
Marco dan Mirel tersentak seketika. Mereka tidak percaya jika pria asing ini adalah ayah kandung mereka.
"Om pasti bohong!" teriak Mirel berusaha lepas dari pelukan Steven.
Steven melerai pelukannya lalu memandang Marco dan Mirel secara bergantian.
"Om ini benar-benar papa kalian. Karena itu Om tahu siapa nama kalian, hari ulang tahun, dan juga sekolah kalian."
Steven memegang pipi Mirel dan memandang putrinya penuh kekaguman.
"Wajahmu dan matamu sangat mirip dengan mamamu, Raisa."
"Nama mama kami Ravella bukan Raisa. Berarti Om memang penipu," timpal Marco.
"Bukan, Sayang, mama kalian adalah Raisa. Sedangkan Ravella itu sebenarnya tante kalian."
Marco dan Mirel masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Steven. Mereka takut Steven adalah penjahat yang berbahaya, sehingga mereka berteriak minta tolong kepada penjaga sekolah.
"Ada apa ini, Tuan?" tanya Pak Dito, penjaga sekolah menghampiri Steven.
"Saya, Steven, papanya Marco dan Mirel. Saya ingin menjemput mereka pulang."
"Bukan, Pak, Om ini bukan papa kami!" jawab Marco menarik tangan Mirel mendekat ke penjaga sekolah.
"Maaf, Tuan, kalau begitu silakan pergi. Siswa sekolah ini hanya boleh dijemput oleh orang tua atau keluarganya," ucap Pak Dito berusaha melindungi Marco dan Mirel.
"Saya cuma ingin bicara dengan mereka sebentar."
Tepat pada saat itu, Marco dan Mirel melihat kedatangan pengasuh mereka.
"Mbak Sari!" teriak Mirel langsung berlari disusul oleh Marco di belakangnya.
"Cepat, Mbak, kita pergi dari sini," ajak Marco menarik-narik tangan pengasuhnya itu.
"Lho memangnya kenapa?"
"Ada Om itu, Mbak. Dia mengaku papa kami. Kami takut."
Mbak Sari melihat sekilas ke arah Steven lalu menggandeng tangan kedua anak kembar itu menuju taksi.
"Ya sudah, kita pergi sekarang. Nanti Mbak laporkan kepada Bu Ravella."
Melihat anak-anaknya menghindar, Steven ingin sekali mengejar mereka. Namun ia menunda niatnya tersebut karena tidak ingin membuat keributan di sekolah. Steven pun memutuskan untuk mengikuti Marco dan Mirel secara diam-diam sembari menemukan alamat rumah mereka.
"Aku tidak akan menyerah sampai mendapatkan kalian,"
gumam Steven bertekad dalam hatinya.
...****************...
Di perjalanan, Ravella tidak banyak bicara. Ia juga memilih memegangi pinggiran motor daripada menyentuh pinggang Alarick. Ravella tidak ingin menambah kesalahpahaman Alarick mengenai citra dirinya. Besar kemungkinan Alarick menganggapnya sebagai wanita yang agresif dan suka menyatakan cinta duluan kepada pria.
__ADS_1
Mereka berdua baru berkomunikasi ketika tiba di outlet. Dan itupun hanya sekedar untuk urusan pekerjaan. Alarick cukup heran melihat sikap Ravella yang berubah dingin terhadapnya. Namun ia tidak terlalu menganggapnya serius. Alarick berpikir bahwa emosi Ravella mungkin tidak stabil karena memiliki banyak masalah dalam hidupnya.
Pada kunjungan terakhir di supermarket rekanan mereka, Ravella mendapat panggilan dari pembantunya.
"Mbak Sari, ada apa?" tanya Ravella.
"Begini Bu, tadi sewaktu saya menjemput Marco dan Mirel ada seorang pria yang mendatangi mereka. Kelihatannya seperti orang kaya, Bu."
"Deg." Jantung Ravella bergetar hebat. Pikirannya langsung mengarah kepada pria pecundang yang kabur setelah menghamili kakaknya.
"Seperti apa ciri-ciri pria itu, Mbak?"
"Ganteng, pakai jas, sekilas wajahnya ada yang mirip dengan Marco."
"Mbak yakin wajahnya mirip Marco? Lalu dimana anak-anakku sekarang?" tanya Ravella tanpa sadar menaikkan satu oktaf suaranya.
"Saya dan anak-anak sudah ada di rumah. Ini Marco mau ngomong sama Ibu," ucap Mbak Sari menyerahkan ponselnya kepada Marco.
Karena terlalu panik, Ravella langsung mencecar Marco dengan pertanyaan.
"Halo, Marco, apa benar tadi ada orang yang menemui kalian di sekolah? Apa dia mengajak kalian pergi?"
"Iya, Ma, nama Om itu Steven. Dia bilang kalau dia papa kami. Om itu juga mengatakan mama yang melahirkan kami adalah Raisa bukan Ravella."
Penjelasan Marco bagaikan petir yang menyambar telinga Ravella. Mimpi buruk yang dialami Mirel telah menjadi kenyataan. Steven, pria pengecut yang telah mencampakkan Raisa bertahun-tahun yang lalu kini kembali untuk merebut anak-anaknya.
Entah apa maunya pria itu hingga tiba-tiba datang untuk mengusik kehidupannya. Yang jelas Ravella tidak akan tinggal diam. Pria tidak bertanggung jawab seperti Steven tidak layak mendapatkan hak untuk mengasuh Marco dan Mirel. Lagipula dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan kedua buah hatinya.
"Dia sudah pergi, Ma. Nanti kalau dia datang lagi kami akan lari," sahut Mirel dari belakang.
"Tolong berikan telponnya pada Mbak Sari, Marco."
Ponsel itu pun kembali berpindah tangan. Ravella langsung memberikan perintah tegas kepada pembantunya untuk menghindari Steven.
"Mbak, tolong kunci pintu dan jendela. Kalau ada yang mengetuk pintu jangan dibuka, terutama pria yang di sekolah tadi. Akan kuusahakan pulang secepatnya," tukas Ravella.
"Baik, Bu."
Usai mengakhiri percakapannya, Ravella tergesa-gesa menuju kepada Alarick. Pria itu masih berbincang dengan supervisor supermarket.
"Pak Jordi, kami pamit dulu. Bulan depan kami akan berkunjung lagi kesini."
"Iya, Bu Ravella. Jangan lupa kirim email produk baru yang saya minta."
"Sampai ketemu lagi, Pak," timpal Alarick bersalaman dengan supervisor. Ia lalu mengikuti langkah Ravella keluar dari supermarket. Karena bingung bercampur kalut, Ravella salah berbelok.
"Bu, kita parkir di sebelah kanan bukan kiri," ucap Alarick memegang lengan Ravella untuk menyadarkannya.
"Oh, iya."
Ravella berbalik arah menuju tempat parkir motornya. Namun saat mengambil helm, ia kembali melamun sehingga hampir menjatuhkannya ke bawah. Untung saja Alarick berhasil menangkap helm itu.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Ravella singkat.
"Apa Ibu sakit? Wajah Ibu pucat," tanya Alarick khawatir.
"Tidak, tolong antar aku pulang ke rumah, Rick. Nanti aku akan memesankan taksi untukmu."
"Iya, Bu."
Alarick pun menuruti permintaan Ravella. Namun baru saja ia menyalakan motor, ponsel Ravella kembali bergetar.
"Sebentar, Rick, ada telpon dari kantor. Halo, Tia, ada apa?"
"Mbak, ada tamu yang mencari Mbak Ravella. Katanya dia mau menunggu di lobi sampai Mbak datang. Padahal ini sudah jam pulang kantor," ucap Tia, resepsionis kantor.
"Siapa namanya dan dari perusahaan mana, Tia?"
"Namanya Tuan Steven Pamungkas."
Lutut Ravella terasa goyah. Telapak tangannya sampai berkeringat karena mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan ini. Baru saja ia memikirkan Steven, kini pria itu malah menemuinya di kantor secara terang-terangan. Ravella yakin Steven akan memintanya untuk menyerahkan Marco dan Mirel.
"Rick, kita kembali ke kantor saja, tidak jadi ke rumah."
"Kenapa, Bu?"
"Aku ditunggu seseorang. Cepat, Rick, kita berangkat."
Alarick mengangguk lalu melesatkan motornya ke jalan. Ia tidak tahu telpon apa yang diterima Ravella hingga wanita itu terlihat syok. Namun ia urung bertanya karena tidak ingin mencampuri urusan pribadi Ravella. Bagaimanapun hubungannya dengan Ravella hanyalah sebatas atasan dan bawahan.
...****************...
"Rick, tolong parkirkan motorku. Aku harus ke lobi sekarang," ucap Ravella saat mereka sampai di gerbang PT. Clean Equipment.
"Iya, Bu, silakan."
Setengah berlari, Ravella menuju lobi kantor untuk menemui bagian resepsionis.
"Tia, mana tamu yang mencariku?" tanya Ravella sedikit terengah-engah.
"Itu, Bu, pria yang duduk di sofa yang pakai jas. Namanya Steven."
"Terima kasih ya."
Ravella berjalan ke arah pria yang sedang sibuk dengan ponselnya itu. Tatkala jarak mereka semakin dekat, Ravella terkesiap karena wajah pria ini tidak asing baginya.
"Bukankah dia ini...pria yang berpapasan denganku di ruang meeting Adhiyaksa Group? Jadi dia adalah Steven, mantan pacar Kak Raisa."
**Bersambung
Hari ini double update, ditunggu nanti malam ya.
like, comment, vote**.
__ADS_1