CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 29 Pria yang Paling Kubenci


__ADS_3

Dari kejauhan, Ivyna melihat Raja dan Cleantha telah menantinya. Menatap wajah teduh kedua orang tuanya membuat Ivyna lebih tenang. Ia pun menggandeng Eleanor menuju ke meja yang telah dipesan Keano.


"Mom, Dad, maaf aku terlambat," kata Ivyna melewati Keano begitu saja seolah pria itu tidak ada.


"Tidak apa-apa, Mommy tahu kamu pasti disibukkan dengan acara wedding expo. Siapa gadis cantik ini?" tanya Cleantha menyentuh ringan dagu Eleanor. Kecantikan gadis kecil itu sangat menarik perhatian Cleantha. Pasalnya ia sangat menginginkan kehadiran cucu yang bisa berlarian di sekeliling rumah untuk meramaikan suasana.


"El, ini Grandma Clea. Ayo perkenalkan dirimu," ucap Ivyna membimbing Eleanor untuk mengulurkan tangan kepada Cleantha.


Dengan malu-malu, Eleanor menjabat tangan Cleantha.


"Siapa namamu?" tanya Cleantha tersenyum.


"El...ea...nor," jawab gadis kecil itu terbata.


"Beautiful name," puji Cleantha. Kemudian Ivyna membawa Eleanor untuk berkenalan dengan Raja.


"Yang ini Grandpa Raja."


"Hello, Eleanora. Berapa umurmu dan sekolah dimana?" tanya Raja.


Keano yang mendengar pertanyaan Raja merasa harus memberikan penjelasan mengenai keadaan putrinya.


"Eleanor tidak bersekolah di sekolah formal, Tuan Raja. Saya memanggil guru khusus ke rumah untuk mengajarinya. Eleanor mengalami gangguan pendengaran dan bicara sejak bayi."


"Oh, maaf, Keano, aku tidak tahu kondisi Eleanor."


"Tidak apa-apa, Tuan Raja," jawab Keano mendudukkan Eleanor di sebelahnya.


Cleantha berinisiatif mengambilkan makanan untuk Ivyna. Dia tidak ingin putrinya yang sedang mengandung ini sampai terlambat makan.


"Ivy, kamu harus makan sekarang. Wanita hamil perutnya tidak boleh kosong."


"Eh, iya, Mom, terima kasih," jawab Ivyna merasa serba salah. Ia teringat kembali akan sandiwara kebohongan yang diciptakan Keano, pria paling menyebalkan di muka bumi. Pria ini baru saja membentaknya di telpon dan sekarang dengan santainya berbincang tanpa dosa dengan ayahnya.


"Jadi Alarick sedang menjalani magang di Bogor, Tuan?" tanya Keano.


"Iya, dia ingin mendapatkan pengalaman kerja sebelum menduduki jabatan di Adhiyaksa Group."


"Jika kemarin saya tahu, lebih baik Alarick bekerja di salah satu cabang perusahaan saya."

__ADS_1


"Kalau itu terjadi, aku akan menjadi orang pertama yang mencegah Alarick. Adikku tidak boleh bekerja dengan orang jahat sepertimu,"


rutuk Ivyna.


Di dalam hati, Ivyna ingin makan malam ini berlangsung selamanya agar dia tidak perlu terpisah dari Cleantha dan Raja. Namun apalah dayanya, acara makan malam berakhir juga karena hari mulai larut.


"Ivy, kami pulang ya. Besok Mommy akan mengirimkan buah-buahan untukmu. Kamu harus makan yang bergizi. Dan kalau kamu butuh ditemani ke dokter, telpon saja Mommy," ucap Cleantha memeluk Ivyna. Kemudian Cleantha mengelus pelan pucuk rambut Eleanor.


"Eleanor, Grandma pulang dulu. Kapan-kapan main ke rumah Grandma ya."


Eleanor mengangguk lalu menggandeng tangan Keano dan Ivyna secara bersamaan.


"Keano, jaga Ivyna dan kandungannya baik-baik," pesan Raja sebelum masuk ke mobil. Ivyna melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya dengan berat hati. Setelah acara ini, dia harus kembali terperangkap ke dalam kandang macan.


Ivyna pun berjalan menuju ke mobil yang tadi mengantarnya, tapi Keano sudah mendahuluinya.


"Pak Rahmat, pulang saja. Istri dan anakku akan ikut mobilku."


"Baik, Tuan," ucap Pak Rahmat patuh. Ia segera meluncur meninggalkan lokasi restoran.


"Mbak Dina, duduklah di depan. Aku di belakang bersama Eleanor," kata Ivyna.


"Dina, kamu di belakang saja. Eleanor sepertinya mengantuk, temani dia," potong Keano membantah perkataan Ivyna.


"Saya duduk di depan atau di belakang?"


"Di depan," sahut Ivyna. Ia merasa alergi jika harus bersebelahan dengan pria yang dibencinya ini.


Dina kebingungan harus patuh pada siapa. Namun melihat tatapan Keano yang menusuk, ia pun memilih untuk mematuhi tuan besarnya itu. Terpaksa Ivyna-lah yang duduk di samping Keano.


Sepanjang perjalanan pulang, Ivyna menghadap ke jendela sebelah kiri. Ia tidak ingin melihat wajah Keano apalagi sampai beradu pandang dengannya. Suasana di dalam mobil pun sangat sunyi karena tidak ada yang berbicara. Terlebih Eleanor telah tertidur lelap di pangkuan pengasuhnya.


Sesudah tiba di rumah, Keano memarkirkan mobil lalu membopong Eleanor ke kamarnya. Sementara Ivyna sengaja tinggal di ruang tengah. Ia menunda masuk ke kamar Eleanor sampai Keano keluar dari sana.


Keano membaringkan Eleanor dengan hati-hati dan melepaskan sepatunya. Karena gerakan Keano, Eleanor menggeliat pelan kemudian membuka matanya.


"El, tidurlah lagi. Besok pagi Miss Rida akan datang untuk mengajarimu."


"Dad, I want...tell story," jawab Eleanor sambil menunjuk ke arah buku dan pensil yang ada di atas nakas. Gadis kecil itu bersandar pada kepala tempat tidur, menunggu sang ayah memberikan alat tulis kepadanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu tulis, El?" tanya Keano penasaran. Eleanor menuliskan beberapa kalimat dengan cepat. Di bawahnya ia menggambar seorang wanita berpakaian gaun pengantin.


Eleanor menyerahkan bukunya ke tangan Keano dan meminta ayahnya untuk membaca.


"Dad, aku senang sekali melihat pertunjukan gaun princess. Aku tidak mau pulang tadi. Aku ingin kesana lagi bersama Mommy,"


tulis Eleanor.


Keano membaca tulisan Eleanor dengan terharu. Ia tidak pernah melihat putri kecilnya bersemangat seperti sekarang. Dan ini secara tidak langsung berkat jasa Ivyna. Padahal tadi ia terlanjur membentak wanita itu karena menganggapnya telah mengingkari janji.


"Lain kali Daddy akan meminta Mommy Ivyna mengajakmu lagi. Sekarang tidurlah, El. Mulai malam ini, Mommy Ivyna akan menemanimu," ucap Keano mengecup pipi putrinya.


Selesai menyelimuti Eleanor, Keano menutup pintu. Ia berjalan menuju ke kamarnya dan berpapasan dengan Ivyna di tengah jalan. Namun wanita itu membuang muka darinya. Ivyna buru-buru masuk ke kamar Eleanor dan mengunci pintu dari dalam.


Sudut bibir Keano terangkat melihat tingkah Ivyna. Ia tahu wanita itu sedang marah padanya tapi ia tidak mau ambil pusing. Toh mereka belum butuh untuk saling berkomunikasi saat ini.


...****************...


Usai menyegarkan diri, Ivyna mengenakan gaun tidur sutera berwarna biru muda. Perlahan-lahan ia beringsut naik ke tempat tidur agar tidak membangunkan Eleanor. Sejenak, Ivyna memandangi wajah Eleanor yang mirip seorang malaikat saat sedang tidur. Berbeda jauh dengan ayah kandungnya yang lebih mirip sesosok iblis bertopeng pria tampan.


Ivyna menepuk bantalnya kemudian merebahkan diri. Tubuhnya begitu lelah hari ini akibat menghadapi banyak hal sekaligus. Dimulai dari pernikahan dadakan, acara wedding expo yang hampir berantakan, dan berakhir dengan makian. Dan semua biang keladinya tentu saja pria bernama Keano.


Ivyna bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari posisi tidur yang nyaman. Namun tetap saja matanya sulit untuk terpejam. Barangkali benar yang dikatakan orang bahwa saat perasaan kita kacau, maka kita akan mengalami kesulitan tidur.


Ivyna menarik napas panjang kemudian menyibakkan selimut. Ia butuh udara segar untuk membuat pikirannya kembali jernih. Dengan begitu ia baru bisa beristirahat.


Sengaja tanpa alas kaki, Ivyna keluar dari kamar lalu menuruni tangga menuju taman belakang. Disitu ada kolam renang pribadi milik Keano yang cukup luas. Ivyna pun duduk sendirian di tepi kolam renang sambil mencelupkan kakinya di dalam air. Merasakan dinginnya air membuatnya merasa lebih rileks. Ia juga melepas jubah tidur dan membiarkan kulitnya terkena hembusan angin malam.


Setelah puas berendam, Ivyna memeriksa telapak kakinya. Ada luka lecet kecil di beberapa bagian. Mungkin karena sepanjang hari ia terlalu banyak berjalan kesana kemari dengan high heels. Selain itu, betisnya juga terasa sangat pegal.


Untuk meredakan rasa pegal yang mengganggu, Ivyna memijat-mijat kakinya sendiri. Ia membayangkan betapa nyamannya berada di kamarnya, berendam dengan larutan garam terapi lalu mendengarkan musik relaksasi. Sungguh hidupnya dulu luar biasa menyenangkan, namun dunianya kini telah jungkir balik karena perbuatan satu orang pria saja.


"Keano Atmaja, kamu memang pria paling brengsek yang pernah aku kenal!!!"


teriak Ivyna meluapkan kejengkelan yang menumpuk. Tanpa disadari Ivyna, ada seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Kenapa meneriakkan namaku? Apa kamu merindukan aku?" tanya Keano sambil duduk di samping Ivyna.


**Bersambung

__ADS_1


Yuk berikan komen, like, dan vote supaya author tetap semangat**


__ADS_2