia adalah hasil perpaduan antara Keano dengan seorang model kenamaan.
Ivyna baru teringat bahwa ia pernah melihat Alexa pada pagelaran fashion show dua tahun yang lalu di kota Milan. Kala itu Alexa terlihat bergandengan mesra dengan seorang pria bule. Nampaknya mantan istri Keano itu telah memiliki pasangan baru. Ini artinya tidak ada peluang untuk meminta Alexa rujuk dengan Keano.
"Apa Alexa tidak pernah mengunjungi Eleanor sampai Keano harus memaksa wanita lain menjadi ibunya?" gumam Ivyna tidak habis mengerti.
Semakin dipikir lagi rasanya makin tak masuk akal. Seharusnya mereka bertiga menjadi keluarga yang bahagia, bukan terpecah seperti ini. Atau barangkali sebagai sosok yang dikenal publik, Alexa malu karena putrinya terlahir dengan kelainan bawaan.
Ah, sudahlah memikirkan alasan perceraian antara Alexa dan Keano hanya membuat kepalanya bertambah pusing. Ivyna bertekad akan mencari agensi yang menaungi Alexa agar dia bisa bicara empat mata dengan wanita itu. Tentu saja sebagai desainer, tidak sulit baginya mendapatkan akses informasi tersebut.
Ivyna membolak-balik majalah itu untuk membaca isinya. Melihat tempat tidur besar yang terbentang di hadapannya, Ivyna teringat pada kamarnya sendiri. Oh betapa nyaman jika ia bergelung sejenak disana. Mengenang masa indah ketika ia masih sendiri tanpa gangguan lelaki gila bernama Keano.
Tergoda dengan kenyamanan ini, Ivyna melepaskan bathrobe lalu mengenakan gaun tidurnya yang berbahan sifon. Ia melirik sekilas jam yang masih menunjukkan pukul sembilan malam. Masih aman baginya untuk bersantai sejenak di kamar ini. Apalagi ia membutuhkan tidur panjang setelah dua malam tidak beristirahat dengan tenang.
Ivyna merebahkan diri dengan posisi telentang. Ia meletakkan majalah dengan cover Alexa di sampingnya. Tanpa selimut, Ivyna menikmati pendingin ruangan yang terasa sejuk menerpa kulitnya. Lambat laun matanya terasa berat. Ivyna pun memejamkan mata lalu terbuai di alam mimpi. Lupa bahwa ia tengah berada di ruangan yang terlarang.
Lewat pukul sebelas malam, Keano baru tiba di rumah. Tubuhnya terasa sangat lelah usai menjalani meeting maraton sekaligus meninjau lokasi proyek. Yang dia inginkan hanyalah beristirahat sampai pagi.
Keano menaiki dua anak tangga sekaligus agar cepat sampai di kamarnya. Namun tatkala melewati kamar Eleanor, ia berhenti. Keano merasa rindu pada putrinya itu dan ingin melihatnya sebentar saja.
Keano mencoba memutar tuas pintu. Ternyata pintu kamar Eleanor tidak terkunci seperti biasanya. Dengan perlahan, Keano melangkahkah kakinya masuk ke kamar putrinya. Ia terkejut karena Eleanor hanya tidur sendirian tanpa Ivyna.
"Kemana dia? Apa dia melakukan hal aneh lagi di kolam renang?"
Keano pun mencium lembut pipi Eleanor sebelum keluar dari kamar. Sambil berdesis kesal, Keano memutuskan untuk mencari Ivyna. Ia turun ke bawah dan langsung menuju ke kolam renang, tapi wanita itu tidak ada. Di dapur Ivyna juga tidak terlihat. Mustahil apabila wanita itu hilang begitu saja ditelan bumi. Padahal tadi ia sudah mendapat laporan dari supir pribadinya bahwa Ivyna telah pulang ke rumah.
__ADS_1
Karena tidak menemukan Ivyna dimanapun, Keano akhirnya mengetuk pintu kamar Bi Nur. Cukup lama ia mengetuk, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu membuka pintu.
"Eh, Tuan sudah pulang?" ucap Bi Nur setengah mengantuk.
"Bi Nur, dimana Ivyna? Aku tidak melihatnya di kamar Eleanor. Apa dia keluar rumah?" tanya Keano tidak sabar.
Wajah Bu Nur memucat. Ia menebak bahwa Ivyna mungkin masih berada di kamar Alexa. Astaga jika benar begitu maka habislah dia. Keano pasti akan menyalahkannya dan memarahinya habis-habisan.
"Bi, kenapa diam saja? Jawab pertanyaanku," tukas Keano memperhatikan gelagat aneh pada pembantunya.
"I...itu, Tuan. Tadi Nyonya bilang ingin menumpang mandi di kamar yang lebih besar. Lalu dia meminta saya untuk meminjamkan...." Bu Nur menghentikan kata-katanya sambil menundukkan kepala.
"Meminjamkan apa? Bicara yang jelas!"
Darah Keano serasa terkumpul di ubun-ubun. Ia tidak mengerti mengapa Ivyna dengan lancangnya berani memasuki area privasinya. Dan ia melakukan itu diam-diam tanpa izin sama sekali. Sungguh wanita ini sengaja memancing emosinya.
Keano menyesal sudah bersikap lembut kemarin. Ternyata beginilah sifat asli wanita. Bila diberi kelonggaran, mereka akan menginjak-injak harga dirinya lalu bertindak sesuka hati. Tidak, ia harus mencegah kejadian yang sama terulang lagi. Kali ini ia tidak akan membiarkan Ivyna membodohinya seperti Alexa.
Dengan mengepalkan tangan, Keano menapaki tangga lalu menuju ke kamar bekas Alexa. Begitu pintu terbuka, ia melihat Ivyna sedang terlelap dengan nyenyaknya. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di wajah wanita cantik itu.
Yang lebih membuat emosinya memuncak, ia melihat majalah bergambar Alexa tergeletak di samping Ivyna. Segera Keano mengunci pintu. Ia akan memberikan pelajaran pada istrinya yang telah bertindak melewati batas ini.
Keano melepaskan jas dan kemejanya lalu bergerak mendekati Ivyna. Entah kenapa amarahnya sedikit mereda saat bersentuhan dengan kulit halus sang istri.
"Bisa-bisanya dia tidur dengan baju tipis begini. Apa dia tidak kedinginan?"
__ADS_1
pikir Keano.
"Hey, bangun! Kita harus bicara," ucap Keano menggoyangkan tubuh Ivyna.
Wanita itu hanya menggeliat sambil bergumam tak jelas. Namun matanya tetap terpejam rapat.
"Bangun, Ivy!" Keano menepuk pelan pipi Ivyna.
Bukannya terbangun, Ivyna malah menarik tangan Keano hingga jatuh ke atas tubuhnya. Ia meracau dengan nada kesal.
"Diam, biarkan aku tidur! Kalau kamu ngantuk, tidur saja disini."
Keano terkejut mendengar perkataan Ivyna yang terkesan menantang dirinya. Ia pun menyunggingkan senyuman tipis.
"Baiklah, jangan salahkan aku karena kamu sendiri yang memintanya. Lagipula hukuman ini sangat pantas kamu dapatkan."
Dalam setengah sadarnya, Ivyna merasakan ada lengan yang membelit pinggangnya lalu meraup bibirnya. Terasa basah, kenyal, dan memabukkan. Secara naluri Ivyna membalas pria itu. Mereka pun saling membelitkan lidah dan bertukar saliva. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut dan membuat sekujur badan Ivyna menghangat. Saraf-sarafnya terasa dimanjakan begitu pula dengan panca inderanya.
"Kamu sudah siap?" bisik suara itu di telinganya.
Ivyna hanya berdesah pelan dengan anggukan kecil. Mimpi indah ini begitu sayang untuk dilewatkan. Apalagi sang pria begitu lihai menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya hingga membuatnya melayang sampai ke awan-awan. Ivyna tidak peduli lagi dengan apapun. Yang dia inginkan hanyalah menikmati penyatuan ini sampai akhir.
**Bersambung
like, comment, vote**
__ADS_1