
Ravella masih tertegun sehabis menerima telpon dari Alarick. Entah apa alasannya sehingga lelaki itu membatalkan perjalanannya ke luar kota. Mungkinkah Alarick berubah pikiran dan tidak jadi menikah kontrak dengannya? Jika memang begitu, maka dia akan menerima keputusan Alarick dengan tangan terbuka.
Dengan hati yang gundah, Ravella menunggu kedatangan Alarick. Ia berdiri di dekat pintu masuk taman sambil melihat ke sekeliling. Hingga akhirnya dia melihat sebuah mobil silver berhenti di depan taman.
Baru sekali ini, Ravella menyaksikan mobil mewah berada di lokasi taman Kencana. Dengan takjub, ia memandangi kemewahan mobil limited editon itu. Namun kekagumannya lenyap seketika saat melihat dua orang pria yang keluar dari dalam.
"Itu...Alarick?"
gumam Ravella tidak percaya.
Dari jarak pandangnya, Ravella melihat Alarick berjalan semakin mendekat ke arahnya. Dan di belakangnya ada seorang pria tampan yang ciri fisiknya mirip dengan Alarick. Ravella menebak jika pria itu pasti memiliki hubungan darah dengan Alarick.
"Di tempat umum jangan melamun sendirian, Sayang. Kamu menungguku sejak tadi?" tanya Alarick mengagetkan Ravella.
"Rick, kamu naik mobil mewah?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Ravella tanpa bisa ditahan. Bukannya menjawab, Alarick malah meraih tangan Ravella. Ia tahu wanitanya ini sedang bingung dengan apa yang terjadi.
"Ravella, perkenalkan ini kakakku, Almero Adhiyaksa."
Almero pun maju ke depan dan mengulurkan tangannya kepada Ravella. Sementara Ravella membalasnya dengan tatapan tak percaya.
Dahulu ketika dirinya ditugaskan ke kantor Adhiyaksa Group, ia sempat mempelajari siapa saja petinggi perusahaan itu. Ravella masih ingat betul nama beserta foto dari CEO Adhiyaksa Group. Tak lain dan tak bukan adalah pria yang kini berjabat tangan dengannya dan diakui oleh Alarick sebagai kakak.
"Halo, Ravella, aku Almero," ucap Almero tersenyum ramah.
"Anda, Tuan Almero Adhiyaksa, pimpinan Adhiyaksa Group?"
"Sayang, dari mana kamu tahu soal kakakku?" tanya Alarick keheranan.
"Aku pernah mendatangi Adhiyaksa Group untuk menawarkan alat kebersihan. Jika Tuan Almero adalah kakakmu, berarti kamu...."
Ravella menghentikan ucapannya karena tidak berani menarik kesimpulan sendiri. Ia terlalu takut menghadapi kenyataan apabila yang dipikirkannya tentang Alarick terbukti benar.
"Rick, kalian sebaiknya bicara berdua. Aku akan menunggumu di sebelah sana," ucap Almero menunjuk bagian bangku yang kosong.
Alarick mengangguk. Ia kemudian menggandeng tangan Ravella dan mengajaknya ke sudut taman yang sepi. Ravella menurut saja. Entah mengapa ia merasa perlakuan Alarick lebih mesra, seolah mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
__ADS_1
Alarick duduk berhadapan dengan Ravella sambil memegang lembut bahu wanita itu.
"Aku tahu kamu bingung dengan semua ini. Karena itu, aku akan menjelaskannya pelan-pelan."
"Apa kamu anak dari pemilik Adhiyaksa Group?" potong Ravella.
Alarick menarik napas dalam-dalam lalu menatap wanita yang telah memenangkan hatinya ini.
"Nama lengkapku Alarick Adhiyaksa. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak tertuaku Ivyna, seorang MUA dan desainer baju pengantin dan kakak keduaku, Almero, CEO Adhiyaksa Group. Aku sendiri belum punya pekerjaan setelah lulus kuliah. Makanya aku melamar kerja sebagai bawahanmu di PT. Clean Equipment."
Pengakuan Alarick membuat Ravella terperanjat. Ternyata pria pertama yang dekat dengannya ini menyembunyikan sebuah rahasia besar. Pantas saja ia sering merasakan adanya keanehan pada diri Alarick. Pria ini ibarat pecahan puzzle yang sulit untuk disatukan.
"Kalau kamu keturunan keluarga konglomerat, kenapa kamu menjadi staf marketing? Bahkan kamu rela menjadi bawahanku yang bukan siapa-siapa. Apa maksudmu sebenarnya, Rick? Kamu sengaja mempermainkan aku atau ingin memata-matai perusahaan tempatmu bekerja?" tanya Ravella berprasangka buruk.
Mata Ravella mulai berkaca-kaca. Ia merasa malu, bebal, dan rendah diri. Bisa-bisanya dia terperdaya oleh penyamaran Alarick. Terlebih dia sampai nekat meminta pria sekaya Alarick untuk menjadi suami kontraknya dengan memberikan sejumlah uang. Pasti selama ini Alarick sudah menertawakan kebodohannya.
"Aku tidak akan menjawabnya. Kita sudah banyak menghabiskan waktu berdua. Tanyakan sendiri pada hatimu, apa aku pria jahat yang suka mempermainkan wanita? Apa aku juga tampak seperti pria licik yang hendak menghancurkan perusahaan orang lain?"
Ravella terdiam mendengar pertanyaan Alarick. Sejujurnya selama berada di dekat Alarick ia selalu merasa tenang dan terlindungi. Alarick menjadi satu-satunya pria yang mampu membuatnya membuka diri. Bahkan dia percaya sepenuhnya pada keikhlasan pria itu dalam memberikan pertolongan kepadanya.
Kebungkaman Ravella membuat Alarick tidak sabar. Ia pun menundukkan kepala dan menempelkan telinganya di da...da wanita cantik itu.
"Mendengarkan detak jantungmu. Ternyata di dalam sini sedang bergemuruh, seperti ada pertunjukan marching band."
"Jangan, Rick, kita ada di taman yang terbuka."
"Jadi kamu ingin kita melakukan yang lebih saat berada di ruangan tertutup?" tanya Alarick menyeringai. Ravella memukul lengan Alarick dengan wajah merona. Pria ini selalu saja punya cara untuk menggodanya.
"Makanya setiap kali aku bertanya, kamu harus menjawabnya. Kalau kamu diam saja, aku langsung tergerak untuk melakukan sesuatu."
"Rick!" tegur Ravella.
"Baiklah, aku akan serius. Dari hasil pemeriksaan detak jantungmu, hanya ada dua kemungkinan. Pertama kamu memiliki masalah kesehatan jantung dan kedua kamu sedang jatuh cinta. Tapi aku rasa jawabannya adalah yang kedua. Kamu jatuh cinta kepadaku."
"Hentikan leluconmu itu. Kita tidak sebanding, Rick. Kamu sangat sempurna dan berasal dari keluarga terhormat. Banyak wanita yang bersedia menjadi pasanganmu. Sedangkan aku hanya wanita biasa, yatim piatu dan dari keluarga sederhana. Aku juga memiliki dua anak meskipun belum menikah."
Cairan bening mengalir membasahi pipi Ravella. Ia sungguh merasa kecil dan tidak berharga di mata seorang Alarick Adhiyaksa.
__ADS_1
Alarick pun menaikkan dagu Ravella supaya wajah mereka sejajar.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan keluargamu maupun anak-anakmu. Justru aku menyayangi mereka. Dan perlu kamu tahu, ibu kandungku juga wanita yang sederhana. Daddyku mencintainya karena dia berhati lembut, tulus, dan penyayang sama sepertimu."
"Aku menyamar untuk mendapatkan pengalaman kerja. Aku selalu bercita-cita meraih karier yang cemerlang dengan usahaku sendiri. Tanpa embel-embel nama besar keluargaku maupun bantuan dari ayah dan kakakku. Kebetulan aku diterima sebagai bagian dari team marketing PT. Clean. Itu artinya kita memang berjodoh," lanjut Alarick.
Hati Ravella semakin bergetar mendengar penjelasan Alarick. Ia tidak menduga pria yang dengan mudah mendapatkan segalanya malah bersedia bersusah payah untuk merintis karier dari bawah. Inilah kelebihan utama Alarick yang tidak bisa ditemukan pada pria kaya lainnya.
"Apa penjelasanku bisa diterima? Aku jadi seperti pendongeng yang menceritakan kisah seribu satu malam," seloroh Alarick.
Ravella tersenyum simpul. Harus diakui Alarick memiliki bakat untuk mengubah suasana tegang menjadi ceria.
"Kalau begitu batalkan saja rencana pernikahan kontrak kita. Keluargamu pasti akan menentangnya," lirih Ravella.
"Mereka tidak akan menentang karena kita akan menikah secara resmi. Tidak ada kontrak. Pernikahan kita adalah untuk selamanya. Aku kesini untuk mengajakmu ke Jakarta dan memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku. Aku yakin mereka akan merestui pernikahan kita."
"Rick, kamu sadar dengan ucapanmu barusan? Kamu akan menikahi aku?" tanya Ravella tidak percaya.
"Aku sadar, sangat sadar. Hari ini aku telah menyadari bahwa aku mencintaimu. Dan aku yakin kita memiliki perasaan yang sama."
Alarick tiba-tiba berdiri dengan setengah membungkuk. Ia mengulurkan telapak tangan kanannya kepada Ravella, layaknya seorang pangeran yang akan melamar putri raja.
"Maukah kamu ikut denganku ke Jakarta bersama Marco dan Mirel? Will you marry me?" tanya Alarick.
Ravella tercengang. Ia tak menyangka cinta sejati akhirnya datang juga menghampirinya.
Tanpa keraguan lagi, Ravella menerima uluran tangan Alarick sambil tersenyum bahagia.
"Yes, I do."
Kedua insan itu pun saling berpelukan untuk menyambut babak baru dalam kehidupan cinta mereka.
THE END
Pengumuman :
Para Readers cinta, karena Author ada tugas penting yang harus diselesaikan, maka author terpaksa menamatkan novel ini lebih cepat. Tapi tenang saja nanti akan ada season 2 di akhir tahun (cerita pernikahan Alarick-Ravella dan Almero-Aura). Jadi jangan hilangkan novel ini dari pustakamu karena season 2 juga akan diupdate disini.
__ADS_1
Thanks and see you on next season.
Lope lope